Presdir Cilok

Presdir Cilok
135 Season 2; Kehidupan butuh pengorbanan yang luar biasa.


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang menekan waktu dua jam lebih, kini rombongan keluarga Damar sampai juga di destinasi wisata Candi Ratu Boko. Wisata sejarah ini mungkin tak asing di telinga masyarakat. Candi ini juga pernah dijadikan sebagai salah satu tempat shooting film Ada Apa dengan Cinta 2. Terletak di Kecamatan Bokoharjo, Sleman, candi ini mempunyai luas mencapai 16 hektare.


Ratu Boko berjarak sekitar 17 kilometer di sebelah timur kota Jogja dan bisa diakses lewat jalan raya Yogyakarta-Solo. Ratu Boko didirikan di masa pemerintahan Rakai Panangkaran, berada di ketingian 196 mdpl.


Selain melihat kompleks candi yang bersejarah, wisatawan juga dapat melihat panorama yang cantik, terlebih ketika senja tiba.


“Bu, Damar sama Wulan mau lihat-lihat ke sana,” ujar Damar kepada Ibunya seraya menunjuk susunan reruntuhan batu candi.


“Jangan jauh-jauh, Nang. Jangan sampai Wulan kecapean!” jawab Bu Suci.


“Iya, Bu.” balas Damar, lalu menggandeng tangan Wulan untuk menikmati panorama yang di suguhkan di tempat wisata ini.


“Jaga cicit Nenek, Wulan.” Nenek Ayudia berseru, tak pernah bosan-bosannya beliau dalam meningkatkan kesadaran kedua cucunya dalam menjaga calon penerus dari keluarga Wijaya.


Wulan menoleh, dan mengangguk. “Pasti, Nek.”


“Nini, jangan terlalu mengekang kebebasan Wulan sama Damar, Aki yakin mereka bisa menjaga kesehatan cicit, ku.” pungkas Kakek Bagaskara ikut bersuara.


“Cicitku juga Aki!” sungut Nenek Ayudia.


Danum menggeplak jidatnya sendiri, "Wes- wes ribut-ribut!” dan berdiri di tengah-tengah Nenek serta Kakeknya, “Tunggu kalau Danum menikah, Nenek sama Kakek bakal punya banyak cicit, yang gemes-gemes, comel-comel... dan lucu-lucu banget!”


“Hahaha...” kekeh Bu Suci. Selalu saja, ada perdebatan kecil di antara kedua orang tua almarhum suaminya, dan putra bungsunya lah yang selalu menjadi penengah. Karena Danum memang suka ikut terlibat dalam kerusuhan yang di buat Nenek Ayudia dan Kakek Bagaskara.


Damar dan Wulan geleng-geleng kepala dibuatnya, lantas berjalan menjauhi Nenek Ayudia, Kakek Bagaskara, Danum dan juga Bu Suci.


“Biarlah perdebatan itu semakin hebat!” bisik Damar di telinga Wulan.


Bisikan Damar membuat telinganya berasa geli, Wulan mengangguk. “He,eh... Ayok!”


Setiap langkah, setiap harinya Damar selalu mensyukuri nikmat yang sedang di jalani. Bersama dengan seorang wanita bernama Nawang Wulan. Ia lantas menghentikan langkahnya, menghadap dan menggenggam kedua tangan Wulan, satu tangannya ia lepaskan guna membenarkan anak rambut yang sebagian menutupi telinga istrinya.


“Sejak awal kumemulai mengenal dunia. Sejak itu juga kumemulai memahami arti hidup. Banyak kisah telah aku lewati. Demi mengejar impian. Semua kisah itu tak dapat ku lupakan dari memoriku. Tentang perjuangan kehidupan untuk meraih impianku, walau banyak rintangan yang harus di hadapi. Namun, bukan itu yang membuatku harus menyerah. Karena kehidupan ini butuh pengorbanan yang luar biasa. Maka itu tak ada kata menyerah sebelum mencapai impian yang penuh harapan.” Tutur Damar, lalu membawa Wulan untuk duduk di atas bebatuan bongkahan batu.


Damar mencoba mengingat kembali kepingan-kepingan ingatan yang masih tersisa tentang perjuangan hidupnya dahulu sebelum kecelakaan yang membuatnya kehilangan sebagian besar ingatannya. Netranya beralih menatap lurus kearah susunan bebatuan candi.


“Hidup ini bagaikan secangkir kopi Kang Cimar...” sejenak menghentikan kalimatnya, mengusap rahang suaminya, “jika kita nggak bisa menikmatinya yang dirasa hanyalah paitnya aja,” Wulan duduk berhadapan dengan sang suami, ia menatap Damar dengan pandangan seksama, ada rasa haru, bahagia berbaur menjadi satu. Bisa bersanding bersama dengan pria yang sudah lima bulan lalu mengikrarkan ijab kabul.


