Presdir Cilok

Presdir Cilok
125 Jangan pernah melupakanku


__ADS_3

Bokir menyusuri setiap area pabrik, pria berkepala pelontos ini terperangah manakala melihat bagian dalam area produksi Amanah food sudah porak porandakan. Ia pun kembali lagi ke pos penjagaan, tiga satpam penjaga shift malam juga mengalami babak belur, dengan sejumlah luka parah.


Bokir lantas mengeluarkan ponselnya, ia segera melakukan panggilan telepon kepada Damar, namun ponsel Damar tidak juga tersambung, ia pun mencoba menghubungi Wulan. Dua, tiga panggilan telepon tidak mendapat jawaban, akhirnya ke empat panggilan telepon yang dilakukannya berhasil membuat Wulan mengangkat teleponnya. “Lan, Amanah food porak-poranda!”


Tak lama percakapan, Bokir dan Wulan pun berakhir.


Bokir kembali berjalan mendekati Asep, seorang satpam penjaga yang masih sadar dan terduduk dengan luka-luka cukup parah bersandarkan di dinding pos penjagaan, dan Asep juga orang yang telah menghubungi Bokir. “Asep, siapa yang sudah melakukan ini, Sep?!”


Asep menggeleng, tanda ia tidak tahu, karena penyerangan dilakukan secara tiba-tiba dan sangat brutal. Akibat penyerangan brutal, mata Asep lebam, pipi yang berdarah akibat terkena senjata parang. Sekujur tubuh yang gemetar, darah segar membasahi sebagian pakaian yang dikenakannya. “Sa--saya ndak tau Pak..”


Bokir mengedarkan pandangannya, menatap keseluruhan area pelataran pabrik, beberapa mobil dan truk kontainer yang terparkir juga mengalami kerusakan parah. Ia lantas menghubungi ambulans.


Tak lama setelah ambulance datang, dan membawa ketiga satpam yang terluka untuk mendapatkan pertolongan pertama. Ia juga menghubungi beberapa temannya yang bekerja di kantor kepolisian, di bidang penyidik.


Kedua teman Bokir langsung melakukan pemeriksaan, di area pos penjagaan, dan melihat cctv di sudut pos.


“Kamu udah melihat cctv, Kir?” tanya seorang teman Bokir, bernama Mardani. Seorang penyidik yang biasa melakukan pemeriksaan terhadap kejadian perkara.


Bokir menepuk jidatnya. “Aku belum kepikiran kesitu, Dan!”


Ali, Mardani dan Bokir pun berlari menuju ruangan tempat khusus dijadikan pos keamanan CCTV.


Video CCTV pun di putar ulang, dari pada saat kedatangan kelima orang yang melakukan penyerangan dan memukuli ketiga satpam yang mencoba melawan. Seterusnya, kelima orang yang berpencar melakukan tugasnya masing-masing untuk menghancurkan semua yang ada di area produksi pabrik dan di seluruh area pabrik.


Bokir membelalakkan matanya, melihat kelima orang yang telah merusak semua area dalam produksi dan luar pabrik. “Sial!!” Bokir menggebrak meja.


“Kayanya mereka orang-orang suruhan, Kir,” kata Ali, masih memantau cctv yang memutar pada saat kejadian penghancuran.


“Siapa orang yang sudah berani membangunkan singa tidur.” geramnya, namun sayangnya Bokir, Ali dan Mardani tidak dapat melihat wajah-wajah para pelaku penyerangan karena di tutupi masker dan memakai topi, juga kondisi CCTV yang remang.


Bokir pun mengeluarkan ponselnya, ia kembali menghubungi Wulan. “Kamu udah sampai mana Lan, cepat datang ke pabrik, Damar harus tau..”


Dari seberang telepon, Wulan sedang memandangi kamar ICU dengan tatapan nanar. “Bokir, Dam--mar, Kir...” ucapnya parau, menahan isak tangis sesenggukan.


“Damar, kenapa Lan?!” tanya Bokir panik.


“Damar kecelakaan... Kir.” jawab Wulan, menghapus jejak air matanya yang mengalir kian luruh.


Bokir terkejut kala mendengar jawaban Wulan, ia beranjak dan menjatuhkan ponselnya.. “Apa?!”


••


RSUP Dr Sardjito

__ADS_1


Setelah sampai di rumah sakit' dengan suara gemetar. Wulan berpikir untuk menghubungi Bu Suci, bagaimana pun juga beliau harus tahu apa yang telah di alami Damar, dan berikutnya menghubungi Bokir.


Wulan menunggu harap-harap cemas di luar kamar ICU, berdiri lemas dengan bersandarkan pada dinding putih rumah sakit, kecemasan dan kekhawatiran menjadi sebuah dilematis menyayat hati. Goresan luka di dahinya pun sudah tertutupi perban putih, ia harus mampu menahan sakitnya harus mampu menahan beban tubuhnya, derai air mata membasahi bulu mata lentik nya.


