Presdir Cilok

Presdir Cilok
131 Antara lega dan cemas


__ADS_3

“Wulan! Jangan lakukan itu?!” teriak Farhana, yang berdiri dengan jarak tiga meter dari Wulan yang sedang menodongkan pistol kearah Opik yang terkapar di atas tanah lembab.


•••


Bokir mematung di tempatnya berdiri dengan jarak empat meter dari Wulan. Pria berkepala pelontos ini tahu betul seperti apa tabiat Nawang Wulan, bahwa wanita dingin itu tidak akan melepaskan seorang bandit yang sudah tertangkap.


Masih menatap Opik dengan sorot mata dingin, mendengar peringatan ataukah perintah dari polisi berpangkat perwira itu. Nyatanya tidak membuat Wulan gentar! Wanita garang ini semakin menekankan kakinya di perut Opik, bahkan kembali menarik kakinya dan menendang perut Opik dengan sangat keras.


Mburhhzz.... Opik menyemburkan cairan merah yang tak terlihat akibat minim penerangan, dan kemudian terbatuk-batuk keras. Ia melihat wanita yang menginjakkan kaki di perutnya, terlihat sangat ganas dan liar. Seperti emosi yang menyala-nyala laksana bara api.


“Kalau aku masih tetap pada pendirian ku untuk menarik pelatuk ini, apakah aku akan dikenai sanksi dan di penjara?!” tanya Wulan, datar. Tanpa menoleh kearah Farhana.


Glek... Farhana menelan ludahnya, meskipun sudah terbiasa melakukan penangkapan dan terkadang beranggotakan dengan polwan. Namun, baru kali ini, Farhana melihat aura yang tak biasa dari seorang wanita bernama Nawang Wulan. Aura itu sungguh kuat dan tegar.


“Bukan hanya sanksi, tapi kamu juga akan di pidanakan karena sudah berbuat nggak selayaknya dilakukan oleh seorang yang bukan dari pihak kepolisian! Meskipun dia tersangka! tapi kamu nggak berhak mengeksekusinya! ” jelas Farhana, mencoba memberi peringatan kepada Wulan.


Wulan tersenyum menyeringai, ia mengusap kasar dahinya yang berkeringat menggunakan lengan kiri yang di balut Hoodie hitam milik Damar, meskipun cuaca dingin di daerah dataran tinggi ini, namun akibat rasa kram di perutnya yang semakin lama semakin sakit membuatnya berkeringat dingin.


Sedangkan tangan kanan Wulan masih fokus memegang pistol yang ia todongan di kening Opik, jika terhitung peluru yang tersisa tinggal satu. Maka Wulan tidak akan membuang waktu lagi! Sungguh ia akan melakukannya!


Melihat Wulan tidak bergeming, Farhana kembali bernegosiasi agar Wulan mau menurunkan pistolnya dan membiarkan Opik menjalankan hukumannya di dalam sel penjara; “Serahkan Opik kepada pihak kepolisian, biar dia menjalani masa tahanan di sel penjara menurut undang-undang yang sudah di tetapkan oleh hukum pidana!”


Wulan sedikit memiringkan kepalanya; “Berapa lama pidana yang akan menjeratnya, karena sudah menyebabkan seseorang sekarat di rumah sakit dan semua kejahatannya yang tak telihat?! Apakah hukuman gantung atau tembak mati?!”


Farhana terdiam, ia tahu bahwa hukuman paling berat yang pantas di terima Opik adalah lima belas tahun sampai dua puluh kurungan penjara, jauh dari tuntutan hukum yang Wulan sebutkan!


“Bagaimana? apa nggak bisa menjawab hukuman apa yang pantas untuk si bajingan ini?!” Wulan menggeser kakinya, kini tepat di leher Opik dengan menekan lebih dalam lagi seperti mencekik pria yang sedang mengharap iba.


“Itu lebih baik, dari pada kamu bertindak anarkis!” tegas Farhana, melihat Wulan dari samping belakang mulai berjalan mendekati Wulan tanpa menimbulkan suara.


“Maaf Pak polisi?!” jawab Wulan dingin, “Tapi, ini nazarku!” Wulan memejamkan matanya, lantas jari telunjuknya, menarik pelatuk pistol. Dor!... tepat mengenai sasaran, di tengah kening Opik.


Seorang Nawang Wulan telah membalaskan perbuatan keji seseorang yang telah membuat suaminya sekarat.


‘Damar ingatlah satu hal, bahwa aku sangat mencintaimu, meskipun nantinya aku harus mendekam di balik jeruji besi, tapi aku nggak pernah menyesal dengan apa yang udah aku lakukan ini!’ benaknya bermonolog.