“Kamu benar, Nawulku.” sahut Damar, dengan senyuman mengembang.


Wulan sangat bersyukur, suaminya ini tidak melupakan akan hal tentang diri seorang Nawang Wulan. Ia kembali mengingat tentang penjelasan Dr. Adams yang menyatakan bahwa Damar kehilangan ingatannya terutama di masa lalunya, dan hanya menyisakan ingatan satu tahun belakangan ini. Bahkan, Damar tidak mengingat siapa itu Opik, siapa itu Ratna apalagi Kusumo. Yang di ingat Damar hanyalah keluarganya.


Namun, lambat laun dengan kemoterapi yang di jalani Damar, sudah mulai menunjukkan tanda-tanda memori itu kembali. Wulan bersyukur, hilangnya ingatan Damar tidak menjadi parasit yang berkepanjangan.

__ADS_1


“Aku mencintaimu,” cetus Wulan, entah mengapa hanya kata itu yang dapat ia utarakan. Seolah pertanda bahwasannya rasa cintanya semakin bertambah banyak kepada pria di hadapannya. Bukankah, mengungkapkan kata cinta tak selalu melulu seorang pria kepada wanita.


Damar menatap dalamnya manik hitam istrinya. Begitu istimewa, begitu mempesona, wahai istriku bidadari dalam jiwaku...


Damar tersenyum, mengulurkan tangannya, menggenggam jemari yang tak lagi lentik. Karena kehamilan sang istri yang sudah memasuki masa usia kandungan tiga bulan membuat Wulan sedikit berisi. Bukan, bukan hanya sekedar berisi. Lebih tepatnya melar dan merambah ke lebar, “Terima kasih, sudah mencintai laki-laki yang nggak sempurna seperti ku,”


Damar diam sejenak, merasakan kepalanya tiba-tiba terasa ngilu. Namun, ia mencoba untuk menahannya agar Wulan tidak khawatir, “Aku pun begitu,” lanjutnya.


“Begitu apanya?” jawab Wulan, mencoba memancing untuk suaminya ini mengatakan kata yang ingin di dengarnya. Terakhir kali Damar mengatakan kata cinta, saat ia berhasil melumpuhkan orang yang sudah membuat Damar sekarat.


“Ya tentu saja aku pun sama,” Damar mencubit sedikit ujung pipi Wulan yang chubby.


“Sama apanya?” Wulan mendengus, selalu saja pipi yang tak lagi kurus mendapat cubitan dari tangan Damar, “Selalu aja cubat-cubit nih pipi, mentang-mentang udah kaya bolo-bolo, memang aku ini kue cubit!” Wulan melihat senyuman Damar berubah menjadi gelak tawa.


“Hahaha.... habis kamu memang bolo-bolo kaya bakpao,” kekeh Damar, ia juga menunjuk perutnya sendiri. “Lihat juga nih perutku juga nggak langsing lagi, ikut-ikutan melar. Heran yah kenapa bisa begini, padahal kayanya dulu sispek nggak kaya gini...” Damar mengempiskan perutnya, namun terasa begah, dan kembali membuncit.


Hah... ya, Damar hanya bisa menghela nafas panjang. Perutnya pun tidak kalah dari perut sang istri. Yah, perutnya ikutan melar, tidak sispek, seperti roti sobek.


Ambyarrrr tenan!


Kenapa bisa terjadi? Itulah salah satu pengaruh baik istrinya. Yang selalu membuat Damar makan terus makan dan makan. Hem... kata Damar jika sudah di ejek para karyawannya, ia hanya menjawab; Hidup ini ya di nikmati saja! Kok repot.


“Hahaha.. udah nggak sispek pun calon Ayah ini masih nampak ganteng, ganteng banget malah kaya Sopo!” cetus Wulan dengan kekehan ringan seraya membayangkan jikalau Damar berubah menjadi gemuk, bin gendut seperti di serial sinetron anak-anak Jarwo’Sopo.


Maka seharusnya memang tiada masalah yang dapat membuat hati mengeluh. Karena kehidupan ini terus berjalan, terus berganti, terus bergulir. Kiranya, setiap hari harus selalu berpikir positif, dan setiap hari juga punya cerita di balik kisah yang tak pernah terduga. Bukankah hari esok masih menjadi rahasia?


“Apaan, itukan karena memang kamu yang doyan makan! Doyan ngemil,” sanggah Wulan, tidak ingin di anggap oleh Damar sebagai biang kerok karena sudah menjadikan suaminya semakin subur.


“Ya habis gimana lagi? Punya istri yang pintar masak, pintar ngurus suami, pintar banget bikin hati seneng,” tutur Damar, semakin besar saja rasa cintanya. Namun, masih saja ada hal yang membuat Damar takut. Yaitu, takut kehilangan!


Tak terasa waktu berlalu begitu saja!


