Presdir Cilok

Presdir Cilok
70 Permulaan permainan


__ADS_3

Setelah masuk kedalam restoran yang berkonsep tertutup, dan hanya di peruntukan bagi kalangan menengah ke atas, yang secara khusus menghadirkan konsep ruangan untuk para pebisnis elit, yang mengadakan meeting private room.


Dengan di antar oleh seorang pelayan restoran keruangan Kusumo. Damar yang berjalan di depan sedangkan Wulan dan Bokir yang berjalan di belakangnya.


Pelayan restoran pun berhenti di depan pintu berwarna cokelat kayu, ia lantas menunjukkan pintu ruangan Kusumo berada. Damar yang tidak tahu menahu soal pemberian tip pun harus di lakukan oleh Wulan.


“Terimakasih.” ucap pelayan dan pergi dari sana.


Damar menatap Wulan dan Bokir secara bergantian


“Mantapkan hatimu Mar, dan masuklah!” kata Bokir menyemangati Damar. Begitu juga yang dilakukan Wulan, ia mengangguk tipis.


Damar kembali menatap pintu cokelat dan menghela nafasnya, lantas berdoa dalam hati. Memantapkan jiwa, menggemakan asa, menggelorakan nyala semangat yang membara, ‘Jika membiarkan rasa takut tumbuh lebih besar dari imanku. Maka aku menghalangi impian kenyataan. Semangat Damar!’


Tangan kanannya mulai memegang handle pintu dengan mantap ia membukanya lebar-lebar. Damar berjalan masuk dan diikuti oleh Bokir dan Wulan di belakangnya.


Kusumo pun langsung menatap pintu yang terbuka, semula senyuman ramah menghiasi wajahnya. Namun, seketika senyuman ramahnya luntur menjadi sarat makian dan hinaan. Kusumo lantas berdiri dan membelalakkan matanya, melihat seorang pemuda yang sudah membuatnya berang. “Sedang apa kamu di sini?!” Kusumo lantas menoleh kearah sekretarisnya dan juga stafnya.


Damar terus saja berjalan hingga mendekati meja, dan tersenyum devil, “Halo Tuan Kusumo,” sapa Damar setelah berdiri berhadapan dengan Kusumo yang terkejut akan kedatangan orang yang tidak undang, di pertemuan bisnis ini.


“Berani sekali kamu datang kemari! Siapa yang sudah mengizinkan mu masuk?!” tanya Kusumo dengan suara meninggi. Ia lalu menatap sekretarisnya, “Susi panggilkan security, seret pemuda udik ini keluar!” titahnya pada sang sekretaris.


Sekretaris bernama Susi pun menghentikan langkahnya, manakala Wulan sudah berdiri di hadapannya. “Halo sekretaris Susi Prameswari, saya sekretaris Nawang Wulan dari Amanah food yang semula bermerek King food.” tukas Wulan, ia menjabat tangan sekretaris Kusumo yang nampak masih muda.


Setelah menjabat tangan sekretaris Susi, ia lantas menatap Kusumo. “Tuan Kusumo, saya akan memperkenalkan Presdir baru di perusahaan PT King food yang sekarang sudah berganti merek dagang menjadi Amanah food. Adalah beliau, Damar Mangkulangit, apakah sekretaris Anda tidak memberitahu Anda nama Presdir kami?”


Jelas Wulan, seraya menunjuk Damar dengan tangannya yang terbuka dan bertanya kepada Kusumo yang jelas masih terlihat bingung di wajah yang tidak lagi muda.


Kusumo menatap marah kepada sekretarisnya, “Kenapa kamu tidak memberitahu saya, Susi? Apa yang kamu kerjakan?”


Sekretaris Susi pun menunduk takut, “M--maafkan Saya Tuan, sa--saya lupa tidak mencatatnya.” ungkap Susi, ia mengingat dengan jelas sekarang, bahwa setelah selesai bercakap dengan Sekretaris dari perusahaan King food, ia mendapat panggilan telepon dari pacarnya, dan menjadikannya lupa untuk mencatat nama Presdir yang di sebutkan Wulan.


