
Mari sejenak merenung dan berdoa, untuk para saudara kita yang terdampak letusan gunung Semeru. Semoga mereka diberikan ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi ujian. Serta orang-orang yang meninggal semoga Husnul khatimah. Amin. “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkan-nya barang sesaat-pun dan tidak dapat (pula) memajukan-nya,” (QS Al A’raf: 34)
♠
Ba'da isya, Damar sudah bersiap-siap untuk menemui teman grup band Musik Jalanan. “Bu Damar pergi dulu sebentar, mau ketemu sama temen-temen,” izin Damar kepada Ibunya di kamar beliau.
Sepulang dari makam dan bertemu dengan Kakek Bagaskara, Bu Suci mendiamkan diri di kamar. “Hati-hati Nang, pulangnya jangan terlalu malem,”
Danum melongokan kepalanya diambang pintu kamar Ibunya, “Mas Damar mau kemana?” tanya Danum.
Damar mengalihkan tatapannya, menatap Danum yang berdiri di samping pintu. “Jagain Ibu, tadi Juna telepon katanya mau ketemu. Sekalian Mas mau bahas soal band MJ,”
Kening Danum mengerut, “Emang kenapa sama grup band Mas Damar?”
Damar menyalami tangan Ibunya, dan berjalan kearah pintu, “Karena Mas sekarang sulit membagi waktu.”
Danum manggut-manggut, “Oh, jadi Mas Damar mau vakum dari grup band MJ,”
Damar berjalan menuju ruang tamu, Danum masih saja membuntutinya. “Ya, bisa jadi.” jawab Damar sambil memakai sepatu.
Damar menyambar kunci motor, “Jagain Ibu,” ujarnya lantas keluar rumah dan melajukan motornya.
••
Sesampainya di cafe..
Sudah lama Damar tidak bersua dengan teman-temannya. Setelah beberapa hari sibuk di perusahaan yang baru ia mimpin. Malam ini Damar menyenggangkan waktu untuk bertemu dengan teman-temannya di cafe biasa ia ngamen.
Duduk di bangku kayu memanjang dengan sekat meja persegi empat di tengah antara bangku kayu.
Damar duduk di antara teman-temannya, yang sudah menantikan kehadirannya.
“Mar, kemana aja hampir satu minggu ini?” tanya Anwar seraya memegangi cangkir coffee ada di depannya.
“Tau si Damar, sekarang sibuk banget dia!” gerutu Juna yang duduk di sebelah Anwar.
“Bukannya emang dia sibuk?” imbuh Imam.
Alih-alih menjawab pertanyaan temannya, Damar hanya menunduk sambil memutar-mutarkan gelas berisikan teh tarik yang tinggal separuh di hadapannya.
Seorang wanita berparas ayu seperti Ariel Tatum yang duduk tepat di sebelah Damar nampak sangat mengamatinya, “Mar, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada lembut.
Damar hanya menatap sekilas kearah teman duetnya, banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya. “Nggak pa-pa, Sis,” Damar hanya menjawab singkat.
Imam, Anwar dan juga Juna menatap Damar dengan keanehan,
“Kalau ada apa-apa cerita kali Mar? Dari pada kamu simpan sendiri,” kata Juna, sembari mengangkat gelas kopinya lantas meminumnya.
Anwar mengangguki ucapan Juna, “Bener tuh Mar, kan biasanya juga kamu selalu cerita?”
Damar mengangkat wajahnya, menatap satu persatu teman-temannya dan tersenyum simpul. “Makasih, kalian emang temen yang peka kalau aku ada masalah,”
‘Tapi aku nggak bisa, cerita ini sekarang.' lanjut Damar dalam hati.
“Apa kamu masih mikirin soal pernikahan Ratna?” tuduh Imam yang duduk di samping Juna.
Damar tersenyum lantas menyanggah ucapan Imam, “Hehe... Bisa banget pertanyaan mu, Mam! Lah buat apa aku mikirin jodoh orang!”
“Kamu jadi kan Mar, nemenin aku kondangan ke pernikahan Ratna? Pas waktu itu aku nunggu telepon kamu tau Mar, tapi kamu nggak telpon balik!” Siska mendengus kesal akan sikap acuh Damar. Diam-diam ia menaruh rasa cinta kepada vokalis grup band MJ ini. Yang saat ini terlihat lebih cool dengan kaos putih celana panjang sedikit sobekan di bagian lutut dipadupadankan sepatu sneaker shoes warna putih.
Damar mengalihkan tatapannya yang semula menatap Imam, kini beralih menatap Siska dengan lekat, hingga Siska merasakan panas dingin dan salah tingkah.
