Pesona Twins S

Pesona Twins S
Bangun pagi


__ADS_3

Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng, yang menjadi menu sarapannya pagi itu, Satria bergegas mandi kemudian mengenakan seragam sekolahnya, sedikit berlari menuju garasi tempat penyimpanan motornya, kemudian melesat menuju sebuah rumah yang akhir-akhir ini sering ia datangi.


"Aku didepan gerbang rumah kamu." ucapnya, saat Stela mengangkat telpon darinya, kemudian dengan cepat ia segera mematikannya.


Tak lama Stela menyembul di balik pintu gerbang, masih memakai piyama dengan rambut yang dikuncir sembarang.


Saat ini masih terlalu pagi, tentu ia belum mandi dan bersiap untuk sekolah, karena jarum jam pagi ini baru menunjukan pukul 4:45.


"S-sat, kok kesini pagi-pagi ada apa?"


"Sengaja, mau bareng sama kamu kesekolah."


"T-tapi ini masih terlalu pagi Sat."


"Yaudah nggak apa-apa, aku tunggu disini sampai kamu selesai."


"Tapi bakalan lama lho."


"Nggak apa-apa."


"Emzz gimana kalau kamu masuk dulu kedalem, diluar dingin lho udaranya, lagi pula kita berangkat sekolahnya masih dua jam an lagi kan?"


"Emang boleh?" hatinya bersorak girang.


"Ya boleh." jawabnya setengah ragu.


*

__ADS_1


"Aku mandi dulu," pamitnya setelah meletakan secangkir teh hangat didepan meja sofa yang tengah di duduki Satria yang berada diruang tamu saat ini.


"Oke."


Sepeninggalnya Stela, Satria beranjak dari duduknya pandangannya menyapu seluruh isi ruangan tersebut, tersenyum saat melihat ada beberapa lukisan yang bertema hewan buas, yang tentu sangat ia sukai.


Kemudian tatapannya teralihkan pada sebuah foto dengan ukuran yang lumayan besar, disana terdapat foto seorang wanita muda, dan seorang pria yang Satria yakini hampir seumuran, terlihat sangat serasi, sementara dihadapan keduanya terdapat seorang anak perempuan kecil yang tersenyum manis menghadap kearah depan.


*


Setelah selesai mandi serta mengenakan seragam sekolahnya, Stela mengajak Satria untuk sarapan bersama yang disiapkan oleh bi Inah yang merupakan asisten rumah tangganya.


Sempat menolak karena ia sendiri sudah sarapan, namun pada akhirnya ia memakan juga sandwich yang diberikan Stela padanya, karena gadis itu terus memaksa.


Satria mengunyah makanannya dalam diam, suasana dirumah Stela terasa dingin dan sepi, berbeda sekali dengan suasana dirumah kedua orang tuanya yang ketika pagi akan sangat berisik dan riuh, oleh suara menggerutu sang bunda serta ocehan-ocehan Satya dan juga Cantika yang membuat suasana semakin hangat.


"Nyari siapa?" tanya Stela, saat melihat Satria yang sejak tadi terlihat gelisah menoleh ke kiri dan kekanan.


"Nggak ada."


"Maksudnya?"


"Mereka udah pisah, dan udah punya kehidupan nya masing-masing."


"Lalu?"


"Lalu, lalu apa?" Stela balik bertanya.

__ADS_1


"K-kamu?"


"Kenapa aku, ya aku juga punya kehidupanku sendiri." jawabnya cuek.


Satria terdiam, memandangi gadisnya yang terlihat acuh, namun ia dapat melihat ada banyak kesedihan yang gadis itu pendam sendirian.


"Ste?"


"Hmm."


"Kamu pernah nggak ngebayangin buat nikah muda, punya anak, dan hidup bahagia bersama keluarga kecil kamu."


Deg!


Ucapan Satria tersebut sontak saja membuat gerakan Stela yang sedang mengunyah sandwich nya pun terhenti, kemudian buru-buru menelannya dengan susah payah, dan berakhir meneguk segelas susunya hingga tandas tak tersisa.


Mendongak, menatap laki-laki dihadapannya yang ia akui sangat tampan dan mempesona.


''K-kamu ngomong apa sih?"


Satria beranjak, menggeser kursinya kemudian melangkah menghampiri Stela.


Berjongkok disampingnya, mendongak menatap kedua manik Stela yang juga tengah menatapnya bingung.


Perlahan kedua tangannya terulur, meraih kedua tangan Stela yang mendadak mengeluarkan keringat dingin.


"Maukah menikah denganku?"

__ADS_1


*


*


__ADS_2