Presdir Cilok

Presdir Cilok
109 Tak pernah terduga


__ADS_3

Mendapat tatapan intimidasi dari Wulan, membuat Damar dapat memahami, bahwa kini. Wulan sedang mencurigainya. Ia lantas berdiri, masih menggenggam tangan Wulan. “Kita harus pulang, karena hari sudah mulai petang,”


“Bagaimana soal pembahasan tadi? Apa kamu nggak mau menjelaskannya padaku?” tanya Wulan, masih duduk di ayunan. Rasa penasarannya ingin sekali mengulik apa yang di bahas Damar dan Kusumo di kamar UGD.


Damar mengusap pucuk kepala Wulan, ia tersenyum simpul. “Aku pikir, kamu nggak mau mendengarnya?”


Wulan pun memanyunkan bibirnya, ia lantas beranjak. “Jawabanmu, seolah mewakili, bahwa memang kamu nggak berniat menjelaskannya!”


Damar menghela nafasnya, “Ada banyak hal, Wulan.” Damar bersitatap dengan wanita yang sedang menatapnya, lalu mengangkat tangan kirinya, ia mengusap pipi Wulan hingga mengenai telinga Wulan, ia juga tidak ingin membahasnya lebih lanjut mengenai masa lalunya, karena bagi Damar Wulan adalah masa depannya.


“Yang perlu kamu ingat, setia itu bukan pilihan! Tapi, keharusan!” sambung Damar, dengan suara yang ditekankan.


Ada satu hal lagi yang Wulan baru tahu tentang seorang Damar. Bahwasannya, Damar bisa memposisikan dirinya saat tengah bercanda, dan memisahkan dirinya saat sedang serius, seperti halnya saat ini, Damar tidak suka mendebat jika dia sudah sangat serius.


“Berikan aku sebuah alasan, kenapa aku harus setia padamu, apabila kamu sendiri saja nggak setia padaku?” kata Wulan, menatap dalamnya manik mata milik Damar. “Kan, kan hanya mengantisipasi kalau kamu justru yang melupakan semua ucapanmu!”


Damar manggut-manggut tipis, ia menyadari bahwasanya wanita memang menginginkan kata cinta romantis untuk pembuktian bahwa memang ia benar mencintai wanita yang sedang menunggu jawabnya. “Seperti pungguk yang tak muluk, teh pahit yang terseduh manis lewat amylasa di lidahku. Seperti itu aku mencintaimu, sederhana saja.” ucap Damar. Ia dapat melihat ada guratan ketidaksukaan Wulan dalam mendengarkan penjelasannya.


“Hemm... sederhana yah?” gumam Wulan.


Damar memegang kedua pipi Wulan, “Karena, aku tanpamu bagai nasi kucing hilang karetnya. Hancur!” sambung Damar, sebagai perumpamaan bahwasannya kini hidupnya bisa saja tidak berarti apa-apa jika sampai kehilangan Wulan.


Wajah yang semula masam, kini Wulan melebarkan senyumnya, dan terkekeh kecil. ‘Bisa ae sih Kang Cimar, bikin orang seneng!’


Wulan pun membalas gombalan Damar yang terdengar seperti lawakan. Meskipun Damar menyampaikannya dengan keseriusan. “Kamu tau Kang Cimar? Cintaku padamu seperti kamera, fokus di kamu aja, yang lain blur!”


Damar tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa, “Hahaha...” pembicaraan yang semula serius. Kini berubah menjadi candaan perihal tentang gombalan Wulan yang terkesan lucu. Damar melingkarkan lengannya di pundak Wulan, lalu berjalan menuju mobil yang terparkir, “Lama-lama aku bisa diabetes,”


“Loh kenapa?” tanya Wulan.


“Karena melihat senyummu yang manis!” pungkas Damar.


Wulan tersenyum sumringah. Yah, seperti biasa, Damar akan selalu membuatnya tersenyum. Ia pun mengikuti langkah Damar, yang membawanya menuju mobilnya yang terparkir di bahu kanan jalan.

