
Saat Damar hendak berjalan menuju motornya yang terparkir, Wulan menghentikan langkahnya. “Anda mau kemana Presdir?”
Damar menoleh kearah Wulan, dan menghela nafas agak kasar. Sungguh ia tidak menyukai sebutan itu, “Tolong, jangan memanggilku dengan sebutan itu!”
Wulan menatap Damar dengan cukup baik “Kenapa? Bukankah Anda memang Presdir disini? Dan sudah seharusnya saya menghormati Anda.” tukas Wulan.
Sejenak Damar memejamkan matanya, seperdertik kemudian menatap Wulan dengan menyipitkan mata “Terdengar seperti sindiran bagiku!”
Wulan sedikit memiringkan kepalanya, menelaah ucapan Damar. “Maaf, saya tidak bermaksud menyindir Anda, Tuan,”
“Bukankah, kamu pernah menyebut ku dengan sebutan bucin saat di alun-alun?” ujar Damar, ia masih mengingat dengan jelas saat menabrak seorang wanita yang sudah di pastikan wanita di malam itu adalah Wulan.
Wulan menunduk, “Itu sebuah ketidaksengajaan, Tuan.”
Damar manggut-manggut, “Akh.. sudahlah tidak akan ada habisnya untuk berdebat dengan mu!”
Wulan membulatkan matanya mendengar jawaban dari Damar.
Saat sedang terjadi ketegangan, Pak Bambang dan seorang asistennya keluar dari dalam gedung. “Ada apa ini Mas Damar?” tanya Pak Bambang.
Wulan mengalihkan tatapannya kepada kedua orang yang baru keluar dari gedung kantor.
Damar menoleh kearah Pak Bambang, “Tidak ada Pak Bambang, saya hanya berbeda sedikit argumentasi dengan wanita cerdas ini.” jelas Damar seraya menunjuk Wulan dengan dagunya.
Pak Bambang menatap Wulan dan kembali menatap Damar, “Wulan memang cerdas, anak dari seorang veteran Tentara berpangkat jenderal ini memang berbeda dari kebanyakan wanita-wanita di luaran sana.” puji Pak Bambang.
Damar tertegun mendengar penjelasan Pak Bambang, sekiranya ia mengerti Nawang Wulan bukanlah wanita biasa. Ia mengalihkan tatapannya dari Pak Bambang dan menatap Wulan.
“Saya juga pernah mendengar tentang Wulan yang jago dalam memanah!” ujar asisten Pak Bambang ikut menimpali.
‘Hah.. memanah? Pantas saja caranya berkelahi patut di acungi jempol.' seloroh Damar dalam benaknya. Mengingat kembali saat ia sempat bergulat mengadu otot dengan Wulan.
“Saya rasa, semua itu tidak perlu di bahas disini Pak Bambang Pak Aziz.” kata Wulan. Ia merasa tidak perlu di besar dan dielu-elukan soal Ayahnya yang telah gugur dalam berperang dan juga kemahiran dirinya dalam memanah.
Damar dapat melihat, bahwa Wulan tidak merasa nyaman dengan obrolan yang di bicarakan Pak Bambang dan Pak Aziz sang asisten.
BEEP BEEP
Suara klakson mobil sedan Corolla berhenti tepat di samping Damar. Membuat Damar terkesiap. Pembicaraan itupun harus diakhiri.
__ADS_1
“Silahkan Mas Damar, itu mobil Anda sudah siap.” ucap Pak Bambang.
Alis Damar terangkat naik “Mobil?”
Wulan menjelaskan “Kakek Bagaskara lah yang meminta agar Tuan Damar memakai mobil ini, karena motor butut itu sudah semestinya masuk kedalam rongsokan.”
Damar menggeleng menolak pernyataan Wulan bahwa motor Vespanya barang rongsokan “Mana bisa disebut rongsokan jelas-jelas setiap hari aku memakainya!” sanggahnya
Bokir keluar dari dalam mobil dan ikut membenarkan ucapan Wulan “Apa yang dikatakan Wulan benar Damar, motor itu sudah tidak layak pakai. Bukankah setiap hari kamu harus berjuang untuk mendorong motor itu saat tiba-tiba saja mogok,”
Pungkas Bokir, seringkali saat Damar masih dalam pengintaiannya. Damar terlihat susah payah karena motor butut yang tiba-tiba terbatuk-batuk saat di perjalanan.
Damar menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Ia mengakui semua itu benar, tapi tidak dengan mudah menyebut rongsokan motor yang ia beli dari hasil jerih payahnya selama berjualan cilok.
“Saya rasa, dengan mobil yang sudah di sediakan akan memudahkan Mas Damar untuk lebih efisien berangkat ke kantor.” ujar Pak Bambang ikut bersuara.
“Betul itu Presdir,” ucap Pak Aziz, membenarkan ucapan Pak Bambang.
Demi menghindari perdebatan lebih lanjut, Damar memutuskan untuk mengiyakan ucapan semua orang yang berada di sana.
