
Setelah menikmati jamuan. Wulan pun beranjak di susul Bokir, namun lebih dulu Wulan bertanya perihal mobil sedan Corolla warna abu-abu gelap yang sekarang menjadi milik Damar.
“Bagaimana dengan mobil Anda Tuan?” tanya Wulan kepada Damar.
Damar mempelototinya karena masih saja menyebut dengan sebutan itu. Wulan menanggapinya acuh.
Bu Suci dan Danum pun merasa janggal dengan sebutan yang di sematkan Wulan kepada Damar.
“Tuan?” Danum mengulang sebutan yang tidak ingin di dengar oleh Kakaknya.
Wulan menatap remaja di samping Damar berdiri, “Iya. Sekarang Tuan Damar adalah---”
Damar menyela ucapannya, “Aku sudah bilang, aku yang akan menjelaskan kepada Ibu juga adikku. Sekarang pulanglah, dan bawa mobil itu. Lekas bawa motor ku kerumah.” tukas Damar.
“Apa Anda sedang mengusir saya, Tuan?” Wulan berusaha seramah mungkin.
“Maafkan atas ucapannya, Nduk.” sela Bu Suci
Wulan menatap Bu Suci, dan tersenyum simpul. Ia merasa teduh dengan tatapan sendu yang beliau pancarkan. “Nggak pa-pa Tan-- eh Bu, sudah menjadi kewajiban saya sebagai bawahan dari Presdir saya. Untuk menuruti semua ucapan beliau.”
“Halah-- halah- opo meneh iki? (apa lagi ini?)” gumam Danum.
Danum serta Bu Suci lagi-lagi di buat limbung dengan ucapan Wulan.
Bokir mengalihkan pembicaraan
“Terimakasih Budhe, atas jamuannya.” kata Bokir.
Masih di balut dengan kebingungan sekaligus keheranan, Bu Suci tersenyum dan mengangguk.
Damar mengantar Bokir dan Wulan ke teras rumah. “Kang, mobilnya bawa aja.”
Bokir melihat ke sekeliling halaman rumah keluarga Almarhum Gusli, dan menatap Damar, “Kamu yakin Mar, mobil kamu saya bawa?” tanya Bokir.
Damar mengangguk, “Iya, lagipula untuk apa disini toh juga nggak ada lahan parkir. Nanti apa kata orang-orang. Nanti dikira mereka saya hutang mobil hanya untuk sekedar gaya-gayaan,”
Bokir mengangkat alisnya, “Loh, gaya-gayaan gimana maksudnya. Kan itu juga mobil mu. Kamu berhak pakai,”
Damar menggeleng, “Nggak Kang, mobil itu bukan hasil dari kerja keras saya. Mana bisa disebut mobil saya. Lagipula saya nggak bisa nyetir mobil,”
Bokir tersentuh dengan cara berpikir Damar, pemuda yang sederhana dan tidak ingin di pandang berlebihan, meskipun Damar sudah tahu ia adalah cucu dari pebisnis kaya. “Baiklah, nanti saya akan mengajarimu. Atau Wulan, dia juga mahir menyetir,” tawar Bokir, dan mendapat anggukan dari Damar.
__ADS_1
Wulan membelalakkan matanya, namun ia juga tidak menolak. Toh sudah jadi tugasnya, “Dengan senang hati, Tuan Damar.”
Selepas kepergian Bokir dan juga Wulan. Damar kembali masuk kedalam rumah, dan sudah di hadang oleh adiknya yang meminta penjelasan mengenai kedua orang tamu Kakaknya.
“Mas...” Danum tidak jadi melanjutkan ucapannya, karena Damar sudah lebih dulu memintanya untuk diam.
“Nanti, aku Bakal jelasin. Tapi sekarang Mas mu ini mandi dulu. Karena apa?” tangan Damar menyingkirkan Danum yang menghalangi jalannya untuk masuk kedalam rumah. “Karena sudah mau azan magrib.” lanjutnya.
Bu Suci pun juga menatapnya, akan tetapi lebih memilih diam. Karena azan magrib berkumandang.
Damar segera pergi ke kamarnya dan mengambil handuk lantas melesat ke kamar mandi untuk membersihkan keringat dan kotoran yang melekat di tubuhnya. Selama sepuluh menit Damar selesai dengan aktivitas mandinya. Seperti biasa ia akan langsung mencuci pakaiannya dan menjemur di belakang rumah.
“Selesai, tinggal wudhu dan sholat.” Ia pun kembali ke depan kamar mandi dan berwudhu di kran air yang ada di tempat cuci pakaian.
Selesai sudah dengan berwudhu, ia melewati dapur, ruang tengah juga masuk kedalam kamarnya. Namun, tidak menjumpai adik dan Ibunya. Ia berpikir mereka sedang sholat di mushola.
Dengan sigap Damar mengganti pakaian, sarung baju koko juga menggelar sajadah di ruangan khusus untuk beribadah. Selama hampir dua puluh menit sudah ia selesai sholat dan berzikir, meminta petunjuk dan pertolongan agar senantiasa di mudahkan jalannya.
Di lanjut dengan bacaan Al-Qur'an yang melantun dengan khidmat.
Bu Suci yang baru pulang dari mushola lantas menanggalkan mukenanya di kamar, dan menuju dapur menyiapkan makan malam.
