
"Hai anak manis, bunda sama ayah dimana dek?" Satria menjawil dagu sang adik yang tengah memasak mie instant di dapur.
"Pergi." jawab Cantika singkat.
"Pergi kemana?"
"Nggak bilang, aku juga nggak nanya mereka mau kemana."
"Yah dek, kok gitu sih!"
Cantika memicing, "emangnya kenapa sih bang, mau ngapain ke bunda, biasanya juga pulang maen langsung ngeloyor kekamar nggak pake nanya bunda dulu segala."
"Ada yang mau abang obrolin sama mereka, ini serius! nggak bisa ditunda-tunda."
"Tapi harus tetep ditunda juga kan, karena bundanya nggak ada."
"Ck! iya sih, ngomong-ngomong kamu lagi masak apa sih dek wanginya enak begini?"
"Masak sop terasi! ihs abang, udah tahu lagi masak mie malah nanya-nanya, bilang aja kalau mau minta."
Satria terkekeh, "Yaudah ini buat abang ya, kamu bikin lagi gih."
"Ihs tapi aku laper bang." Cantika merebut kembali mangkuk berisi mie yang sudah diambil Satria.
"Abang juga lapar dek, kamu bikin lagi aja ya sebentar doang kan, cantik deh!"
__ADS_1
"Abang ngeselin, masalah gombalan abang itu nggak usah dibawa-dibawa kerumah, nggak digombalin juga Tika emang udah cantik kan?"
"Iya cantik banget emang."
Cantika mendengus saat sang abang mulai berjalan membawa mie nya keatas meja makan.
"Kenapa, nggak dimakan?" ujar Cantika setelah ia selesai membuat satu porsi lagi mie rebus untuknya.
"Nungguin kamu dek, abang mau makan bareng." Ucapnya tersenyum tulus, sementara Cantika mengangguk kecil sedikit bingung dengan tingkah manis sang abang.
"Dek, waktu itu pernah kan ketemu kak Stela pas nikahan kat Satya?" ujarnya sembari mulai mengaduk mie miliknya, dan mulai memakannya sedikit demi sedikit.
"Pacar abang yang baru itu?"
"Eumz cantik sih, tapi_sayang..!"
"Maksudnya sayang gimana?"
"Sayang banget mau sama abang." Cantika tergelak, yang langsung mendapat bonus cubitan dipipi dari sang abang.
"Justru yang bakalan jadi istri abang itu anugrah banget, secara abang ini ganteng iya, pinter iya, romantis juga."
"Playboy juga." tambah Cantika, yang membuat Satria mendengus, adiknya yang satu ini memang tak pernah lupa untuk tidak mengungkit kejelekannya, untung ia sayang.
"Oh iya dek, lusa abang mau kerumah bang Langit, pulangnya mau dibeliin apa?" ujar Satria, karena disamping rumah sahabat lamanya itu terdapat aneka jajanan pasar yang disukai Cantika, dan tentu tidak ada didekat rumah yang ditempatinya saat ini.
__ADS_1
"Eh bang Langit, udah lama ya nggak ketemu dia, dia sekolah dimana sekarang bang?"
"Jogja, tapi lusa dia pulang! makanya abang disuruh main kerumahnya."
Cantika mengangguk, ia berusaha mengingat sepenuhnya wajah sahabat kakaknya itu, karena sudah hampir tiga tahun mereka tak bertemu, yang ia ingat terakhir kali ia melihatnya ketika dirinya duduk di kelas VI SD, sementara saat itu Langit duduk di kelas IX, sama seperti kakaknya Satria dan Satya.
Langit yang ia ingat kala itu sangatlah tampan, tidak beda jauh dari ketiga kakak laki-lakinya yang juga sangat tampan.
Lamunannya buyar, saat suara klakson mobil berbunyi dari arah luar, dan tentu ia sudah sangat menghafalnya, "Tuh bunda pulang bang."
"Ok abang nemuin bunda dulu kalau gitu, makasih ya dek mie nya." ucap Satria seraya mengusap kepala sang adik seperti biasa.
Melangkah dengan sedikit berlari menemui sang ayah dan bundanya yang ingin segera ia temui sejak tadi.
"Bun, baru pulang?" meraih tangan sang bunda yang baru saja keluar dari mobil, begitupun dengan sang ayah, ia melakukan hal yang sama, hingga keduanya saling pandang bingung, dan yang lebih membuat keduanya bingung adalah.
Saat Satria mengambil seluruh barang belanjaannya dari bagasi mobil, kemudian memasukannya kedalam rumah satu per satu hingga selesai.
Hal yang sangat langka, dan ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh putra keduanya itu.
"Sayang, coba kamu ingat-ingat tadi pagi Satria dikasih sarapan apa?" bisik Ando pada Nada yang menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah sama bingungnya dengan sang suami.
*
*
__ADS_1