Presdir Cilok

Presdir Cilok
42 Marilah Sukses bersamaku


__ADS_3

Selesai Bokir berwudhu, ia pun menghampiri Damar yang sudah standby duduk di atas sajadah yang sudah tersedia di ruangan khusus untuk beribadah di dalam kantornya.


"Kang Bokir yang mengimami?” kata Damar menawarkan.


Bokir menggeleng, "Nggak, agamaku masih cetek kaya ketek!”


"Hemm... Cetek ya cetek aja, nggak perlu ketek di bawa-bawa Kang Bokir, biarkan dia menikmati keringat kita,” jelas Damar.


Gurauan Damar membuat Bokir tertawa renyah,


"Hehehe ... Ternyata kamu lucu juga, saya kira kamu setengil sewaktu kamu mergokin saya pas memata-matai kamu,”


Damar tersenyum, "Humor itu diperlukan Kang Bokir, selama masih batas wajar dan nggak menghina orang lain. Soal itu, saya minta maaf Kang,” jelas Damar.


Bokir pun mengibaskan tangannya ke lengan Damar, dan berujar. “Akh.. bukan apa-apa, itu sudah pekerjaan saya. Dan sekarang saya lega, tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi lagi untuk mengintaimu,”


Damar tersenyum, ia tidak menyangka ternyata orang yang waktu itu sempat akan membogem wajahnya tidak segarang yang terlihat dari luar.


"Sudah siap?” lanjut Damar bertanya apakah Bokir sudah siap melaksanakan sholat. Pria berkepala pelontos ini pun mengangguk. Damar dan Bokir lantas melaksanakan sholat bersama dengan Damar yang menjadi Imam.


Sementara itu Wulan tengah melaksanakan sholat dhuhur di ruangannya sendiri. Meskipun terkesan slengean acuh tak acuh, ia adalah wanita yang menjaga sholatnya. Karena Wulan percaya mati tidak menunggu ia siap.


Sepuluh menit pun berlalu.. Wulan memutuskan kembali keruangan Damar karena ada banyak hal yang harus ia agenda kan untuk atasannya itu. Secara perlahan dan dengan sedikit melongokan kepalanya, melihat keadaan di dalam ruangan. Netranya tidak mendapati Damar maupun Bokir di sofa.


Tangan kirinya masih memegang handle pintu dan membukanya sedikit melebar agar tidak menimbulkan bunyi. Lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang lengang, namun Wulan masih mendengar suara dari balik kaca lebar. "Mereka lagi sholat,” gumamnya.


“Untung aja gue udah sholat tadi.” ucapnya dengan suara kecil, lantas berjalan menuju sofa. Sesudah mendudukkan pantatnya di sofa hitam. Bunyi notifikasi pesan masuk dari ponsel Damar yang memperlihatkan keretakan di layar monitor ponsel yang berada di atas meja.


Ting


Notifikasi pesan masuk dari ponsel Damar yang tergeletak di atas meja. Layar monitor ponsel Damar pun menyala. Semula Wulan cuek, toh ia berpikir bukan urusannya.


Ting


Satu pesan lagi masuk, dan layar monitor ponsel kembali menyala. Membuat keingintahuan Wulan sebagai Intel meronta laksana petir ditengah tengah badai. Sedikit mencondongkan tubuhnya sebelum benar-benar membaca ia pun bergumam, "Sedikit mengintip bukan berarti gue kepo perihal isi pesannya.”


Wulan membaca isi pesan pertama yang tertera di layar monitor ponsel yang masih terkunci.


📱‘Damar, kalau mau dateng ke pernikahan Ratna, nanti datengnya bareng aku yah?


Dan membaca isi pesan kedua, Wulan mengerutkan keningnya.


📱Please jawab. Aku butuh temen buat nemenin aku kondangan.


"Siska." ucap Wulan membaca nama si pengirim pesan.


Suara Bokir membuat Wulan terkesiap, dan menarik tubuhnya kembali duduk tegak. Dan kemudian mengambil berkas yang ada di atas meja kaca.


