Presdir Cilok

Presdir Cilok
46 Bahagialah orang yang membuat orang lain bahagia


__ADS_3

Bu Suci menatap perabotan rumah dan berkata tanpa menatap kedua putranya, “Maafkan Ibu, Ibu tidak bermaksud menyembunyikannya dari kalian.”


Sejumput garam kembali menaburi luka. Luka tak berdarah tapi bernanah. Pedih perih mencekam menusuki. Tangis perih tersimpan dalam hati. ‘Gusli, kuatkan aku di saat seperti ini. Semoga setelah ini aku dapat menebus rasa bersalah ku, dan dapat bertemu dengan mu lagi,'


•••


Kedua putranya mendengarkan dengan seksama, Damar melihat guratan kesedihan yang mendalam dari raut wajah Ibunya.


Bu Suci mengalihkan tatapannya menatap kedua putranya secara bergantian. Ada yang mengambang di kedua matanya, dan perlahan membendung tak tertahankan laksana air yang tumpah dari langit, “Bapak kalian adalah pria yang memiliki sejuta bakat. Ia sangat di banggakan untuk menjadi penerus keluarga Wijaya. Tapi Ibu sudah menghancurkan harapan Kakekmu....”


Bu Suci berhenti bicara dan mengusap air mata yang membasahi pipi keriputnya. “Saat itu Ibu berpikir untuk meninggalkan Bapak kalian. Akan tetapi, Bapak kalian mengancam untuk mengakhiri hidupnya jika Ibu meninggalkannya. Ibu dan Bapakmu menikah tanpa persetujuan orangtua. Kami memilih hidup menjauh dari keluarga Wijaya,”


Bu Suci mengusap air matanya yang kian luruh, “Ibu menyadari akan ketidaksetujuan Kakek dan Nenek kalian saat itu. Karena Ibu adalah seorang yatim piatu, dan bekerja sebagai pelayan di tempat hiburan malam. Dan selama ini Ibu merasa bersalah sudah menjauhkan Bapak kalian dari Kakek dan Nenek kalian.”


Bu Suci kembali mengingat kenangan lama, saat ia harus bekerja di Club malam sebagai waiters untuk memenuhi kehidupannya yang sebatang kara. Karena beliau adalah seorang yatim piatu, dan harus hidup mandiri.


Bu Suci menghela nafas sesak, menyeruak tak terelak. Hatinya serasa kelu pikirannya berselimut kelabu.


Damar beranjak dan menarik kursi di sebelah Ibunya, lantas duduk dan menggenggam tangan Bu Suci yang semakin layu dan renta. “Jangan lagi mengungkit masa-masa lalu itu Bu, jika itu memang menyedihkan dan berat untuk di ingat.”


‘Kini tujuanku bukan hanya berjuang untuk mengokohkan perusahaan terpuruk itu. Aku akan menjadi perantara untuk Ibu bisa mendapatkan haknya sebagai menantu dari keluarga Wijaya. Aku akan membahagiakan Ibu dengan cara apa pun. Damar janji Bu, Pak.' janji Damar dalam hati.


Bahagialah orang yang membuat orang lain bahagia, karena mereka pun akan bahagia.


Menatap Ibunya dan dengan hati-hati mengajukan pertanyaan, “Bu, seandainya Damar mengajak Danum untuk bertemu dengan Nenek, apa Ibu mengizinkan kami?”


Bu Suci sejenak diam, beliau merasa tidak baik menjauhkan Kakek Neneknya dari cucu-cucunya. Beliau lantas mengangguk, “Ibu tidak bisa melarang mu dan Danum untuk bertemu dengan Nenek dan Kakek kalian. Sudah saatnya kalian dekat dengan mereka. Maafkan Ibu karena selama ini menyembunyikan identitas Bapak kalian.”


Damar dan Danum tersenyum senang, “Terimakasih atas bijaksananya Ibu,” kata Damar.


“Apa Ibu nggak dendam atau benci sama Kakek dan Nenek?” tanya Danum.


