
“Wa'alaikumussalam...” jawab Bu Suci, bersamaan dengan seorang wanita yang bertamu ke rumah Kakek Bagaskara.
•••
Damar dan Wulan segera mendekati Bu Suci yang tengah berdiri dengan seorang wanita setengah baya berjas putih menandakan seorang tenaga medis.
“Ibu, Ibu apa yang terjadi?” tanya Damar, panik. Memandangi wajah Ibunya yang pucat. Lalu beralih menatap Dokter setengah baya, yang berdiri dengan jarak satu setengah meter dari Ibunya. “Bagaimana dengan kondisi Ibu saya Dok?”
Dokter wanita setengah baya inipun mengulas senyumnya, “Bu Suci mengalami tekanan darah rendah, tapi sekarang ini beliau sudah membaik.”
Damar kembali menatap Ibunya, “Damar sudah bilang sama Ibu, kalau ada apa-apa langsung telpon Damar!”
Bu Suci memegang lengan putranya, “Ibu sudah baikan Nang, seperti yang Dokter Pretty sampaikan.”
Damar beralih menatap Dokter Pretty, ia mendapat anggukan kepala dari Dokter yang secara khusus menangani medis keluarga Wijaya. “Bagaimana dengan kolesterol, serta yang lainnya Dok, apa semua normal?”
“Semua normal,” jawab Dokter Pretty, lalu memberikan secarik kertas resep kepada Damar. “Ini obat yang harus di tebus di apotek, obat ini dapat membantu menetralisir peredaran darah.”
Damar pun menerima secarik kertas, resep obat. “Terima kasih Dokter Pretty.”
Dokter Pretty mengangguk tipis, “Sama-sama,” dan menatap Bu Suci untuk pamit. “Kalau begitu saya permisi dulu, Bu Suci,”
Bu Suci tersenyum, “Terima kasih Dokter,”
Setelah kepergian Damar yang mengantar Dokter Pretty sampai ke depan gerbang.
Bu Suci menatap Wulan, yang sejak tadi hanya mematungkan diri. Berdiri dengan jarak tiga meter darinya. “Wulan, sini Nak,” seru Bu Suci memanggil Wulan.
Wulan mengangguk dan mendekati Bu Suci, lantas menyalami tangan beliau. “Semoga lekas sembuh Bu Suci,”
Bu Suci mengulas senyuman di wajahnya, “Amin, terima kasih,” jawab Bu Suci lembut.
Wulan memandangi wajah Bu Suci dengan tatapan sendu. Lalu melingkarkan tangannya di belakang punggung Bu Suci dan memegangi lengan beliau yang di balut dengan abaya hitam dan hijab instan warna cokelat, lantas membawanya untuk duduk di sofa, “Sebaiknya Bu Suci harus banyak istirahat.”
Bu Suci pun duduk berhadapan dengan calon menantunya, beliau terus saja memandangi Wulan, seraya mengusap lembut pipi wanita yang akan menjadi anak perempuannya.
Mendapat perlakuan lembut dari seorang Ibu yang telah melahirkan pria yang dicintainya, membuat Wulan tersipu malu. Seperti biasa, Wulan menunduk tidak berani menatap netra Bu Suci.
__ADS_1
“Dengarkan Ibu anakku,” kata Bu Suci membuka suara, memecah keheningan. “Banyak orang membicarakan tentang menantu dan mertua yang tidak rukun. Bahkan terkesan menjadi momok yang menakutkan di kalangan masyarakat,” pungkas Bu Suci, tangan beliau mengusap lembut punggung tangan Wulan yang beliau genggam.
Dalamnya Wulan menunduk, ia bingung dengan perkataan wanita setengah baya di hadapannya, kali ini Wulan memberanikan diri untuk menatap Bu Suci. Sama seperti halnya saat ia menatap Damar, ada pancaran ketenangan di sana. Membuat siapapun yang menatapnya akan merasakan kedamaian dari tatapan teduh Bu Suci dan Damar. Namun, Wulan tidak bersuara apa pun. Ia merasa terhanyut dengan tatapan Bu Suci yang berubah menjadi tatapan sendu.
