
Setelah sholat Maghrib Wulan melipat mukenah yang di pinjamnya dari mushola dan berjalan ke teras mushola, tidak sengaja melihat Damar tengah memasukkan uang kedalam kotak amal.
Seketika membuatnya tertegun, diam mematung melihat derma yang dilakukan oleh seseorang yang sedang ia awasi beberapa bulan belakangan ini.
"Sebenarnya laki-laki macam apa dia? susah move on, bucin akut. Bodoh banget lagi.” benaknya.
"Semoga menjadi amal jariyah, amin.” gumam Damar.
"Amin.” Wulan terkejut saat mendapati suaranya sendiri mengambang di permukaan pita suaranya.
Saat mengaminkan doa Damar. Secara spontan ia membelalakkan matanya, seraya menutup mulutnya. Dan berbalik badan memunggungi Damar.
"Bodoh banget si lu Lan!” gerutunya pada diri sendiri.
Damar melihat seorang wanita tengah memunggunginya, dengan rikma agak bergelombang sebahu berwarna cokelat kehitaman.
Ketika Damar akan menghampirinya, ada seorang laki-laki berkepala pelontos yang lebih dulu menghampiri wanita yang tidak dikenalnya.
"Heh Wulan! Kamu gimana si. Ayo da- ah, dia lihatin kamu tau!” ucap Bokir dengan suara berbisik sambil sesekali melirik Damar.
"Hah, yang bener, Kir?” tanya Wulan.
Dengan tergesa-gesa kedua orang yang sedang di tugaskan oleh seseorang untuk memata-matai Damar pun berlalu dari teras mushola.
Sedangkan Damar hanya bisa menghela nafas, heran akan tingkah laku kedua orang yang di tidak dikenalnya. Damar kembali melanjutkan langkahnya mendorong gerobak ciloknya, meninggalkan pelataran mushola kecil tempat ia melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Berjalan sekitar satu jam lamanya, Damar merasa ada sesuatu yang mengganjal. Ia berhenti lantas menengok kebelakang, dan terlihat mengamati orang-orang yang sedang berlalu-lalang tidak ada yang mencurigakan, semua normal. Dan terkesan tidak ada yang menghiraukan keberadaanya.
Beberapa menit, ia kembali fokus menatap jalanan. Dan melalui pertokoan serta perumahan. Meskipun dengan perasaan ganjil karena ia merasa ada yang orang yang sedang membuntutinya.
Wulan dan Bokir melakukan penyamaran layaknya seperti orang-orang pada umumnya, terkesan tidak menghiraukan keberadaan Damar.
Dengan mata yang selalu terpasang, jaraknya lumayan jauh dari Damar. Terkadang tertutupi oleh orang-orang yang sama-sama sedang berjalan kaki.
Damar berinisiatif untuk mencoba menjebaknya, barangkali dugaannya benar. Bahwa ada orang yang sedang membuntutinya, dan Damar berharap pula lebih baik prasangkanya salah, toh untuk apa? ada orang yang membuntuti seorang pedagang cilok.
Damar sengaja berhenti di sebuah warung nasi langganannya, ia meninggalkan gerobak ciloknya di depan warung. Lalu masuk kedalam warung nasi yang sedang tidak berjualan.
"Mar, tumben kamu mampir? Kan Emak juga lagi pergi.” seru seseorang dari dalam warung.
"Suhhhhtt.” ucap Damar mengendap-endap di bawah jendela. Lalu menarik lengan temannya.
"Ada apaan si Mar?” tanya temannya, merasa aneh dengan sikap Damar.
"Diam bae Jun, aku merasa ada yang sedang membuntuti ku.”
Malam semakin larut, terdengar kumandang adzan isya kini mengumandang di setiap tempat ibadah umat muslim. Di luar warung berciri khas warteg Tegal.
__ADS_1
Dua orang sedang celingukan mencari keberadaan Damar, mereka nampak limbung. Membuat Damar dan Juna yang sedang mengintip dari celah gorden pun merasa aneh dengan sikap kedua orang asing di depan warteg milik Ibunya Juna.
"Waduh! Gimana ini Lan. Kok tuh orang ninggalin gerobaknya di mari?”
Wulan mengangkat bahunya, pertanda ia juga kehilangan jejak Damar. "Lah, gue juga kagak tau. Kemana tuh orang, akh Lo sih meleng!” hardik Wulan.
"Eleh.. kok aku?”
"Udah diem bae Lo akh.”
Damar dan Juna melihat dari dalam warung, persisnya di bawah jendela. "Siapa mereka Mar?” tanya Juna.
Sekilas Damar melirik Juna yang ikut bersembunyi, "Mana aku tau!”
Juna pun mengajak Damar dengan berjalan mengendap-endap lewat pintu belakang. Mereka ingin melakukan penyergapan kepada dua orang yang sudah jelas-jelas sengaja membuntuti Damar.
Bokir dan Wulan, keduanya seperti detektif yang sedang melakukan tugas sangat penting. Seperti tengah sibuk menangkap bandit mafia.
"Bokir Lo kearah kiri, gue kearah ke kanan.” kata Wulan, membagi tugas, agar melakukan pencarian terhadap Damar yang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.
Tanpa sengaja tangan Bokir menyenggol paha Wulan yang di balut celana jens panjang, "Bokir! Lu sengaja yah nyenggol paha gue!”
Bokir pun mengangkat satu alisnya, "Aku nggak sengaja Lan!”
