
“Jangan bergerak kalian sudah di kepung!” bentak Bokir dengan suara tegas sebagai peringatan kepada sejumlah pemuda yang sedang berpesta minuman alkohol dan jenis pil ekstasi.
Tidak hanya pemuda, beberapa dari mereka juga ada wanita-wanita penghibur berpakaian sangat minim yang khusus di sewa guna menemani pemuda-pemuda tanpa masa depan ini berpesta. Mereka semua terkejut dan sontak saja mengangkat kedua tangannya ke atas kepala melihat orang-orang yang menodongkan pistol.
Seorang pemuda memberi lirikan mata kepada temannya yang lain; Siapa mereka?’
Pemuda lainnya pun mengangkat bahu; Nggak tau!’
Jelas saja para pemuda dan pemudi ini tidak tahu jika komplotan yang datang bersama dengan Bokir adalah anggota polisi, karena pakaian yang dikenakan rekan setimnya Bokir, memakai pakaian kasual.
Bukan hanya yang ada di ruang tamu, pemuda yang sedang berbuat zina di dalam kamar pun terkejut dengan keributan yang terdengar di ruang tamu. Mereka secepatnya memakai pakaian yang mereka tanggalkan berserakan ke sembarang arah.
Di ruang tamu beberapa dari wanita seksi nampak ketakutan, namun salah satu di antara pemuda yang berdiri dengan cekatan melemparkan botol ciu kearah pria berkepala pelontos.
Bokir berhasil menghalau botol ciu menggunakan lengannya yang di lemparkan oleh salah satu pemuda berkaos singlet. Prang! botol ciu melayang kearah lain dan menghantam dinding, seketika pecahan botol dan isi alkohol tumpah meruah di dinding dan lantai.
Dor!.... suara tembakan peringatan Bokir layangkan ke atas seketika sejurus peluru menembus plafond gypsum putih mewah membaurkan dengan suara dari musik DJ di tengah-tengah ruangan villa yang cukup luas.
Para wanita berpakaian bohai berteriak histeris seraya menutup telinganya, seketika berjongkok dan menunduk takut.
“Diam kalian! jika kalian masih ingin hidup!” teriak Bokir penuh dengan peringatan.
“Jangan ada yang bergerak, atau kalian akan saya tembak satu persatu!” suara Lutfi terdengar menggelegar di antara pemuda-pemudi serta mengarahkan pistol kepada mereka.
“Siapa sebenarnya kalian?!” tanya salah satu pemuda yang terlihat sudah dewasa kepada orang-orang yang menodongkan pistol.
“Kami dari pihak kepolisian, kami sedang melakukan penggeledahan terhadap pengedaran narkotika!” tegas Lutfi, mengarahkan pistol ke semua pemuda yang sedang merunduk.
Mendengar kata polisi tiada pemuda yang berani mengangkat wajahnya.
“Semua! Taruh tangan di belakang kepala!” teriak anggota dari kepolisian yang baru saja tiba.
Bokir melirik kearah datangnya sejumlah anggota dari pihak kepolisian yang baru tiba; Bukankah mereka dari sektor kepolisian di kota Bantul?’
“Pak Farhana!” seru Lutfi mengenali seorang polisi berpangkat perwira yang baru saja tiba dengan sekelompok anggota polisi.
Tiada yang berani membantah, melihat tiba-tiba personil polisi yang bertambah, semua pemuda-pemudi menurut dan menaruh tangan di belakang kepala.
Saat Farhana berada di taman rumah sakit. Farhana melihat Wulan berjalan dengan tergesa-gesa. Perwira polisi ini segera menghubungi anggotanya guna diam-diam mengikuti kemana arah perginya mobil yang membawa Wulan. Farhana segera memberi perintah kepada anak buahnya.
“Tahan mereka semua!” titah Farhana kepada bawahannya.
Salah satu dari anak buahnya pun mengangguk. Seketika ketiga dari anggota polisi segera menghampiri pemuda-pemudi yang berjumlah lima belas orang, lalu memborgol agar tidak melakukan perlawanan.
__ADS_1
“Ampun Pak polisi, ampun.” kata beberapa dari pemuda-pemudi dengan tangan yang terikat ke belakang.
Sementara Wulan dan rekan timnya langsung memasuki area villa mewah dari samping kanan dan yang lainnya dari samping kiri, juga yang mengendap di bagian belakang mulai menyisir villa. Tak luput kamar-kamar di lantai satu dan lantai dua.
Tiada seorang pun yang berani melawan, semua pemuda-pemudi nampak sangat tercengang dan takut dengan adanya penggerebekan kepolisian yang datang secara tiba-tiba.
“Kalian melakukan ini, memang kalian sudah menikah?! Pakai pakaian kalian!” teriak Brigadir Martin kepada sepasang muda-mudi tanpa busana di dalam kamar.
“I--iya, ampun Pak polisi.” jawab seorang pemuda yang berada di kamar bersama dengan pasangan mesumnya.
