Presdir Cilok

Presdir Cilok
80 Masa lalu adalah pembelajaran masa depan


__ADS_3

(Mari sambut baik kedatangan tahun 2022 semoga harapan dan doa yang sempat tertunda di tahun 2021, dapat terkabul dan terwujud di tahun 2022. amin)


HAPPY NEW YEAR 🎇


•


â™ 


•


“Ibu!” gumam Bu Suci, lalu berjalan dengan langkah yang di seret mendekati Ibu mertuanya.


“Benarkah itu Nenek Ayudia Sriningsih? Mas,” bisik Danum, mendekati Kakaknya.


•••


Damar mengangguk, masih dengan sorot mata yang memperhatikan Ibunya yang mendekati Nenek Ayudia.


Bu Suci menatap Ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca, dua puluh enam tahun sudah. Terakhir kalinya, beliau melihat seorang Ibu yang telah melahirkan suaminya. Bu Suci merasakan kakinya lemas, beliau lantas membungkuk dan berlutut di hadapan Nenek Ayudia yang menatapnya pula dengan senyuman merekah.


Bu Suci perlahan menyalami tangan Nenek Ayudia, bendungan air mata tak dapat ditahan, menetes menjadi air mata haru penuh dengan rasa syukur. “Ibu...” Bu Suci bersimpuh di kaki Nenek Ayudia, “Maafkan Suci Bu... maafkan Suci, maafkan Gusli... maafkan kami yang sudah durhaka.. ma--afkan kami yang tidak berbakti...”


“Bangunlah Suci,” Nenek Ayudia lantas merengkuh tubuh menantunya, ingatannya perlahan kembali, menatap menantunya dengan tatapan sendu, eluhnya membasahi kelopak netra tuanya. Kedua tangan Nenek Ayudia memeluk menantunya yang sudah sekian lamanya berpisah.


“Semua ini terjadi karena keegoisan kami, yang telah menyalahkan takdir. Bahwa memang, kalian ditakdirkan untuk bersama,” lanjut Nenek Ayudia, memegang kedua lengan menantunya, dengan tatapan teduh serta mata yang berkaca-kaca.


Bu Suci menggeleng, “Semua ini kesalahan Suci dan Gusli, Bu. Kami yang tidak bersikap hormat kepada Ibu dan Ayah,”


Nenek Ayudia menggeleng, “Semua itu sudah cukup lama Suci, semoga Gusli tenang berada di sisi-Nya.”


Bu Suci mengangguk, “Amin..”


Semua orang yang masih berada di depan rumah bergaya Joglo modern ini pun diselimuti kabut keharuan. Termasuk para pelayan, Damar, Wulan dan Danum, remaja ini sampai tak kuasa menahan air matanya.


Nenek Ayudia mengedarkan pandangannya menatap kedua cucunya.


Damar merangkul pundak adiknya, membawanya untuk mendekati Nenek Ayudia.


Danum berlutut dihadapannya Nenek Ayudia, lalu menyalami jemari keriput Neneknya, “Nenek!”


Kedua tangan Nenek Ayudia beralih memegang kedua pipi Danum, “Cucuku...” lalu merengkuh Danum, menangis tersedu-sedu melihat wajah Danum dan Damar mengingatkan kembali ingatan tentang putranya yang telah tiada.


Kakek Bagaskara pun keluar dari arah dalam rumah, berdiri di belakang Istrinya, “Sudahlah Nini, biarkan Damar dan Danum masuk terlebih dulu,” ujar Kakek Bagaskara lalu beralih menatap menantunya yang tengah menundukkan kepalanya, “Dan juga menantu kita, biarkan mereka masuk kedalam rumah..” lanjut Kakek Bagaskara.


Bu Suci seketika mengangkat wajahnya, menatap Ayah mertuanya.


Damar dan Danum mendekati Kakek Bagaskara, dan menyalami tangan beliau, kedua tangan Kakek Bagaskara beralih memegang pundak kedua cucunya, “Kakek sangat bersyukur, akhirnya dapat terlepas dari belenggu ini, dan bertemu dengan kalian.”


Kakek Bagaskara merangkul cucu keduanya, “Danum,” mengusap punggung Danum.


“Ka--kakek...” suara Danum terbata, ia merasa ini masih mimpi dapat bertemu dengan Kakeknya, yang selama ini pun tidak pernah terpikirkan olehnya ia masih memiliki Kakek dan Nenek.


Kakek Bagaskara mengurai pelukannya


Damar memberikan tongkat kayu dengan ukiran Jepara kepada Kakek Bagaskara yang sempat tertinggal di pemakaman.


Kakek Bagaskara melihat tongkatnya, dan tersenyum simpul, lalu menerima tongkatnya yang beliau tinggalkan saat di pemakaman putranya, “Terimakasih..”

