Presdir Cilok

Presdir Cilok
134 Season 2; Juragan cilor


__ADS_3

“Aku ingat, lagian ini masih jam tujuh. Sedangkan perginya jam sembilan, terus kenapa kamu udah ada di sini?” tanya Damar kesal. Karena momentum romantisnya di rusak oleh kedatangan adiknya yang selalu saja membuat gaduh.


Danum mengingatkan Damar bukan tanpa sebab dan akibat. Karena kecelakaan yang membentur keras di kepala Kakaknya, menimbulkan kecenderungan hilangnya sebagian besar ingatan Damar.


“Uhm... tadi kan aku ke rumah Angga buat ambil buku catatan sekolah, ya sekalian aja mampir ke rumah. Eh nggak taunya Mas Damar lagi nganu! Hehe...” jelas Danum crengengesan, refleks menggaruk tengkuk leher, soal alasannya mengapa ia tiba-tiba datang ke rumah legendaris ini. “Lagian kenapa pintunya nggak di kunci sih Mas, padahal nih yah aku udah salam dari luar, tapi nggak ada sahutan dari Mbak Wulan maupun Mas Damar, ya udah aku langsung masuk aja..”


“Kok aku bisa nggak tau tentang rencana pergi ke Candi, memangnya mau ada ritual apa?” kata Wulan menyambar obrolan Kakak beradik di hadapannya.


Damar dan Danum terkejut dengan perkataan wanita yang sedang memakai daster batik motif bunga serta gaya rikma yang di jepit ke atas; Ritual?!”


“Hah, maksudnya ritual?” tanya Damar. ia menghentikan aktivitasnya membuat adonan bulat.


Wulan ikut menghentikan aktivitasnya, dan fokus menatap Damar, “Ya ritual, aku pernah baca artikel tentang nyarat di candi, pemujaan terus bersemedi dan dapat ilmu, atau supaya dagangannya laku, terus pulang bawa buntelan semacam batu atau semacam hal-hal yang berbau-bau mistis, begitu!” jelas Wulan, menatap Damar dan beralih menatap Danum, “Terus-terus ujung-ujungnya mandi kembang tengah malam, kaya judul lagu perasaan, hehe...” lanjutnya terkekeh seorang diri, membayangkan lagu yang pernah di populerkan oleh Caca Handika.


Damar tidak habis pikir, dengan ucapan sang istri yang bisa-bisanya masih mempercayai artikel atau berita semacam sarat/perdukunan. “Nauzubillah, Nawulku. Ya jelas beda atuh, yang lagi kamu bicarakan mungkin tentang perdukunan?”


“Ya Allah, Mbak. Ada apa sama Mbak Wulan? Kenapa baca beritanya yang begituan, emangnya nggak ada berita lain lagi?” seloroh Danum, heran akan artikel yang di jelaskan oleh Wulan.


“Dan sebaik-baiknya rezeki yang kita peroleh yang datangnya atas keridhoan Allah, Mbak. Apalagi sebentar lagi mau memasuki bulan puasa...” lanjut Danum lagi, bergidik ngeri kala mendengar hal-hal semacam ilmu ghaib yang biasa di pakai oleh pedagang nakal. Hanya untuk mencari akal, supaya dagangannya laku dan habis terjual.


Wulan mendapat tatapan dari kedua lelaki yang berbeda umur ini, merasa dirinya terintimidasi atas ucapannya pun mencoba membela diri, “Ya terus kenapa kita ke Candi? Kan katanya kalau ke Candi itu indentik sama bertapa, dan nggak jauh-jauh juga kayaknya tentang ilmu-ilmu semacam sarat,”


“Tuh, tanya aja sama Mas Damar, dia yang kemarin ngajak liburan.” sahut Danum, menunjuk Damar dengan dagunya, “Memangnya Mas Damar belum kasih tau ke Mbak Wulan, kalau hari ini kita bakalan pergi liburan?”


Damar tersenyum mengingat betapa ganasnya pertarungannya semalam bersama Wulan, dikarenakan ia baru di perbolehkan berbuka puasa, setelah berkonsultasi dengan Dokter kandungan yang sebelumnya menyarankan untuk Damar berpuasa terlebih dahulu, guna memulihkan kondisi Wulan yang sempat mengalami pendarahan. Sampai ia lupa untuk memberitahu Wulan bahwa hari ini ia akan mengajak sang istri untuk jalan-jalan menikmati waktu weekend.