"Mar, aku punya adik seumuran denganmu,” kata Bokir, kini ia sudah mulai akrab dengan Damar.


Sambil berjalan beriringan menuju sofa, Damar lun menjawab "Benarkah? Namanya siapa Kang?"

__ADS_1


"Eko Laksmono," jawab Bokir antusias.


Bokir dan Damar pun melihat Wulan yang sudah kembali, entah darimana. "Darimana kamu Lan?” tanya Bokir seraya duduk di sofa.


Wulan hanya diam dan seolah sedang sibuk memilah dan memilih berkas yang ada di tangannya.


"Kebiasaan! Orang lagi ngomong di cuekin ngene (gini).” gerutu Bokir.


Damar duduk berjarak satu meter dari Wulan dan melihatnya tengah mengamati berkas yang ada di tangannya, dan kembali fokus menatap berkas-berkas yang ada di atas meja. Menghela nafasnya, "Sampai kapan, aku harus berkutat sama kertas-kertas ini?”


Damar lantas mengulurkan tangannya ke atas meja dan hendak mengambil map, bersamaan dengan Wulan yang mengulurkan tangannya. Tangan Wulan berada di atas punggung tangan Damar.


Wulan segera mengalihkan tatapannya, menatap tangannya sendiri yang tidak sengaja bertumpu pada tangan lelaki yang ingin ia hindari. Secepat kilat Wulan menarik tangannya seraya mengepal tangannya sendiri.


Dapat Damar simpulkan, kini wanita yang memakai kemeja hitam serta celana hitam ini sedang salah tingkah. Damar pun berujar “Mulai besok, aku tidak mau melihatmu dengan pakaian seperti ini lagi. Aku bukan lagi orang yang sedang kamu mata-matai.” titah Damar.


Wulan beranjak bersitatap dengan lelaki berkemeja navy, ia pun menjawab “Apa saat ini, Tuan sedang memberi perintah kepada saya?”


Damar mengangguk, memasang mimik wajah datar, “Ya. Aku ingin lihat kecantikan mu,”


Bokir menengadahkan wajahnya menatap Damar dan Wulan secara bergantian, mengangkat satu alisnya. Ia pun kembali menunduk dan melihat berkas-berkas seraya menggelengkan kepalanya. ‘Ono opo iki? (Ada apa ini?)


Rona pipi Wulan seakan memanas mendengar ucapan lelaki yang menjadi atasannya kini. Tiada bantahan Wulan mengalihkan tatapannya menatap berkas yang ada di tangannya. Ia lebih memilih membacakan agenda rapat koordinasi untuk Damar besok.


“Mulai besok. Presdir cilok-- eh maksud saya Presdir Damar ada meeting dengan para staf dan marketing,” ujar Wulan tanpa menatap Damar.


Tiada yang menjawab, entah itu Damar maupun Bokir. Membuat Wulan mengangkat wajahnya menatap Damar, “Anda mendengar saya Presdir?” tanya Wulan.


Meskipun tidak suka dengan sebutan yang di sematkan Wulan sang sekretaris. Namun, agaknya Damar harus terbiasa. “Secepat inikah, harus ada pertemuan?”


Damar manggut-manggut, ia merasa Wulan lebih berpengalaman tentang hal ini, “Baiklah.”


Saat sedang membicarakan soal pekerjaan


Ponsel Damar bergetar, sang empunya pun melirik ponselnya yang sejak pagi hari tidak terjamah oleh tangannya.


“Siska.” gumamnya membaca nama si penelepon.


Terpaksa Wulan dan Bokir akhirnya menghentikan pembicaraan mengenai rancangan bisnis.


Lalu mengambil ponsel dan menggeser tombol hijau.


“Wassalamu'alaikum,” jawab salam Damar di sambungan telepon.