Bu Suci menggeleng, “Sudah sepatutnya orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitupun juga nanti Ibu pada kalian, Ibu ingin kalian menemukan pendamping hidup yang setia dan penyayang.”

__ADS_1


“Amin.” seru Damar dan Danum bersamaan.


Samar-samar Damar melihat bayangan Wulan, di dinding dapur, ia segera menangkisnya bak pemain bulu tangkis. Damar mengalihkan pembicaraan, “Mulai besok, tidak perlu lagi memproduksi cilok dirumah Bu,” kata Damar, ia kembali duduk dengan posisi bersandar pada sandaran kursi.


Danum mengangkat alisnya “Kenapa Mas?”


Damar menuangkan teh hangat dari teko gerabah kedalam cawan lantas meneguknya. “Karena mulai besok, akan di produksi di pabrik.” kata Damar seraya menaruh cawan di meja kayu. “Mas mau kamu fokus pada pelajaran dan fokus meraih cita-cita mu, juga Ibu jangan lagi terlalu capek,” sambungnya.


Danum memiringkan kepalanya lantas bertanya, “Terus Mbok Mur sama yang lainnya? Yang ikut berjualan cilok gimana Mas?”


“Mereka masih bisa berjualan, dan bahkan bisa bekerja di pabrik pengolahan.” jawab Damar.


“Memang apa jabatan Mas di perusahaan yang bangkrut itu?” tanya Danum, isi di dalam kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan untuk Kakaknya, sudah seperti wartawan tidak akan pernah ada habisnya untuk di pertanyakan.


Damar tidak menjawab pertanyaan adiknya, ia beranjak dan hanya mengangkat bahunya. Lalu pergi begitu saja menuju ruang tengah untuk melihat lagi berkas dari kantor yang ia bawa.


Danum menggeleng dan menatap Bu Suci, “Leh, piye Bu iku si Mas Damar? (gimana Bu itu si Mas Damar?)”


••


Malam semakin larut angin semilir sepoi menyusupkan kesejukan masuk lewat jendela kamar yang tersingkap separuh melambaikan tirai berwarna putih. Dengan cahaya lampu tidur warna kuning yang membelah diantara celah hiasan kayu rotan berbentuk bola-bola.


Seorang wanita tengah berdiri di balik jendela kamarnya, memandangi wajah bulan yang bulat sempurna. Dengan bias bintang yang menghiasi langit malam. Ia sedang memikirkan sesuatu tentang pekerjaan barunya, akankah ia ikhlas menerimanya dengan hati lapang? Meninggalkan semua yang pernah ia pelajari selama berlatih untuk menjadi residivis Intel.


“Ayah, kenapa Ayah tidak memberitahu Wulan kalau Kakek Bagaskara akan menempatkan ku menjadi sekretaris cucunya?” ucapnya di sambungan telepon seluler, dengan tangan kiri menaruh ponsel di dekat telinga. Sementara tangan kanannya terangkat dan menyelipkan rikma cokelat kehitaman yang tertiup angin kebelakang telinganya.


“Wulan, Ayah rasa itu baik Nak, sampai kapan kamu akan bekerja menjadi Intel. Kamu harus memikirkan masa depanmu? Apa kamu tidak ingin menikah dan memiliki keluarga? Cobalah pikirkan ucapan Ayah, usia Ayah bukanlah Dewa keabadian. Ayah sudah semakin tua, Ayah pun ingin menggendong cucu Ayah,” rentetan perkataan seorang lelaki yang memanggil dirinya Ayah, dari seberang sambungan telepon.


Sekian menit terpejam dan menghela nafasnya perlahan, “Tapi Ayah Wicaksono, Wulan masih ingin mengejar cita-cita Wulan! Lagi pula, Ayah kan sudah punya cucu dua dari Kak Morgan,”


“Wulan, dengarkan Ayah baik-baik. Kamu tidak akan menyesal Jikalau menurut ucapan Ayah. Pikirkan lagi.” jawab sang Ayah, lantas mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Wulan mendengus kesal. “Ayah ini kebiasaan, selalu saja memutuskan sambungan telepon!”