Seketika peluru tajam menembus kulit dan menyemburkan darah segar keluar di tengah kening Opik, peluru menembus kepala dan menghancurkan sel-sel otak dan membuat Opik tidak bernyawa seketika itu juga.


Wulan menarik nafas panjang lalu membuka netranya, ia melihat Opik sudah tak bernyawa dengan mata yang terbuka lebar. Lantas membuang pistolnya ke sembarang arah.


Usai sudah ia melaksanakan nazarnya, semua konsekuensi yang akan mengikut sertakannya kedalam masalah hukum tak ia hiraukan. Apapun resikonya, Wulan merasa paling tidak, ia sudah mengurangi jumlah orang keji yang hidup di muka bumi ini.


Farhana membelalakkan matanya terlambat sudah, ia mencoba untuk menghentikan aksi Wulan. Nyatanya wanita dingin itu tetap pada pendirian untuk mengeksekusi Opik.

__ADS_1


Tidak hanya Farhana, semua tim ikut yang bersama dengan Bokir pun tercengang dengan bara yang menyala dalam diri Wulan.


Wulan berbalik badan, dan berjalan memegangi perutnya, menjauhi Opik yang tak bernyawa. Sesekali ia mendesahh sakit akibat kram di perutnya semakin tak terkontrol. Wulan merasa ada sesuatu cairan yang membasahi selangkangannya yang dibalut celana panjang hitam.


Refleks Wulan meraba pangkal paha atasnya, dan benar darah, darah segar melumuri tangannya. Rasa sakit di perutnya semakin terasa sangat menyakitkan, membuatnya lunglai dan beringsut terduduk di tanah lembab kedua tangannya meremass perutnya dengan sangat kuat. “Damar!” gumamnya rintih.


Melihat Wulan seperti menahan sesuatu yang menyakitkan membuat Farhana langsung menghampiri dan berjongkok di samping Wulan, dan bertanya panik, “Kamu kenapa?!”


Wulan tidak menjawabnya, pendengarannya seperti menuli, pandangannya kabur dan seketika entah apa yang terjadi padanya.


Farhana panik, karena Wulan hilang kesadaran, ia mencoba menepuk-nepuk pipi Wulan, “Nona Wulan, bangun Nona! Bangun!”


Bokir segera menghampiri dan meraba denyut nadi Wulan, “Denyut nadinya sangat lemah,” kata Bokir, bersitatap dengan Farhana.


Tanpa pikir panjang Farhana segera membopong Wulan, dan memberikan perintah kepada semua anggota polisi yang lain, “Brigadir Martin!”


Brigadir Martin menatap atasannya, “Saya, Pak!”


“Bereskan masalah ini dan bawa semua pemuda-pemudi ke kantor kepolisian, soal mayat kasus penembakan yang dilakukan Nona Wulan, anggap ini hanya kesalahpahaman, dan akan menjadi tanggung jawabku kepada atasan!” itulah ringkasan Farhana memberi perintah kepada bawahannya.


Meskipun terkejut dengan keputusan Farhana, namun Brigadir Martin tetap melaksanakan perintah. “Siap Pak!” dengan hormat, Brigadir Martin segera memberi perintah kepada anggota polisi yang lain.


Semua rekan tim Bokir dan anggota polisi yang datang bersama dengan Farhana membereskan masalah muda-mudi yang foya-foya serta membawa muda-mudi itu ke kantor kepolisian guna di mintai keterangan tentang penyalahgunaan pil ekstasi.


“Pak Bokir, Anda juga akan di mintai keterangan!” kata Farhana melihat Bokir dari belakang jok kemudi, setelah berada di dalam mobil.


Masih fokus mengemudikan mobil, dengan kecepatan tinggi menuruni tanjakan perbukitan hutan Pinus. Bokir mengangguk singkat, ia heran. Mengapa Farhana mau menyebut kasus kematian Opik adalah kasus kesalahpahaman dan mau memikul tanggung jawab yang bukan di sebabkan dari tangan polisi berpangkat perwira di belakangnya.


“Kenapa Anda mau mengambil alih kasus kematian Opik? bukankah Anda tau, kalau kematian Opik bukan kesalahan Anda, Pak polisi?” tanya Bokir, menyuarakan uneg-unegnya.


Polisi Farhana memandangi wajah Wulan yang samar, saat ini waktu menunjukkan pukul 04:45 waktu setempat. Ia sendiri juga tidak mengerti, mengapa bisa mengambil keputusan ini, tanpa berpikir panjang. Seolah dirinya ingin menyelamatkan wanita yang baru dikenalnya.


“Aku berada di tempat kejadian, jadi aku berhak untuk mengatakan bahwa penembakan yang dilakukan Wulan adalah masalah ku,” sanggah Farhana, menutupi hal yang ada dalam benaknya.


