Pesona Twins S

Pesona Twins S
Perasaan Asing


__ADS_3

"Kapan-kapan mainlah kebandung, ajak istrimu juga, opa tunggu kedatangan kalian disana." ujar opa Rendra, sebelum menaiki mobilnya dengan tubuh yang sedikit sempoyongan, memegangi pinggangnya sendiri.


"Iya opa, makasih udah dateng! oh iya gimana giginya masih sering sakit opa?" tanya Satria, karena seingatnya saat menghadiri akad nikah Satya, opa Rendra tengah sakit gigi yang cukup parah.


"Iya sama-sama, lagian masa iya, cucunya nikah opa nggak dateng, opa macam apa? dan soal sakit gigi nggak perlu ditanya juga kan udah kelihatan, kalau opa memang sedang sakit gigi."


"Bingung ngebedainnya opa, soalnya yang dipegangin opa kan pinggang terus."


Opa Rendra tampak terkekeh.


"Sebetulnya dua-duanya memang sakit, maklum! sepertinya sudah tua opa ini."


"Yasudah opa pulang dulu, ingat! jangan main brutal lho ya." lanjut opa Rendra sebelum kemudian menaiki mobilnya.


*


Nada tersenyum bahagia melihat anak-anaknya yang tampak akrab, Stela, Mutia, dan Cantika, tampak serius mengobrol namun sesekali mereka tertawa bersama, begitupun dengan kedua putranya yang tampak asik memainkan permainan yang selalu mereka lakukan sejak dulu.


Namun bukan hal itu yang membuatnya merasa begitu bahagia, akan tetapi karena saat ini ia masih bisa menikmati momen-momen seperti ini, dimana suatu hari nanti ia tak akan merasakannya lagi.


Saat ini kedua putra kembarnya telah memiliki istri, yang memberinya bukti nyata bahwa kini mereka bukan lagi anak-anak kecilnya, mereka sudah mulai dewasa dan memiliki keluarga sendiri.

__ADS_1


Dan ia yakin cepat atau lambat, kedua putra beserta istri-istrinya akan keluar dari rumah, untuk pindah kerumah mereka, sama halnya seperti El, tiga tahun yang lalu.


Lamunan Nada buyar, saat telapak tangan besar nan hangat menyentuh jemarinya dan menggenggamnya erat.


"Jangan terlalu di pikirkan, apa yang seharusnya terjadi pasti akan terjadi, biarlah." ucap sang suami yang tak lain adalah Ando, berusaha menenangkan, seolah mengerti dengan perasaan gundah yang tengah dirasakan oleh istrinya saat ini.


*


"Semua barang-barang kamu udah diberesin sama bibi." ujar Satria saat keduanya menaiki tangga, setelah cukup lama bermain dibawah.


"Kalau gitu besok aku musti ngucapin terimakasih sama bibi nih."


Satria membuka pintu, sementara Stela memasuki kamar tersebut terlebih dahulu untuk menyalakan lampu, namun belum sempat tangannya menggapai saklar, Stela terpekik kaget saat Satria menarik tubuhnya dan memepetkannya kearah dinding, dengan sebelah tangan mengunci pintu.


"S-sat?"


"Udah halal kan, berarti malam ini kita bebas ngelakuin apa aja kan yang?" berbisik tepat ditelinga Stela, seraya menggigit pelan ujung telinganya.


"S-sat?"


"Shhhtt...!" Satria meletakan telunjuknya diatas bibir Stela, yang mengisyaratkan agar gadis itu, cukup diam, biar ia yang bekerja.

__ADS_1


"Kita akan mengulang yang pernah terjadi, tapi aku jamin kali ini nggak akan ada yang lihat." masih dengan suara berbisik pelan, kemudian ia gegas menautkan bibirnya dengan bibir Stela, meresapi sesuatu yang terasa sayang jika disudahi dengan cepat.


Rasa yang tidak bisa digambarkan selain menginginkannya lagi dan lagi, layaknya seperti pecandu berat.


Sementara itu tubuh Stela mendadak panas, lututnya terasa lemas tak berdaya, saat Satria mulai melakukan sentuhan-sentuhan yang membuat tubuhhya semakin merinding, merasakan gelenyar asing yang diciptakan oleh sentuhan tersebut.


Malam semakin larut, namun didalam kamar dengan cahaya yang lebih dari sekedar temaram itu, sepasang remaja yang tengah dimabuk cinta menyudahi tautan bibir mereka.


"Kita pindah ke ranjang." Satria menge cup sekali lagi bibir mungil yang sudah mulai membengkak tersebut, kemudian menggendong tubuhnya dan meletakan nya diatas kasur dengan sangat perlahan dan hati-hati.


"Mau gelap-gelapan apa terang.?" tanyanya yang sontak membuat Stela memandangnya dengan kening berkerut.


Apa maksudnya? namun pertanyaan itu hanya ia ucapkan dalam hati, setelah apa yang terjadi barusan, ia tak mampu berbicara apa-apa bahkan untuk sekedar protes pun ia tak mampu.


"Ada yang bilang, kalau ber cinta ditempat gelap, anaknya bakal item yang, dan kalau kita ber cinta ditempat yang terang maka memiliki arti yang sebaliknya, jadi lampu nya dinyalain aja ya biar anaknya cakep." ucap Satria, yang membuat Stela mengerjapkan matanya antara tak percaya dan ingin tertawa.


Dasar suami bocah, batinnya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2