“Ya Allah selamatkan suami hamba..” ucapnya rintih.


Seorang wanita setengah baya dengan abaya marunnya lari tergopoh-gopoh menyusuri lorong-lorong rumah sakit di tengah malam dengan seorang remaja berkaos oblong dipadukan celana kolor. Ia melihat anak menantunya sedang berdiri dengan bersandarkan pada dinding putih rumah sakit.


”Wulan...” serunya memanggil anak menantunya.


Wulan menolehkan wajahnya menatap seorang wanita berwajah dengan semburat kecemasan di sana, telah datang bersama Danum. “Bu Suci..” Ia mencoba berdiri tegak, namun kakinya yang terkilir tidak mendukungnya untuk berjalan mendekati Bu Suci.


Bu Suci dan Danum segera menghampiri Wulan yang terjatuh di lantai, Bu Suci berhambur memeluk Wulan. Air mata tak dapat terbendung lagi. “Wulan..” kelunya lagi... dengan segenap rasa yang membuncah.


Wulan membalas pelukan Ibu mertuanya. Bibirnya seakan kelu untuk berbicara, semua terasa berat, sungguh terasa berat, lidahnya kelu, bahkan untuk menyuarakan tangisnya pun tak dapat ia lakukan. Palung jiwanya remuk redam.


Bu Suci mengusap punggung Wulan, malam ini seakan menjadi malam penuh dengan kesuraman. “Sabar Nak, istighfar.” Beliau lantas menatap kamar ICU. Bu Suci mengurai pelukannya, beliau mengusap lembut pipi Wulan, mata sembab dan hidungnya yang memerah terlihat menantunya ini sangat terpukul.


“Damar, Bu..” ucap Wulan rintih, lirih bersitatap dengan Bu Suci.


“Ibu yakin, Damar akan baik-baik saja, Lan.” jawab Bu Suci, meskipun demikian hatinya sangat cemas. Namun, bagaimanapun juga, beliau harus tegar, lalu membawa Wulan untuk duduk di kursi yang telah disediakan oleh rumah sakit.


Danum menatap pintu kamar ICU, netranya memanas kala melihat ruangan itu. Ia tak sanggup apabila harus kehilangan lagi, Danum berjalan mendekati pintu tangannya meraba nanar. “Mas, Mas Damar...” ucapnya parau, kesedihan dan harapan berbaur menjadi satu.


Sedangkan di dalam kamar ICU dua jam sudah Damar tidak sadarkan diri. Dua jam pula Damar mendapatkan perawatan intensif di kamar yang dipenuhi dengan berbagai macam kabel dan peralatan medis, ia telah banyak mengeluarkan darah akibat benturan keras di kepalanya. Dokter dan beberapa perawat pun sedang berusaha untuk menghentikan pendarahan di kepala Damar.


“Kemungkinan benturan yang di alami pasien sangat keras, Dok,” kata perawat yang melakukan pendampingan untuk menghentikan pendarahan di kepala Damar.


“Mungkinkah, pasien akan mengalami gegar otak, Dokter?” imbuh perawat lain.


“Kita harus menyadarkannya terlebih dahulu, untuk langkah selanjutnya, tes CT-scan harus dilakukan.” jawabnya, Dokter jangkung ini pun menoleh kearah perawat yang sedang memasang infus. “Heci, siapkan kantong darah.” titah Dokter kepada perawat lain.


“Baik, Dokter.” jawab perawat.


••


••


“Hahaha....” tawa lepas seorang pria di sebuah gudang kosong, yang dijadikan sarang pengedaran dan pesta obat-obat terlarang. “Aku sudah berhasil membuatnya merasakan sensasi rasa di ambang kematian!”


Teler... keenam pria tengah teler berpesta pora setelah menyelesaikan misinya. Dengan bau ciu dan obat yang bisa membuat orang lepas dari logikanya, logika orang waras.


Orang waras bisa menjadi gila, dan yang gila menjadi semakin menggila dengan mengonsumsi obat terlarang ini. Namun, apa yang di larang justru itulah yang menjadi perburuan oleh sebagian orang-orang yang ingin sekedar mencicipi atau sudah bergantung pada jenis obat narkotika ini.

__ADS_1


Narkotika jenis gorila. Yah, dari namanya saja sudah menggila, apalagi orang yang memakainya. Sinting dan berkhayal bahwa hidupnya seakan terbang di atas angkasa raya.


Dengan lunglai seorang pria yang duduk di sebelah pria yang tengah tertawa dengan menyesap pipet narkoba, pun bertanya dengan bibirnya yang membiru. “Kenapa kamu Pik, terlihat sangat puas telah memporak-porandakan pabrik makanan itu?!”