__ADS_1


••


Setelah melewati jalanan yang cukup padat, kini Damar telah sampai di komplek perumahan Kakeknya. Akan tetapi, saat mobil yang ia kemudikan hampir mendekati rumah Kakek Bagaskara, ia melihat mobil berderet terpakir di sepanjang jalanan menuju kediaman Kakeknya, dari mulai mobil yang biasa hingga mobil yang termewah.


“Ada apa ini, kok banyak banget mobil?” gumam Damar, seraya melirik Wulan. Damar mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, dengan laju mobil yang dipelankan.


Wulan pun sama, ia mengedarkan pandangannya menatap setiap mobil yang terparkir di tepian jalan. “Mungkin tamu Kakek Bagaskara, kan tahu sendiri beliau pebisnis elit, apalagi ku dengar Kakek Bagaskara menggawangi partai politik yang sedang marak di bicarakan,”


Damar terkejut dengan perkataan Wulan, “Hahh... yang bener?! Sejak kapan Kakek mulai terjun ke dunia politik?”


Wulan menatap Damar dari samping, “Kalau nggak salah, empat tahun yang lalu. Tapi dulu nggak setenar saat ini,”


Damar manggut-manggut tipis, “Hemm... begitu yah!” seraya membelo'kan setir kemudi yang ada dalam kendalinya untuk memasuki pelataran luas parkiran rumah Joglo, namun kali ini ia tidak menekan tombol klakson, karena gerbang utama masuk mobil sudah terbuka lebar.


“Mungkin juga nanti giliran kamu, yang akan terjun ke dunia politik,” tukas Wulan, tanpa menatap Damar. Ia sedang menatap lurus ke depan, terkhususnya rumah yang terlihat seperti sedang ada sebuah pesta, dengan bunga-bunga putih sebagai lambang kesucian.


“Ahh... bisa aja kamu. Aku nggak ada minat-minatnya untuk terjun ke dunia politik! Apalagi latar belakangku yang nggak berpendidikan.” cetus Damar, dengan ucapannya yang jujur, lalu mematikan mesin mobil.


Mendengar jawaban jujur Damar, membuat Wulan seketika tertegun dan beralih menatap Damar. Ia menghela nafasnya, meskipun berempati, ia lebih memilih tak menunjukkan rasa empatinya. Dan menjawab Damar selayaknya seperti jawaban seorang teman, “Jangan terlalu menyudutkan diri sendiri, kamu tahu mantan menteri Susi Pudjiastuti? Beliau, membuktikan dirinya bisa meraih mimpi dan cita-cita, meskipun berhenti sekolah saat baru kelas 2 SMA di Negeri 1 Jogjakarta,”


“Tapi ‘kan, Bu Susi melanjutkan sekolah dengan cara kejar paket, lalu beliau melanjutkan kembali pendidikannya sampai mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari universitas Diponegoro pada tahun 2016.” sambung Damar, sedikit mengerti mengenai langkah pendidikan yang selanjutnya di ambil oleh Mantan menteri kelautan dan perikanan. Ia pun menaruh ponselnya, disamping kemudi.


Wulan masih menatap depan rumah bergaya Joglo modern. Ia mengerutkan keningnya, heran sekaligus bertanya-tanya dengan dekorasi bunga putih.


“Tetap aja Kang Cimar, harus ada usaha dan doa. Orang yang sukses nggak selalu melulu harus mengenyam pendidikan yang tinggi kok, tapi mereka mampu membuktikan bahwa memang kesuksesan dan keberhasilan datangnya dari sebuah tekad dan keyakinan pada diri sendiri dan Tuhan.” jelas Wulan panjang lebar, baru kali ini ia mengucapkan kata yang seperti membacakan barisan UUD.


“Ya, ya, ya...” cetus Damar. Ia lantas membuka pintu mobil, dan keluar dari dalam mobil.


Begitu juga dengan Wulan, ia tak perlu menjadi wanita manja yang selalu mengharap prianya membukakan pintu mobil, jika ia sendiri saja bisa melakukannya.


Damar mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan area pelataran rumah Kakek Bagaskara, ia manggut-manggut tipis, dan tersenyum simpul, meskipun tidak banyak dekorasi bunga. Ia pun memanggil penjaga rumah yang biasa membukanya pintu gerbang. “Mang Soni, apa semua sudah siap?”


