Pesona Twins S

Pesona Twins S
Kedatangan Gala


__ADS_3

Di Ruang TV.


*


*


Bila cinta menggugah rasa


Begitu indah mengukir hatiku


Menyentuh jiwaku


Hapuskan semua gelisah..


Begitu indah_Padi..


"Anjirr mantep nih! makin lama suara lo lumayan juga Sat, yah mendinglah gitu kagak mirip amat sama suara botol aqua yang di tempelin di knalpot nya bang Rudi." celetuk Satria, seraya mendaratkan bokongnya diatas sofa, duduk manis disamping Satya yang memegangi gitar.


"Ajig! gue di samain sama botol aqua bekas." balas Satya seraya memukulkan badan gitar tersebut ke bahu Satria.


Satria tergelak, "Ampuuun, elah canda gue!"


"Eh gimana, lo udah baikan sama cewek lo?" tanya Satya setelah meletakan kembali gitar nya ditempat semula.


"Yang mana?"


"Sok polos lo!"


"Eh gue serius njir."


"Itu cewek yang tadi siang ke Cafe.''


" Ck, maksud lo Tiara.?"


"Siapa lagi?"


"Males banget gue bahas dia!"


"Dih, dulu aja lo bangga-banggain cerita ke gue kalau elo bisa dapetin primadona di sekolah, eh sekarang_" cibir Satya membuat Satria mendengus kesal.


"Kenapa lo,? itu lagi ngapain coba pasang muka jelek begitu, udah kek panda kagak minum seminggu tahu nggak lo!" lanjut Satya seraya menoyor keningnya.


Sementara wajah Satria berubah menjadi lebih masam, dan tertunduk lesu.


"Gue justru malah nyesel sekarang!''


"Hah?"


"Gue pikir dia cewek baik-baik_"


"Emangnya dia kenapa?"


"Anjirr, lo bisa diem dulu kagak sih dengerin gue ngomong dulu." protes Satria.

__ADS_1


"Iya iya, lanjut!"


"Jadi dia kenapa?"


Terlihat Satria menghela nafasnya. "Panjang kalau diceritain."


"Tapi nggak sepanjang jalan ke Jakarta-surabaya kan?"


"Ck! dari dulu ngomong sama lo itu emang percuma ya, bukannya nenangin gue malah ngeselin." ucap Satria ketus, dan hendak beranjak dari duduk nya.


"Dih ngambekan!"


"Sat lo belum pernah ngerasain yang namanya pacaran sih, jadi lo bakalan susah ngertinya."


"Gini aja, sekarang nggak usah ngomong-ngomongin pacar Dan percintaan dulu deh, bunda mau masak dulu buat makan malam." sela Nada yang tiba-tiba saja datang, memotong pembicaraan keduanya.


"Bun terus ini maksud nya apaan?" Satria menunjuk baby Gala yang kini duduk dipangkuannya.


"Jagain, awas kalau sampai nangis! habis kamu nanti dimarahin abang kalian." sahut Nada, sembari berjalan menuju dapur, membuat keduanya hanya bisa pasrah.


"Hai Gala, kamu kok ganteng banget, mirip siapa sih?" Satya mencolek pipi Gala yang terlihat putih bersih, dengan pipi chubby nya yang menggemaskan.


"Milip ayah," jawab anak yang baru berusia 2,5 tahun tersebut dengan suara khasnya yang terdengar manis.


"Ah masa, kata siapa?"


"Kata bunda."


"Nggak kok, nggak mirip! bunda nya bohong kali." lanjut Satya menahan tawa, baginya mengerjai keponakan kecilnya itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan sudah terbiasa ia lakukan.


"Om nggak percaya tuh."


"Nanti kalau bunda kecini, gala bilangin lho!"


"Ok, siapa takut."


"Udah nggak usah dengerin om Satya, om Satya itu lagi sakit, orang sakit emang suka kaya gitu." bisik Satria, membuat Gala memandang kearah Satya seketika.


"Cakit apa Om?"


"Siapa?" tanya balik Satya dengan kening berkerut.


"Om, kata om Catlia, om Catya lagi cakit."


"Oy Sat, ngomong apa lo sama anak kecil, kagak baek lo bohongin bocah kek begini." tuturnya pelan.


"Kapan gue suka bohong, seluruh dunia tahu kali kalau gue itu cowok paling jujur."


"Ck!"


"Gala, om kasih tahu ya, om Satya itu punya penyakit kronis."


ujar Satria menahan tawa.

__ADS_1


"Klonis apa om?"


"Penyakit yang udah lama terjadi,"


"Gala nggak ngelti om."


Jawaban Gala sontak membuatnya tersenyum geli, "Om kasih tahu biar ngerti ya, om Satya itu punya penyakit kronis, jomblo namanya."


"Jomblo apa om?"


"Jomblo itu, nggak pernah punya pacar sayang."


"Belalti kalau om Catlia puna pacal?"


Satria tersenyum geli, "Iya dong, om kan ganteng!" menyugar rambutnya bangga.


"Belalti ayah juga punya pacal dong om, ayah Gala kan ganteng juga."


"Eh?" Satria dan Satya saling pandang, meringis menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.


"Mampus lo!" bisik Satya, karena ia yakin Satria akan dibuat bingung bagaimana cara menjelaskannya pada anak balita tersebut.


.


.


Malam hari, di meja makan..


"Yah, kata om Catlia, om Catlia puna pacal, kalna om ganteng, telus ayah puna pacal juga,? kan ayah ganteng!" ujar Gala polos, yang sontak membuat seluruh anggota keluarganya hampir tersedak, terutama El.


El bergegas meraih segelas air putih dan meneguknya perlahan, kemudian tersenyum menatap putranya lembut, dalam hati mengutuk sang adik karena telah berbicara yang tidak-tidak terhadap anaknya, padahal ia meninggalkan Gala hanya satu jam lamanya, apa lagi sampai seharian apa yang akan mereka katakan terhadap putranya, batin El.


"Sayang, bunda udah bilang kan, kalau lagi makan nggak boleh ngo_"


"Mong." sambung Gala, melanjutkan ucapan sang Bunda.


"Pinter! lanjut lagi ya emam nya." pinta Kinar lembut.


"Iya bunda."


Kinar menghela nafas, kemudian melanjutkan makannya, dan sesekali melirik kearah Satria dan Satya yang terlihat gelisah dan salah tingkah, tidak jauh dari tempat mereka duduk terlihat wajah Nada yang menggeram, menatap kedua putra kembarnya dengan tatapan buas seperti ingin menerkam.


Sementara Ando dan cantika menahan untuk tidak tertawa.


.


.



Galaxy Melvin Arsenio


.

__ADS_1


.


__ADS_2