Sejenak Damar terdiam mendengarkan Siska yang bersuara dari seberang sana, “Insya Allah, kalau aku ada waktu aku dateng,”


Damar melihat Wulan dan Bokir yang sedang menunggunya untuk kembali melanjutkan pekerjaan, membuatnya tidak enak hati. Lantas menyudahi pembicaraan dengan Siska, “Maaf Sis, aku tutup dulu teleponnya. Saat ini aku sibuk, nanti aku hubungi lagi.”


Wulan kembali menunduk menatap berkas yang ada di tangannya.


“Siapa yang telepon tadi, kayanya suara cewek?” tanya Bokir.

__ADS_1


Damar meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan kembali melihat berkas yang ada di pangkuannya, “Temen, dia ngajakin buat menemani dia kondangan,”


“Di pernikahan mantan pacar mu?” sangka Bokir.


Damar menatap Bokir dan mengangguk, “Darimana Kang Bokir tau?” tanya Damar, lalu mengingat bahwa Bokir jelas saja tahu.


“Nggak perlu di jawab Kang, aku udah tau darimana Kang Bokir tau semua aktivitas ku.” sangka Damar.


Damar kembali menunduk menatap berkas


Bokir melihat Damar dan beralih menatap Wulan, “Kenapa kamu nggak ngajak Wulan ke pernikahan mantan mu?”


Pertanyaan Bokir membuat Damar dan Wulan seketika mengangkat wajahnya. Dan menatap Bokir lekat-lekat. Bokir merasa terintimidasi dengan tatapan keduanya, lantas berujar. “Kan, Wulan nggak banyak teman di Jogja, dia kan juga butuh temen dan refreshing,”


“Iya kan, Lan?” sambung Bokir menatap Wulan.


“Itu nggak perlu Bokir, tujuan gue dateng kesini cuma buat kerja. Kalau bukan Kakek Bagaskara yang meminta gue buat jadi sekretaris dadakan cucunya pun gue udah balik ke Jakarta,” pungkas Wulan dan kembali menunduk membaca berkas kerjanya.


Damar bersitatap dengan Bokir dan beralih menatap Wulan yang terlihat sangat tertekan dengan pekerjaan barunya. “Aku nggak masalah kalau kamu mau balik ke Jakarta,”


Wulan menggeleng, dan menjawab Damar tanpa menatapnya “Ini sudah perintah, dan harus di laksanakan.”


Damar menghela nafasnya, ‘Sepertinya, ini akan berat untuknya tinggal disini.’ sangka Damar dalam hati.


“Biar nanti aku yang akan bicara dengan Kakek,” jawab Damar. “Kalau kamu nggak keberatan, aku akan mengajakmu juga ke pernikahan temanku.” sambung Damar.


Perkataan Damar sukses membuat Wulan mengangkat wajahnya dan menatap Damar, “Teman?” tanya Wulan.


“Anggap aja begitu, masa iya mau dibilang musuh?” jawab Damar.


“Terimakasih atas niatan Anda, Presdir.” kata Wulan.


“Nah, ini kan lebih enak di lihat. Sering-seringlah kalian akur.” celoteh Bokir menepuk tangannya.


“Sudah, ayo kembali bekerja.” ucap Damar sudah seperti Presdir yang sesungguhnya.


Ketiganya pun kembali menyusun strategi pemasaran dan periklanan.


••


Siang menjelang senja guratan warna oranye berbaur dengan warna abu-abu melebur melukis indah di hamparan sang mega.


Sudah lebih dari setengah hari, Damar berkutat di depan meja kerjanya. Kini semua karyawan di bagian staf pun sudah pulang.


Yang tertinggal hanya Pak Bambang dan seorang asistennya. Bokir, Wulan dan juga Damar.


Damar tengah berdiri di luar gedung menjulang empat lantai. Memperhatikan bangunan dengan seksama. “Marilah sukses bersamaku.” gumamnya mantap.


Damar memfokuskan pada satu keinginan yang pencapaian memampukannya mendapatkan banyak keinginan.


Wulan yang berdiri tidak jauh dari Damar menyunggingkan senyuman tipis, saat mendengar gumaman Presdir baru dari perusahaan yang sudah terpuruk ini.

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2