Bokir berpikir alasan Polisi Farhana ada benarnya juga, toh jika bukan Wulan. Ia juga ingin menembak Opik. ”Anda benar Pak polisi.” jawab Bokir, seraya membelokan setir kemudi memasuki jalanan kota.


Fajar dengan semburat warna abu-abu yang melabur dengan warna emas, kini Bokir sampai di pelataran RSUP Dr Sardjito tepat pukul 06:37 waktu setempat.


Farhana kembali membopong Wulan yang masih tidak sadarkan diri keluar dari mobil. Berjalan dengan langkah cepat di pelataran rumah sakit bersamaan dengan Bokir.


Farhana berteriak memanggil perawat sesaat setelah sampai di lobby teras rumah sakit. “Perawat! ada pasien darurat!”


Tiga perawat dengan sigap, menarik brankar. Farhana pun memindahkan Wulan ke atas brankar.

__ADS_1


Farhana dan Bokir mengikut dua perawat yang membawa Wulan melewati lorong rumah sakit dengan langkah cepat, sedangkan perawat lainnya segera memanggil dokter.


Danum kebetulan lewat, ia berpapasan dengan Bokir, keningnya mengerut melihat wajah Bokir yang panik. “Kang Bokir!!”


Bokir segera menyadari seseorang yang menyerukan namanya, ia pun berhenti dan menoleh kepada seorang remaja yang tengah membawa kantong plastik putih. “Danum!”


Kedua perawat dan Farhana masih mendorong brankar sampai memasuki kamar perawatan medis guna memberikan pertolongan pertama pada Wulan.


Danum melihat brankar yang membawa seseorang sampai memasuki kamar medis lantas kembali menatap dan menghampiri Bokir, “Itu siapa Kang? mana Mbak Wulan, semalam dia bilang mau menyelesaikan misi? misi apa yang di maksud sama Mbak Wulan? Ibu sampai panik nanyain ke aku terus?”


“Begini, Num..” Bokir menggantungkan ucapannya, ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. “Itu tadi Wulan!” ungkapnya seraya menunjuk lorong rumah sakit tepatnya kamar di mana Wulan berada.


Danum spontan membelalakkan matanya menatap Bokir, dan beralih menatap lorong rumah sakit tepatnya di ruangan dimana tadi brankar yang membawa seorang pasien. Kembali menatap Bokir, “A-apa Kang? Mbak Wulan?!”


Bokir mengangguk


Danum segera berlari menuju kamar medis dimana Kakak iparnya berada, dan melihat seorang pria tinggi yang tengah berdiri di depan kamar medis.


Seorang Dokter dengan pakaian putihnya berlari memasuki kamar medis, dimana seorang pasien yang membutuhkan pertolongan medis.


Bokir berjalan menghampiri Danum, terlihat jelas remaja itu tengah merasakan bingung, ia memegang bahu Danum, “Bagaimana dengan Damar?”


“Alhamdulillah Mas Damar udah siuman subuh tadi,” jawab Danum, saat tengah melaksanakan sholat subuh, ia dikejutkan dengan suara Damar yang memanggil Wulan.


“Alhamdulillah,” seru Bokir lega, meraup wajahnya yang letih.


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi sama Mbak Wulan, Kang?” tanya Danum, wajahnya tidak bisa menyembunyikan guratan kecemasan, takut jika bahaya mengancam Wulan setelah cukup lega mendapati Damar telah siuman.


“Tenanglah, semua akan baik-baik aja,” kali ini bukan Bokir yang menjawab, melain Farhana yang tengah berdiri dibelakang Danum.


Danum menoleh kebelakang, persisnya dimana seorang pria yang ikut serta mendorong brankar yang membawa Wulan. Ia kembali menatap Bokir, “Ibu, Ibu harus tahu mengenai Mbak Wulan!”


Danum mulai berjalan menjauhi Bokir dan seorang pria yang tidak dikenalnya, namun baru berjalan tiga langkah, lengannya sudah di hentikan oleh Bokir.


“Sebaiknya jangan dulu, Num,” kata Bokir, melepaskan tangannya dari lengan Danum.


Danum membalikkan badannya, dan bertemu pandang dengan pria dewasa dihadapannya, “Kenapa Kang? Kang Bokir nggak tau kaya apa khawatirnya Ibu, pas tadi pagi dateng ke rumah sakit tapi mbak Wulan nggak ada, aku pikir misi yang dikatakan Mbak Wulan cuma sebentar, berulang kali aku menghubungi Mbak Wulan tapi selalu terputus!”


Bokir tahu, bahwa Danum mencemaskan keadaan Wulan. Terlebih setelah merasa lega karena Damar sudah siuman, “Kita tunggu setelah Dokter memeriksa keadaan Wulan.”


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2