Presdir Cilok

Presdir Cilok
100 Wanita penghebatku


__ADS_3

Sampai juga di part 100 ini. Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para Kakak setia yang sudah membaca (Presdir Cilok). Sehat, sukses, dan banyak rezeki untuk yang sudah membacanya. Dan semoga tidak bosan-bosannya membaca karya yang masih amburadul ini. Tapi kalau bosan, lumrah deng, kan memang karya ini tidak sempurna.


Please like, vote, komen....


And do not forget to be happy!



“Sopan! Hhhh....” Damar mengangkat alisnya, mendengar perkataan pedas Vega. Ia tersenyum menyeringai, “Anda tahu apa sesungguhnya kata sopan, dan apa artinya setia!?” kata Damar dingin, membalas tatapan tajam Vega, lebih tajam lagi.


•••


Vega terdiam... ia merasa belum tahu apa pokok permasalahannya.


Damar membungkukkan sedikit punggungnya, kini ia beralih menatap Ratna yang sedang menunduk menangis terdengar memilukan. “Menjadi setia, artinya memberi dukungan kepada seseorang walaupun sulit, memegang janji yang telah dibuat, tidak pernah mengecewakan seseorang dalam keadaan sulit sekalipun....” sejenak Damar menjeda ucapannya, ia kembali berdiri tegak, lalu menunjuk Ratna dengan jari telunjuknya. “Namun, cintanya hanya memandang harta, dan membuangku seperti sampah!”


Vega berdiri berhadapan dengan Damar, “Tapi tetap saja, kamu tidak berhak memperlakukan adik saya semena-mena!”


Damar tertawa kecil, “Hhh... semena-mena bagaimana maksud Anda? Apa aku harus memperlakukan adik Anda bagai ratu, begitu maksud Anda, Bu Vega?” cecar Damar dengan menahan amarahnya.


Kali ini Vega terdiam.... Tidak tahu harus menjawab Damar dengan cara apa?


Ratna kembali berdiri, “Cukup Damar! Cukup!”


“Bagaimana rasanya menjadi miskin Na? Apa orang yang dulu kamu anggap teman dan kamu anggap cintamu, perduli dengan keadaan mu, Hahh?!” cecar Damar, ia masih ingin menyuarakan hasil dari kekesalannya selama ini, yang terpendam di hatinya. “Nggak Ratna! Nggak, teman ada di saat kamu senang, sedangkan orang yang tulus ada di saat kamu suka maupun duka!”


Ratna terdiam, mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus jejak air matanya, dan hidungnya yang berlendir bening. “Maafin aku Damar, aku memang bodoh! Kamu pantas untuk memakiku semaumu. Aku memang buta karena cinta dan harta...” ucapnya, seraya terisak. Untuk kesekian kalinya Ratna mendekati Damar, “Aku sungguh menyesal, Damar! Tolong maafkan aku, aku ingin kembali bersamamu...”


Damar berjalan menjauhi Ratna, ia kembali mendekati Wulan dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sekretarisnya. “Maafmu nggak guna Na! Dan saat ini, aku sudah menemukan wanita tangguh yang menghebatkan diriku! Dia adalah Nawang Wulan!” ulasnya, lalu mencium kening Wulan di hadapan Ratna, dan di depan semua orang yang saat ini ada di dalam rumah yang sudah menjadi rumahnya.


Wulan terkejut dengan apa yang dilakukan Damar, sampai-sampai ia menutup mulutnya; Wah edan nih orang mencari kesempatan dalam kesempitan! Awas aja, nanti aku sleding!


Bokir menggaruk kepalanya yang licin, selicin piring kosong; Angel-angel tuturanmu wes angel--- (Susah-susah bilangin kamu, sudah susah)'


Takaruan rasanya kemelut di hati dan pikirannya, Ratna kembali meneteskan eluhnya. Betisnya seolah tak kuasa untuk menopang tubuhnya, ia terhuyung dan hampir saja terjatuh, namun dengan sigap Kakaknya menopang tubuh lemahnya, yang seolah tak bertulang.


Vega menuntun Ratna untuk keluar dari rumah yang bukan lagi rumah orangtuanya. Sekali lagi, ia menatap Damar dengan tatapan tajam.


Damar hanya mengangkat bahunya acuh...


“Kalau begitu saya juga permisi Tuan Damar,” ujar Pak Johan.

__ADS_1


Damar mengangguk, “Baik, terimakasih Pak Johan.”


Damar melihat kepergian Pak Johan dan asistennya.


Wulan segera menjauhkan dirinya dari Damar, ia menghela nafasnya kasar. Lalu menginjak kaki Damar yang di balut dengan sepatu hitam.


“Aaa...” erangan terkejut keluar dari bibir Damar, ia menatap Wulan.


Begitupun juga dengan Bokir, ia terkejut dengan apa yang dilakukan Wulan. “What are you doing? Wulan,”


Wulan terdiam, ia tidak menjawab dan berjalan dengan langkah jenjang hendak keluar dari rumah yang baru saja di beli oleh atasannya. Namun, tangannya sudah lebih dulu di sambar oleh tangan Damar.


“Kamu mau pergi kemana?” tanya Damar, bingung melihat sikap Wulan yang tiba-tiba berubah haluan.


Wulan menghempaskan tangan Damar, bersitatap dengan pria yang sudah menghancurkan moodnya, matanya mulai memanas, berulang kali Wulan menghela nafas dan menghembuskannya kasar, “Sengajakah kamu mengajakku kesini hanya untuk memanasi mantanmu? Ataukah aku hanya dijadikan pelampiasanmu? Serendah inikah aku bagimu, hingga membuatku seolah menjadi wanita yang mudah di peralatan olehmu?”


