Pesona Twins S

Pesona Twins S
Jangan lepaskan


__ADS_3

"Ste, mau kemana?" Satria berusaha mengejarnya, sat Stela memutuskan untuk meninggalkan pesta, setelah mendengar pengakuan Satria, tentang hubungan ia dan kakak tirinya di masa lalu.


"Lepasin, aku mau pulang."


"Iya, ok kamu mau pulang, ayo aku anterin."


"Nggak mau!"


"Ste, please jangan kaya gini, tadi kita berangkat bareng, pulang juga harus bareng ya." Satria berusaha menenangkannya.


"Aku minta maaf, jika kemarahan kamu berhubungan dengan masa lalu aku sama Nira, tapi sayang aku bersumpah, aku nggak pernah cinta sama dia, dulu kita itu jadian cuma karena taruhan sama temen aku, beneran!"


"Apa, taruhan kamu bilang?" Stela berteriak marah.


"I-iya, maaf sayang! jujur dulu aku emang nakal, dan aku selalu nggak mau tersaingi dalam hal apapun, jadi gimanapun caranya aku harus selalu menang dan paling unggul, aku nggak suka kekalahan."


"Aku juga nggak lama kok hubungan sama Nira, nggak lebih dari seminggu, karena bagi aku dia nggak berarti apa-apa."


"Itu kan menurut kamu, beda sama dia, kamu denger kan tadi dia ngomong apa, dia masih nganggap kamu pacarnya sampai sekarang."


"Kamu lihat sendiri kan, sikap dia sama aku tadi seperti apa?"


Satria mengangguk kecil.


"Terus, kalau dia tahu kita pacaran, akan seperti apa jadinya."

__ADS_1


"Sayang, aku minta maaf, seandainya waktu dapat diulang, beneran aku nggak akan pernah macarin dia."


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, bukan?"


"Sat, sebaiknya kita udahan aja ya!"


Satria tertawa sumbang, "Udahan, udahan apanya maksud kamu sayang?" Memegang kedua bahu Stela dengan tangan bergetar, ia tidak sanggup membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi mengenai hubungannya dengan Stela.


"Sat kita put_"


"Nggak, please jangan!" Satria mundur teratur, seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda ia tak setuju dan tak sanggup mendengar nya.


"Sat?"


"Nggak sayang, nggak bisa, aku nggak bisa!" Satria berlutut dihadapannya, dengan raut wajah yang terlihat menyedihkan, persetan dengan beberapa orang yang menatapnya heran, bahkan beberapa diantara mereka ada yang menertawakannya.


"Kamu mau aku melakukan apa supaya kamu nggak ninggalin aku, kamu mau aku kenalin ke hadapan orang tuaku, atau_ atau aku datang menemui kedua orang tua kamu, aku akan melamar kamu, kalau perlu detik ini juga, atau kamu_ kamu mau kita langsung nikah." cerocosnya, sambil menangis, seperti tak terkendali.


"Please, jangan tinggalin aku sayang."


"Sat, jangan kaya gini malu dilihatin orang, ayo bangun!'' bisik Stela, sembari menoleh kekiri dan kekanan, tepatnya melihat pada beberapa orang yang tengah melihat kearahnya.


"Sat ayo_"


"Ok, kita tetap pacaran!" ujar Stela frustasi, saat Satria tak mau bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


"Beneran?" tanyanya antusias, dan sontak seketika langsung berdiri.


"Iya, ayo pulang!" bergegas menarik tangan Satria, meninggalkan beberapa orang yang sejak tadi memperhatikannya.


*


"Sat?" Stela menoleh kearah Satria, saat laki-laki itu menahan tangannya yang hendak keluar dari mobil.


"Boleh peluk, sebentaaar aja!" bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.


"Euhmz_"


"Boleh ya please?"


Melihat wajah Satria yang terlihat kacau dan memohon, membuat Stela tak tega untuk menolaknya, dan pada akhirnya ia pun mengiyakan dengan sebuah anggukan kecil.


"Beneran, boleh?" tanyanya tak percaya, dalam hati bersorak girang.


Hanya sebentar, sangat sebentar, Stela segera melepaskan pelukannya, berlari memasuki rumah dengan perasaan tak menentu.


Sementara Satria jangan ditanya, bagaimana perasaan nya saat ini, ia sangat bahagia hingga tak mampu digambarkan dengan apapun.


"Anjir, seneng banget sumpah!" memeluk setir, kemudian membentur-benturkan kepalanya disana, sesekali menggigit setir tersebut, tanpa ia sadari.


*

__ADS_1


*


__ADS_2