“Tapi Ibu ingin mematahkan anggapan itu, Nak. Hiduplah rukun dengan putra Ibu, jangan rikuh, jangan bimbang... Dan jangan sungkan, kamu tidak perlu hiraukan Ibu yang sudah tua dan tidak berguna ini,” lanjut Bu Suci, dengan kesungguhan hati yang lapang.
Kelopak netranya serasa memanas, mendengar semua yang Bu Suci katakan. Wulan seperti sedang mendapatkan wejangan dari seorang Ibu yang ingin melihat anaknya bahagia, “Bu Suci jangan berkata seperti itu, saya mohon...”
Wulan melihat ada sekumpulan air bening yang mengambang di netra tua Bu Suci, dan perlahan mulai menetes membasahi pipi sayu beliau. Ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut air mata yang membasahi pipi sayu Bu Suci. “....Bagaimana bisa saya mencintai anak Ibu, tapi tidak menerima Ibu yang telah melahirkan putra terbaik Bu Suci,”
Bu Suci menghela nafasnya, beliau tersenyum mendengar jawaban yang diucapkan Wulan.
“Ibu tidak pernah memberikan kebahagiaan yang layak Damar dapatkan dari kecil, Ibu mengharap ia mendapatkan jodoh idaman yang akan membahagiakannya... yang akan menemaninya dalam suka maupun duka,” kata Bu Suci dengan suara parau. Kehidupan putra sulungnya sangat penting untuk menerima kebaikan dan kebahagiaan. Setelah melewati begitu banyak jejak pembelajaran dalam hidup putranya. Beliau juga mengharap, kedua putranya bersanding dengan wanita-wanita yang penuh dengan welas asih.
Wulan terdiam, ia tersentuh dengan pernyataan yang di ucapkan Bu Suci. Rasa haru menyelimuti palung jiwanya, relung hatinya.
“Maukah kamu menemani hidup putra Ibu Nak, anggaplah ini permintaan seorang Ibu,” kata Bu Suci, bersitatap dengan Wulan.
Wulan tidak dapat menjawabnya dengan suara, ia hanya mengangguk tipis, sebagai jawaban kesediaannya dengan ikhlas menerima permintaan seorang Ibu. Bukan hanya sekedar permintaan, Wulan pun merasa mencintai Damar adalah sebuah keharusan.
“Ibu mohon jangan anggap permintaan Ibu ini sebagai beban, Nak.” lagi Bu Suci menatap Wulan, memastikan bahwa permintaannya tidak akan menjadi beban untuk seorang wanita yang akan menemani putranya di kemudian hari.
Bu Suci haru dengan jawaban Wulan. Beliau lantas memeluknya, dan mengusap lembut punggung Wulan. “Ibu merestui hubungan kalian, Nak.” kata Bu Suci, seraya mengurai pelukannya.
Wulan memegang kedua tangan Bu Suci, tangan kanannya terangkat mengusap lembut jejak air mata yang masih tertinggal di pipi sayu Bu Suci, “Bu Suci, tiada kata indah yang dapat mewakili rasa terimakasih saya, karena Ibu sudah dengan berbesar hati mau menerima saya yang tidak sempurna ini,”
Bu Suci melukis senyuman di wajahnya, hatinya merasa lega. Bahwasannya, kini telah hadir seorang wanita yang penuh perhatian yang akan segera menjadi pelengkap hidup putra sulungnya.
Damar yang sudah kembali dari mengantar Dokter Pretty, ia berdiri di ambang pintu lebar utama masuk rumah, tatapannya nanar melihat kedua wanita yang ia cintai begitu mengharukan yang ia rasakan. Damar tidak menyangka, di balik sikap Wulan yang kadang acuh tak acuh, Wulan adalah seorang wanita yang lembut untuk menghadapi Ibunya. Damar menghela nafas panjang, lalu berjalan mendekati Bu Suci dan Wulan.
Wulan menyadari Damar yang sedang berjalan mendekati sofa, tepat dimana ia dan Bu Suci duduk. Wulan segera menghapus jejak air mata yang ada di pipinya.