__ADS_1


Damar mengangguk dan tersenyum


“Masuklah, ini rumah kalian,” kata Kakek Bagaskara, kepada Damar dan Danum, lalu tatapannya menatap menantunya, “Suci!” serunya memanggil menantunya yang masih mematungkan diri.


Damar berjalan mendekati Ibunya, dan mengangguk pelan, “Ayo Bu,” lalu menyelipkan tangannya di lengan Bu Suci dan menuntunnya untuk mendekati Kakek Bagaskara.


Bu Suci masih menunduk di hadapan Ayah mertuanya


“Apa kamu tidak ingin menyalami tangan Ayahmu, Suci?!” seru Kakek Bagaskara, lalu tersenyum lembut. Melukiskan gurata keriput yang semakin terlihat jelas di wajahnya. Beliau mengulurkan tangannya.


Bu Suci mengangkat wajahnya, bersitatap dengan Kakek Bagaskara dan melihat tangan renta yang terulur di hadapannya, air mata kembali tumpah dengan derasnya laksana air sungai yang sudah lama terbendung. Bu Suci lantas menyalami tangan Ayah mertuanya, seraya membungkuk, “A--ayah...” ucapnya lalu menaruh tangan Kakek Bagaskara di antara kedua alisnya.


Tangan kiri Kakek Bagaskara terangkat dan mengusap lembut kepala menantunya, “Sudikah kamu memaafkan kesalahan Ayahmu ini, Nak?”


Bu Suci menggeleng, “A--ayah... ini bukan kesalahan Ayah, saya dan Gusli yang tidak menghargai keputusan, Ayah.”


Kakek Bagaskara tersenyum lembut, “Alasan burung-burung bisa terbang dan Ayah tidak, adalah karena mereka memiliki keyakinan sempurna, memiliki keyakinan berarti memiliki sayap. Sedangkan Ayah, masih saja terbelenggu oleh ketamakan akan harta, sehingga tidak melihat bahwa takdir sudah memilih kamu dan Gusli yang memang ditakdirkan untuk bersama.”


Bu Suci tertegun mendengar jawaban Ayah mertuanya, beliau lantas bersimpuh di kakinya. “Maafkan saya, Ayah.”


Kakek Bagaskara memegang kedua lengan menantunya, “Bangunlah anakku, semua yang terjadi di masa lalu adalah pelajaran untuk masa depan,”


“Terimakasih Ayah,” balas Bu Suci.


Kini, dengan hati yang lapang serta hati yang penyayang, mampu meruntuhkan dinding keangkuhan dan keegoisan.


Danum mendorong kursi roda Nenek Ayudia, masuk kedalam rumah, sedang Bu Suci berjalan di belakangnya, dan Kakek Bagaskara merangkul pundak Damar.


Ketika Wulan hendak pergi, dari sana, Damar menyambar tangan Wulan untuk ikut masuk kedalam rumah dan berkumpul dengan keluarga besarnya.


•


Kakek Bagaskara mengangguk, “Baiklah, Kakek mengerti, kamu sangat sibuk,” Kakek Bagaskara pun ikut berdiri, “Kakek pun ada pertemuan dengan para pemegang saham,”


Damar beranjak menyalami tangan Ibunya, “Bu, Damar kerja dulu, jaga kesehatan Ibu,”


Bu Suci mengangguk dan tersenyum, “Hati-hati Nang, keberhasilan mu adalah buah dari kerja keras mu,”


“Amin.” jawab Damar.


Damar pun menyalami tangan Kakek dan Neneknya, di ikuti oleh Wulan. “Wulan, berangkat Bu Suci,”


“Hati-hati Nak,” jawab Bu Suci.


Wulan mengangguk, lalu berjalan beriringan dengan Damar menuju luar rumah,


Sebelum memasuki mobil, Kakek Bagaskara mengajak Damar berbicara, “Hati-hati dengan Kusumo Damar,” kata Kakek Bagaskara memperingati cucunya.


“Terimakasih, Kek.” jawab Damar.


Kakek Bagaskara pun masuk kedalam mobil Mercedes Benz dengan supir yang sudah standby di kemudi mobil. Perlahan mobil Kakek Bagaskara meninggalkan pelataran rumahnya.


Damar membukakan pintu mobil untuk Wulan, “Masuklah, wajahmu terlihat sangat kelelahan,”


Wulan pun masuk kedalam mobil dengan pintu yang dibukakan oleh Damar. Lalu Damar memutari mobil dan masuk kedalam jok kemudi. Perlahan mobil melaju dengan kecepatan rendah.


•

__ADS_1


Setelah sampai di kantor, Damar langsung menuju ruangannya. Ia lantas mengecek semua dokumen penting, yang terdapat di meja kerjanya, sampai tidak menyadari pergerakan jarum jam begitu jam berlalu. Azan dhuhur pun berkumandang, “Alhamdulilah, sudah azan.”