“Dede bayi kayanya udah laper,” kata Wulan, ia mulai beranjak dari duduknya seraya mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit.


Damar ikut beranjak, dan menyusul mengusap perut istrinya. “Siapa- siapa yang laper? Emaknya apa Dede bayinya?”


Wulan menampol pundak sang suami, “Dua-duanya, kan tau sendiri kalau sekarang tuh aku memang lagi masa pertumbuhan keduaku,”


“Hahaha... masa pertumbuhan?” lagi Damar tertawa kecil mendengar alasan istrinya yang selalu berkata tentang masa pertumbuhan, “Memang ada masa pertumbuhan kedua? Ada-ada aja kamu ini,”


Damar dan Wulan pun berjalan beriringan dengan setia Wulan selalu menyelipkan jemari tangannya di jemari sang suami. Inilah salah satu hal yang membuat Wulan senang, berjalan berdua menikmati suasana.


Demikian dengan Damar, ia sangat bersyukur. Terlebih-lebih mengingat betapa setianya Wulan selalu menemaninya dalam menjalani kemoterapi untuk memulihkan kondisi tempurung otaknya yang mengalami masalah pasca kecelakaan tiga bulan lalu.

__ADS_1


Dan sampai detik ini, Damar tidak tahu apa penyebab utama ia bisa terlibat dalam kecelakaan itu. Dan buntut panjang dari kecelakaan itu, membuat Damar merasakan kepalanya yang sampai detik ini sering terasa nyeri, “Tresno iku mergo ati, ora bakal owah tekane mati,”


Wulan menghentikan langkahnya, ia memandangi Damar dari samping sedikit memiringkan kepalanya, “Artinya?”


Damar membalas tatapan Wulan, dan mencium kening wanita yang sedang mengandung benih cintanya dengan hikmat tanpa peduli terhadap orang-orang di sekitarnya, “Cinta ini datang dari hati, nggak bakal berubah sampai mati.”


Wulan merasa malu, wajahnya serasa memanas. Hatinya melayang bebas. “Aih... kenapa selalu bisa menggugah rasa cinta yang sudah berkobar-kobar ini, Kang Cimar.”


“Dengarkan aku,” ucap Damar memegang kedua tangan Wulan dan mengusapnya lembut. “Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui,”


Lagi... Wulan di buat bingung dengan bahasa Jawa yang menjadi perumpamaan Damar untuk mengatakan kata romantis, namun ia tak keberatan. Karena dari sinilah ia mengerti bahasa Jawa, “Artinya?”


“Artinya....” kedua kalinya Damar mencium kening Wulan tanpa risih sudah menjadi tontonan bagi setiap pengunjung yang datang ke destinasi wisata Candi Ratu Boko, “Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali kali jatuh cinta pada orang yang sama.”


Wulan semakin meleleh... dan membalas dengan mengusap rahang tegas Damar yang sekarang ini sedikit lebih gembul, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.”


“Kamu tau juga bahasa Jawa?” tanya Damar antusias.


Wulan menggeleng


Senyuman di wajah Damar tiba-tiba luntur, “Kirain tahu,”


“Haha.. aku tau dari Mbah Google!” celetuk Wulan.


Damar memegang dagu Wulan, “Perkataan yang kamu ucapkan barusan artinya, Cinta tumbuh karena terbiasa, Nawulku.”


Wulan manggut-manggut, “Iyah, aku baca juga artikel nya, haha...”


“Ehem-ehem!!” deheman seseorang membuyarkan keromantisan Damar dan Wulan.


Spontanitas Damar dan Wulan menoleh kearah sumber suara. Keduanya melihat seorang remaja yang berjalan semakin mendekatinya.


“Kenapa Num?” tanya Damar.


“Kenapa?” sahut Danum, “Kebiasaan nih Mbak Wulan sama Mas Damar, kalau plesiran suka lupa waktu dan tempat. Udah di tungguin sama yang lainnya buat makan siang. Mas Damar nggak lupa’kan, kalau Mbak Wulan lagi hamil, dan orang hamil itu nggak boleh capek-capek, apalagi telat makan,” cecar Danum, seperti biasa remaja ini selalu bersikap selayaknya seorang emak-emak berdaster.


Wulan dan Damar saling menatap, dan kembali menatap remaja yang sebentar lagi akan lulus sekolah. Tapi, semakin cerewet dengan segala ceramahnya. “Iya-iya Magnum!” jawabnya keduanya kompak, lalu berjalan mendahului Danum.


“Lah-lah kok aku di tinggal pergi gitu aja! Walah piye toh Mbak, Mas!” seru Danum, melihat kedua kakaknya ngeloyor pergi begitu saja. Namun, sesaat kemudian ia melihat seseorang yang sudah lama tidak dilihatnya tengah mengamati Damar dan Wulan.


•••


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2