
Kini, mobil yang dikemudikan Damar sampai di parkiran rumah sakit, meskipun dilajukan dengan kecepatan rendah. Yang terpenting selamat sampai tujuan, tak perlu gaya-gayaan, kalau pada akhirnya nyawa melayang.
Damar mematikan mesin mobil, dan menoleh ke samping. Ia membiarkan pundaknya sebagai sandaran Wulan, meskipun sepanjang jalan ia harus merasakan pegal, Damar menghela nafasnya, ‘Apa semalam dia nggak tidur, sampai-sampai pules banget tidurnya?'
Sekian menit terdiam mengamati wajah Wulan dari samping, yang masih bertahan memakai masker, serta kaca mata hitam. Damar pun kembali duduk dengan tegak tatkala Wulan terbangun dan merentangkan kedua tangannya ke atas.
“Hooaamm.... sudah sampai mana?” tanya Wulan, seolah sedang menaiki bus jurusan Jakarta-Bali.
“Padang!” celetuk Damar. Ia lantas membuka pintu mobil.
Sekian menit masih merasa limbung karena baru bangun tidur, ia pun sadar setelah suara Damar membuyarkan kelimbungannya, “Wath?” seru Wulan terperanjat, ia melihat Damar yang sudah berdiri di luar mobil. “Kenapa aku bisa ketiduran? Alamaaak! Mau taruh dimana mukaku ini, kalau bisa masuk kantong, udah ku kantongin!” gerutunya, seraya menghentakkan kakinya di bawah sana.
Wulan melihat Damar melambaikan tangannya, “Aduh... dia pakai acara melambaikan tangan lagi, kaya di uji nyali?!”
Perlahan Wulan membuka pintu mobil dan keluar dengan salah tingkah, namun sebisa mungkin ia tahan.
”Ayok!” ajak Damar, ia pun berjalan mendahului Wulan.
Wulan mengikuti Damar di belakangnya, “Bodoh banget si kamu Lan, kan jarak rumah sakit nggak terlalu jauh, kenapa bisa ketiduran. Aih... bikin malu aja si nih mata!” ia menggerutu sambil menunduk, sampai tidak menyadari Damar yang berbelok, sedangkan dirinya yang masih saja berjalan lurus sampai tidak membaca tulisan yang ada di atas pintu, lalu membuka pintu dan terkejut dengan keberadaannya sekarang.
“Waduh! Kenapa, aku bisa nyasar di kamar mayat?!” ia bergidik ngeri, dan langsung saja berjalan menuju pintu keluar. Namun lagi-lagi ia dikejutkan oleh seseorang yang ditabraknya diambang pintu kamar mayat.
Wulan refleks memejamkan matanya, seraya menangkupkan kedua tangannya, “Waduh... Ampun- ampun, aku nggak sengaja masuk, Mbah kuntring, Mbah Ocong, Mbah Olong! Mbah.... emm... Mbah... siapa pun, Sumpah! Aku nggak bohong!”
“Aku Mbah ganteng!” jawab pria yang di tabrak oleh Wulan.
Wulan langsung saja membuka matanya, ”Damar!”
Damar mengedarkan pandangannya, menatap tiga mayat yang ada di atas brankar di tutupi kain putih. “Ayo! Cepat keluar dari sini,” seru Damar, lalu menggandeng tangan Wulan untuk keluar dari kamar mayat. Dan berjalan menuju kamar rawat Ibunya.
Sementara Wulan pasrah saja di gandeng tangannya oleh Damar, ‘Astaghfirullah, otakku kayanya perlu di sleding!' gerutunya dalam hati, merutuki dirinya yang sudah bersikap naif.
“Assalamualaikum..” salam Damar, sesudah membuka pintu dan memasuki kamar rawat Bu Suci.
“Wa'alaikumussalam...” jawab Bu Suci yang sedang duduk di atas brankar sedang Danum, sedang mengemasi barang-barang milik Ibunya.
Danum dan Bu Suci menatap kearah pintu, dan melihat Damar yang datang bersama dengan Wulan. Namun, lain di hari-hari sebelumnya, kali ini ada yang berbeda. Bu Suci dan Danum melihat Damar menggenggam tangan Wulan.
“Kalau begitu saya permisi dulu, semoga sehat selalu Ibu,” ucap Dokter setelah menangani Bu Suci.
