
Setelah membanting pintu kamar Satya dengan keras, Satria pun memasuki kamarnya untuk mandi dan mengganti pakaiannya.
"Lho mau kemana Sat, nggak cape kamu udah mau pergi lagi aja?" tegur Nada saat melihat putra keduanya itu tengah berjalan menuju garasi, ketika ia baru saja kembali setelah mengantarkan secangkir kopi untuk mang Diman, menggantikan bi Sari yang jarinya terluka karena tak sengaja terkena pisau ketika ia sedang mengiris bawang didapur.
"Bosen dirumah bun."
"Terus mau kemana?"
''Nyari hiburan." jawabnya yang terdengar malas, memasang helm kemudian melangkah mendekat kearah wanita yang berstatus sebagai bunda nya tersebut.
"Satria pergi dulu bun." mencium punggung tangan Sang bunda.
"Yaudah, jangan malem-malem pulangnya tapi."
"Iya bun."
*
Seperti biasa, pemuda itu akan menelpon Stela setelah berada didepan rumahnya, dan tak lama Stela keluar dengan wajah kacaunya, membuat Satria yang sedang duduk diatas motor bergegas menghampirinya.
"Ste?"
"Anterin aku ke butik sebentar, bisa?" ucapnya, dengan suara bergetar, bercampur isakan kecil, sepertinya gadis itu baru saja menangis.
Tak banyak kata, dan memutuskan tak ingin bertanya dulu, menunggu perasaan kekasihnya lebih baik, Satria mengangguk kecil, mempersilahkan gadisnya untuk naik keatas motornya.
Motor yang ditumpangi keduanya melaju dengan kecepatan sedang, menikmati sejuknya angin siang ini, cuaca yang cukup mendung namun tak menandakan bahwa hujan akan segera turun itu membuat keduanya merasakan ketenangan dari perasaannya yang sama-sama tengah gundah.
"Aku cuma sebentar." ujar Stela saat ia hendak turun dari motor Satria yang sudah berhenti tepat di depan butik miliknya.
"Ok, aku tunggu."
__ADS_1
Satria memandangi punggung gadisnya yang berjalan menjauh hendak memasuki butik milik gadis tersebut, dalam benaknya ada berjuta pertanyaan yang ingin ia tanyakan, salah satunya tentang apa yang terjadi pada Stela yang sering menangis setiap kali ia mendadak mendatanginya.
Namun, ia memilih menahan semuanya, menunggu gadisnya sendiri siap untuk bercerita.
Tersenyum saat gadis itu kembali menghampirinya hanya dalam hitungan beberapa menit saja.
"Cepet banget?"
"Tadi kan udah bilang, cuma sebentar."
"Oke, terus kita mau kemana sekarang?"
"Terserah." jawabnya yang kemudian kembali menaiki motor gede Satria.
"Jadi kemanapun aku pergi kamu mau ikut?"
"Hmmm."
"Iya.
*
"Ini dimana?" ujar Stela, sembari menoleh ke kiri dan ke kanan, karena tempat tersebut terasa asing, dan baru pertama kali ia datangi, sebut saja ia kolot dan norak, padahal jelas-jelas tempat tersebut berjarak hanya dua puluh lima menit dari butik miliknya.
Stela bukan gadis yang suka kelayapan dan bersenang-senang dengan temannya, hingga ia tidak begitu hafal dengan dunia luar.
Sejak kecil Stela sudah diajarkan apa itu namanya mandiri, dan mencari uang sendiri, jadi ia tidak memiliki waktu sebanyak itu untuk berfoya-foya.
Perceraian kedua orang tuanya begitu berdampak buruk pada mental maupun kehidupannya.
Sang ayah memilih untuk menikah lagi, sedangkan sang mama lebih memilih mementingkan karir ketimbang merawat dan tinggal bersamanya.
__ADS_1
Namun dua minggu sekali keduanya akan sama-sama menemuinya dirumah, yang akan berakhir dengan perdebatan memperebutkan masa depannya yang ia sendiri tidak menginginkan kedua-duanya.
Sang ayah menginginkan Stela agar menjadi guru di sebuah sekolah yang menjadi tempat sekolah favoritnya dulu.
Sementara sang mama menginginkan Stela agar menjadi Dokter seperti cita-cita masa kecilnya yang tidak kesampaian.
Dan tentu saja keinginan kedua orang tuanya jelas bertolak belakang dengan apa yang Stela impikan, karena ia sendiri memiliki cita-cita sebagai Desainer ternama yang memiliki banyak peminatnya.
"Kamu belum pernah datang kesini?" Satria melebarkan matanya tak percaya, di saat semua gadis seumurannya mulai jenuh dengan tempat tersebut karena sudah mengunjungi nya berulang kali, lalu apa kabar dengan Stela, yang baru saja mengetahuinya siang ini.
Stela memang sempat mendengar cerita tentang tempat itu dari teman-temannya namun ia tak berniat untuk mendatanginya dalam waktu dekat.
"Nggak usah segitunya ngelihatinnya?" protes Stela.
"Tempat ini udah ada sejak tiga belas tahun yang lalu lho Ste, seriusan kamu nggak tahu?"
"Mau tiga belas tahun atau tiga puluh tahun sekalipun mungkin aku memang nggak akan pernah tahu." jawab Stela yang mulai beranjak dari hadapan Satria mencari bangku kosong yang disediakan di area taman yang dijadikan tempat wisata tersebut.
Stela memandang lurus kedepan, memperhatikan keluarga kecil yang berada tidak jauh darinya sedang tertawa lepas, mereka terlihat begitu bahagia, padahal sesuatu yang mereka tertawakan adalah hal yang sangat sederhana.
Dulu, dulu sekali ketika ia masih kecil, ia pun sempat merasakan hal tersebut, hanya sebentar, sebelum kemudian kedua orang tuanya memilih untuk berpisah dan saling melepaskan, tanpa memikirkan dirinya.
"Mau lihat ikan?" tawar Satria saat menyadari raut kesedihan mulai nampak di wajah Stela.
Taman itu cukup unik, selain banyaknya bunga dengan keharuman begitu menyegarkan, ada banyak juga pohon ketapang kencana yang meneduhkan, selain itu disana juga terdapat beberapa kolam ikan koi, hiasan seperti payung tergantung indah di setiap pohon ketapang kencana dengan ukuran yang lebih tinggi.
Kemudian ada beberapa tempat untuk berfoto-foto yang rata-rata hampir keseluruhannya terbuat dari bambu.
Rumah-rumahan mini yang bergenteng ilalang kering, kupu-kupu raksasa, dan masih banyak kerajinan lainnya yang terbuat dari bahan yang sama, yaitu bambu hitam.
*
__ADS_1
*