Mang Soni mengangguk dan mesam-mesem, “Sudah, Den.”

__ADS_1


Wulan pun mendekati Damar, ia juga ingin tahu, sebenarnya ada acara apa, perihal dekorasi yang mirip seperti dekor pengantin. “Ada apa sih ini?” tanyanya, lagi mengedarkan pandangannya, menatap keseluruhan pelataran rumah Kakek Bagaskara.


Mang Soni pun memberikan kode dengan isyarat mata yang di kedip-kedip kepada Damar. “Aden sudah di tunggu sama Tuan Bagaskara di dalam.”


Damar menganggukkan kepalanya, lalu beralih menatap Wulan. Ia memegang lengan Wulan, membuat si empunya seketika menatapnya, “Wulan, sepertinya kamu harus masuk kedalam rumah terlebih dulu, nanti aku menyusul,”


“Kata kamu, Kakek Bagaskara pulangnya dua hari lagi?” tanya Wulan, bersitatap dengan Damar.


Damar mengulas senyuman, mengusap pipi Wulan, “Masuklah, ada seseorang yang harus kamu temui.“


Wulan pun mengangguk, dan berjalan menuju pintu rumah Joglo. Namun, saat dirinya berjalan dengan jarak tiga meter dari pintu utama masuk kedalam rumah Joglo, ia tercengang melihat kedua orang yang sudah lama tidak ia temui, keluar dari dalam rumah Kakek Bagaskara.


“Ayah! Mamah!” seru Wulan, lalu mengucek-ngucek matanya, untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah sekedar khayalan. Dan benar saja, ia melihat orangtuanya sedang berdiri di depan pintu rumah Joglo Kakek Bagaskara.


Wulan limbung sekaligus heran, kenapa dan bagaimana bisa semalam ia menghubungi kedua orangtuanya dan berbincang sangat lama, dan kini kedua orangtuanya sedang berdiri di depan teras rumah Kakek Bagaskara. Bukan, bukan hanya kedua orang tuanya, tapi juga Kakaknya yang baru keluar dari dalam rumah Kakek Bagaskara, “Abang!”


Bersamaan dengan Kakek Bagaskara yang mendorong kursi roda Nenek Ayudia, juga Bu Suci dan Danum, dan berikutnya, beberapa tamu yang berkunjung ke rumah Kakek Bagaskara.


“Surprise!” seloroh semua orang, termasuk Ayah dan Mamah dari Wulan.


Wulan tercengang dengan situasi ini, ia lantas menoleh kebelakang. Namun, lebih terkejut dengan Damar yang sedang berlutut dengan satu kaki di belakangnya. “Damar!” seru Wulan terkejut.


Dan kembali mengedarkan pandangannya, menatap satu-persatu orang-orang yang berdiri di depan rumah Kakek Bagaskara. “I-ni ada apa sih?!” tanya Wulan, tergagap. Ia kembali bersitatap dengan Damar.


Damar memperlihatkan cincin pernikahan di hadapan Wulan. “Aku sudah meminta izin atas hak mu kepada orangtuamu, yang di wakilkan oleh Kakek, dan beliau-beliau memberikan ku restu untuk meminang mu!”


Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Damar dengan setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak pernah terduga sebelumnya ia akan mendapatkan surprise dari pria yang dicintainya, kejutan yang membuatnya bingung sekaligus keheranan.


Damar kembali berdiri berhadapan dengan Wulan yang masih terlihat bingung, semua rencana yang sudah ia susun bersama dengan Kakek Bagaskara, Bu Suci dan Danum berjalan sesuai rencana. Dan juga penghulu pernikahan yang sudah standby.


Ayah Wulan yang bernama Wicaksono pun mendekati Damar dan Putrinya, “Tidak perlu lagi lamaran, karena Ayah sudah menerima lamarannya dari perjodohan yang sudah di wakilkan oleh Kakek Bagaskara. Malam ini juga, Ayah akan menikahkan kalian.”


Wulan menatap Ayahnya, belum cukup kejutan ia cerna dalam pikirannya, kini ucapan sang Ayah membuatnya semakin limbung. “Pe-perjodohan?!”

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2