
Sepanjang perjalanan pulang, Satya tak berhenti tersenyum, membuat sang adik keheranan dengan sikap sang abang.
"Perasaan Tika doang apa bukan si, abang senyam senyum mulu dari tadi?"
"Apa sih dek, emang nggak boleh?"
"Ya boleh, tapi aneh aja."
"Udah ah anak kecil jangan banyak mau tahu urusan orang gede, pegangan yang kenceng, abang mau ngebut nih udah sore, kalau nggak kita bisa kemagriban."
"Iya- iya."
Tak berselang lama keduanya pun sampai dihalaman rumah dalam waktu yang sangat singkat, Satya terlihat baik-baik saja berbeda dengan sang adik yang berjalan dengan sempoyongan.
"Aduh-aduh itu adek kamu kenapa lagi?" sergah Nada terlihat bingung.
"Mabuk perjalanan bun." jawab Satya santai seraya menyalaminya.
"Kamu bawa adek kamu ngebut, bagus ya! padahal sebelum berangkat bunda udah ingetin, jangan ngebut-ngebut."
"Dikit bun." jawab Satya cengengesan, menaiki anak tangga mengantar sang adik untuk beristirahat dikamarnya.
"Abang tinggal dulu ya, mau lihat keadaan bang Satria, kasian!" ujar Satya setelah mengantar kan sang adik ke kamarnya.
"Iya bang."
*
Satya membuka pintu kamar Satria yang bersebelahan dengan kamarnya, terlihat Satria yang terbaring lemah diatas kasur, dengan tangan yang ditempeli selang infus dibagian kiri.
Wajahnya tampak pucat, dengan kedua kelopak mata yang tertutup rapat.
"Woy bangun Sat, jelek tahu nggak sih kalau lo begini, mana Satria yang suka ngejek gue setiap saat, gue kangen sumpah! jangan kek gini dong Sat, bangun! lo kenapa sih sebenernya?" berbicara dengan sangat pelan.
Namun seolah tak mendengar nya, Satria tak merespon posisinya masih sama, tak ada pergerakan sama sekali.
"Ok, untuk malem ini gue maklumin kalau lo pengen istirahat, tapi besok pagi lo musti bangun, kalau nggak gue bangunin lo secara paksa." lanjut Satya sembari membenarkan selimut yang dipakai Satria.
*
__ADS_1
Satya kembali kekamarnya, duduk manis di tepi ranjang, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.
Tersenyum memandangi sebuah kontak yang diberi nama, pujaan hati, terkekeh geli saat membayangkan kejadian tadi sore ketika ia memberanikan diri meminta nomor Handphone nya.
Beruntung gadis itu tidak banyak bertanya, langsung memberikannya begitu saja.
Satya larut dalam lamunannya, hingga tanpa ia sadari telah menekan tombol hijau untuk memanggilnya, dan lebih sialnya tidak membutuhkan waktu lama telponnya pun tersambung.
"Hallo!" suara lembut dari sebrang sana, sontak membuat jantung Satya berpacu sangat hebat.
Deg!
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat ponsel nya menempelkannya ditelinga bagian kiri.
Malu!
Satu kata yang Satya rasakan saat ini, padahal ia tak sedang berhadapan langsung dengan gadis tersebut.
"Hallo, ini dengan siapa ya?"
"Hallo, maaf kalau tidak penting saya matikan." tambah Sipenelfon yang tak lain adalah Mutia, sang gadis pujaan.
"Eh kak Satya, saya kira siapa? abis kak Satya diem aja, ada apa kak?"
"Eummz, lagi ngapain?" tanyanya dengan suara bergetar, sesekali memejamkan matanya tak karuan.
"Ini baru selesai beres-beres kak, kakak sendiri lagi ngapain?'' tanyanya balik dengan suara yang terdengar sangat tenang.
" Eumz lagi_ lagi nelpon kamu." jawabnya yang membuat Mutia terkekeh.
''Kak Satya orangnya pemalu ya kak, lucu, gemesin banget!" ungkap Mutia, yang seketika membuat jantung nya kembali melompat-lompat.
"mut?"
"Iya kak."
"Muti punya cowok nggak?" tanyanya ragu.
"Maksud kakak pacar gitu,?"
__ADS_1
"Iya."
"Punya sih!"
Deg!
Mendadak tubuh Satya merosot dari sisi ranjang, terjatuh mengenai lantai.
"Tapi itu dulu kak, sekarang udah nggak." tambah Mutia yang membuat senyum Satria terbit kembali.
"Kenapa memang nya kak, kakak mau jadi pacar mutia?" tanyanya penuh candaan.
"Iya, mau nggak jadi pacar aku?"
Deg!
Kini gantian Mutia yang membeku dengan nafas tercekat, merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana ia bisa bercanda seperti itu.
"Gimana mau nggak?"
"Kak, kakak bercanda."
"Serius! aku suka sama kamu, dari saat pertama kali kita ketemu."
Deg!
"Kak?"
"Kamu nggak perlu jawab sekarang kok, coba dipikirin dulu, aku kasih kamu waktu seminggu."
"Kak?"
"Aku serius muti, sumpah! aku cinta banget sama kamu, dan aku lega sekarang, karena seenggak nya aku udah ungkapin semuanya."
"Yaudah aku tutup dulu telponnya, selamat beristirahat ya."
"I-iya kak."
*
__ADS_1
*