
"Lho, sepatu lo mana Sat?" ujar El yang lebih dulu menyadari bahwa sang adik tidak mengenakan alas kaki sama sekali saat turun dari mobilnya yang kini sudah berada didepan rumah Stela.
Sontak semua mata tertuju kearahnya.
"Nggak pake sepatu gimana, kok bisa?" Nada yang berjalan terlebih dulu kini kembali menghampiri Satria dengan raut wajah yang terlihat panik.
"Tahu tuh si Satria, gila aja mau lamaran kagak pake sepatu, kalah sama kuda dia, kuda aja kemana-mana pake sepatu." celetuk Satya yang akhir-akhir ini kadar kekalemannya mulai berkurang.
"Aduhh gimana dong ini, mana udah nyampe sini lagi, masa kita harus balik lagi, cuma buat ambil sepatu bang." Nada menoleh kearah Ando, berharap suaminya memberi solusi.
"Aduuhh gimana ya?" Ando terlihat berpikir, kemudian menatap wajah Satya dan El secara bergantian, membuat keduanya menatap sang ayah curiga.
"Apa sih yah, ngelihatin nya gitu banget! jangan bilang kalau ayah nyuruh kita berdua buat pinjemin sepatunya ke si kampret ini, ogah ah!" Satya mengusap wajah kaku Satria.
"Kalian berdua gendong Satria ke teras rumah Stela ya?"
"Hah?"
Keduanya menganga dengan mata terbelalak lebar.
"Ini mau lamaran lho yah, bukan mau disunat? ya kali kita berdua gendong Satria." protes El keberatan, yang juga diangguki oleh Satya.
__ADS_1
"Ayah nggak menerima protes kali ini, kalian berdua tetap harus gendong Satria ke teras rumah Stela, cuma sebentar kok! ayok bun." meraih tangan Nada melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Udah kak, nggak apa-apa dari pada ayah marah kan?" bisik Mutia pada suaminya.
"Kalau nggak! abang jalan aja deh, nanti cuci kaki disana, ada keran itu kayaknya didepan." Cantika ikut menengahi.
Sementara yang diajak bicara terlihat tidak fokus, tubuhnya panas yang disertai keringat dingin.
"Cielah malah ngelamun bocah, kepaksa deh Sat, Ayo!" El memberi kode pada sang adik agar membantunya membopong tubuh Satria.
"Elah bang jadi beneran, kita harus gendong dia."
"Udah nggak apa-apa cepetan, anggap aja ini buat tabungan kita di akhirat Sat."
"Hushhh.. umur mana ada yang tahu, makanya banyakin ibadah, dan menolong sesama, ya contohnya kek saat ini nih! harus ikhlas tapi."
"Terus kalau misalkan gue kagak ikhlas, berarti gue kagak dapat pahala dong ya, bang!"
"Satya, El cepetan kenapa sih, kalian kok malah pada ngerumpi gitu, emang nggak ada lain kali apa,?" Nada yang sudah sampai diujung teras, tampak terlihat kesal melihat tingkah ketiga putranya yang teramat ajaib itu.
"Eh iya bund, buruan makanya! gue yang hitung satu.. dua.. tiga.. angkat! huhhf." El yang memimpin.
__ADS_1
"Kalau disini ada empang, dalam hitungan ketiga gue langsung ceburin juga lo sat, lo berat banget tahu nggak sih, kebanyakan dosa kali lo ini." gerutu Satya.
Dengan susah payah keduanya membopong tubuh Satria
"Sat, minum dulu nih, biar tenang! ini kenapa coba kamu jadi mirip patung hidup begini,?" Nada menyodorkan air mineral dalam kemasan botol kearah Satria, yang kini sudah berada di hadapannya.
"Euhmz, lihat kan bang! yang ngos-ngosan siapa, yang dikasih minum siapa, dunia terkadang sekejam itu ya bang." bisik Satya memasang raut wajah memelas.
"Udah diem, inget! belajar ikhlas, biar dapet pahala diakhirat."
"Gue udah bilang, gue belum mau mati bang." Satya balas berbisik.
"Bang, ini anak diem aja coba dari tadi, nggak kerasukan kan dia." Nada menatap suaminya dengan tatapan penuh tanya.
"Jangan ngawur ah sayang, dia cuma kelewat gugup, bukan kerasukan! kalau kerasukan mungkin dari tadi udah minta di bikinin kopi hitam tanpa gula."
"Ah ayah, se*tan juga tahu kali yah mana kopi yang enak, masa iya minta kopi tanpa gula." celetuk Cantika.
"Itu kan se*tan karangan ayah nak."
"Hah?"
__ADS_1
*
*