Pesona Twins S

Pesona Twins S
Menjaga jarak


__ADS_3

Dua hari sudah usia pernikahan Satya dan Mutia, namun keduanya terlihat masih sama-sama canggung satu sama lain, dan hal tersebut tentu disadari oleh Nada, sang bunda.


"Sat tunggu, bunda mau ngobrol sebentar, bisa?"


Satya yang hendak menaiki tangga pun terhenti, menoleh, kemudian menghampiri sang bunda yang tengah duduk disofa.


"Duduk!"


Satya menurut.


Nada menghela nafas panjang sebelum kemudian mengeluarkan unek-unek dalam hatinya.


Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, seluruh penghuni rumah bahkan sudah tertidur, Nada sendiri keluar dari kamarnya karena haus, sedangkan Satya baru saja selesai menonton bola yang menayangkan pertarungan antara tim luar dengan tim kebanggaannya.


"Mutia udah tidur?"


Satya melirik jam yang menggantung di dinding.


"Mungkin udah bun."


Terlihat sang bunda kembali menghela nafasnya.


"Sat, kamu ngerasa diri kamu itu aneh nggak, bunda nanya?"


Satya mengerutkan kening bingung, "aneh gimana bun?"


"Kamu itu udah nikah Sat, kebiasaan kamu jangan disamain kaya waktu masih sendiri, apa lagi kalian itu terbilang masih pengantin baru, terus bunda kasih tahu kamu_ kamu jangan cuek-cuek sama istri, kamu tahu sendiri Mutia itu masih muda, cara berpikirnya juga pasti masih sedikit labil."

__ADS_1


"Tidak menutup kemungkinan kan, jika suatu hari dia minta di pulangkan kembali ke orang tuanya, kamu siap memangnya Sat?"


Deg!


"Satu lagi, kamu nikahin Mutia atas dasar keinginan kamu sendiri lho Sat, bukan keinginan bunda dan Oma, seperti saat menikahkan bang El dulu."


"Iya bun." jawabnya seraya menunduk.


"Baiklah, sekarang kamu tidur gih, besok masih harus sekolah kan."


*


Perlahan Satya membuka pintu kamarnya, dilihatnya Mutia sudah tertidur dengan lelap, ia mendekat mendudukan dirinya di sisi ranjang, seulas senyum terbit dari bibirnya kala memandangi wajah tenang sang istri saat tertidur.


Dua hari ini Satya memang selalu menjaga jarak, tetapi bukan karena ia menyesali pernikahannya dengan Mutia, gadis yang merupakan pilihannya untuk dijadikan teman hidup.


Tanpa sadar, tangan Satya terulur menulusuri wajah Mutia, dari kening, hidung, hingga berakhir di bibir ranumnya.


Glek!


Satya menelan ludahnya, saat benda kenyal dan lembut itu bersentuhan dengan ibu jarinya, jiwa kelelakiannya mendadak bangkit, repleks ia pun menarik tangannya, melengos menatap kearah lain.


Ia adalah laki-laki normal, dan cukup dewasa untuk merasakan sesuatu yang dirasakan para lelaki pada umumnya, terlebih kini ia sudah menikah.


Ia bisa saja meminta kapanpun apa yang menjadi haknya, namun ia memikirkan perasaan istrinya, dan memutuskan untuk menunggu hingga sang istri dengan suka rela memberikannya.


Satya menaiki ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Mutia, namun rupanya pergerakan Satya dirasakan oleh Mutia hingga gadis itu menggeliat pelan, seraya membuka kedua mata cantiknya.

__ADS_1


"K-kak, kak Satya udah selesai nontonnya?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Udah, maaf ya aku ninggalin kamu sendirian di kamar, kamu juga jadi kebangun gara-gara aku."


Mutia menggeleng pelan, "Nggak apa-apa kak."


"Yaudah, tidurlah lagi,"


*


Keesokan paginya, seperti biasa Satya akan mengantarkan istrinya terlebih dahulu kesekolahnya, sekolah Satya dan Mutia memang beda, namun jarak sekolah keduanya tidak terlalu jauh, jadi Satya masih sempat untuk mengantarkannya setiap hari.


"Aku masuk dulu ya kak."


Satya mengangguk.


Dirasa memang tak ada yang mesti disampaikan lagi, Mutia pun bergegas berjalan menuju pintu gerbang sekolah, hingga sebuah tangan besar menariknya kembali.


"K-kak, a-ada apa?" ucapnya tergagap.


Satya terdiam, ya laki-laki yang menarik tangannya itu tidak lain adalah suaminya sendiri.


"Belajar yang bener, aku sayang kamu." bisiknya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2