“Ehem... obrolan apa yang membuat kedua wanita calon penghuni surga ini terharu? Apa sedang membicarakan tentang produk yang di jual murah di toko online?” kata Damar, mengalihkan obrolan yang jauh dari pembahasan yang ia dengarkan, dan mendudukkan dirinya di sebelah kanan Ibunya.
Bu Suci dan Wulan saling tatap, keduanya lantas tersenyum dan tidak segan untuk tertawa kecil.
Tiba-tiba seruan Danum yang datang dari arah dalam rumah, ikut menambah riuhnya obrolan. “Ihiiuu... Yo calon mantu... sekaligus calon Mbak iparku...”
__ADS_1
Bu Suci, Damar dan Wulan pun menatap Danum yang datang dari ruang tengah dengan mendorong kursi roda Nenek Ayudia mendekati sofa.
Melihat Nenek Ayudia, seperti biasa Wulan langsung menghampiri dan berlutut dihadapannya lalu menyalami tangan renta Nenek Ayudia dan membawanya di antara kedua alisnya.
Nenek Ayudia mengusap lembut rikma Wulan. Beliau. melukis senyuman di wajahnya, dan semakin memperjelas guratan keriput di sana. “Kamu masih kurang untuk menyambutnya Danum!” kata Nenek Ayudia menatap Wulan, lalu beralih menatap Danum.
Danum pun duduk tidak jauh dari Kakaknya, “Maksud Nenek?”
“Wulan juga calon cucuku...” seru Nenek Ayudia dengan suara bergetar karena faktor usia. Beliau lantas memegang dagu Wulan, dan berujar, “Karena cucu Nenek cuma dua, jadi kamu harus melahirkan sembilan cicit untuk Nenek dan Kakek.. Wulan!”
“Alamak!” seru Wulan, membulatkan matanya, reflek menutup mulutnya mendengar penuturan Nenek Ayudia. ‘Sembilan cicit, itu sama dengan sembilan kepala?’
Damar pun mendekati Nenek Ayudia dan berlutut di samping kursi roda Neneknya, “Nenek, jangan menakut-nakuti Wulan, nanti kalau dia sampai menangis tersedu-sedu bakal repot Nek, seluruh dunia akan terguncang hebat dengan suara tangisnya yang terdengar seperti raungan naga!”
Wulan mendengus kesal menatap Damar dingin.
Danum, Nenek Ayudia dan Damar pun terkekeh kecil, “Hahaha...”
“Nenek hanya bergurau cucuku!” kata Nenek Ayudia, menatap Wulan yang sedang manyun.
Bu Suci menghela nafas mendengar candaan anaknya yang tidak berfaedah, beliau pun beranjak dari duduknya lantas mendekati Damar dan menjewer telinga putra sulungnya, seraya memberi peringatan, “Kalau sampai kamu membuat Wulan menangis, bukan hanya Ibu jewer telingamu, bahkan Ibu akan mengiris, lalu memasaknya untuk dijadikan lumping telinga!”
“Adu--duh Ibu, sakit!” celetuk Damar. mengusap telinganya yang mendapat jeweran dari tangan Ibunya.
Kini giliran Wulan yang terkekeh geli, melihat ekspresi wajah Damar yang ditekuk. “Hehehe...”
“Wah, Ibu sekarang sadis oey!” seru Danum.
Bu Suci beralih menatap putra bungsunya, “Ini juga untuk memperingatimu Le! Jangan pernah sakiti hati wanita manapun, kalau sampai kamu menyakiti perasaan wanita, itu sama saja kamu menyakiti hati Ibu.”
“Iya, Bu Suciati, Danum Mahesa mengerti!” balas Danum.
“Wulan, Nduk... secepatnya Ibu akan menemui Ayahmu,” kata Bu Suci, mengusap lembut pipi Wulan.
Wulan menganggukkan kepalanya.
Damar menatap Wulan, dengan memilin bibirnya; Kamu sangat manis jika sedang tersenyum, Wulan.'
__ADS_1
•••
Bersambung...