Ia pun memandangi motor Vespanya dari jarak jauh dengan hati kelu,
“Baiklah, tapi jangan membuangnya. Aku ingin motor itu sampai juga di rumah.” pinta Damar.
Damar hanya bisa geleng-geleng kepala, ia seolah seperti oase yang di kelilingi oleh tebing-tebing tinggi. ‘Sungguh menakjubkan orang-orang ini.' gumamnya dalam hati.
Bokir lebih dulu berjalan kearah kemudi. Dan Wulan berjalan menuju pintu mobil jok belakang. “Silahkan masuk Tuan,”
Damar mengangkat alisnya, heran memandangi Wulan. “Haruskah seperti ini?”
Pak Bambang melihat ketidaknyamanan dari Damar hanya menatapnya dengan tersenyum simpul dan berujar. “Nanti, Mas Damar akan terbiasa.”
Damar mengalihkan tatapannya menatap Pak Bambang, ia menggeleng tidak setuju dengan pendapat pria yang berumur setengah abad yang berdiri tidak jauh darinya berada.
Jelas saja semua ini terlalu berlebihan, dengan menyebut dirinya dengan sebutan Anda, Tuan, dan Presdir. Damar terbiasa hidup mandiri, hidup dalam kesederhanaan. Lalu tiba-tiba perlahan mulai berubah.
Saat Damar akan membuka suara..
Wulan lebih dulu bersuara. “Segeralah, Tuan. Hari sudah semakin gelap.”
__ADS_1
Damar hanya bisa menghela nafas panjang dan menurut laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Damar berjalan mendekati pintu mobil yang terbuka, lantas berbalik dan berujar pada Pak Bambang. “Saya permisi dulu Pak Bambang, Pak Aziz.”
Pak Bambang dan Pak Aziz pun mengangguk, “Hati-hati Mas Damar.”
Damar pun mengangguk dan masuk kedalam mobil dengan sigap Wulan menutup pintu mobil dan beralih membuka jok depan.
Namun, baru satu kakinya memasuki dalam mobil, aksinya terhenti saat Damar membuka kaca mobil dan berujar, “Nawang Wulan, duduklah di belakang!” titahnya bagaikan sang Raja.
Wulan menoleh ke belakang, dan melihat Damar menjulurkan kepalanya keluar kaca mobil. Bukan hanya Wulan yang terkejut, Pak Bambang dan Pak Aziz pun terheran dengan aksi yang dilakukan Damar.
Wulan membulatkan matanya menatap Damar
Sedangkan Pak Bambang dan Pak Aziz mendekati Damar, “Presdir apa yang Anda lakukan?” tanya Pak Aziz.
Damar menatap Pak Aziz beralih menatap Pak Bambang dan Wulan. “Ekhemm...” usaha Damar berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. Lantas menarik diri kembali duduk dengan tenang. Tatapan Bokir pun tak kalah mengherankan.
Damar menatap lurus kedepan dan kembali berujar tanpa mengalihkan tatapannya. “Saya hanya tidak ingin duduk sendirian dibelakang.”
“Heleh... modus!” cibir Bokir, lirih.
Pak Bambang pun manggut-manggut, beliau menatap Wulan yang masih berdiri di depan jok depan dengan pintu masih terbuka. “Duduklah di belakang Mbak Wulan bersama Mas Damar, toh sama-sama duduk.”
Wulan menghela nafasnya dengan kasar menggoyangkan hutan lebat yang ada di kedua hidungnya. Mendengus kesal ia pun berjalan memutari mobil dan membuka pintu di jok belakang, lantas duduk disebelah Damar yang masih menatap lurus kedepan.
Damar hanya melirik Wulan dari ekor matanya diam-diam tersenyum simpul melihat amarah yang sedang wanita di sebelahnya pendam.
Keduanya tak lepas dari tatapan Bokir, ia melepaskan gigi mobil dan menginjak pedal gas. Perlahan mobil meninggalkan pelataran luas parkiran pabrik.
Tidak ada yang membuka suara sepanjang perjalanan. Bokir fokus dengan kemudinya
Wulan sibuk dengan pikirannya
Sedangkan Damar ia harus menjelaskan apa kepada Ibu dan juga adiknya. Perihal dirinya yang kini menjabat sebagai seorang Presdir. Dan tentang Kakek Bagaskara juga Nenek Ayudia Sriningsih yang sangat ingin bertemu dengannya juga Danum.
“Akankah Ibu mengizinkan ku dan Danum menemui Nenek?” gumamnya.
Damar hanya berharap ke ikhlaskan hati untuk memaafkan Kakeknya akan membawa pengaruh baik dalam hubungan yang semula tidak baik. Meskipun sampai saat ini Kakek Bagaskara belum bisa menerima Ibunya sebagai menantu di keluarga Wijaya.
Karena memaafkan adalah kebaikan, segala yang bersumber dari kebaikan dan bertujuan untuk kebaikan akan berujung kebahagiaan.
__ADS_1
•••
Bersambung...