"Awas lu kalau sampai di ulangi lagi, gue bilangin ama bini lu, kalau lu tuh masih suka genit. Biar di gantung pala lu jadi gantungan kunci.” hardik Wulan kesal dengan suara yang di tekankan.
Damar keluar dari arah samping kanan belakang warung yang sekaligus tempat tinggal Juna, sedangkan Juna keluar dari samping kiri. Anehnya mereka berempat seperti sedang melakukan permainan kucing-kucingan.
Wulan berjalan mundur, sedangkan Damar juga berjalan mundur. Keduanya sama-sama terperanjat tatkala punggung keduanya bertemu, "Ahhhhhh....” teriak Wulan dan Damar bersamaan.
BUGH
Damar jatuh tersungkur, di jalanan karena mendapat tendangan di perutnya dari Ronaldowati, eh dari Wulan.
"Aduh.... Gila bener tuh tendangan!” pekik Damar menahan sakit di triple bagian badannya perut, pantat dan juga sikunya yang menghantam keras jalanan beraspal.
Sementara Juna berhasil melumpuhkan Bokir dengan menggunakan kayu. "BUGH ...”
"Tuyul mau lari kemana kamu!” seru Juna, memegangi lengan laki-laki berkepala pelontos yang sudah jatuh tersungkur, lantas mengikat tangan Bokir kebelakang punggung.
Dengan lemah akibat pukulan dari kayu yang segede paha orang dewasa, Bokir pun lirih menjawab, "Enak aja tuyul! Masa tuyul segede gini.”
"Mar ... Mar udah ketangkep nih tuyulnya!” seru Juna, memanggil Damar yang masih terduduk di aspal.
Damar beranjak dan melihat si wanita yang menendangnya hendak berlari pun menjulurkan kakinya ke depan kaki Wulan.
"Alamaaaakkkk....” teriak Wulan, tubuhnya melayang dan jatuh di atas tubuh Damar yang belum sempurna berdiri.
__ADS_1
BUGH
"Aduhai .... Sakitnya ni punggung!” pekik Damar, untuk kedua kalinya ia jatuh di aspal.
Karena terkejut, tanpa sengaja Wulan menelan permen rasa mint dan melewati tenggorokannya, "Alamak, permen kiss gue ketelen!”
Netra hitamnya sama-sama bersitatap, tertegun menatap satu sama lain dengan jantung berdebar kencang. Sebagian rikma cokelat kehitaman milik Wulan yang sengaja tergerai menutupi pipi Damar.
"Wangi banget sih nih cewek,” batin Damar tergoda akan aroma shampoo yang menenangkan dari rikma Wulan.
Hembusan nafas berbau mint dapat Damar rasakan dari hembusan wanita yang sedang ia tatap. Saat seperti ini Damar dapat mengingat bahwa wanita ini adalah yang ia temui di mushola saat Maghrib tadi.
"Ekehmmm ....” deheman Juna, Membuyarkan lamunan Wulan dan juga Damar.
Namun Damar mengantisipasi segera mencekal lengan wanita dengan rikma sebahu serta memakai jaket navy ini, agar tidak melarikan diri.
Wulan menangkis tangan Damar. Dan lain lagi sekarang urusan adu otot. Wulan tidak mau kalah. Meskipun ia adalah wanita, akan tetapi tenaganya tidak bisa di anggap enteng. Terjadi perkelahian antara Damar dan Wulan,
"BUGH ...” lagi-lagi Wulan melayangkan pukulan di perut Damar, hingga Damar terjatuh untuk yang ketiga kalinya di atas aspal.
Damar menatap Wulan merasa kasihan, jika ia harus mengeluarkan tenaganya sebagai seorang pria, apa kata nyamuk nanti. Seandai kata ia harus melawan seorang wanita.
"Walah! Gimana toh Mar! Masa kalah sama cewek. Akhh!” seru Juna, masih memegangi tangan Bokir yang sudah terikat tali.
Bokir hanya menatapnya dengan mata yang berkunang-kunang, akibat pukulan berat yang di layangkan Juna, mengenai tengkuk lehernya.
"Haha ... Payah!” cibir Wulan, tertawa garing. Ia pun berbalik arah, dan hendak meninggalkan Damar.
Damar tersenyum tipis, ia merasa melawan wanita dengan tenaga hanya akan membuatnya terlihat seperti pecundang.
Tanpa di duga dan tanpa dinyana oleh Wulan. Damar beranjak secepat kilat dan segera menarik tengkuk leher Wulan. Lalu pertemuan bibir pun terjadi.
Di bawah keremangan cahaya lampu oranye, yang menerangi jalan.
Juna terperangah akan sikap berani Damar dan menjatuhkan tubuh Bokir yang sedang di pegangnya. Membuat Bokir mengerang menahan sakit. "Arhhhh. Anjirt sakit woy..”
"E-- eh, sorry bro!” kata Juna, tanpa mengalihkan tatapannya, menatap Damar yang sudah berani mencium wanita asing.
Jalanan saat ini lumayan lengang, atau kalau tidak Damar dan Wulan akan menjadi tontonan.
Wulan pun menyadari perilaku berani Damar, ia segera menarik diri, dan melayangkan tangannya menampar Damar dan menatapnya marah, "Plak ...”
Damar memegangi pipi yang terkena tamparan dari tangan Wulan dengan tangan kirinya, dan tersenyum menyeringai.
Namun tangan kanannya juga tak melepaskan cengkraman tangannya di lengan Wulan. Damar menahannya, lalu membalikkan tubuh Wulan dan mengunci tangan Wulan di balik punggungnya.
•••
__ADS_1
Bersambung