
"Kenapa sama Satria bang?" tanya Nada, yang kini ikut duduk disamping suaminya.
"Aku bingung menjelaskannya." jawab Ando, yang kemudian menggeser tubuh mengangkat kedua kakinya keatas kasur.
"Naiklah!"
Nada menurut, mengangkat kedua kakinya seperti yang dilakukan sang suami kemudian sama-sama merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Kamu setuju kalau Satria nikah diwaktu dekat." ucap Ando yang terdengar santai, tanpa ada nada emosi sedikitpun.
"Nikah,? emangnya Satria bilang mau nikah?" tanya Nada dengan mata terbelalak lebar, tentu tak menyangka bahwa putranya yang satu itu mendadak minta dinikahkan, padahal jelas-jelas dia masih suka bermain dan pacar-pacaran.
Sedikit bandel, dan susah di atur.
"Dari pada diluaran nggak bener, mending cepat-cepat dinikahkan aja kan, itu akan membuat kita lebih tenang, terus aku harap setelah dia beristri dia bisa berubah dan lebih bertanggung jawab."
"Iya sih, aku setuju aja! tapi gimana sama pacarnya Satria, bukannya dia masih sekolah juga?"
"Nanti kita coba ngomong baik-baik sama keluarganya."
"Terserah sih aku ikut aja, oh iya bang kamu ngerasa nggak sih kalau keluarga kita itu lucu."
__ADS_1
"Lucu?" Ando menoleh menatap istrinya dengan kening berkerut.
"Iya lucu, dulu abang pas nikah waktu masih SMA, nah anak kita yang pertama si El, nikah waktu SMA juga, baru kemarin di susul Satya nikah SMA, bentar lagi Satria yang nyusul, tidakkah menurut abang ini terasa lucu?!"
"Iya juga sih." Ando terkekeh geli.
"Gimana sama Cantika nanti ya, tapi aku harap Cantika nggak ngikutin jejak ayah sama ketiga abangnya."
"Kenapa nggak?"
"Ihs abang, jangan dong! dia anak gadis kita satu-satunya janganlah sampai nikah muda, aku ingin melihat dia tumbuh dewasa bersama kita."
"Tapi kan kita nggak tahu nasib anak kita yang bungsu itu seperti apa, siapa tahu jodohnya lebih cepat dari yang kita duga."
"Ya nggak masalah sih, yang penting kehidupan anak kita dipenuhi kebahagiaan dan serba kecukupan."
"Tuhkan kamu gitu."
"Yaudah gini aja, gimana kalau kita nambah satu atau dua lagi, biar kita nggak kesepian menjalani masa tua kita." Ando mengedipkan sebelah matanya, yang menyiratkan sebuah arti.
"Ngomong apa sih, udah punya cucu tiga lho kita, kalau kamu lupa." Nada memukul lengan suaminya, dengan tawa tertahan.
__ADS_1
"Tapi serius sayang, aku masih sanggup lho, kamu nggak lihat aku masih seger begini!" Ando membuka dua kancing baju bagian atasnya yang memperlihatkan bentuk dada bidangnya.
"Ck, udah berumur masih aja narsis." ucap Nada mendelik, namun dalam hati ia mengakui bahwa sampai saat ini suaminya yang memasuki angka empat puluh satu itu masih terlihat gagah dan penuh karismatik, bahkan Ando tidak terlihat seperti laki-laki paruh baya seusianya.
Dan ketika mereka sedang keluar bersama-sama tidak sedikit orang-orang mengira, bahwa sang suami dan putra sulungnya El-syahki lebih mirip seperti adik kakak.
*
*
"Ajig! jadi kagak bisa tidur kan gue!" Satria bangkit mengacak rambutnya yang memang sudah acak-acakan efek berguling-guling tidak jelas diatas kasur.
Ia melirik jam dinding yang kini jarumnya mengarah ke angka dua, "Gila sih ini udah mau hampir pagi, tapi lu kagak mau merem juga sih mata.. mata." Satria mengucek kedua bola matanya yang tidak ada rasa mengantuk sedikitpun.
Kedua kaki ia turunkan menginjak lantai yang terasa dingin, pelan ia melangkah menuju pintu kamarnya, namun baru setengahnya pintu ber cat putih itu terbuka, suara horor yang ia dengar sore tadi, kini mendadak membuat indra pendengarannya terganggu kembali.
"Ini gue yang ngelindur apa gimana sih, udah mau pagi kan, kok si Satya olahraga nya kagak kelar-kelar."
"Bisa kuat gitu nyampai pagi, gue curiga jangan-jangan tuh bocah minum susu kuda liar, di campur dua kuning telor sekaligus kali ya! " Satria bergumam sendiri, seraya berbalik kekamarnya untuk mengambil sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyumpal kedua kupingnya, agar terbebas dari suara-suara aneh yang berasal dari kamar sebelah.
*
__ADS_1
*