“Yah pengen liburan aja, sambil menikmati pemandangan alam semesta Ciptaan Tuhan, dan kembali mengenang sejarah, supaya generasi muda nggak lupa. Kalau kita hidup mempunyai nilai simbolis sejarah,” jelas Damar, mematahkan anggapan Wulan mengenai Candi.


“Meski pun bernama Candi Ratu Boko, situs ini sebenarnya nggak harus disebut sebagai candi utuh karena merupakan reruntuhan sebuah istana atau keraton. Oleh sebab itu, Candi Ratu Boko kadang juga dikenal sebagai Keraton Ratu Boko. Begitu! Kan biasanya kita cuma jalan di alun-alun dan sekitaran sini, pengen beda aja, gitu.” kata Damar lagi, menatap wajah istrinya yang terlihat manggut-manggut.


Wulan manggut-manggut, “Bareng siapa lagi perginya,” tanya Wulan, seraya membuat adonan menjadi bulat-bulat kecil sebesar biji salak.


“Semua orang, Ibu, Nenek sama Kakek.” jawab Danum. Sambil memakai sarung tangan plastik, dan mengambil adonan cilok yang ada di baskom. “Kenapa Mas Damar buat cilok di rumah, memang mau jualan lagi pakai gerobak, Mas?”


“Enggak,” jawab Damar.

__ADS_1


“Terus?” tanya Danum.


“Nih, mamil lagi ngidam, minta di buatin cilok. Katanya cilok yang di buat di pabrik beda sama yang di buat pakai tangan,” jelas Damar, melihat Wulan dari samping.


“Ya memang beda banget. Yang di buat kamu itu berasa enak banget, apalagi bumbu kacang buatan mu, behhh meletup-letup di mulut, enak banget,” tukas Wulan berseru girang, sambil mengacungkan jempol nya.


“Kalau enak kenapa kamu makannya sedikit?” tanya Damar, bersamaan dengan dagunya yang naik turun, “Aku masih ingat, saat malam hari pas lagi tidur lelapnya, kamu bangun terus minta di buatin cilok, eh pas ciloknya mateng, nggak di makan. Tau nya kamu cuma mau lihat aku membuat cilok,” pungkasnya, dalam mengingat kembali saat-saat tidurnya harus terjaga karena godaan dan rengekan Wulan di malam hari.


Wulan terkekeh gaje, “Hehe.. habis Kang Cimar kalau lagi buat cilok, kelihatan cool abis,”


Ah yah, cool! Selalu bisa memang wanita ngidam yang satu ini mencari alasan dari sifat manjanya. Damar tersenyum simpul, menggenggam jemari tangan istrinya yang sudah dengan sabar dan setia menemani saat-saat terpuruknya dalam menjalani kemoterapi pasca kecelakaan; Nggak perduli seberapa baik atau buruknya hidupku, karena aku masih terbangun dan aku sangat bersyukur, bahwa aku dapat melihat dan memilikimu, Nawulku.’


Danum geleng-geleng di buatnya, heran. “Memang cool dari mananya? Apa iya sampai meletup-letup gitu, Mbak?” tanya Danum mengangkat bahunya, “Perasaan biasa-biasa aja!”


Damar beralih menatap Danum, seperti biasa ia melempar bulatan adonan cilok yang mengarahkan ke adiknya yang usil, “Jadi setelah aku menjalani usaha cilok...” Damar menggantungkan ucapannya karena lupa sudah berapa lamanya ia berjualan.


“Tujuh tahun, Sayang.” sahut Wulan mengingatkan. Acap kali Damar susah untuk mengingat, ialah yang selalu menjadi memori internal agar suaminya ini mengingat kembali secara perlahan.


“Nah iya, selama tujuh tahun lamanya, kamu masih meragukan kemampuan Kakakmu ini, Num?” lanjut Damar lagi.


“Sepi ing pamrih, rame ing gawe, banter tan mblancangi, dhuwur tan nungkuli.” [Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih, cepat tanpa harus mendahului, tinggi tanpa harus melebihi. ] balas Damar, dalam mengingat kepingan perjuangannya dahulu. Kiranya, perjuangan harus selalu di ingat untuk selalu mensyukuri sekecil apapun yang di dapat.


