
“Assalamualaikum....” seru seorang wanita dari luar gerbang utama masuk kedalam pelataran rumah berkonsep Joglo modern.
Seorang penjaga gerbang pun menengok kedepan gerbang. “Wa'alaikumussalam, siapa?”
“Pak benar ini kediaman keluarga Bagaskara Wijaya?” ucapnya bertanya kepada penjaga rumah.
Penjaga rumah pun mengangguk, “Benar, mbaknya siapa yah?”
“Aku mau ketemu sama Damar, Pak,” ujarnya.
“Den Damar lagi ndak ada di rumah Mbak!” jawab penjaga rumah.
Suara dari teras rumah menggema, memanggil penjaga rumah. “Siapa Mang Soni?!”
Mang Soni pun menoleh kearah menantu dari keluarga Wijaya yang sedang berdiri di teras rumah berjarak 10 meter dari gerbang utama. Mang Soni pun berjalan mendekati Bu Suci. “Ndak tau Bu, di tanya ndak di jawab,”
Bu Suci mengerutkan keningnya, menatap Mang Soni dan beralih menatap gerbang, “Memangnya cari siapa?”
“Den Damar, Bu.” jawab Mang Soni.
Bu Suci lebih heran lagi, “Cari Damar, se' ta lihat dulu.” lantas berjalan mendekati gerbang, netranya terkejut melihat gadis yang pernah menjalin kasih dengan putranya.
“Ratna!” seru Bu Suci.
Ratna mengangguk tipis dan tersenyum ramah. “Bu Suci,”
Bu Suci mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Ratna. Dalam benak Bu Suci, entah ada hal apa yang membawa Ratna datang kemari. Juga ahu darimana Ratna kediaman Keluarga Bagaskara. Namun, Bu Suci masih bersikap ramah . “Ada perlu apa Ratna?”
“Bu Suci, saya ingin bertemu sama Damar, Bu,” ujar Ratna masih di depan gerbang.
“Untuk apa kamu datang mencari Damar?!” balas Bu Suci, enggan menanggapi Ratna. “Lebih baik kamu pulang saja Ratna.” lanjut Bu Suci berkata dingin, lantas berbalik badan memunggungi Ratna. Bu Suci masih sangat kesal dengan Ratna yang telah tega mencampakkan perasaan putra sulungnya.
Melihat Bu Suci pergi, Ratna memanggil Wanita setengah baya yang berpakaian abaya corak batik serta hijab hitam. “Bu! Bu Suci! Saya mohon Bu, hanya sebentar saya ingin sekali bertemu sama Damar! Saya masih mencintai Damar, Bu Suci!”
Bu Suci menghentikan langkahnya, yang baru berjalan tiga langkah menjauh dari gerbang. Beliau menengok mensejajarkan dagu dengan pundaknya, melihat Ratna dari ekor matanya. “Pulang saja Ratna, lagipula Damar ndak ada di rumah. Ndak baik juga untukmu, mendatangi laki-laki yang sudah menikah.”
Degh..... Ratna terdiam mendengar pernyataan Bu Suci. “Si--siapa yang sudah menikah Bu Suci? Nggak mungkin Damar kan, Bu Suci!?”
Bu Suci memutar badannya, menghadap Ratna dengan jarak tiga meter. “Yah, kamu ndak salah dengar Ratna. Damar memang sudah menikah empat hari yang lalu.”
Lagi.... Ratna ingin menuli dengan perkataan Bu Suci. Ia menggeleng perlahan, tiba-tiba kepalanya serasa di hantam ombak besar. Ratna hilang kesadaran dan terjatuh di depan gerbang.
Bu Suci terperanjat melihat Ratna yang terjatuh, secepatnya beliau memanggil Mang Soni untuk membuka pintu gerbang. “Mang Soni, cepat buka gerbangnya!”
Mang Soni yang sedang menyirami tanaman pun terkesiap mendengar teriakkan Bu Suci, ia meninggalkan selang air yang masih menyala. “Injeh (Iyah) Bu, ada apa?”
Bu Suci menunjuk Ratna, berkata dengan suara panik. “Cepat Mang, buka gerbangnya. Ratna, Mang, Ratna!”
Pelayan rumah yang kebetulan lewat pun membantu Mang Soni, untuk membawa Ratna masuk kedalam rumah.
••
__ADS_1
Empat hari sudah bagi Damar dan Wulan, menjadi sepasang suami-istri.
“Aku masih penasaran,” kata Wulan, seraya memindahkan ikan bandeng presto yang digoreng ke piring. “Apa Angelina dan Roni jadian?”
“Bisa jadi!” jawab Damar sekenanya. Ia lantas mengalihkan pembicaraan. “Aku nggak nyangka, kalau masakan mu sangat enak. Seenak masakan restoran,” kata Damar, seraya menyuapkan masakan cah kangkung tauco yang di masak oleh Wulan, bersama dengan menu tempe bacem dan ikan bandeng dengan nasi hangat kukuh. Meskipun terbilang sangat sederhana, namun Damar sangat menikmatinya.