“Opik, punya dendam lama dengan pemilik perusahaan makanan itu. Hahaha...” jawab kawan Opik, dia bernama Mehendra, anak dari keluarga kaya. Yang kesehariannya hanya hura-hura dan menyesap pipet narkoba serta ciu dengan kadar alkohol tinggi.


Opik melempar kulit kacang Garuda kearah Mahendra, kacang tanah selalu identik sebagai pendamping kala sedang mabuk ciu, dimana ada botol ciu di situ pasti ada kacang, seolah kacang dan ciu bagai Romeo dan Juliet, “Tau aja kamu bro, yah aku punya dendam lama sama dia!”


Opik kembali teringat, saat ia dengan brutal menabrak dan menghempaskan Damar di atas jalanan berasal. Ia pun girang, karena berhasil mengecoh kendaraan bermotor yang mencoba menghentikannya.


“Anjirt, bukannya kamu dulu yang udah merebut pacarnya, dan sekarang ini udah menjadi mantan istri mu?! Bukankah kamu sangat aneh Pik?” tanya teman Opik, bernama Radit yang kesehariannya bekerja sebagai model dan artis top. Kehidupan artis membuatnya merasa tertekan, takut jika persaingan artis membuatnya tersingkirkan oleh artis pendatang baru, dan lagi... narkotika adalah caranya untuk menghibur diri. Bagi Radit, kegunaan narkotika adalah suplemen vitamin penambah rasa percaya diri.


Sebotol ciu melewati tenggorokan Opik, pandangannya mulai kabur. Ia mabuk berat, hingga membuatnya tergeletak di sofa, dan gelak tawa masih keluar dari mulutnya. “Hahaha... karena itulah aku bercerai dari istri sialan! Dia sudah membandingkan ku dengan Damar, si brengsek penjual cilok, kampungan!”


“Ahaha... gila bener!” seru Danil, si pengedar narkoba. Laki-laki kurus dan melengkung ini tidak bisa di anggap main-main. Jaringannya sangat luas, hingga mencapai batas Asia.


“Aku suka gayamu, Pik!!” jawab salah seorang teman Opik, dia bernama Pram mantan narapidana kasus pembobolan ATM.


••


••


Dr. Adams pun keluar dari kamar ICU, ia menatap ketiga orang yang sedang menunggu jawabannya, “Saya menyesal harus memberitahukan ini pada kalian,” kata Dr. Adams, “tapi, pasien mengalami luka parah di bagian kepalanya, ada kemungkinan besar pasien akan mengalami gegar otak, dan saya menyarankan besok adalah jadwal pasien untuk melakukan pemeriksaan CT-scan.”


Dr. Adams berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi Bu Suci, Wulan dan Danum. untuk mencerna apa yang baru saja ia katakan pada ketiga orang yang mengharap pasien yang ditanganinya baik-baik saja.


Bu Suci meletakkan telapak tangannya didepan dada, dan bertanya kepada Dr. Adams. “Apa sangat parah, Dokter?”


“Lebih detailnya besok, setelah melakukan pemeriksaan dengan menggunakan CT-scan, guna mengetahui separah apa lukanya, Bu.” jawab Dr. Adams. “Saya berharap tidak terjadi penyumbatan pembuluh darah.”


“Nggak mungkin menyebabkan kematian kan, Dokter?” Danum bertanya memastikan bahwa bukan kematian yang akan menghampiri Kakaknya.


Bu Suci menggeplak lengan putra bungsunya. “Jangan bicara kaya gitu, Le! Pamali!”


“Ibu, Danum takut, Bu.” sahut Danum, seraya mengusap lengannya. “Takut, Mas Damar akan meninggalkan kita kaya Bapak, Bu.” remaja ini sangat takut dengan yang namanya kematian, derai air matanya mengalir tanpa permisi.


Bicara soal kematian?!


Wulan merasa seperti otaknya tidak sanggup memprosesnya. Ia seolah mematung, bagaimana bisa? Bahkan lagu yang dinyanyikan Damar tiga jam lalu masih terngiang-ngiang merdu di telinganya. Tidakkah ini seperti mimpi?


Wulan memilih tidak mempertanyakan hal yang membuat hatinya semakin kelu, ia menyeret kakinya yang terkilir, meringis menahan sakit, lantas berjalan mendekati pintu dan membukanya. Ia melihat tubuh suaminya terbujur lemah tak berdaya di atas brankar.


Berjalan dengan langkah kaki gamang, mendekati brankar, melewati beberapa perawat yang menatapnya. Wulan tak perduli meskipun demikian ia di cegah untuk tidak mendekati Damar terlebih dulu. Sungguh ia tidak perduli dengan peringatan perawat. Ia berlutut di samping kanan brankar, memandangi wajah dengan mata terpejam nan lebam suaminya. “Jangan pernah melupakan ku.” Wulan menggenggam tangan Damar, sesaat kemudian ia menciumnya lembut. “dan jangan pernah tinggalkan aku...”

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2