Damar pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, lalu menjalankan ibadah wajib sebagai umat muslim. Sepuluh menit pun berlalu, ia duduk kembali di kursi meja kerjanya untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.


Pintu ruangannya pun terketuk...


“Masuk!” seri Damar, masih tidak mengalihkan tatapannya dari layar monitor laptopnya.


Pak Bambang masuk kedalam ruangan Damar, “Selamat siang Mas Damar,”


Damar berdiri menyadari suara Pak Bambang, “Siang Pak Bambang, mari duduk,”


Pak Bambang pun duduk di kursi depan meja kerja Damar, dan menunjukkan berkas di hadapan Damar. “Ini dokumen penjualan Mas Damar, beserta rangkuman keuangan bulan ini,”


Damar manggut-manggut, lalu mengambil berkas yang diberikan Pak Bambang, dan membacanya. Bersamaan mendengarkan penjelasan Pak Bambang.


“Awal bulan yang bagus Mas Damar, perusahaan ini sudah berkembang pesat, pendapatan Amanah food sudah hampir mencapai dua milyar secara keseluruhan!” kata Pak Bambang penuh dengan semangat.


Damar terkejut, ia kembali menatap Pak Bambang dan tersenyum sumringah, “Semoga kedepannya bisa maju dan berjaya Pak Bambang,”


“Amin, kalau begitu saya permisi, Mas Damar.” kata Pak Bambang sembari berdiri.


Damar mengangguk dan ikut berdiri, “Silahkan, terimakasih Pak Bambang,”


Pak Bambang pun meninggalkan ruangan Damar, ia kembali melihat berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya. Setelah cukup lama duduk, dan berkutat dengan semua berkas serta layar laptopnya, dan di rasa punggungnya pegal, ia lantas berdiri dan merenggangkan otot punggungnya, lantas berjalan kearah jendela dengan kaca lebar.


Bersamaan ia menjatuhkan pandangannya dengan sebuah truk kontainer yang membawa pasokan bahan. Damar nampak sangat mengamati orang yang keluar dari jok kemudi truk lantas melihat karyawan yang akan melakukan pengecekan terhadap pasokan barang yang masuk ke dalam area produksi.


Damar nampak curiga, ia bergegas keluar dari ruangannya dan berjalan ke arah lift bersamaan dengan Purnomo team dari marketing pemasaran. “Kenapa Anda terburu-buru, Mas Damar?”


Damar tidak menjawab pertanyaan Purnomo, ia lantas menyuruh Purnomo untuk menekan tombol angka 1, “Cepat, Mas Pur. Pencet nomer 1.”


Dengan sigap dan bertanya Purnomo segera menekan tombol 1. Tak perlu menunggu waktu lama, Damar dan Purnomo sampai di lantai dasar kantor. Damar segera berlari keluar dari lift, dan menuju area pabrik produksi di belakang gedung kantor.


Purnomo yang merasa ada kejanggalan, dari Damar pun mengikutinya, dan menuju ke area pabrik lebih tepatnya menuju truk kontainer bermuatan bahan-bahan mentah seperti tepung gandum, dan bahan pasokan lainnya.


Damar menghentikan orang-orang yang sedang beraktivitas mengangkat karung tepung, “Tunggu!”


Semua orang yang sedang berada di sekitaran area bongkar muat barang pun menatap kearah Damar, bingung.


“Ada apa, Anda kemari Mas Damar?” tanya supervisor yang khusus menangani bongkar muat barang, bernama Nugroho.


Damar menatap supervisor yang bertubuh tegap dengan kumis lebat, “Buka karungnya! Pak Nugroho,”


Nugroho terkejut dengan apa yang di minta Damar, “Apa Anda tidak percaya dengan apa yang sudah dalam pengecekan saya, Mas Damar?”


Damar menatap Nugroho dan beralih menatap karung-karung logistik pasokan bahan untuk produksi cilok dan panganan lainnya.


“Ada apa ini, Mas Damar, Pak Nugroho?” tanya Pak Bambang, yang sudah berdiri tidak jauh dari Damar.


Damar lantas mendekati karung-karung tepung berukuran 50 kilogram yang masih berada di dalam truk kontainer dan mengambil gancu secara paksa dari tangan para pekerja dan menyobek karung berwarna putih. Damar membelalakkan matanya, dan feeling-nya tidak pernah salah, jika pikiran dan hatinya sudah beranggapan ada sesuatu yang ganjil.


Tepung gandum berwarna kecokelatan, ia meraup dan menggenggamnya untuk di tunjukkan kepada supervisor.


“Apa ini Pak Nugroho? Begini Anda melakukan pengecekan?!” tanya Damar dengan suara menahan amarah.


•••

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2