
"Balik lagi ternyata bocah, cewek lo gimana?" Haikal merangkul pundak Satria dan memberinya satu buah minuman kaleng yang bersoda.
Dengan sigap Satria mengambilnya dari tangan Haikal, membuka penutup kaleng dan segera meneguknya hingga tandas.
"Ngambek dia!"
"Kok bisa sih, perasaan tadi pas kesini baik-baik aja kan?"
"Biasa cewek, dia minta gue ceritain masa lalu, eh pas gue ceritain dia malah kek gitu."
"Ribet juga punya cewek ya, ribet musti gimana ngerayunya, ribet ngebaik-baikinnya, berarti mendingan jomblo aja kek gue dong ya, ribetnya pas mikirin uang jajan doang."
"Tapi kagak ada yang perhatiin lo, kagak ada yang nyemangatin juga."
"Siapa bilang? tiap hari gue dapet perhatian terus, disemangatin juga terus."
"Heuh, siapa?"
"Emak gue lah."
"Ck, kalau cewek yang satu itu mah kagak usah ditanya Kal, ibarat kata pepatah tuh ya, kasih sayang emak sepanjang masa kagak bakalan luntur, kecuali lo udah kagak ngakuin dia lagi sebagai emak lo." timpal Andre, sembari meminum minuman miliknya.
"Berisik lo bertiga, aktisnya udah nongol tuh." Ucap Adam, yang kini ikut bertepuk tangan seperti penonton lainnya.
Keempat laki-laki muda itu mulai menggerakan kepala nya kekiri dan kekanan mengikuti alunan musik, sesekali mengikuti sang aktris bernyanyi.
__ADS_1
Hingga dua jam berlalu, Satria pun memutuskan untuk pulang, karena ia berencana untuk menelpon, membujuk gadisnya agar tidak marah lagi.
Ketiga sahabatnya sempat kecewa, dan melarang Satria agar tidak pulang cepat, namun setelah Satria memberi tahu mereka bahwa ia akan membujuk Stela, akhirnya dengan berat hati mereka bertiga mengijinkannya untuk pulang.
*
"Anjirr, kurang angin keknya nih." Satria memukul motornya, pandangannya menyapu kesekitar mencari bengkel terdekat.
"Asoyyy, ada yang deket ternyata." ucapnya tersenyum senang.
Kemudian ia membawa motornya kesebuah bengkel kecil yang terletak di samping penjual gado-gado.
"Bang, ngisi angin!" ucapnya pada seseorang yang tengah sibuk merapikan beberapa alat bengkel dan memasukannya kedalam kotak perkakas.
"Siap!" ucapnya seraya beranjak menghampiri Satria dan mulai mengarahkan alat pengisi angin kedalam ban motornya.
"Bisa mas." jawab si abang bengkel.
"Selesai nih mas." ujar si pemilik bengkel pada Satria.
"Ok bang, makasih ya!" ucapnya seraya memberikan uang pecahan kecil.
"Ok mas sama-sama."
Saat hendak menaiki motornya Satria mengerutkan kening ketika melihat seseorang yang berada dibelakangnya.
__ADS_1
"Oh elo ternyata, pahlawan kesiangan yang waktu itu! lo masih inget gue!" ucap seseorang tersebut, yang tak lain adalah Brandon laki-laki yang pernah memaksa Stela, sekaligus menjadikan pertemuan pertama ia dengan gadis yang kini telah resmi menjadi pacarnya.
"Jelas gue masih inget lah, muka berengsek lo udah ke catet di otak gue." jawab Satria santai, dengan kedua tangan yang ia lipat didepan dada.
"Si*alan!"
"Kenapa lo kagak terima, bukannya omongan gue bener ya! cowok yang hampir ngelecehin cewek yang bukan siapa-siapa nya emang masih bisa disebut cowok baik-baik."
"Dia cewek gue an ying!"
"Tapi dia kagak ngakuin kalau lo pacarnya, dia juga bilang nggak kenal baik sama lo, lo cuma cowok pemaksa yang datang entah dari mana."
"Dan satu lagi, mulai detik ini lo jangan pernah nongolin wajah lo lagi didepan Stela, jangan ganggu dia, karena dia udah jadi milik gue sekarang." sebuah senyum penuh kemenangan terbit dari bibir Satria.
"Cih, sampai kapanpun gue nggak bakalan pernah lepasin dia, asal lo tahu kakaknya udah ngejual mahal dia ke gue."
"Lo_"
"Mas gimana nih, jadi nambal bannya nggak, soalnya sebentar lagi saya mau tutup." sela abang pemilik bengkel, ia cukup pusing melihat keduanya, dan khawatir jika mereka berantem didepan bengkel miliknya, yang akan berimbas pada barang-barangnya.
Sang pemilik bengkel cukup trauma dengan kejadian dua tahun yang lalu, saat ada pengunjung suami istri yang sedang marahan, dan berakhir dengan saling melemparkan barang-barang bengkelnya, hingga membuat beberapa botol oli pecah berceceran.
Dan setelahnya mereka pergi begitu saja dengan amarah yang tak terkendali, sedangkan ia hanya bisa menangis dipojokan meratapi bengkelnya yang sudah seperti kapal pecah.
*
__ADS_1
*