“Bodoh! Dasar tidak berguna!” maki Kusumo, berang.


Reflek sekretaris Susi pun berlutut, dan memohon kepada Kusumo, “Ampunkan saya Tuan Kusumo, tolong jangan pecat saya.”

__ADS_1


“Sudah lah Tuan Kusumo, kenapa Anda gampang sekali marah. Bukankah, Anda menginginkan bertemu dengan saya, Presdir Damar Mangkulangit dari PT Amanah food, lantas kenapa Anda memarahi sekretaris yang sudah bekerja untuk Anda Tuan?!” tukas Damar, lalu dengan santainya menarik kursi dan duduk, seraya tangannya mengambil potongan buah apel yang ada di meja dan memakannya langsung.


“Hemm.... ini enak, kenapa orang kaya selalu saja menghamburkan uang hanya untuk sekedar makan, dan pertemuan,” kata Damar lagi, sembari mengunyah dan menyuapkan lagi pasta spaghetti kedalam mulutnya, ia lantas melihat Kusumo yang sangat-sangat menahan amarahnya, “Kenapa Anda berdiri saja Tuan Kusumo, bukankah Anda memesan semua ini untuk di makan,“ Damar kembali makan tanpa merasa bersalah.


Bahkan, ia meminum jus jeruk yang masih dingin, “Hemm.. ini melegakan dan sangat segar!” sambung Damar masih memakan makanan yang ada di atas meja. Lalu melirik Wulan, dan berkedip seolah itulah kode keras agar Wulan menjalankan tugasnya.


Kusumo melihat Damar dengan sorot mata tajam, lantas menarik kain berwarna keemasan yang menjadi alas meja. Seketika gelas bening dan piring porselen, serta hidangan yang tersaji pecah dan berserakan di lantai.


PRANG...


Damar terkejut, ia lantas berdiri bersitatap dengan Kusumo, dan tersenyum senang.


Bukan hanya Damar, Sekretaris Susi dan seorang staf Kusumo, Bokir dan Wulan pun terperanjat akan sikap arogan Kusumo.


Kusumo mendekati Damar dan mencengkram kuat jas yang di kenakan Damar, “Berani sekali kamu datang kemari, dan mengaku-ngaku sebagai Presdir dari PT King food?!” cecar Kusumo penuh dengan emosi membara.


Damar tersenyum menyeringai, “Memang tidak mudah menjadi orang pintar, tetapi lebih sulit menjadi orang bijak! Silahkan jika Anda mau melukis bekas tamparan Anda di pipi saya Tuan!”


Kusumo tambah mempelototi Damar, seraya mengangkat tangannya ke atas, “Hah! Ternyata pemuda kacung seperti mu sudah semakin berani?!”


“Plak...!” Kusumo benar-benar meninggalkan bekas tamparan keras di wajah Damar. Membuat Damar terhuyung dan memegangi pipinya.


Bokir dan Wulan merasa kasihan melihat Damar, yang terus saja mengorbankan dirinya.


Damar menoleh ke samping, tepat dimana Wulan sedang merekam dengan kamera ponselnya, “Bukti tindak penganiyaan dan kejahatan Anda akan siap beredar di berbagai koran dan lini masa! Karena sekretaris cantik saya sudah membuat video yang siap menggemparkan jagad bisnis sang Tuan mafia tanah!”


Semula tidak ada yang menyadari Wulan sedang merekam, karena tatapan sekretaris Susi dan staf yang datang bersama dengan Kusumo, sedang memperhatikan perdebatan sengit antara Damar dan Kusumo.