“Terimakasih Dok,” balas Bu Suci.
“Sama-sama,” jawab Dokter wanita setengah baya.
__ADS_1
“Terimakasih Dok,” ucap Damar.
Dokter Lili pun mengangguk dan keluar dari kamar rawat Bu Suci.
Danum menghampiri Kakaknya dengan usil ia meledek, “Aaa... cie cie cie... Udah pegang-pegangan aja tuh tangan, inget loh bukan muhrim!”
Wulan dan Damar seketika menatap tangannya, dan detik itu juga keduanya melepaskan genggamannya.
Wulan salah tingkah, ia membawa tangannya ke belakang tengkuk lehernya, dan segera menjauhi Damar, lalu berjalan mendekati Bu Suci dan menyalami tangan beliau.
Sedangkan Damar, tersenyum malu-malu menatap Wulan, tapi kemudian senyumannya sirna manakala tatapannya beralih menatap wajah adiknya yang sedang menatapnya pula dengan memasang cengar-cengir kuda. “Ehemmm... Ngapain kamu cengar-cengir begitu, awas nanti gigimu garing kaya gorengan peyek!”
Damar kembali memasang wajah datar sedatar talenan, kemudian mendekati Bu Suci lantas menyalami tangan Ibunya. “Damar seneng, akhirnya Ibu sudah boleh pulang dari rumah sakit, Damar kangen masakan Ibu,”
Danum pun kembali mengemasi barang-barang milik Ibunya, “Ih.. Mas Damar jahat, masa? Ibu baru pulang dari rumah sakit di suruh masak!”
Bu Suci tersenyum lembut, memandangi putra sulungnya yang terlihat tirusan dan beralih menatap Danum, “Ibu akan masak yang banyak buat kalian, lihat pipimu Nang, sudah kendur begini?” seloroh Bu Suci seraya tangannya memegang pipi Damar, lalu beralih menatap Wulan yang masih berdiri di samping kanannya, “Duduklah di samping Ibu,”
Bu Suci seraya menepuk tempat duduk disebelahnya, Wulan pun mengangguk dan duduk di sebelah Bu Suci, beliau memegang pipi Wulan yang tertutupi masker.
Wulan merasa tidak sopan, ia pun membuka maskernya dan memperlihatkan wajahnya yang sayu, karena semalaman ia tidak bisa tidur dan ditambah menangis.
Damar menatap wajah Wulan, yang sejak pagi tadi selalu saja di tutupi masker dan sekarang terlihat jelas. Bahwa sekretarisnya memang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Wulan menggeleng pelan, “Wulan baik-baik saja, Bu Suci,”
Bu Suci beralih menatap putra sulungnya, “Mar, sebelum pulang, nanti kita mampir dulu ke pasar buat beli sayuran, Ibu kangen pengen masak dirumah.”
Mendengar kerinduan Bu Suci dengan suasana rumah an memasak, membuat Damar iba, namun ia harus mengatakan bahwa kali ini, Ibunya harus pindah, “Bu, mulai hari ini Ibu akan tinggal di rumah Kakek, karena rumah kita sedang di renovasi,”
Bu Suci terdiam membayangkan ketidaksukaan orangtua suaminya, pada dirinya.
Damar duduk di tepian brankar, dan menggenggam tangan Ibunya, “Bu, sudah saatnya, Ibu mendapat pengakuan dari keluarga Wijaya,”
“Memang, Kakek sendiri yang memintanya, Mas?” tanya Danum diselingi mengemasi beberapa potong abaya milik Ibunya kedalam tas, dan duduk di kursi tidak jauh dari brankar.
Damar mengangguk, “Iya, Kakek Bagaskara yang memintanya, dan Nenek Ayudia ingin bertemu denganmu dan juga Ibu,”
Danum terkejut, “Nenek, Nenek Ayudia, maksudnya?”
Damar mengangguk, lalu beralih menatap Ibunya yang masih nampak ragu, “Bu, rumah kita sedang di renovasi, karena mengalami kerusakan yang cukup parah, kaca jendela pecah, dan pintu juga ambruk. Untuk sementara waktu Kakek meminta kita untuk tinggal di rumah beliau,” bujuk Damar dengan suara lembut.
Bu Suci termangu mendengar penuturan putra sulungnya, beliau mengalihkan tatapannya menatap dinding putih kamar rawat inap.