“Kenapa aku baru ngeh, kalau kamu bisa masak, sebelumnya kamu nggak pernah menunjukkan kemampuan mu ini?” lanjutnya berkata, seraya mengunyah.
Wulan menuang teh hangat kedalam cangkir, untuk selanjutnya ia berikan kepada Damar. Lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan suaminya yang begitu lahap menyantap hidangan yang ia masak, “Memang, tampang seperti ku nggak pantas memasak yah?”
Damar menaruh sendok makannya di piring. “Hemm... tampang seperti apa yang kamu maksud?”
“Kamu lagi makan Kang Cimar, nggak baik bicara kalau lagi makan. Nanti bisa kesedak,” ujar Wulan memperingati Damar.
Dan benar saja ucapan Wulan barusan, Damar terbatuk-batuk. Uhuk.... Uhuk.... Wajah Damar seketika berubah merah, serta air mata yang tanpa terasa keluar dari kelopak matanya.
“Astaghfirullah, Kang Cimar!” Wulan terperanjat, ia bangun dari duduknya segera mengambil air hangat, dan memberikan kepada Damar. “Minumlah, lain kali hati-hati, jangan bicara kalau lagi makan,” tuturnya, seraya mengusap punggung Damar.
Glek... glek... glek... Damar meminum teh hangat yang diberikan Wulan, tenggorokannya lumayan reda, namun dadanya masih terasa nyeri. Damar mengusap dadanya, “Siapa yang sedang membicarakan ku?!” gumamnya lirih, masih dengan batuk ringan. “Uhuk... Ehem...hem...”
Dengan tangan kirinya, Wulan mengusap dada Damar, sedangkan tangan kanannya mengusap punggung. “Memang iya? Kalau lagi makan terus terbatuk atau tergigit lagi ada yang membicarakan kita tanpa kita tahu?”
Damar mengangguk tipis. “Ehem...” dehemnya ringan untuk melegakan tenggorokan. “Bisa saja begitu,”
“Iya kah?” sahut Wulan, merasa kasihan melihat wajah Damar yang memerah serta mata yang basah, seperti menahan sakit. “Apa rasanya sangat sakit?” tanyanya, panik.
Damar mengibaskan tangannya, diselingi menggeleng pelan. “Udah mendingan.”
Wulan mengernyitkan dahinya. “Memang harus sekarang? Kan bisa lain waktu,”
“Apalagi yang perlu di tunda, lagipula Ayah dan Mamah juga sudah kembali ke Jakarta. Aku ingin secepatnya rumah yang sudah lama kosong kembali ditinggali,” pungkas Damar, menatap Wulan yang sedang membereskan piring kotor. Ia pun menghentikan tangan Wulan yang sedang mengambil piring di depannya. “Biar aku saja,” tawarnya.
Wulan menatap punggung tangan Damar yang bertumpu di punggung tangannya. Lalu mengalihkan atensinya, bersitatap dengan sang suami, yang berwajah pucat setelah tersedak. “Wajahmu pucat, bagaimana aku tega membiarkan mu membantuku mencuci piring,”
Damar mengulas senyuman. “Kan kamu udah cape masak, masa iya kamu juga harus cape cuci piring,”
Wulan mengusap punggung tangan Damar yang bertumpu di tangan kirinya. “Ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri,” Wulan mengalihkan tangannya, kini ia mengusap pipi Damar dengan usapan lembut. “Jangan pernah merasa sungkan akan hal ini, kalau kamu merasa sungkan atau merasa risih, lalu bagaimana kita bisa membangun rumah tangga yang harmonis, hm.”
Damar tertegun mendengar jawaban istrinya. “Memperistri mu, seolah aku ini seperti meminum kukubima,”
Wulan memiringkan kepalanya. “Kenapa dengan kukubima?”
“Karena kamu membuatku kembali berenergi. Roso!” seru Damar. Ia kembali terbatuk. “Uhuk... uhuk... hemm...”
“Kan, kan, begitu lagi...” seru Wulan, lalu mengambil gelas berisi air hangat. “Halah-halah, bisa-bisanya kamu merayu!”
Damar mengibaskan tangannya. “Tenang-tenang. Aku ora opo-opo! (aku nggak pa-pa!)”
Wulan menghela nafasnya, seraya menggelengkan kepalanya melihat betapa jaimnya Damar.
Damar teringat sesuatu, ia menemukan kalung liontin putih bertuliskan Farhan yang ia temukan di bawah bantal tadi pagi saat bangun tidur. Ia lantas merogoh saku celana jens panjangnya dan menunjukkan kepada Wulan, “Aku tadi menemukan ini,”
__ADS_1
Wulan menatap kalung liontin putih yang dipegang Damar. Tatapannya berubah menjadi tatapan sendu, ia terdiam dan kemudian menunduk.
