
"Sat, bukan itu maksud gue!" Stela terduduk lemas memegangi kedua lututnya, sungguh ia tidak bermaksud menyakiti Satria untuk yang kesekian kalinya.
Stela kembali memasuki kamarnya dengan perasaan tak tenang, ia pun berusaha mengirim pesan chat pada Satria untuk meminta maaf.
Namun hingga malam tiba, satu pun dari pesannya tak ada yang dibalas oleh Satria, membuat perasaan Stela semakin tak karuan.
Dengan tekad yang kuat, ia pun bergegas menyambar kunci kemudian berlari menuju garasi untuk mengambil motor matic nya.
*
"Muka elo akhir-akhir ini jadi makin jelek aja Sat, gila! bener-bener kurang service lo ya!" ejek Satya yang kini nyelonong memasuki kamarnya, mengambil gitar yang terletak di sudut ruangan, duduk disisi ranjang yang sama kemudian mulai memetik gitar tersebut.
Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan
Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam
Pedih: Last Child.
Bughhhh...!!
Satria melemparkan sebuah bantal ke wajah Satya yang sedang asik bernyanyi.
__ADS_1
"Ajig! lo sengaja ya, bikin hati gue makin panas." gerutu Satria.
"Lah, apa salah gue coba, lagi nyanyi lho gue!" Satya balik menatap Satria kesal.
"Tapi nyanyian lo itu nyindir gue."
"Emang lo ngerasa kesindir, sorry mana tahu gue kalau lo lagi patah hati."
"Ck!"
"Eh jadi bener lo patah hati, Stela mutusin elo disaat lo lagi sayang-sayangnya sama dia, persis kek yang sering elo lakuin ke semua mantan-mantan lo dulu." cerocos Satya.
"Bisa diem nggak sih lo."
"Nggak!"
"Sat, mendingan lo keluar deh! kehadiran lo disini malah nambahin beban pikiran gue makin berat tahu kagak sih."
"keluar!"
"Iya, awas aja kalau lo nanti keluar, gue suruh masuk lagi kedalem, rese banget!"
Brakkkk!
Pintu ditutup dari dalam dengan keras, membuat sang bunda yang hendak menanyakan tentang pesanan yang diantar Satria tadi pagi mengerutkan kening heran.
"Abang kamu kenapa, berantem sama kamu?"
"Biasa bun, pertama jatuh cinta, malah diputusin, patah hati dia!" jawabnya disertai kekehan kecil.
"Kamu ini."
"Serius lho bun, barusan aku aja dilempar bantal, terus di usir!"
__ADS_1
"Yaudah deh, bunda nggak jadi nemuin dia kalau gitu, mending di lempar bantal, coba kalau dilempar gucci bisa-bisa bunda langsung pingsan.'' keduanya terkikik geli, kemudian Nada kembali kebawah sedangkan Satya memasuki kamarnya.
"Kak Satria kenapa kak?" tanya Mutia, yang beranjak dari kursi meja rias menghampiri suaminya yang hendak menutup pintu kamarnya.
"Biasa sayang, lagi bete dia, mungkin berantem sama pacarnya." sahut Satya seraya menyimpan gitar yang dibawanya.
"Kak Satria___"
''Shhhttt.. jangan bahas mereka." Satya menempelkan telunjuknya dibibir sang istri, perlahan menurunkannya kemudian mulai mendekatkan wajahnya memandangi bibir ranum milik Mutia yang sudah ia rasakan beberapa kali.
Yang kini menjadi candunya.
Hasratnya semakin meninggi, saat menyadari gaun tidur yang dikenakan Mutia sangat tipis dan menerawang.
Tanpa peringatan, ia segera melahap bibir mungil tersebut, mel umatnya dengan lembut namun sedikit menuntut, mendorong tubuh Mutia keatas kasur dan berlanjut menjelajahi tubuhnya yang lain, tanpa seinci pun yang terlewati.
Dan untuk yang kedua kalinya mereka melakukan penyatuan cinta, dengan perasaan menggebu-gebu berlomba untuk meraih puncak kenikmatannya masing-masing.
Sementara dikamar sebelah Satria mengerutkan kening saat membaca pesan chat dari Stela yang terakhir.
Stela menunggunya didepan rumah.
Tanpa menunggu lama ia bergegas keluar kamar dengan niat menemui gadisnya, namun saat ia melewati kamar adiknya, suara asing yang khas bersahut-sahutan membuat tubuhnya seketika membeku.
Hingga beberapa detik ia masih berdiri disana, kemudian menggeleng-gelengkan kepala saat kesadarannya kembali sepenuhnya.
Tentu ia bukan laki-laki bodoh yang tidak mengerti apa yang tengah terjadi dibalik pintu kamar ber cat putih yang tertutup rapat tersebut.
"Ajig, si Satya kagak ada ahlak emang, masih sore padahal, " gerutu Satria pelan mengacak rambutnya, dan mulai menuruni anak tangga, dengan terburu-buru.
*
*
__ADS_1