Pesona Twins S

Pesona Twins S
Kejar-kejaran


__ADS_3

Merasa bosan terus berada didapur dan tidak ada yang bisa ia lakukan, akhirnya Satya memutuskan untuk ke ruang TV untuk menonton acara pagi.


"Eh tumben bocah udah bangun, biasanya hari minggu lo bangunnya kalau matahari udah terbenam lagi." Satya mengambil satu buah bantal sofa kemudian melemparkannya ke wajah Satria.


"Ajig, rambut gue!" Satria merapikan kembali tataan rambutnya yang


sedikit berantakan terkena bantal.


"Bang, tolongin Cantika dong! bantuin si momoy mandi." ucap Cantika yang tiba-tiba datang kemudian menarik-narik lengan sang abang agar mau ikut dengannya.


"Apa sih dek, mahluk berbulu itu? ogah abang!" Satria menggeram malas.


"Ihs abang, bilangin bunda entar."


"Dih anak kecil sukanya ngadu ya,"


"Biarin!"


"Ayo bang, bang Satya juga bantuin."


"Lho, abang juga dek?" Satya menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, ayo buruan! keburu momoynya kabur."


Dengan langkah gontai keduanya beranjak mengikuti langkah sang adik menuju halaman belakang, yang menjadi tempat biasa Cantika memandikan kucingnya yang dibantu oleh sang ayah.


Minggu pagi ini Ando kebetulan tidak dirumah, karena ia harus meninjau langsung lokasi proyek baru yang akan dijalankannya.


Dan akhirnya Cantika terpaksa meminta bantuan pada kedua abangnya untuk membantu memandikan Moly kucing gendut kesayangannya.


"Abang berdua tunggu disini, aku mau ngambil momoynya dulu, awas jangan kemana-mana." ucapnya seraya beranjak pergi.


"Ck, Cantika ada-ada aja nih, masa kucing mau dimandiin segala." gerutu Satria.


"Heh, kucing juga mahluk yang perlu kebersihan, apalagi setiap hari dia maennya didalem rumah." sahut Satya.

__ADS_1


"Tapi meskipun sering mandi wujudnya tetap kucing kan?"


"Lah emang lo maunya gimana, lo berharap setelah kucingnya mandi berubah jadi singa.?"


Terlihat Satria membuang nafasnya kasar, mendelik sebal kearah Satya.


Tak lama Cantika datang menggendong kucing kesayangannya.


"Ayo bang, nih pegang dulu momoynya." menyerahkan ke pangkuan Satria yang langsung merinding geli dan repleks melemparkannya ke pangkuan Satya.


"Ajig, bulu-bulunya bikin merinding."


"Lebay! cakep gini kok, lucu iya kagak moy." Satya terlihat lebih santai, seraya mengusap-usap kepala Moly membuat kucing itu merasa senang hingga mengusel-ngusel gemas.


"Lucu dari mananya." gerutu Satria.


"Ayo bang bawa sini." panggil Cantika, setelah menyalakan air dan menyambungkan selang yang akan dipakainya untuk memandikan Moly.


"Bang Satria juga, ayo bantuin pegangin tangannya." ujar Cantika saat melihat Satria yang masih berdiri ditempat semula.


"Ogah ah, abang mau megang selang aja dek."


"Kagak usah dengerin abang dek, tahu sendiri kan bang Satya mulutnya sering keseleo." ucap Satria ketika melihat wajah bingung sang adik.


"Ajig, lo pikir mulut gue ada kakinya bisa keseleo." sahut Satya seraya mengambil alih selangnya dari tangan Satria, mengambil airnya sedikit kemudian menyipratkannya tepat diwajah Satria.


"Gue abis mandi lho Sat." ucap Satria kesal.


"Lo pikir gue belum, lo kagak lihat rambut gue basah begini?" menunjuk kepalanya sendiri yang memang masih sedikit basah.


"Iya deh iya, tahu kok yang abis keramas, tapi_" Satria menjeda ucapannya seraya menyunggingkan senyum tipis.


Secepat kilat mengambil kembali selangnya kemudian mengarahkannya kewajah Satya.


"Tapi gue mau lo keramas lagi."

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Moly si kucing gendut melompat dari pangkuan Satya, berlari kearah Cantika yang menatap kesal pada kedua abangnya yang kini saling berebut selang saling mengguyur, bahkan ember berisi air yang sudah dicampur sabun yang sudah Cantika siapkan kini digunakan Satria untuk mengguyur tubuh kembarannya.


"Lihat tuh moy, ngeselin banget kan mereka, kamu nggak jadi mandi deh!" gumam Cantika seraya mengusap kepala Moly kemudian meninggalkan kedua abangnya yang kini saling kejar-kejaran.


*


"Sini Opa mau ngobrol sama kalian berdua." ucap opa Abidzar mengajak kedua anak laki-laki yang berwajah sama persis, mereka yang tak lain adalah Satya dan Satria.


Keduanya mengangguk patuh, berjalan bersisian dan saling melempar tatapan permusuhan.


Usai kegiatan kejar-kejaran dan guyur-guyuran satu jam yang lalu, kini keduanya sudah sama-sama selesai mandi dan berganti pakaian.


Sementara opa Abidzar sudah sampai dirumahnya, ketika kedua cucu kembarnya itu tengah kejar-kejaran dengan seluruh tubuh yang basah kuyup.


Begitu juga dengan El, Kinar, Gala, si kembar dan oma Sarah yang datang secara bersamaan, namun kini tengah duduk santai di ruang keluarga.


"Duduk!" perintah opa Abidzar, menunjuk kursi rotan yang ada dihadapannya.


Ketiganya kini tengah berada di halaman belakang rumah yang berhadapan langsung dengan kolam ikan dan juga berbagai macam tanaman yang dirawat Ando dengan sepenuh hati.


"Udah lama rasanya opa nggak ngobrol bertiga gini sama kalian, terakhir waktu Kinar pas ngidam hamilnya Gala kayaknya, waktu itu dia pengen ikan mas bule yang ada totol-totolnya, kalian ingat?"


"Iya opa." jawab keduanya bersamaan.


"Kalau nggak salah waktu itu kalian baru kelas IX kan ya?"


"Iya opa." Lagi-lagi keduanya menjawab secara bersamaan, yang membuat opa Abidzar terkekeh geli.


"Kalian berdua memang kompak, termasuk kompak dalam berantem seperti tadi."


"Dia yang mulai duluan opa." Satria tak Terima.


"Nggak kok, dia nih opa." Satya menunjuk balik Satria.


"Opa nggak nanya siapa yang duluan ngajak berantem, opa ngajak kalian berdua kesini ya mau ngobrol aja, opa kangen sama kalian."

__ADS_1


*


*


__ADS_2