Pesona Twins S

Pesona Twins S
Jalan berdua 2


__ADS_3

Setelah puas menceritakan seluruh Keluh kesah yang dirasakannya selama ini, Stela pun meminta Satria untuk tidak mengasihaninya, bukan hanya itu ia berusaha mati-matian agar tidak terlihat sedih dihadapan Satria.


"Gimana kalau sekarang kita cari makanan aja, gue laper nih kayaknya, lupa udah seminggu nggak makan." ujar Satria mencairkan suasana.


"Lo suka bakso kan?"


"Tahu darimana?" tanya Stela keheranan.


"Cuma nebak aja sih, tapi cewek emang gitu kan, rata-rata suka banget sama si bunder yang nggak rata itu."


"Eh maksud gue, bakso." lanjut Satria saat menyadari raut wajah Stela yang kebingungan.


"Jadi kita mau makan bakso nya diruko yang mana?"


"Memangnya sekitar sini ada ruko?"


"Ada, tapi agak jauh dari sini sekitar sepuluh menitan lah."


"Kenapa harus jauh-jauh memangnya disini nggak ada."


"Ada sih, tapi lo nggak apa-apa makan di tempat ginian?"


"Memangnya kenapa?"


"Ya karena setahu gue hampir semua cewek yang pernah jalan sama gue bilang, makan di tempat begini itu risih, nggak higenis, dan_"


"Sama aja!" potong Stela yang kini beranjak dari duduk nya berjalan menuju sebuah tenda yang menjual bakso dan juga mie ayam.


"Biar gue yang pesenin, lo duduk aja." bisik Satria yang kemudian diangguki oleh Stela.


Sembari menunggu Satria, Stela pun mencari tempat duduk yang nyaman dan sesekali melirik kearah satria yang sedang berbicara pada si abang penjual bakso, keduanya terlihat sangat akrab seolah sudah sering bertemu, tak lama Satria datang menghampirinya dengan membawa nampan yang berisi satu porsi mie ayam, dan satu porsi bakso.


"Silahkan tuan putri, selamat makan." Satria meletakan bakso nya tepat dihadapan Stela.


"Thanks." ucap Stela menahan untuk tidak tertawa.

__ADS_1


"Eh ini_" Stela menatap bakso dan juga Satria bergantian.


"Kenapa,?" tanya Satria seolah tak mengerti, membuat Stela mendesah tak percaya, bagaimana cowok itu bisa tahu jika ia lebih suka memakan bakso hanya memakai sawi hijau saja, batinnya penuh tanya.


"Lo, apa aja sih yang lo tahu tentang gue sebenernya?"


Terlihat Satria berpikir keras, kemudian tersenyum "Untuk sekarang baru dikit sih, tapi gue pastiin gue akan segera tahu semua tentang lo."


"Ngaco!" ucap Stela ketus, yang membuat Satria terdiam, memandangi wajahnya lembut.


"Ste, apa lo sebegitu nggak yakinnya sama perasaan gue, gue tahu gue ini dulunya cowok yang seperti apa, lo boleh berpendapat apapun tentang kpribadian gue, tapi tolong kasih gue kesempatan, gue mau kok lakuin apapun asal lo bisa percaya.?"


"Sat, ini nggak gampang buat gue, semuanya butuh waktu kan?"


"Ok, gue bakal nunggu selama apapun itu, gue serius Ste, gue sayang banget sama elo, gue cinta!"


"Sat lo ngomong apa sih, lo lupa kita lagi dimana?" Stela berbisik dengan wajah memerah menoleh kekiri dan kekanan, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar pernyataan Satria yang tidak tahu tempat itu.


"Kenapa,? gue bisa aja nyatain cinta di depan ratusan orang sekalipun."


"Iya, gue gila karena lo." mengedipkan sebelah matanya, kemudian terkekeh pelan.


*


*


"Wih, wajah anak muda yang satu ini sepertinya ceria banget, kenapa? karyawan bunda cantik-cantik ya?'' goda Ando ketika melihat putra keduanya yang tak lain adalah Satria itu tengah senyum-senyum sendiri memandangi foto Stela yang diambilnya secara diam-diam.


" Eh ayah, kapan pulang?" tanyanya seraya menoleh kearah sang ayah yang kini ikut bergabung disofa yang sama dengannya.


"Sekitar tiga menit tiga belas detik yang lalu."


"Elah, detail banget!"


Ando tergelak, "Gimana Sat kerjanya hari ini ada kendala.?"

__ADS_1


"Nggak ada sih, karena ada mbak Winny juga yang nggak bosen ngajarin."


"Iya sih, mbak Winny orangnya cepet akrab, enak buat diajak ngobrol."


"Iya, ayah bener!"


"Ayah, ayo katanya mau ke kedai es cream?" tiba-tiba Cantika datang dengan tingkah manjanya meraih tangan sang ayah dan menggoyangkan nya pelan.


"Ck, ceriwis! sore-sore beli es cream," ledek sang abang.


"Biarin wle!"


"Bolong-bolong entar giginya, baru tahu rasa."


"Ih ayah ayo, Tika lagi males dengerin abang, abang orangnya berisik kaya sound nya mang udin." celetuk Cantika yang membuat Satria mendelik, sedangkan sang ayah tersenyum geli mengusap rambut putri bungsunya itu dan bergegas menggandengnya keluar menuju tempat yang diinginkan putri nya itu.


"Ayah sama Cantika mau kemana?" tanya Satya yang baru saja turun dari lantai atas sembari mengancingkan bajunya, karena baru saja selesai mandi.


"Tahu, katanya sih mau beli es cream." jawab nya tanpa menoleh, sibuk membalas chat di benda pipih yang sedang digenggamnya, sementara Satya hanya ber oh, dan ikut bergabung disofa bekas duduk sang ayah.


"Gimana kerjaan lo hari ini lancar,?" tanya Satya.


Satria menghela nafas kasar, "kerjaan sih aman-aman aja, tapi hati gue yang kagak aman Sat."


"Lah?"


"Gue ditolak!" ucap Satria yang seketika membuat Satya menyemburkan tawanya hingga terbahak-bahak.


"Ketawain aja terus! sialan, saudara durjana lo." Satria menoyor keningnya dengan kesal.


"Seriusan lo ditolak? apa yang terjadi gerangan dengan dirimu wahai kisanak, sepertinya susuk mu itu sudah menghilang Dan tidak berfungsi dengan baik, oh kisanak sepertinya ini memang sudah waktu nya kau harus insyaf dan_"


"Ajig! nyesel gue cerita sama lo! lagian gue nggak sepenuhnya ditolak, gue cuma perlu berlatih sabar menunggu aja." Satria kembali menoyor kening saudara nya itu yang kini terlihat berkali lipat menyebalkan dari biasanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2