__ADS_1


Ia pun menutup jendelanya dan berjalan menuju tempat tidur, menaruh ponsel di atas nakas samping tempat tidur. Berbaring di atas ranjang dengan ukuran tidak terlalu lebar.


Mengedarkan pandangannya menatap langit-langit kamar di rumah kecil bergaya minimalis yang ia tinggali hampir satu tahun lamanya. Rumah yang sengaja Kakek Bagaskara siapkan untuk Wulan dalam misi visinya dalam masa pengintaiannya terhadap Damar, “Hahhh...” menghela nafas yang serasa berat.


Lalu kembali beranjak dan menarik laci nakas dan mengambil kotak kecil lantas membukanya mengambil kalung liontin. “Kapan gue bisa ketemu sama Lo, gue jadi Intel pun pengen banget cari keberadaan Lo yang seakan hilang di telan bumi, teman masa kecil gue. Gue berhutang nyawa sama Lo. Seandainya Lo nggak nolong gue 17 tahun lalu, gue pasti nggak akan hidup sampai detik ini.”


Rasa kantuk semakin mendera, Wulan kembali berbaring miring. Menarik bantal dan bantal guling, lalu mendekapnya erat, berdoa untuk mengantarnya ke alam mimpi. Matanya mulai terpejam, namun sedetik kemudian bayangan dan ucapan Damar yang memelas seolah mengejeknya.


Wulan pun kembali duduk dan mengacak-acak rikma sebahunya dengan brutal. “Hah... Dasar rese.. kenapa gue harus kasihan sama dia! Biar dia urus sendiri perusahaan bangkrut itu!”


Gerutunya tidak bisa tertidur karena disebabkan memikirkan Damar, ia merasa kasihan jika harus meninggalkan pria itu untuk mengelola perusahaan makanan yang bangkrut.


••


Diruang tengah rumahnya, Damar pun sama tidak bisa tidur disebabkan memikirkan dokumen yang baru ia pelajari, ia begadang, “Seperti inikah kalau orang bekerja di perusahaan?” gumamnya pada dirinya sendiri.


Dengan penerangan di ruang tengah, duduk di kursi usang dan meja kayu yang menjadi tumpuan kertas-kertas yang berserakan. Damar beralih posisi duduk, tiduran di sofa lalu kembali duduk. Semua itu ia lakukan berulang-ulang untuk mencari kenyamanan dalam memahami kesalahan dan masalah perusahaan.


Sampai tidak sadar ia tertidur di sofa dengan bersandar pada sandaran sofa.


Bu Suci terbangun di jam setengah dua dini hari, beliau mendapati putra sulungnya tengah tertidur sambil memegangi berkas yang masih berada di tangan Damar dan di sofa serta di meja. “Sebenarnya tugas apa yang diberikan Kakeknya. Kenapa beliau tiba-tiba muncul dan memberikan pekerjaan untuk cucunya?” lirih Bu Suci menerka-nerka, serta melihat kegigihan anaknya.


Meskipun sampai detik ini Bu Suci tidak di terima menjadi menantu di keluarga Almarhum suaminya, namun beliau tidak menaruh sedikit pun kebencian pada mertuanya itu. Justru ia ingin menebus dosa dan kesalahannya karena sudah menjauhkan anak dari kedua orangtuanya.


Karena beliau percaya hidup ini indah jika bisa mengindahkannya. Juga akan buruk jika membuatnya buruk.


‘Maafkan Suci, Ayah-- Ibu. Semoga dengan perantara Damar dan Danum bisa terjalin silahturahmi yang baik.' benak Bu Suci. Beliau pun menuju dapur dan membiarkan Damar untuk tertidur dengan posisi bersandar pada sandaran sofa, beliau tidak tega jika harus membangunkannya.


Berwudhu, lantas menjalankan sholat malam.


•••


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2