Pesona Twins S

Pesona Twins S
Ngidam


__ADS_3

Hampir tiga tahun sudah usia pernikahan Satya dan Mutia, namun sampai kini mereka belum diberi kepercayaan untuk mendapatkan momongan.


Delapan bulan yang lalu Mutia sempat mengandung, namun diusia janinnya yang ketiga bulan ia mengalami keguguran, dikarenakan kandungannya yang sangat lemah meski saat itu Mutia tidak banyak melakukan pekerjaan, selain kuliah dan berdiam diri didalam rumah.


"Muti, yang! udah selesai belum?'' Satya berdiri didepan kamar mandinya menunggu Mutia yang tak kunjung keluar.


"Aku hitung sampai tiga, kalau nggak keluar pintunya aku dobrak lho yang."


Namun tak lama berselang pintu PVC berwarna cokelat muda dihadapannya terbuka, menampilkan sosok sang istri yang terlihat sendu dengan kedua pipi yang basah.


''Bagaimana hasilnya yang?" tanya Satya, ia bahkan sudah menyiapkan hatinya dengan apapun hasil dari pemeriksaan dengan benda tipis yang baru saja dilakukan sang istri.


Karena mereka sering melakukannya berulang kali dengan hasil yang sama, negatif!


"Maafin aku kak, aku belum bisa jadi istri yang sempurna buat kakak." balas Mutia dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah, seraya menyerahkan benda kecil digenggaman nya kearah Satya.


Satya menggeleng, "Itu bukan masalah sayang." Ucapnya berusaha untuk terlihat tegar, meski hatinya terasa sama rapuhnya.


Cukup lama mereka berpelukan, saling menguatkan satu sama lain, hingga benda tipis yang berada digenggaman nya terjatuh, yang sontak membuat mata Satya melotot seketika.


"Yang, bentar!" Satya mengurai pelukannya untuk kemudian menunduk mengambil benda tipis dengan dua garis merah didekat kakinya.


"Yang, tadi kamu belum lihat hasilnya?" tanyanya, yang langsung diangguki Mutia.


"Percuma, karena hasilnya akan tetap sama."


"Serius, jadi kamu belum lihat?"


Mutia menggeleng kan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat sedikit bingung saat menyadari wajah sang suami yang tampak menegang.


"Terimakasih sayang." Satya menciumi wajahnya bertubi-tubi kemudian menggendongnya sambil berputar-putar.


"Kak_"


"Maaf sayang, maaf! oh iya coba kamu lihat ini." Satya mengulurkan telapak tangannya memperlihatkan sebuah alat test kehamilan yang terdapat dua garis merah dibagian tengahnya.


Repleks Mutia pun menutup mulut, tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


Positif!


Ia kembali mengandung.

__ADS_1


"Kak?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Iya sayang, kamu hamil."


Terlampau bahagia, Mutia tak mampu mengucapkan apapun, menubruk dada suaminya, memeluknya dengan sangat erat.


*


Kabar kehamilan Mutia kali ini disambut hangat oleh keluarganya, terutama Nada, ia bahkan tidak memperbolehkan menantu keduanya itu melakukan banyak pekerjaan, sekalipun hanya sekedar membersihkan kamarnya sendiri.


Trauma dengan keguguran yang dialami Mutia delapan bulan yang lalu membuat ia merasa gagal menjadi seorang mertua yang baik, karena tidak mampu membantu menjaga calon cucunya kala itu.


"Aku ikut senang dengar kabar kehamilan kedua Mutia bang, pasti mereka senang banget ya." ujar Stela yang kini tengah berada dalam pelukan suaminya usai menemani sikembar Zahran dan Zayyan yang baru saja tertidur.


"Iya yang, si Satya apalagi senang banget tuh bocah, eh ngomong-ngomong soal hamil yang, kamu nggak mau nambah lagi? Zahran sama Zayyan udah tiga tahun lho." bisik Satriaa seraya memainkan sebelah alisnya.


"Boleh! tapi Abang yang melahirkan, mau?"


"Ya nggak bisa dong yang, Abang ngeluarin nya lewat mana coba?"


"Lewat hidung."


"Ck gitu sih yang, eh tapi abang nggak akan maksa kok, abang tahu kamu cukup kelelahan mengurus mereka berdua, terimakasih sayang sudah melahirkan dan menjaga mereka dengan baik selama ini."


"CK, mana mungkin abang berpaling sama wanita lain, kalau yang dirumah cantiknya aja nggak ada yang nandingin." Satria meneliti penampilan istrinya saat ini yang hanya mengenakan dress tidur tipis yang sedikit menerawang.


"Se ksi lagi." bisiknya, yang kemudian mendaratkan satu ke cupan lembut dibibir sang istri.


"CK dasar me sum!"


Satria terkekeh, "Mau nggak kalau malam ini di me sumin sampai pagi."


"Abangg ihs." memukul pelan dada Satria yang membuat nya semakin tergelak.


"Lima ronde deh ya!"


"Abangg!"


"Ok tiga deh tiga." dengan sigap ia mulai menindih tubuh mungil Stela menciumnya dengan lembut sebelum kemudian tubuh mereka menyatu menikmati malam indah seperti yang sering mereka lalui bersama.


*

__ADS_1


Pagi menyapa, didepan rumah berlantai dua dengan cat berwarna putih yang dipadukan dengan warna silver seorang laki-laki beberapa kali menggerutu menunggu sang pemilik rumah yang tak kunjung keluar.


Setengah jam yang lalu bi Marni yang merupakan asisten rumah tangga pemilik rumah itu sempat keluar, memberi tahu bahwa pagi ini majikannya tak kunjung turun.


Sempat mengajak nya masuk, agar menunggu didalam saja, namun laki-laki yang tak lain adalah Satya itu menolak, dan memilih untuk menunggu diluar saja.


Beberapa menit berselang, Satria keluar, mengibaskan rambutnya yang sedikit basah.


"Lagi ngapain Sat?" tanyanya begitu pintu terbuka.


"Curhat sama tembok!"


"CK, gue pikir lagi nyari cacing." balas Satria sekenanya, membuat Satya mendengus dan memalingkan wajah.


"Gue mau minta bantuan Lo ni,?"


"Apaan?"


"Bini gue ngidam."


"Ngidam apaan dia,?" Satria melipat kedua tangan bersender ditembok yang menjadi gerbang rumahnya.


Sementara Satya meringis, menggaruk tengkuknya, bingung harus bagaimana.


"CK, malah diem! bilang aja sih, dulu Lo juga sering bantu gue waktu Stela ngidam."


"Gimana ya Sat, masalah nya ini tuh agak berat."


"Berat gimana, bini Lo minta diangkatin batu?"


"Bukan! dan gue yakin Lo nggak mungkin bisa bantu."


"CK apaan sih, jadi penasaran gue! serius, ngomong aja sih, Lo tahu kan gue bisa segalanya."


"Termasuk makan bareng kucing, di piring yang sama.?"


"Ya bisa."


Satria terdiam sebentar, sebelum kemudian kedua bola matanya terbelalak lebar.


"Lo bilang apa?"

__ADS_1


*


*


__ADS_2