Pesona Twins S

Pesona Twins S
Nasehat sang abang


__ADS_3

"Satria belum pulang Sat?" tanya Nada ketika melihat salah satu putra kembarnya tengah bermain gitar bersama putri bungsunya, Cantika di ruang TV.


Satya menoleh, meletakan gitar disamping nya, sedikit menunduk untuk melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Lho, emang belum pulang bun?" tanyanya bingung, pasalnya tadi sore Satria mengiriminya pesan chat bahwa ia akan pulang lebih awal.


"Abang nginep dirumah bang El bun." Cantika ikut menyahut.


"Abang bilang Tika memangnya?"


"Iya, tadi sore kan abang pulang, ganti baju sama bawa tas juga, besok pagi sekolahnya mau dari rumah bang El katanya, terus titip salam juga buat bunda, maaf katanya."


"Oh gitu, yaudahlah."


"Eh ngomong-ngomong kalian berdua belum tidur sih, besok sekolah lho." Nada mengingatkan.


"Baru juga jam sepuluh bun." Satya menyahut.


"Baru juga apaan, tidur gih! jangan dibiasain tidur sampe larut malam begini, nggak baik."


Seperti biasa, mereka tak mampu membantah, menurut merapikan apapun yang baru saja dimainkannya, kemudian bergegas memasuki kamarnya masing-masing.


Istirahat dan tidur, seperti yang diperintahkan oleh sang bunda.


*


Ditempat yang berbeda, seorang laki-laki muda yang tak lain adalah Satria, tampak termenung memandang kosong kearah TV yang telah lama ia matikan.


Berulang kali menghela nafas, serta mengacak-acak rambutnya yang terasa sudah mulai memanjang, penolakan demi penolakan yang dilakukan Stela membuatnya gelisah akhir-akhir ini.


Selain tak nyenyak tidur, ia pun seolah merasa seperti terus-terusan kalah dalam berbagai kompetisi.


"Sat, belum tidur?''


" Eh, elo bang!" jawabnya lesu, menoleh sekilas kearah sang abang yang kini ikut bergabung duduk disofa yang sama yang tengah didudukinya.


"Kenapa lo, gue perhatiin dari tadi lo murung mulu, Gala sampe bilang ke gue lo kek orang yang lagi sakit, lemes katanya, Kinar juga bilang begitu."


"Gue_ gue patah hati bang, baru kali ini gue ditolak sampe berkali-kali dengan cewek yang sama.'' jawabnya jujur.


Tak menyela, El justru memandanginya dengan kening berkerut.


Satria menoleh, setelah beberapa detik berlalu sang abang hanya diam tak bersuara.


"Ngapa lihatin gue kek gitu, mau ngetawain gue?"


El menggeleng, "Jadi karena ini lo galau, sejak kapan?"


"Maksud lo apa sih bang?"

__ADS_1


"Gue tahu persis, ini bukan sikap lo yang biasanya Sat, maksud gue sejak kapan lo bawa perasaan begini mengenai cewek, dulu juga pas putus sama si Adel yang lo bilang cinta mati lo itu, lo nggak sampe kek gini kan?"


Terlihat Satria menyentak nafasnya dengan cukup kasar, "Yang ini beda bang."


"Bedanya?"


"Ya beda aja, gue nggak bisa keknya kalau tanpa dia."


El terkekeh, "Seriusan ini yang barusan ngomong, seorang Satria Aji Arsenio, yang terkenal playboy sejagat raya itu."


"Ck, nggak sejagat raya juga kali bang, lo pikir gue seterkenal itu apa?" Satria mendengus kesal.


"Emang dia secantik apa sih, sampai bisa bikin adek gue patah hati begini." El menepuk pundak sang adik.


"Cantik banget, sebelas dua belas lah sama kak Kinar."


"Masa sih, tapi gue rasa nggak ada cewek yang lebih cantik dari bini gue deh!" jawab El, seraya tersenyum membayangkan wajah sang istri yang tak pernah berhenti membuatnya jatuh cinta setiap harinya.


"Ck, dasar bucin akut lo bang."


"Gue sumpahin bentar lagi lo yang bucin."


"Ck!"


"Jadi gimana bang, tolong kasih gue solusi biar dia mau jadi pacar gue?" lanjut Satria yang membuat El terdiam sesaat.


"Dia tahu lo seorang playboy?"


Satria mengangguk.


"Lo bisa ceritain dikit nggak tentang kpribadian dia sehari-hari saat disekolah?"


"Dia, dia jarang bergaul sama siapapun, sedikit jutek, cuek, dan lebih suka menyendiri."


"Ada lagi hal lainnya yang lo tahu?"


"Yang gue tahu, dia korban broken home."


El mengangguk kecil, "Seharusnya lo paham kenapa sebabnya dia begitu Sat, gue rasa dia terlalu takut menjalin hubungan, ya bisa dibilang sejenis trauma gitu."


"Jadi gue musti gimana?"


"Berusaha buat yakinin dia terus, apa lagi dengan posisi diri lo yang kek gini."


"Ok gue ngerti bang."


"Jadi gimana, lo nyesel sekarang?"

__ADS_1


Satria mengangguk, "Yang lo bilang dulu bener bang, kalau gue bakalan nyesel dengan apa yang gue lakuin setelah gue bener-bener nemuin cewek yang membuat gue jatuh cinta setengah mati."


"Tapi untuk sekarang, semuanya udah terlambat Sat, tinggal lo berusaha buat yakinin dia, tidurlah! udah malem, besok kesiangan sekolah." El beranjak dari duduknya menepuk pundak sang adik sebelum kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Hari-hari berikutnya, Satria berusaha untuk lebih tenang dan bersabar, memberikan Stela lebih banyak waktu untuk berpikir.


Ia sengaja tidak pernah lagi menemuinya, lebih tepatnya selalu menghindar, agar tidak saling bertatap langsung dengan Stela.


Satria kini menyadari bahwa semua gadis itu tidak sama dengan gadis-gadis yang ia kenal sebelumnya, yang dengan mudah menerima cintanya yang hanya bermodalkan sebuah rayuan dan gombalan recehnya.


"Bro, lo kagak lihat tadi?" Andre menghadang tubuh Satria yang hendak menaiki motor gedenya.


"Lihat apaan?"


"Sicantik yang lo suka."


"Maksudnya?"


"Elahh, pura-pura kagak paham ni bocah."


"Serius! gue emang kagak paham lo ngomong apa."


"Stela, barusan diboncengin cowok, keknya anak dari sekolahan sebelah deh bro, yakin gue!" jelas Andre yang seketika membuat Satria mengepalkan erat kedua tangannya.


"Lo yakin, kagak salah lihat?"


"Yakin banget, mata gue masih normal kali bro, kagak mungkin salah lihat."


Tanpa mengatakan apapun lagi, Satria bergegas melajukan motornya, melesat meninggalkan area sekolah.


"Sial! kenapa musti lampu merah segala sih!"


Sepanjang perjalanan ia terus mengumpat beberapa kali, sembari menoleh kekiri dan kekanan untuk mencari keberadaan laki-laki yang telah membawa gadis pujaannnya.


Deg!


Satria tertegun, saat pandangannya tertuju pada sessorang yang teramat ia kenali.


"Stela?" gumamnya.


Ya, gadis itu berada tepat dihadapannya, yang hanya terhalang oleh tiga buah kendaraan roda dua, yang tengah berjejer menunggu lampu lalu lintas berubah warna.


"Brengsek!" umpatnya dengan rahang mengeras.


*


*

__ADS_1


__ADS_2