
"Maaf ma." jawab Stela dengan wajah menunduk, sembari memilin jemarinya.
Sementara Cintya tampak menghela nafas beberapa kali untuk mengendalikan emosinya.
"Mama benar-benar merasa nggak dianggap lagi sebagai seorang ibu." Cintya menggeleng pelan, berusaha sekuat tenaga menahan air bening yang bahkan sudah menggenang dipelupuk matanya.
Menahan semua kekecewaan.
"Maaf ma." sekali lagi Stela berucap, karena hanya dua kata itu yang mampu ia ucapkan saat ini.
"Memangnya apa susahnya sih, tinggal bilang ke mama kalau kamu mau nikah,? nenek dan kakek aja tahu, kenapa mama bisa nggak tahu."
"Mungkin kalau bukan mereka yang ngasih tahu, sampai kapanpun mama nggak akan pernah tahu."
"Apa semua ini karena ulah papamu itu,?"
"Ste, jawab mama?" sentaknya.
"Bukan ma!" Stela semakin menundukan kepalanya tak berani menatap sang mama, ia juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya, karena hal tersebut tentunya bukanlah hal baik, dan malah akan menimbulkan masalah yang berkepanjangan.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu akan selalu menutupi keburukan papa kamu yang baji ngan itu, sampai kapan? apa untungnya buat kamu Ste,?"
"Oh, mama tahu! sekarang kamu lebih memihak sama papa kamu, kenapa? karena uang bulanan dari mama buat kamu kurang, terus papa kamu_"
"Cukup ma!" Stela mendongak memberanikan diri menatap sang mama yang menunjukan raut penuh kekecewaan.
"Kamu mulai membangkang ya sekarang! siapa yang ngajarin, pasti papa kamu ya, papa kamu itu benar-benar_"
"Ma, mau sampai kapan mama membenci papa, bukankah dalam hubungan mama sama papa dulu tidak ada pengkhianatan, itu semua murni karena keinginan mama dan papa yang ingin bercerai, lalu dimana yang salahnya ma?"
"Lalu, alasan apa yang membuat mama membenci papa, apa karena setelah bercerai dari mama, papa langsung menikah lagi dan memiliki keluarga baru, katakan! apa yang membuat mama marah?" lanjut Stela, yang membuat Cintya mengatupkan rahangnya seketika.
"Mama kecewa sama papa kan, karena papa lebih memilih menikahi perempuan lain dibanding mempertahankan mama di sisinya, mama juga melampiaskan kemarahan mama dengan meninggalkan aku seorang diri disini, bagaikan anak yatim piatu."
Deg!
"Ste_"
Bukan Cintya yang memanggil namanya, melainkan seseorang yang baru saja tiba disana.
__ADS_1
"Papa?" Stela menoleh bersamaan dengan Cintya.
Ya, dia adalah Adrian yang entah mengapa tiba-tiba ingin mampir kerumah tersebut, meski sebelumnya ia sudah mengetahui bahwa Stela tak lagi tinggal disana, karena kemarin ia sendiri yang membantunya mengantar koper yang akan dibawa kerumah yang menjadi tempat baru untuk putrinya itu.
"Mas Adrian?" Cintya seketika berdiri, menatap nyalang kearah laki-laki yang kini masih berdiri diambang pintu.
"Kamu keterlaluan mas! kamu benar-benar sudah meracuni pikiran putriku, sampai dia tega tak memberitahuku tentang pernikahannya, kamu tahu sepenting apakah hal ini buatku?" Cintya berteriak marah.
"Jika hal ini memang penting, lalu kenapa kamu tidak berusaha untuk dekat dengan Stela selama ini, dengan begitu kamu akan mengetahui apapun tentang dia."
"Bukannya terus-terusan mencari sesuatu yang bahkan tidak akan membuat dirimu bahagia Cintya." lanjut Adrian, dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan mas!"
Adrian menggeleng, "lihatlah, bahkan sampai saat ini kamu tidak berubah Cintya." balas Adrian yang membuat Cintya seketika memalingkan wajahnya dengan hati memanas.
*
*
__ADS_1