Melihat ekspresi Wulan, Damar mencurigai ada sesuatu yang sangat istimewa di balik kalung liontin putih yang sedang di pegangnya. “Apa yang istimewa dari kalung ini? Dari sikapmu, menunjukkan bahwa ini bukan kalung liontin biasa.”
Wulan kembali mengangkat wajahnya bersitatap dengan Damar, ia menghela nafasnya. “Akan aku ceritakan lain waktu.” usul Wulan, ia merasa masih butuh waktu untuk kembali mengingat masa lalunya yang kelam.
Damar sedikit kecewa mendengar jawaban Wulan, ia merasa sebagai seorang suami tidak dipercayai untuk mengerti cerita masa lalu istrinya.... Ia memutuskan kontak mata secara sepihak, lantas melihat arloji di pergelangan tangan kirinya.
“Sudah jam setengah delapan pagi. Sebelum ke Amanah food, aku akan pulang terlebih dulu untuk melihat Ibu.” ujarnya, lalu bangun dari duduknya dan meninggalkan kalung liontin putih bertuliskan Farhan di meja.
Mendengar suara dingin Damar. Wulan merasa bersalah, ia melihat punggung Damar yang sedang berjalan menuju ruang tamu. “Akan aku ceritakan, setelah aku benar-benar siap.”
Sejenak Damar menghentikan langkahnya, namun ia tidak menoleh kearah Wulan, bahkan untuk memberi Wulan jawaban, saja ia enggan.
••
Setelah sampai di pelataran rumah Kakek Bagaskara...
Damar dan Wulan melepas sabuk pengamannya. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi selama perjalanan dua puluh lima menit keduanya lalui.
Wulan memegang punggung tangan Damar. Membuat si empunya seketika menatapnya. “Apa kamu kecewa?”
Bersitatap dengan Wulan, membuat hatinya seakan luluh. “Boleh jujur?”
Wulan mengangguk tipis
“Iya, aku kecewa. Karena kamu seolah nggak memberikan kepercayaan padaku. Bukankah dalam sebuah hubungan apapun. Kepercayaan adalah yang paling penting? dan kuncinya adalah saling adanya keterbukaan! Lalu kenapa kamu ragu untukku mengetahui ceritamu? Siapa aku bagimu, bukankah aku suamimu? Masihkah kamu merasa ragu?” cecar Damar, dengan suara penuh dengan penekanan. Ia merasa Wulan adalah wanita yang sulit untuk berbagi cerita, meskipun statusnya kini adalah suami.
Wulan terenyuh mendengar semua rentetan cecar dari suaminya. Ia menjawabnya dengan bersuara lembut, mengharap agar Damar dapat mengerti. “Tapi, nggak semua cerita harus di ungkapkan, Kang Cimar. Ku mohon mengertilah untuk hal ini. Aku akan menceritakan mu, tapi setelah aku menemukannya,”
Kening Damar mengerut, ia semakin heran dengan sikap Wulan yang terkesan menutupi ceritanya. “Menemukan? Menemukan siapa? Mantanmu, Iyah!?”
Wulan menggeleng keras. “Jangan dulu curiga Damar, sungguh hanya kamu...” ucapan Wulan mengambang, manakala Damar lebih dulu menyelanya.
“Kalau kamu nggak mau aku curiga, lalu kenapa kamu ragu, Wulan?!” tukas Damar, bertanya dengan suara menahan emosional.... Entah kenapa? Damar merasa ketakutannya terhadap pengkhianatan serasa membayanginya, bahkan sekarang menjadi seperti fobia yang menyeramkan.
Wulan merasa kecewa dengan semua amarah Damar yang tertahan, seolah ia adalah wanita yang pantas menerima segala curiga dan prasangka dari Damar. Wulan menjawab dengan suara pelan, namun masih terdengar tegas. “Stop Damar, aku bukan mantanmu. Aku Nawang Wulan, kenapa hal sekecil ini harus menjadi perdebatan di antara kita. Kalau kamu nggak percaya sama aku, kenapa kamu menikahiku!?”
Damar terdiam
“Dasar dari hubungan yang kuat, bukankah kepercayaan? Seperti yang kamu bilang barusan. Lalu kenapa kamu seolah nggak percaya sama aku, Damar.” lanjut Wulan dengan suara melunak.
Damar memanggutkan kepalanya... menatap Wulan dengan perasaan berkecamuk. Bukan, bukan karena ia meragukan Wulan. Hanya saja ketakutannya, membuatnya seakan gelap mata dan cemburu buta. Namun ketika ia akan kembali bersuara. Ketukan diluar pintu kaca mobilnya membuyarkan ketegangan di antaranya dan Wulan. Tok... Tok...
Damar mengalihkan tatapannya, dan menatap Mang Soni. Ia lantas membuka pintu mobil. Setelahnya Damar keluar dari dalam mobil, ia bertanya. “Ada apa Mang?”
“Aden di tunggu seseorang di dalam.” ujar Mang Soni.
Damar langsung menatap teras rumah Joglo...
•••
__ADS_1
Bersambung...