Setelah mengatakan uneg-unegnya, Wulan lebih memilih meninggalkan Damar.


“Wulan! kamu salah paham!” teriak Damar melihat Wulan yang berjalan dengan langkah jenjang, keluar dari rumah yang sekian menit lalu menjadi miliknya.


Wulan terus saja berjalan keluar rumah, tak menghiraukan seruan Damar.


Damar beralih menatap Bokir, “Aku serahkan rumah ini pada Kang Bokir, anggap saja rumah ini sebagai hadiah atas kerja keras Kang Bokir yang sudah membantuku,”


Bokir mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Damar, lalu menerima kunci yang diberikan Damar, “Saya nggak salah denger Mar? Ta--tapi kenapa kamu nggak mau menempati rumah ini, apa karena kamu masih menyimpan rasa pada mantanmu?!”


Damar menggeleng, menolak persepsi yang Bokir katakan, “Aku bukan orang bodoh bin naif yang masih menyimpan rasa pada seorang pengkhianat, Kang Bokir. Juga rumah ini bukan rumah yang aku impikan. Lagi pula sekarang ini aku sudah menemukan wanita penghebatku! Aku tidak akan melepaskannya!” pungkas Damar, baginya masa lalu adalah masa penuh dengan pengalaman dan pembelajaran. “Maaf Kang, sepertinya aku harus pergi, Wulan sudah salah paham padaku!”


Bokir manggut-manggut, lantas menepuk-nepuk pundak Damar. “Ketika cinta menghadirkan ketulusan memanggilmu, ikutilah dia. Meskipun jalannya terjal dan berliku.”


Damar mengangguk mantap, “Terima kasih atas nasehatnya Kang.” Ia segera berlari menuju pintu keluar rumah.


Bokir geleng-geleng kepala, menatap kepergian Damar. “Salahmu Mar, suka tapi nggak langsung mengungkapkannya!” gumamnya pada diri sendiri. “Tapi juga ini salah Wulan... meskipun nggak sengaja berbohong!” gumamnya lagi, seraya menggaruk kepalanya yang licin. Ia sudah mengetahui bahwa Wulan memang masih sendiri.



Di depan gerbang menjulang tinggi, ia celingukan mencari keberadaan Wulan. Melihat pengendara bermotor yang berlalu lalang, dan tepat saat ia mengedarkan pandangannya. Damar melihat Wulan dari kejauhan sedang menghentikan tukang ojek yang lewat.


Damar segera berlari menghampiri Wulan, ia menarik lengan Wulan membuat empunya tersentak.


“Damar!” seru Wulan.

__ADS_1


Damar merogoh saku celananya, lalu memberikan uang berwarna biru kepada tukang ojek, “Ini Pak, biasa pacar saya kalau ngambek suka kabur-kaburan!”


Tukang ojek pun tersenyum lebar, “Biasa Mas! Waktu muda, saya dulu juga begitu, karena perempuan tidak pernah salah, walaupun mereka sebenarnya salah!”


“Lah itu Pak, sekali-kali pria kan yang ingin dimengerti ya Pak!” seru Damar, masih memegang erat lengan Wulan agar tidak kabur lagi.


“Waduh, dia malah curhat!” gerutu Wulan, mencoba melepaskan genggaman tangan Damar. Namun, semakin ia melepaskan genggaman tangan Damar, malah semakin kencang dan semakin mengerat bagaikan lem.


“Kalau begitu terimakasih Nak, semoga kalian baik-baik saja.” kata Pak ojek. “Segera saja menikah Nak, kalau memang sudah ngeklik!”


Damar pun mengangguk, “Iya Pak, amin. Segera, kalau dia mau besok juga saya bawa ke penghulu.” cetus Damar.


Tukang ojek mengangguk, “Mantap!” lalu tancap gas, meninggalkan Damar dan Wulan.


Damar kembali menatap Wulan, tanpa berkata apa-apa.


“Lepas Damar! Kamu menyakitiku!” keluh Wulan, merasakan sakit di pergelangan lengan yang di genggam erat oleh tangan Damar. Wulan pun membungkukkan sedikit badannya, lalu menggigit tangan Damar dengan kuat.


Damar menatap Wulan dengan tersenyum simpul, “Sshhh...” Damar mendesahh menahan sakit akibat gigitan Wulan di tangannya, namun ia masih enggan melepaskan genggaman tangannya di lengan Wulan.


Merasa tidak ada pergerakan dari tangan Damar, Wulan terus saja melayangkan pukulan di tangan Damar. Plak.... plak... plak... “Damar! Lepaskan aku!” seraya menarik tangannya.


Wulan mengedarkan pandangannya, ia menyadari bahwa kini ia dan Damar sedang menjadi tontonan oleh pengguna jalan, ia kembali melihat Damar yang seolah tidak menanggapi tatapan intimidasi orang-orang terhadapnya. “Damar kita lagi di perhatikan banyak orang! Lepaskan aku, apa maumu sebenarnya?!”


Damar mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya... dan langsung memasangkan benda bulat seperti donat berwarna putih kemilau di jemari manis tangan kiri Wulan.


Wulan terdiam, ia terpaku dengan apa yang dilakukan oleh Damar. Cincin putih terpasang cantik di jemari manis kirinya. Ia menatap Damar, yang tak kunjung berkata apapun.


Saat Damar akan menyuarakan maksudnya, mengapa ia memberikan Wulan cincin.


Seruan seseorang membuat Damar dan Wulan mengalihkan tatapannya.


“Lepaskan tangan dia!”


•••


Bersambung...



Silahkan jika berkenan mampir juga ke karya saya yang udah tamat ini..

__ADS_1



__ADS_2