Sekakmat sudah jikalau sang Kakak' sudah memulai dengan bahasan bijak mengenai kehidupan dan perjuangan. Alhasil, Danum hanya bisa tersenyum dan mengangguk, “Nggih [Iya] Mas, aku ngerti, kalau kita nggak boleh melupakan perjuangan yang sudah kita lalui.”


“Nah itu tau!” balas Damar.


“Kamu masih jualan cilor, Num?” tanya Wulan.


Danum mengangguk, “Masih,” ia memang lebih memilih membuka usahanya sendiri. Yaitu, jualan cilor. Alias Aci telor..


“Kenapa kamu nggak bantuin Mas mu aja sih, Num?” tanya Wulan lagi, heran akan jalan pikiran adik iparnya yang lebih memilih berjualan cilor di samping menjadi pelajar Danum juga keliling menjajakan dagangan cilor dengan gerobak dan motor.


“Nehi!” Danum mengibaskan jari telunjuknya.


“Widih, sombong!” celetuk Damar, menyahut penolakan adiknya.

__ADS_1


“Yo yoi, Danum Mahesa pun pengen sukses karena jerih payahku sendiri, dan bisa jadi aku akan menjadi juragan cilor! Alias Aci dan telor.. keren tho, keren..” selorohnya, bersamaan dengan alisnya yang naik turun.


“Iya, iya. Tau, kalau seorang Danum Mahesa selalu ingin bisa bersaing dengan Kakaknya. Yaitu, Damar Mangkulangit!” balas Damar tidak mau kalah.


Wulan merasa enggan mendengarkan perdebatan yang selalu bertentangan di antara kedua Kakak dan adik ini, ia lantas beranjak, “Kalau begitu aku mau mandi dulu,”


“Udah berani mandi Mbak?” tanya Danum yang melihat Wulan beranjak dari duduknya.


Wulan menoleh kearah Danum, dahinya berkerut, “Memangnya aku kucing yang takut sama air!”


Yah... salah sangka kan, bisa belibet ini mah! “Bukan begitu Mbak...,” Danum agaknya harus meralat ucapannya, ia menyadari perubahan emosional Kakak iparnya itu semenjak hamil, lebih sedikit menyebalkan! Dan lebih terkesan rewel.


“Terus maksud kamu, aku jarang mandi iya? Badanku bau kecut kaya cuka?” kata Wulan dengan segala prasangkanya.


Danum mengibaskan-ngibaskan tangannya, “I-iya... eh gimana, maksudnya bu-bukan...” gagapnya dalam menjelaskan maksud dari ucapannya.


“Kang Cimar, lihat tuh si Magnum, dia bilang aku bau, aku kecut...” rengek Wulan, menunjuk Danum.


Damar menatap malas adiknya yang mulai berkata-kata menggugah selera rewel sang istri. “Danum, kamu bisa diem?”


Danum sontak saja menggeleng


Wulan terlihat semakin sebal, niatnya untuk mandi ia urungkan. Merasa perdebatannya dengan Danum harus ia selesaikan.. “Danum, begini yah biar aku jelaskan!” ujarnya memelototi Danum, “Aku itu mandi, meskipun nggak pakai sabun wangi. Paham!”


Danum mengangguk cepat, “I-iya Mbak,” agaknya ia harus memikirkan cara agar tidak terpancing perdebatan lebih lanjut dengan Wulan. Ia lantas beranjak dan melepas sarung tangan plastiknya lantas melenggang pergi ke ruang tengah guna menyalakan lagu dari MP player.


Musik reggae dari Uncle Jink pun mengalun sedang..


Damar hanya bisa mengamati jika sudah seperti ini.. kemudian menyelesaikan aktivitasnya dalam membuat cilok. Ia pun menatap istrinya, “Udah sana mandi, dan bersiap-siap, ini biar aku yang bereskan.” ucapnya sambil membereskan baskom.


Wulan mengangguk, dan beranjak dari duduknya. Sebelum pergi, ia mencium kening Damar membuat si empunya tersentak dan mengembangkan senyumannya.


•••


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2