Damar tersenyum dan membenarkan poni di kening Siska yang tertiup angin malam semilir sepoi-sepoi. “Maaf yah Sis, aku kemarin sibuk banget. Banyak hal yang harus ku selesaikan, insyaallah kalau aku ada waktu, aku temenin kamu kondangan.”
__ADS_1
Siska mendapat perlakuan lembut dari pria yang disukainya membuat hatinya semakin meleleh pikirannya lumer laksana keju mozzarella. Dengan kegugupan Siska pun menjawab, “Uhm... Emang kamu sibuk apa?”
Bersitatap seperti ini, membuat Siska semakin tak terkendali, ia sangat terkesima akan pesona Damar. Hatinya tercubit ingin sekali memeluknya erat, refleks tangannya memegang punggung tangan Damar yang masih memegangi gelas.
Damar melirik tangannya yang di genggam oleh jemari tangan Siska. Tersenyum tipis dan kembali menatap Siska, seorang wanita berparas cantik berusia 22 tahun, yang menjadi teman duetnya.
Juna, Imam, dan juga Anwar merasa seperti nyamuk, mereka bertiga saling tatap menatap dengan rasa gemas akan sikap Damar pasca putus dari Ratna, jadi semakin tebar pesona kepada gadis-gadis cantik yang ditemuinya.
“Ekheeeemmmm....” deheman panjang Juna membuyarkan Damar dan juga Siska.
Damar lebih dulu menarik tangannya
Sementara Siska menggenggam tangannya sendiri lantas menaruhnya di tengkuk lehernya.
“Udah dah, jadian dah kalian! Daripada diam-diam saling sayang!” seru Imam meledek Siska.
Anwar membenarkan ucapan Imam, “Hemm.. Bener tuh! Kan kalian sama-sama jomblo, jadi nggak ada salahnya kan?”
Juna menjentikkan jarinya, “Yap tuh, bener. Lupakan mantan, lihatlah masa depan.”
Siska tersenyum malu-malu meong menanggapi celotehan teman grup band nya. Biasa wanita akan lebih baperan, Ia berharap Damar peka dengan ledekan ketiga temannya, dan berharap perasaannya terbalas.
Damar menanggapi ledekan ketiga temannya hanya tersenyum simpul “Juna juga jomblo!” ujarnya
‘Lagian, bukan cinta tujuanku!' lanjut Damar dalam benaknya. Dan mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling cafe outdoor.
Seketika ia membulatkan matanya menatap seorang wanita yang duduk sendirian sambil menikmati segelas jus jeruk dan hidangan yang tersedia di meja. “Wulan?” gumamnya.
“Kan, Siska sukanya sama kamu Mar!” seru Anwar. Namun agaknya Damar menuli tak mendengarkan ledekan Anwar.
Damar tidak menyangka melihat wanita yang sekarang menjadi sekretarisnya, ia melihat Wulan tengah menghabiskan minuman dan makanannya, lantas beranjak dan berjalan menuju meja kasir, lalu Wulan keluar dari cafe.
Damar masih saja menatap lurus kepergian Wulan, hingga Wulan semakin jauh dan menghilang dari pandangan.
“Aku pulang dulu guys, aku lupa masih ada kerjaan di rumah.” ucap Damar menatap ke empat teman-temannya secara bergantian.
“Walah.. Kok pulang? Lah terus siapa yang jadi vokalis? Kan sebentar lagi manggung.” tanya Anwar.
“Iya, Mar. Siapa yang akan menjadi teman duetku?” tanya Siska, heran akan sikap Damar yang tiba-tiba berubah haluan.
Damar menatap Siska, “Maaf yah cantik, akhir-akhir ini aku ada pekerjaan yang harus dilakukan. Dan ini penting mungkin kedepannya harus ada vokalis cadangan,”
“Wah.. Nggak bisa gitu dong Mar! Mana bisa segampang itu,” seru Imam, tidak senang.
Damar menjawab, “Maaf, Mam. Tapi aku akan usahakan untuk bisa bergabung dengan kalian,”
“Ya sudahlah, kan dia juga kerjaannya nggak cuma yanyi,” ujar Juna, ia lebih memahami kehidupan dan pekerjaan Damar.
“Ya udah deh, hati-hati Mar,” kata Siska pada akhirnya.
Damar mengusap pundak Siska yang dibalut jaket jeans. “Makasih yah.”
Damar merasa tidak enak hati kepada teman-temannya. Tapi pekerjaannya kini semakin menyita waktu. “Maaf guys.”
Damar berjalan dan menuju parkiran tempat dimana ia memarkirkan motor Vespanya. Lantas menyusuri jalanan yang mulai lengang.
Namun ketika baru setengah dalam perjalanan, ia melihat seorang wanita tengah berkelahi dengan dua orang preman. Dengan sigap, Damar menghentikan laju motornya.
“BRAK!” motor Vespanya ia hempaskan di jalanan.
