
"Ehmz." Mutia berdeham, untuk mengurangi rasa gatal yang mendadak ditenggorokannya.
"K-kak Satya bilang apa?"
"Nggak boleh pacaran, berarti nikah boleh?" ulangnya, sedikit mencondongkan wajahnya, membuat Mutia repleks menatap kearah lain.
Deg!
Mutia berusaha menyetabilkan debaran jantungnya yang berdetak tak menentu, menggigit bibir bawahnya demi mengurangi hawa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ini bukan pertama kalinya seorang laki-laki mendekati dirinya, tapi entah mengapa saat bersama Satya semuanya terasa berbeda.
Jika dihadapan laki-laki lain ia mungkin akan seperti biasanya, bersikap acuh, kemudian menolak langsung siapapun yang menyatakan cinta padanya, tetapi pada Satya sepertinya ia tidak mampu untuk menolaknya.
Terlebih saat ia sudah merasakan perhatian Satya padanya yang begitu tulus, begitu juga dengan tatapan penuh cinta yang ditunjukan olehnya.
"Kak, aku serius! mama papaku nggak ngijinin aku buat pacaran." ucapnya setengah berbisik.
"Muti,?" Satya menggenggam lembut kedua tangan Mutia, kemudian menatap lekat wajah gadis tersebut.
"Kamu mau jadi pacarku,?"
"K-kak?"
"Kamu tidak perlu takut dengan apapun, kamu cukup jawab, iya! dan aku akan berusaha buat meminta restu dari orang tua kamu."
"Ya, please! mau ya, jadi pacarku?"
"Tapi aku, aku nggak secantik seperti gadis-gadis yang ada di sekolahan kak Satya."
"Kata siapa, hm?" satu tangan Satya terayun, membelai merapikan anak rambut yang menjuntai menutupi wajah manis milik Mutia.
"Itu_ itu kata_"
__ADS_1
"Kata siapa?" ulangnya.
"N-nabila."
"Sepupu kamu itu,?"
"I-iya."
"Dia bohong kali." jawabnya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari wajah Mutia.
"Masa iya sih?"
"Kamu mau tahu siapa cewek yang paling cantik menurut aku."
"S-siapa?"
"Bundaku."
"Iya, selanjutnya kamu."
Deg!
"Kamu yang tercantik, kamu juga yang membuat aku memiliki sebuah keberanian yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya."
"K-keberanian apa?" tanyanya bingung.
"Keberanian menjalin hubungan."
Deg!
"Memangnya kak Satya belum pernah pacaran sebelumnya?"
Satya menggeleng, "Belum."
__ADS_1
"Kak Satya se-serius?" tanyanya tak percaya, karena bagi Mutia rasanya tidak mungkin sekali laki-laki setampan Satya tidak tertarik untuk berpacaran.
Satria menghela nafas, "Serius, tapi niat pacaran sama kamu nggak kalah serius."
"Jadi gimana, mau nggak?" lanjutnya dengan suara setengah berbisik, membuat Mutia salah tingkah.
"Mau ya, please!"
"Kak Satya maksa ih." memalingkan wajah, menutup mulut dengan sebelah tangan untuk menyembunyikan tawanya.
"Gimana dong, nggak maksa, nggak dapet." jawabnya, membuat Mutia tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Kok malah diketawain sih, serius tahu ini." tanpa sadar ia sendiri ikut tertawa.
Dan setelah puas tertawa keduanya kembali terdiam, menciptakan sebuah keheningan, sesekali Satya mencuri pandang kearah Mutia, sementara Mutia hanya menunduk, sesekali meremas jemarinya hingga berwarna kemerahan.
"Euhhmmz, jadi sampai kapan kita mau diem-dieman begini,?" Satya berusaha memecah keheningan, "Muti, sebelum aku nganter kamu pulang aku harus nganter bunda ku dulu, tapi sebelum itu aku butuh jawaban kamu dulu."
"Maukah jadi pacarku?"
"Euhmz, i_itu, i-iya, iya aku mau." jawabnya lirih, tak berani menatap langsung wajah Satya.
"Mau, mau apa?" Satya berusaha menyembunyikan perasaan bahagianya, dengan berpura-pura tak mengerti mengenai ucapan Mutia.
"Aku mau kak."
"Iya, mau apa? yang jelas dong!" mengulum senyum, dengan kedua tangan yang terkepal didalam saku celananya.
"Aku mau jadi pacar kakak." jelasnya, membuat Satya tersenyum lebar, dan repleks memeluk Mutia.
*
*
__ADS_1