
Satria membuka pintu kamar, dilihatnya Stela telah terlelap, ia pun kembali menutup pintu kamar tersebut, kemudian melangkahkan kakinya mendekati ranjang dimana ada sang istri yang tengah tertidur.
Dipandanginya wajah damai sang istri yang nampak berkali lipat lebih cantik saat ia dalam keadaan tidur seperti ini, dan hal ini tentu yang pertama kali bagi dirinya melihat sang pujaan hatinya dalam keadaan memejamkan mata.
Tangannya terulur merapikan beberapa helai anak rambut yang menjuntai menghalangi pipi gadisnya, hingga tanpa sengaja pandangannya teralihkan pada beberapa tanda kepemilikan di leher putih Stela, yang ia ciptakan tadi.
Namun sedetik kemudian ia terkekeh geli, sekaligus merasa kesal saat mengingat kejadian tadi, dimana dirinya yang tengah merasakan sesuatu yang menggebu, namun tiba-tiba harus terhenti karena Satya saudara kembar laknatnya mengganggu aktifitasnya saat itu.
"Awas aja, besok-besok gue bales!" ia tersenyum licik, ada banyak ide yang bersarang dikepalanya untuk membalas semua kejahilan saudaranya itu.
*
*
Sama seperti pagi-pagi sebelumnya, Satria akan keluar duduk santai dibalkon depan kamarnya, menikmati sebatang rokok, sementara Stela masih terlelap, karena jarum jam baru saja mengarah ke angka setengah lima pagi, terlebih semalam ia tidur saat sudah larut.
Santai ia menyalakan rokok, menyesapnya perlahan, hingga kepulan asap berwarna silver itu terlihat bergelombang diantara gelapnya suasana pagi.
"Gimana bro, berhasil?"
Sebuah suara yang berasal dari samping, membuat ia terkesiap, dan hampir saja melompat dari kursi yang saat ini tengah di dudukinya.
"Se*tan!" umpat nya dengan kesal, menoleh kearah Samping dimana ada Satya yang tengah bersender di dinding depan kamarnya seraya terkekeh.
"Dilihat dari muka elo yang kecut sih, gue tebak pasti gagal, kan?"
"Sialan!"
"Tenang ngab, masih banyak waktu kok!" Satya kembali terkekeh, sama sekali tak mempedulikan tatapan horor Satria yang terlihat ingin menerkam nya saat itu juga.
Satria mendengus sembari memalingkan wajahnya kearah lain.
__ADS_1
"Lo kagak tahu kan apa yang terjadi saat gue balik lagi kekamar."
"Kenapa emangnya?"
"Stela udah tidur." ucapnya ketus, membuat Satya mengatupkan rahangnya, namun menit berikutnya ia tertawa terbahak-bahak.
"Bisa diem kagak lo, rese banget!" Satria melempar Satya dengan sendal rumahan milik nya, sementara yang dilempar malah semakin terpingkal-pingkal dengan tawanya.
"Jadi gimana Sat rasanya, hasrat yang nggak tersalurkan?" ia kembali tertawa mengejek, sembari mengenakan sendal yang dilemparkan Satria tadi walau hanya sebelah.
"Pergi lo anjirr"
Tak tahan dengan candaan yang berupa ejekan itu ia pun bergegas masuk kamar, tak mempedulikan tawa menggelegar Satya yang terdengar jelas hingga kedalam kamarnya.
"Siapa Sat?" tanya Stela yang ternyata sudah duduk di tepi ranjang, rupanya gadis itu terbangun karena mendengar tawa Satya dari depan kamarnya.
"Biasa, cucunya gerandong!"
"Gerandong siapa?"
"Ih serius, siapa?" tanyanya penasaran.
"Sikamvret yang, udah lupain aja! makhluk yang satu itu bisanya cuma bikin aku emosi aja."
"Satya?" tebaknya.
"Hmm."
"Kamu berantem sama dia?"
Satria hanya menggeleng sebagai jawaban, Stela tidak tahu saja jika sampai saat ini ia kesal setengah mati terhadap saudaranya itu, karena jelas-jelas telah menggagalkan malam pertamanya.
__ADS_1
"Kamu kok udah bangun yang, masih pagi lho!" mengelus pipi Stela menggunakan punggung tangannya, pipi putih selembut kulit bayi yang sangat sayang jika tidak disentuh sebentar saja.
"Kamu juga udah bangun, abis dari mana?"
"Menghirup udara pagi diluar!"
"Ck, apa gunanya menghirup udara pagi, tapi kamunya ngerokok."
Satria meringis, "Kok bisa tahu yang kalau aku abis ngerokok!"
Tak menjawab, Stela menyentuh tangan Satria yang masih menempel di pipinya, kemudian mengarahkan tangan tersebut tepat didepan hidung Satria.
"Ngerti dong sekarang ya, aku bisa tahu dari mana."
Satria kembali meringis, dengan senyum kaku. "Iya yang, aku emang abis ngerokok barusan."
"Apa enaknya ngerokok sih, apalagi kamu masih jadi anak SMA begini."
"Ya, gitu deh yang, kalau ditanya soal rasa sih nggak enak, cuman ya, nggak betah aja kalau udah biasa ngerokok jadi nggak ngerokok, kek gimana gitu, kek ada yang kurang aja."
"Sejak kapan?"
"Apanya.?" Satria kembali bertanya, namun Stela terlihat malas untuk menjawab, hingga ia pada akhirnya mengerti dengan sendirinya.
"Sejak SMP yang, tapi awalnya jarang kok, cuma sesekali aja, tapi kesininya karena aku sering bergaul sama temen-temen ya jadinya kebawa."
"Kamu bisa nggak, berhenti ngerokok."
"Nggak bisa lah yang, ngerokok udah bagian dari keseharian aku, kalau buat berhenti pasti bakalan susah banget deh."
"Oh iya?" ada nada tak suka dari nada bicara Stela, yang dapat Satria tebak.
__ADS_1
*
*