Andai motor Vespanya dapat bicara, pasti akan teriak. “Anjirrt... tuh anak! Remuk dah ah body Aki.”
BUGH
__ADS_1
Damar menghajar seorang preman sampai jatuh tersungkur di jalanan.
Seorang wanita yang sedang menghajar seorang preman satunya lagi tercengang karena mendapati seorang lelaki berhasil melumpuhkan preman yang lainnya.
“Damar!” gumamnya, hingga membuatnya lengah, preman yang memiliki banyak tato di depannya lantas melayangkan tamparan di wajah ayu alaminya.
PLAK
Wulan terhuyung dan jatuh seraya menahan sakit di pipinya yang serasa memanas.
“Wulan!” pekik Damar melihat sekretarisnya jatuh tersungkur.
Damar segera menghajar preman yang melayangkan tamparan di wajah Wulan dengan terus membogemnya dengan membabi buta.
Kedua preman itupun lari tunggang langgang mencari aman, seraya menahan sakit akibat bogeman yang dilayangkan Damar.
Damar segera menghampiri Wulan, dan mengatur nafasnya yang serasa tersengal akibat perkelahian yang cukup menguras tenaga, “Bibirmu, berdarah!”
Wulan terduduk dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Tiada rintihan yang mewakili rasa sakit akibat tamparan keras yang diterimanya, seolah ia sudah terbiasa mendapatkan luka.
Masih tidak beranjak, lantas ia menatap Damar yang ikut bersimpuh di hadapannya, “Sedang apa Anda disini, Tuan?”
Damar heran akan sikap dingin Wulan yang tidak merasakan sakit sedikit pun, bahkan wanita manapun akan riweh meskipun di gigit seekor semut merah. Ia tidak menjawab pertanyaannya, malah balik bertanya, “Nawu, kamu nggak merasa sakit?”
Wulan menggeleng, ia lantas berdiri dan mengacuhkan bantuan Damar. “Terimakasih sudah membantu saya Tuan.” ucap Wulan.
Damar memiringkan kepalanya, ‘Hemm.. wanita yang tangguh.'
Wulan mengibaskan-ngibaskan bajunya,
“Dasar preman nggak ada akhlak!.” umpatnya geram, lalu berbalik dan hendak meninggalkan Damar.
Akan tetapi, semenit kemudian ia teringat akan suatu hal. Wulan berbalik dan mengingatkan Damar, “Jangan lupa Tuan, besok akan ada meeting dengan para staf dan pemegang saham, juga untuk mempromosikan produk dari perusahaan.” setelah mengatakan itu, Wulan kembali berbalik badan dan melanjutkan lagi langkahnya menuju rumah yang ia tinggali.
Damar menghela nafasnya masih berdiri mematung kan diri, melihat punggung Wulan dengan berjalan dengan kaki yang pincang. Damar menggelengkan kepalanya dan berdecak heran.
Damar merasa tidak tega melihat keadaan Wulan yang nampak sangat berantakan, lantas berjalan dengan langkah jenjang dan menyambar lengan Wulan hingga sang empunya tersentak.
Dan berbalik badan menatap Damar lalu beralih menatap tangan Damar yang berpaut di lengannya yang di balut sweater Hoodie.
“Apa yang Anda lakukan?” hardik Wulan dengan nada suara dingin.
Tanpa suara Damar menarik lengan Wulan dan membawanya untuk membonceng motor Vespanya. “Di mana kamu tinggal?”
Wulan tidak merespon pertanyaan Damar, hingga membuat Damar berang dan bertanya dengan suara tegas. “Dimana kamu tinggal? Tidak bisakah kamu menjawab ku dengan cara biasa, apa kamu masih marah soal ciuman waktu itu?” cecar Damar.
Wulan menatap Damar dengan amarahnya,
“Iya, gue emang marah, marah banget, bahkan gue pengen jahit bibir Lo, itu!” kali ini Wulan berbicara selayaknya ia berbicara kepada temannya dengan nada meninggi.
Damar tercengang dengan jawaban Wulan, Ia menunduk dan mengatupkan kedua tangannya di hadapan Wulan, “Aku minta maaf, sungguh waktu itu, aku tidak ada niatan untuk melakukannya. Aku pun merasa bersalah padamu.” ungkap Damar bersungguh-sungguh.
Hening...
Hanya ada suara motor yang melintas
“Aku antar kamu pulang, sekarang ikutlah denganku. Ini perintah!” bujuk Damar menegaskan ia sedang memberi perintah kepada sekretarisnya.
Wulan menarik nafas dan menghembuskan nya kasar. Kali ini ia pasrah dan menuruti perintah Damar, kakinya yang terkilir tidak memungkinkannya untuk berjalan dengan jarak 100 meter ke rumah yang ia tempati.
••
Bersambung
__ADS_1