••
Setelah selesai sholat isya, Damar, Danum dan Bu Suci tengah duduk di kursi meja makan. Dengan menu ala kadarnya, sayur sop, sambal dan juga ikan bandeng presto.
Danum lebih dulu melahap habis makanannya, sungguh ia tidak sabaran untuk segera tahu apa yang sedang di sembunyikan Kakaknya.
Damar merasa sedang mendapat tatapan intimidasi dari adik juga Ibunya. Yang sejak tadi menunggu ia selesai makan. “Tenang, aku bakal cerita. Tapi sekarang ta cuci piring dulu.” tukasnya.
“Biar Ibu saja Nang,” kata Bu Suci.
Damar menggeleng, “Ini kan hanya pekerjaan kecil Bu,” Ia pun beranjak dan di bantu oleh Danum yang membawakan piring habis pakai ke tempat cuci piring.
Selesai dengan pergulatannya dengan piring-piring yang sudah tersusun rapih di rak piring. Damar kembali duduk dan menuang air dari teko ke gelas. Dan meneguknya dengan sekali teguk. “Alhamdulillah.” ucapnya.
“Ayo dong Mas, sampai kapan Mas Damar menyiksa hatiku yang udah meronta-ronta ingin tahu ini?” Danum menggoyangkan lengan Damar.
“Iya-- iya. Baiklah.” Damar menatap kepada Ibunya yang duduk tepat dihadapannya dengan sekat meja makan di tengah.
Dan beralih menatap Danum yang duduk tepat di sampingnya.
__ADS_1
“Damar bertemu dengan Kakek Bagaskara, Bu.” ungkapnya, bersitatap dengan Ibunya.
Bu Suci tertegun, dan membulatkan matanya. Lantas mengalihkan tatapannya menatap gelas berisikan setengah air mineral di meja.
Sedangkan Danum, ia tidak tahu menahu tentang siapa Kakek Bagaskara hanya diam dan kemudian bertanya, “Siapa Kakek Bagaskara, Mas?”
Damar beralih menatap Danum, “Ayah dari Bapak Gusli,”
Seketika Danum tercengang, “A--ap?” jawabnya tergagap. “Danum punya Kakek? Apa bener Bu yang di katakan Mas Damar? Kenapa Danum bisa nggak tahu?” pernyataan Danum yang sekaligus menjadi pertanyaannya kepada Ibunya.
Bu Suci tak bergeming, beliau tidak percaya bahwa kini Bagaskara Wijaya mencari keberadaan keluarga kecil anaknya, Gusli Wijaya. ‘Apa Ayah sudah tahu, kalau Gusli sudah wafat. Lalu darimana beliau tahu tentang Damar adalah cucunya?”
Pikiran Bu Suci di penuhi dengan pertanyaan dan prasangka.
Damar mengangguki ucapan adiknya, “Dan pemilik perusahaan makanan yang kemarin kita bahas adalah miliknya,”
“Hah! Jadi sebenarnya orang yang ingin bekerjasama dengan Mas Damar adalah Kakek kita sendiri?” Danum terkejut refleks menutup mulutnya.
“Kamu, nggak nyangka kan? Mas juga nggak nyangka, Num.” Damar menatap Danum yang seolah masih tidak percaya dengan apa yang diungkapkannya. Jeda beberapa detik, Ia menatap Ibunya, “Kenapa Ibu sama Bapak harus menyembunyikannya dari kami?” lanjut Damar mencari kebenaran yang sekian lama orangtuanya tutupi.
Masih menatap gelas yang sama, Bu Suci lantas beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar membuka lemari pakaian dan mengambil kotak sebesar kotak sepatu dan membuka penutupnya, lalu mengambil sebuah foto usang.
Damar dan Danum heran akan sikap Ibunya, keduanya saling tatap. Ketika hendak beranjak dan menyusul Bu Suci.
Tak lama Bu Suci kembali dan duduk di kursi yang semula beliau duduki. Menunjukkan sebuah foto tempo doeloe yang memperlihatkan Kakek Bagaskara yang masih terlihat muda dengan Nenek Ayudia serta Gusli dengan topi bundar wisuda.
Sudah saatnya Beliau memberitahu perihal keluarga Wijaya pada kedua putranya, dan tentang masa silam kedua orangtuanya, “Itu adalah foto Bapak kalian saat wisuda, di samping kanan dan kirinya adalah Kakek dan Nenek kalian.”
Bu Suci kembali mengingat kenangan awal mula beliau bertemu dengan Gusli. Beliau merasa dengan Kakek Bagaskara mencari keberadaan cucunya sudah saatnya kedua putranya tahu. Tentang asal-usul keluarga Wijaya.
Damar dan Danum melihat foto yang di berikan Ibu mereka dengan seksama.
Danum limbung sama seperti saat Damar baru mengetahui bahwa orang yang kini menjadi pemilik perusahaan King food adalah Kakeknya sendiri.
Bu Suci menatap perabotan rumah dan berkata tanpa menatap kedua putranya, “Maafkan Ibu, Ibu tidak bermaksud menyembunyikannya dari kalian.”
Sejumput garam kembali menaburi luka. Luka tak berdarah tapi bernanah. Pedih perih mencekam menusuki. Tangis perih tersimpan dalam hati. ‘Gusli, kuatkan aku di saat seperti ini. Semoga setelah ini aku dapat menebus rasa bersalah ku, dan dapat bertemu dengan mu lagi,'
•••
Bersambung...
__ADS_1