
"Kak Satya abis darimana pagi-pagi begini?" Mutia yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap sang suami yang tengah terkekeh sendirian.
"Abis godain tetangga sebelah." jawabnya asal.
Mutia tampak mengerutkan keningnya dengan jawaban sang suami, seingatnya dikamar sebelah adalah kamarnya Satria, yang sekarang ada Stela juga.
"Kakak ngapain kesana, ngejahilin kak Satria lagi?"
Satria tersenyum tipis, "dikit yang."
"Jangan gitu ah kak, kasihan! apalagi mereka baru nikah, jangan diganggu."
"Iya-iya."
*
"Kenapa?" tanya Satria, saat melihat Stela terbengong setelah menerima telpon dari seseorang beberapa menit yang lalu.
"Sat, kayaknya hari ini aku nggak masuk sekolah deh!"
"Lho, kenapa yang! kamu sakit?" repleks ia menyentuh dahi Stela yang nampak biasa saja, tidak panas ataupun dingin.
__ADS_1
"Bukan! aku nggak sakit, tapi aku harus ketemu mama, mama ada dirumah sekarang, dia minta penjelasan tentang pernikahan kita." ujarnya dengan nada yang terdengar gemetar, seraya menurunkan tangan Satria yang masih menempel di dahinya.
Cintya yang merupakan ibu kandung Stela pada saat itu memang tidak diberitahu siapapun bahwa dirinya akan menikah, terlebih sang papa melarangnya dengan alasan kalau Cintya tidak akan setuju, dan malah hanya akan mengacaukan semuanya.
Tak ingin keadaan semakin runyam, terlebih jika sang mama datang dihari pernikahannya, yang otomatis akan mempertemukan Cintya dengan Lia istri sang papa yang sekarang, maka sudah bisa dipastikan kekacauan pun akan terjadi.
"Mau aku temenin?"
"Nggak, kamu sekolah aja, harus sekolah pokoknya, aku bisa kesana sendiri kok, lagi pula ini masalah aku sama mama, masalah keluarga aku, aku nggak mau kamu ikut terlibat didalamnya."
"Aku bukan orang lain lagi yang, aku ini sekarang suami kamu lho, kalau kamu lupa! dan apa salahnya sih kalau aku ketemu sama mama mertuaku sendiri."
"Iya, aku tahu! aku juga nggak lupa dengan status kita sekarang, tapi__"
"Yaudah, tapi Sat." Stela menahan tangan Satria yang hendak beranjak dari hadapannya.
"Kamu nggak marah kan soal ini?"
"Kalau aku marah, emangnya kamu mau ngijinin aku buat ketemu mama kamu?"
Terlihat Stela menghela nafas, dengan raut wajah tak bersemangat, ia bukannya tidak mau mengenal kan Satria pada sang mama, namun ia memikirkan banyak hal yang akan terjadi jika mempertemukan sang mama dengan suaminya saat ini.
__ADS_1
Terlebih saat menelponnya tadi sang mama terdengar begitu marah dan kecewa.
"Aku janji akan kenalin kamu sama mama, tapi nggak sekarang Sat, ada suatu hal yang nggak bisa aku jelasin ke kamu sekarang!"
"Ok, aku ngerti." ucapnya pasrah, mungkin saat ini ia lebih baik mengalah dulu, dari pada harus berantem dengan Stela, yang bahkan belum genap dua puluh empat jam menjadi istrinya.
*
*
Seperti yang disepakati keduanya, akhirnya Stela menemui sang mama dengan diantar oleh sopir pribadi yang diperintahkan Satria.
Stela turun dari mobil dengan perasaan gugup, terlebih saat melihat sang mama yang sudah menunggunya di teras rumah dengan tatapan tajam.
"Ma?" pelan ia mengulurkan tangan, meraih tangan sang mama, kemudian menciumnya.
"Masuk! mama perlu penjelasan kamu secara langsung Ste." Cintya berjalan terlebih dulu memasuki rumah, kemudian menjatuhkan tubuhnya dengan kasar diatas sofa.
"Ma?"
"Jadi, selama ini kamu anggap mama ini siapa Ste, kamu lebih menganggap wanita itu yang paling berharga sekarang?" Cintya berdiri dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
*
*