
"Satria pindah rumah Bun?" tanya Satya, yang kini duduk disamping sang bunda yang sedang menghitung jumlah pemasukan dari Denada Cake and Bakerry, bulan ini.
"Nggaklah mana bisa begitu, bunda belum kasih Satria izin, mereka kan masih sekolah, mama masih punya kewajiban membimbing dia."
"Tapi dulu bang El__"
"Beda cerita dong kalau bang El kan emang udah bisa belajar bertanggung jawab dari kecil, jadi mama juga nggak khawatir soal rumah tangganya, terlebih waktu itu kan bang El udah bangun rumahnya sendiri, lah Abang kamu yang satu ini kamu tahu sendiri Sat, dia anak bunda paling istimewa."
"Jadi, kalau aku udah punya rumah sendiri boleh pindah Bun?" lanjut Satya yang membuat Nada menghentikan aktifitas nya seketika.
"Nggak! nggak ada pokoknya."
"Kok gitu Bun?"
"Selama kalian masih sekolah, satupun nggak boleh ada yang keluar dari rumah ini, kecuali bunda yang mengijinkan."
"Oh iya, soal acara resepsi kalian nanti mau yang seperti apa konsepnya, bunda sih udah nanya sama Satria! Stela juga, tapi kata mereka terserah kamu."
"Lho kok aku?"
"Satria bilang, pilihan kamu pasti yang terbaik, jadi dia ikut aja, nggak mau pusing juga sih kayaknya dia."
"Yaudah, nanti aku coba tanya Muti ya Bun."
"Iya, ide bagus itu."
"Aduh itu kenapa sih anak gadis bunda, mukanya gitu banget!" Nada menggeser tubuhnya agar Cantika yang baru saja pulang sekolah siang ini duduk disampingnya.
"Kenapa nak?" Nada mengelus rambut putrinya yang dikuncir kuda.
"Bete."
"Nggak biasanya lho kamu pulang-pulang begini, ada yang jahatin kamu disekolah, siapa? bilang sama bunda, biar bunda samperin, enak aja anak cantiknya bunda dijahatin begini."
Cantika menggeleng sebagai jawaban.
__ADS_1
"Terus kenapa?"
"Abang ternyata beneran udah pacar." jawabnya malas, sementara Nada dan Satya berpandangan sembari mengerutkan kening bingung.
"Abang siapa? memangnya Cantika punya berapa abang nak, mereka kan udah menikah semua, bukan pacaran lagi."
"Ihs bukan Abang bang El dan bang kembar Bun, tapi bang Langit."
"Langit, siapa?"
"Langit temennya Satria Bun, itu lho yang rumahnya disampingnya tante Ela itu, yang dulu sering ngerjain tugas kelompok bareng Satria waktu masih SMP, bunda ingat?" jelas Satya.
''Oh iya bunda ingat, anaknya ganteng sih."
''Tapi kenapa memangnya kalau Langit punya pacar nak?" ia kembali mengalihkan tatapannya kearah putrinya, sementara Cantika menggeleng lemah, kemudian berpamitan untuk pergi ke kamarnya.
"Kok adek kamu aneh sih Sat."
"Nggak tahu tuh si Ade, mungkin dia suka sama si Langit itu."
"Huss.. masih kecil dia mana ngerti soal cinta-cintaan, emangnya Satria."
*
*
"Sayang?" Satya tak berhenti mengganggu aktifitas Mutia setiap malam, sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan, ya Satya yang terlihat kalem diluar itu, berubah beringas ketika berada diatas ranjang.
"Kak, semalem kan udah!"
"Itu kan tadi malem yang, malem ini beda lagi, ya ya.. satu kali aja."
Mutia menghela napas kasar, ia sudah mulai terbiasa dengan rayuan suaminya setiap malam yang terus merengek meminta dilayani, ia juga sudah terbiasa dengan kata-kata itu, yang hampir setiap hari suaminya ucapkan.
Satu atau dua kali janjinya, yang mana jika sudah terjadi ia melakukannya hingga berkali-kali.
__ADS_1
Dan jika sudah ijin seperti itu, maka Satya tak perlu lagi menunggu persetujuan sang istri, langsung meraih tubuhnya kemudian memposisikan nya dibawah kungkungannya, diawali dengan ciuman panas, kemudian ia bergerak diatasnya.
Melakukan sesuatu yang terasa memabukan untuknya, yang ia yakini sang istri pun merasakan hal yang sama.
"Kak,?" Mutia menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya hingga bagian atas dada, usai melakukan percintaan mereka yang entah keberapa kali.
"Apa yang, mau lagi?''
"Ihs bukan!"
"Terus?"
"K-kalau aku h-hamil gimana?" tanyanya seraya menggigit bibir bawahnya, ia baru menyadari bahwa selama ini mereka tidak menggunakan pengaman apapun untuk mencegah kehamilan.
"Lho, emangnya kenapa yang, kan kamu punya suami, apa yang kamu takutkan?"
"Bukan kak, aku_ aku kan masih sekolah."
Satya menghela napas, ia mengerti bagaimana perasaan sang istri saat ini, terlebih tahun ini Mutia baru akan naik ke kelas XII sementara ia sendiri akan memasuki kuliah.
Mengalami kehamilan saat masih sekolah tentu akan menjadi beban tersendiri untuk Mutia, karena tidak ada yang bersekolah saat mengandung, walaupun ada! pihak sekolah sudah pasti akan mengeluarkannya dari sana, untuk itu ia tidak masalah jika Mutia menundanya hingga ia lulus sekolah.
"Yang, kamu takut?" Satya menggenggam tangan Mutia mencoba memberikan kekuatan dan kenyamanan.
"Aku_"
"Ada banyak cara agar kamu masih bisa melanjutkan sekolah meski dalam keadaan hamil sayang, tapi jika kamu keberatan kita bisa menundanya, aku nggak akan memaksa kamu yang."
Mutia menunduk, ia merasa terharu dengan ucapan suaminya yang terdengar tulus, sebenarnya ia sendiri tidak keberatan jika harus hamil muda, mengingat bagaimana ia memiliki suami yang begitu mencintainya serta sangat bertanggung jawab selama ini.
"Nggak."
"Ng-nggak apanya yang?"
"Aku nggak mau menundanya, biarkan dia hadir disini, kapanpun dia ingin hadir, dan kapanpun sang pencipta menitipkan nya." ujar Mutia tersenyum tulus seraya menyentuh perut ratanya, membuat Satya mematung hingga beberapa saat, memastikan jika yang barusan ia dengar benar-benar nyata.
__ADS_1
*
*