
"Gimana Sat, usia pernikahanmu udah seminggu lebih lho, kira-kira udah sampai tahap mana?" tanya opa Abidzar yang membuat Satya sedikit terusik dan salah tingkah.
"Diamah udah sampai tahap akhir opa." Satria yang menyahut dengan wajah datar.
"Kok kamu bisa tahu, ngintip ya?" opa Abidzar menatap Satria dengan tatapan menyelidik.
"Eh."
"Nggak baik lho kamu suka mengintip gitu Sat, karena apa yang kamu lakukan itu sudah termasuk dua hal yang merugi, yang pertama kamu dapet dosa, yang kedua akan membuat hatimu tidak tenang."
"Tidak tenangnya apa, ya karena kamu bakalan memikirkan hal yang iya-iya nantinya, paham kan maksud opa?"
"Ck, opa ini."
"Yeee.. jangan meremehkan opa, gini-gini opa sudah memiliki banyak pengalaman, dari mulai yang pahit hingga yang pedas sekalipun, opa sudah merasakan semuanya." lanjut opa Abidzar.
"Oh iya Sat, kalau yang dikatakan Satria benar, bahwa hubungan mu dan Mutia sudah ke tahap akhir, itu berarti kamu sudah memikirkan banyak hal kedepannya."
"M-maksud opa?" tanya Satya gugup bercampur bingung.
"Iya, kamu harus siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, memiliki anak dalam waktu dekat misalkan, memangnya kamu siap?"
"Kenapa nggak?" jawab Satya santai, tanpa ada rasa ragu sedikitpun dari raut wajahnya, sementara opa Abidzar tercengang hampir tak percaya, Satya cucu laki-laki yang terlihat lebih kalem dari cucu laki-laki yang lainnya itu ternyata kini sangat berbeda.
"Kamu yakin, tidak apa-apa."
__ADS_1
"Bukannya ayah sama bang El juga dulu punya anak waktu masih sama-sama sekolah juga, jadi apa salahnya, buktinya ayah sanggup menghidupi kami anak-anaknya, begitu pun dengan bang El yang sanggup menghidupi anaknya."
"Ck, kamu bener Sat! tapi yang membuat opa bingung, kenapa waktu terasa begitu cepat berjalan, opa belum percaya aja kalau saat ini kamu sudah beristri, dan mungkin sebentar lagi akan terjadi kemungkinan seperti yang opa bilang tadi, sulit dipercaya!" opa Abidzar menggelengkan kepalanya.
"Perasaan baru kemarin opa gendong kamu, nangkep ikan bareng-bareng, kemudian opa yang terpaksa mendengarkan kamu bermain gitar yang cukup melelahkan di indra pendengaran opa, karena nada gitar yang kamu mainkan hampir mirip seperti botol aqua bekas yang ke lindes beca."
"Opa?" nada suaranya terdengar ingin protes, sementara Satria memalingkan wajah menyembunyikan tawanya.
"Dengar dulu! opa belum selesai bicara Sat, nggak baik lho memotong ucapan orang tua, kalau kata nenek moyang dulu, pamali!"
Terdengar decakan kecil dari mulut Satya.
"Opa juga masih ingat betul, saat kalian kecil bundamu banyak bercerita, kalau kalian itu benar-benar kembar identik."
"Bundamu bilang selain wajah kalian yang sama, tingkah kalian juga tidak jauh berbeda, begitupun dengan pendengaran kalian yang selalu sama! sama-sama bermasalah." opa Abidzar terkekeh geli mengingat kejadian tiga tahun yang lalu.
Opa Abidzar kembali terkekeh, kemudian menatap keduanya secara bergantian.
"Tiga tahun yang lalu ya setidaknya hal itu yang paling opa ingat sampai saat ini, ketika setiap pagi kalian harus sarapan rebus ubi gara-gara itu dia, pendengaran kalian yang bermasalah, masa di suruh beli cumi, kalian malah beli ubi." opa Abidzar kembali terkekeh, yang membuat Satya baik Satria mendengus kesal.
"Kenapa opa cuma ingat tentang kita yang buruk-buruknya aja sih opa?" Satria tak tahan untuk tidak protes.
"Bukan! bukan mengingat hal buruk kalian, tapi ini hanya mengenang, opa bilang."
"Ck! sama sekali nggak nyambung dan nggak lucu."
__ADS_1
"Lah nggak ada yang bilang ini lucu kok."
"Opa?"
"Iya, iya! opa cari tema yang lain aja ya, oh itu kamu Sat, kapan mau nyusul adikmu,?"
"Nyusul kemana,?"
"Ck, masa musti opa jelasin lagi sih."
"Orang Satya nggak kemana-mana nyusul kemana coba."
"Kamu ini memang ya, menikah maksudnya, ganteng-ganteng loading begitu." gerutu opa Abidzar pelan.
"Entar kalau udah waktunya aku kasih tahu."
"Ah serius?"
"Serius lah opa."
"Bagus! jangan nunggu umur banyak lah saran opa, nanti keburu kadaluarsa, tahu kan barang kadaluarsa itu gimana, yang jelas jamuran dan nggak enak dimakan."
"Ck, emangnya aku apaan disamain kaya roti kadaluarsa."
"Itu kan perumpamaan Sat, kamu juga begitu kalau kelamaan nggak nikah, bakalan kadaluarsa." opa Abidzar tergelak, hingga suaranya terdengar sampai rumah tetangga.
__ADS_1
*
*