__ADS_1
Melihat Bu Suci hanya diam, ia merasa Ibunya tengah merasakan keraguan. “Damar tahu Ibu ragu, tapi Kakek Bagaskara yang meminta agar Ibu dan Danum tinggal di rumah beliau, untuk menemani Nenek Ayudia,”
“Ibu, hanya merasa bersalah Nang, Ibu merasa tidak pantas menerima tawaran Kakekmu dan menjadi bagian dari keluarga Wijaya,” ujar Bu Suci, begitu banyak keraguan yang masuk kedalam hatinya.
“Bu, bukankah hubungan yang baik itu, bila kita saling tersambung silahturahmi. Mendekatkan yang jauh, jangan yang sudah dekat malah menjauh,” pungkas Damar.
Bu Suci menatap Danum, dan jawaban remaja itu hanya mengangkat bahu seraya berujar, “Kalau Danum, terserah Ibu sama Mas Damar.”
Damar beranjak dari duduknya dan berujar, “Damar akan menyelesaikannya administrasi dulu,” ia pun berjalan keluar dari ruang rawat Bu Suci.
Setelah menyelesaikan administrasi, Damar kembali ke kamar rawat Ibunya berada. “Ayo, kita pulang.” ia menuntun Bu Suci berjalan menuju parkiran, dan Wulan berjalan di belakangnya, serta Danum membawa tas ransel kecil dan beberapa paper bag.
••
Setelah melewati ruas jalanan yang cukup lengang di waktu siang hari. Wulan yang mengemudikan mobil pun sudah sampai di depan rumah bergaya joglo dengan pagar teralis besi dengan tanaman yang menambah kesan rumah yang sangat asri.
BEEP BEEP
Wulan menekan klakson mobil, dan dua orang penjaga sigap mendorong gerbang teralis dengan papan kayu berwarna cokelat sebagai dominan untuk memperindah tampilan.
Dari dalam kaca mobil yang cukup gelap, Bu Suci tampak sangat mengamati dengan wajah penuh keringat, serta tangan yang gemetar. Beliau pernah datang kerumah ini sekali itupun sudah dua puluh enam tahun silam, pertemuan yang tidak mengenakkan.
“Bu,” Danum yang duduk disebelahnya Bu Suci, menyadarkan lamunannya. Namun, Bu Suci masih tak bergeming, beliau masih memfokuskan tatapannya menatap rumah bernuansa cokelat kayu.
Damar turun dari jok depan dan membuka pintu mobil belakang, tempat Ibunya duduk. “Bu, ayo turun,” ajak Damar seraya mengulurkan tangannya di hadapan sang Ibu.
Bu Suci mengalihkan pandangannya menatap putra sulungnya, lalu beralih menatap tanga yang terulur di hadapannya.
“Ayo, Bu.” ajak Danum.
Bu Suci beralih menatap Danum, dan mendapat anggukan dari putra sulungnya. Seolah menggambarkan kemantapan hati. Perlahan tangan Bu Suci yang gemetar terangkat, dan menyambut tangan Damar.
Wanita dengan abaya Cokelat dengan hijab senada dengan perlahan mulai menapaki kakinya di atas pelataran rumah berdasar batako merah yang setiap celahnya ada rerumputan kecil. “Bismillahirrahmanirrahim.” gumam Bu Suci, seraya mengatur nafasnya yang serasa sesak. Bu Suci berharap dengan mengucap kata Bismillah, beliau dapat di jauhkan dari segala keburukan maupun segala sesuatu yang tidak diinginkan.
Damar menuntun Bu Suci berjalan, Danum berjalan di belakang Ibu dan Kakaknya, bersamaan dengan Wulan setelah ia memarkirkan mobil.
Di depan rumah, sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan menantu dari keluarga Wijaya. Di tengah-tengah para pelayan, seorang wanita sepuh duduk di kursi roda dengan rikma memutih yang di sanggul kecil serta kebaya yang seperti Raden Ayu Kartini. Menyambut kedatangan menantu dan kedua cucunya dengan senyum di wajah yang terlihat sumringah.
“Ibu!” gumam Bu Suci, lalu berjalan dengan langkah yang di seret mendekati Ibu mertuanya.
“Benarkah itu Nenek Ayudia Sriningsih? Mas,” bisik Danum, mendekati Kakaknya.
•••
__ADS_1
Bersambung...