Kusumo pun melihat sekretaris Damar yang tengah memegang ponsel, sedang melakukan perekaman. Kusumo membelalakkan matanya yang sudah memerah, rahangnya mengeras, “Sialan!” lalu beralih menatap stafnya, “Andri! Kenapa kamu hanya diam saja, rebut ponselnya!”


Staf Kusumo yang bernama Andri pun berjalan dengan langkah jenjang mendekati Wulan. Namun, kakinya sudah lebih dulu di sandung oleh kaki Bokir, membuat Andri jatuh tersungkur.


“Inilah kegunaan Bokir ikut.” seru Bokir, seraya menahan tangan staf Kusumo kebelakang punggung.


“Lepasin! Atau kalau tidak saya teriak!” seru Andri, mengancam Bokir.

__ADS_1


“Kalau kamu mau teriak, teriak aja,” Bokir mengambil sapu tangan yang ada di dalam saku kemejanya, “Untung saya bawa sapu tangan setiap hari.” seru Bokir, dengan mengacungkan sapu tangan bekas ia mengelap keringat di kepalanya.


Andri pun siap mengambil ancang-ancang untuk berteriak, “Aa....” namun Bokir sudah lebih dulu membungkam mulut Andri dengan sapu tangannya.


“Nikmati ini! Tadi hanya sekali buat ngelap keringat di kepala saya, hahaha..” seru Bokir senang, Andri pun seketika membelalakkan matanya dan mengerang-ngerang.


Sekretaris Susi pun sama, ia yang berdirinya tidak jauh dari keberadaan Wulan. Mengayunkan tangannya, hampir saja meraih ponsel yang sedang di pegang oleh Wulan, dengan mudah Wulan bisa menghindarinya.


Kalau saja Wulan terlambat sedikit saja untuk menyadari pergerakan tangan Susi, sudah di pastikan ponselnya sudah remuk redam di lantai marmer granit restoran.


“Enak ae, Lo! Main ngambil-ngambil punya orang, kebiasaan ngerebut sih...” seru Wulan, bersitatap sengit dengan sektretaris Susi.


Susi tidak mau kalah, ia masih berusaha untuk mengambil ponsel yang ada di tangan Wulan, “Kemariin nggak ponselnya!” titah Susi, mempelototi Wulan.


“Kalau gue kagak mau, Lo mau ape, hah?” jawab Wulan, tidak mau kalah nyolot


Susi melihat garpu yang tergeletak di lantai, dan mengambilnya lantas mengarahkannya ke wajah Wulan. “Saya buat cacat saja wajah kamu!” Susi mengancam dengan gerakan tangan yang di ayunkan, mengarah ke wajah Wulan.


Wulan dengan skill beladiri nya, dengan sekali hentakan kaki yang melayang, garpu yang berada di tangan Susi terhempas ke lantai. Lalu, menarik tangan Susi dan memplintirnya ke belakang punggung Susi.


“Aaaahhhh.....” erang Susi, menahan sakit di tangannya yang di plintir oleh Wulan, dan menjatuhkannya kelantai.


Wulan tersenyum menyeringai, “Hehh.. Sorry itu harus gue lakukan, untuk melindungi diri.”


Kusumo tidak bisa lagi berkutik, melihat dua orang yang datang bersamanya sudah di lumpuhkan oleh kedua orang yang datang bersama dengan Damar. Ia kembali bersitatap sengit dengan Damar, “Dasar bedebah!”


“Us.. us.. us.. Tenanglah Tuan Kusumo, Anda tidak perlu semarah ini. ini hanya sebagian permulaan permainan dari kami.” seloroh Damar dengan santainya kembali duduk di kursi, rasa ambisinya untuk menjatuhkan Kusumo rela melukai dirinya.


Karena Damar percaya, ada madu yang sangat manis di setiap sengatan lebah.


“Sekretaris Wulan yang baik, cantik serta manis, tolong bawakan kemari berkas-berkas penting yang tadi kita bawa.” pinta Damar kepada Wulan.


•••


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2