“Dasar manusia-manusia tak ada masa depan!” imbuh Brigadir Asnawi yang menggeledah kamar lain.
Wulan terus menyisir lokasi, tidak penting dengan semua bedebah yang ada di dalam villa, yang ia cari cuma Opik si keparat. “Dimana Opik?!” teriak Wulan, menodongkan senjata api kepada pemuda yang berada di lantai dua.
Tiada seorang pemuda pun yang menjawabnya.
Ada salah satu kamar yang sepertinya belum mendapat penggeledahan dari pihak tim Wulan.
Wulan segera menyadari itu. Ia berjalan dengan langkah jenjang mengangkat satu kakinya sekali jurus jitu Wulan menendang pintu. Brak!.... pintu pun terbuka lebar, sepasang bola matanya langsung menangkap sosok keparat yang sedang Wulan cari-cari. Namun, si keparat itu juga menodongkan pistol mengarah kearah Wulan yang tengah berdiri di ambang pintu.
Wulan beralih menatap seorang wanita penghibur yang dijadikan Opik sebagai perisai; Sial!”
“Diam di situ, atau wanita ini ku tembak!” bentak Opik agar wanita yang sedang berdiri di ambang pintu tidak mendekat, Opik menjadikan wanita penghibur yang disewanya sebagai perisai didepannya jika sewaktu-waktu ada peluru menjurus kearahnya, dengan cara mencengkram kuat lengannya di bahu wanita penghibur malam yang hanya berpakaian pakaian dalam.
“Opik bangsat! Lepaskan aku!” teriak si wanita penghibur malam menjerit takut melihat pistol dari seorang wanita yang berpakaian serba hitam berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.
“Sudahlah Opik! jangan bahayakan nyawa orang lain lagi, sudah cukup Damar yang menjadi korbanmu! Menyerah-lah!” kata Wulan, tegas. Mencoba bernegosiasi sengit.
“Hahahaha....” Opik tertawa keras, mengingat Damar sekarat, “Kamu kira aku peduli dengan nyawa-nyawa mereka? nggak! mereka cuma butuh uangku!”kata Opik remeh, meremehkan wanita cantik yang ia sewa guna memuaskan nafsuunya, “Apalagi si brengsek Damar, biarkan saja dia mati, lalu kamu jadilah wanita jal*ngku saja!”
Wulan tersenyum dingin, tak ingin mengulur waktu, Wulan melihat kaki Opik dan menarik pelatuk. Dor!... sejurus peluru mengenai kaki tepat di bagian betis tulang kering Opik, yang saat ini hanya memakai celana kolor dan kaos oblong.
“Aaa...” Opik berteriak menahan sakit, darah segar keluar begitu saja dari betisnya yang terkena sebutir peluru; “Wanita sialan!” Opik masih bertahan, dengan menjadikan wanita penghibur sebagai perisainya. Ia lantas membalas wanita yang sudah menembakkan peluru di kakinya. Dor!... Opik menarik pelatuk pistol dan melesatkan sebutir peluru tertuju kearah pintu.
Wulan segera membaca pergerakan peluru yang di tembakkan Opik, Wulan menghindari peluru yang dilayangkan Opik dan menoleh kebelakang persisnya peluru yang mengenai punggung seorang pemuda yang sedang di interogasi oleh polisi. Pemuda yang terkena peluru dari Opik di bagian punggung langsung jatuh tersungkur di lantai.
Opik merasa mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Ia segera menghempaskan wanita di depannya yang hanya berpakaian dalam, sampai wanita penghibur yang disewanya jatuh tersungkur ke lantai.
Wulan kembali menatap Opik. Namun, pria itu berjalan kearah jendela. Wulan membelalakkan matanya; Nggak mungkin dia berani melompat dari jendela kaca lantai dua?!”
Prang! Opik memecah kaca jendela lebar villa, dia menjatuhkan dirinya ke lantai satu bagian luar teras samping kanan villa tepat di bagian taman.
Wulan membelalakkan matanya, segera berlari menuju kaca jendela yang pecah, dan melihat Opik jatuh di teras samping kanan villa; Apa dia sudah mati?! Oh sial! Opik masih hidup? Wulan melihat Opik berlari dengan kakinya yang pincang. Dooor.... Wulan kembali menarik pelatuknya, namun sayang pelurunya meleset!
__ADS_1
Wulan segera berlari menuruni tangga dan melompatinya. Hap! seketika ia sudah berada di lantai satu, melihat sekilas beberapa polisi termasuk Farhana, namun ia tak perduli. Saat ini, yang ada dalam perburuannya adalah Opik!
Wuhss! Lagi .... Wulan segera berlari ke samping teras villa mewah yang memiliki taman cukup luas. Sakit akibat kram di perutnya tak Wulan rasakan. Wulan melihat, Opik berlari menuju lebatnya hutan Pinus yang gelap.
Farhana pun mengikuti kemana larinya Wulan, dan juga Bokir ikut berlari menuju kemana perginya Wulan.
Oh sial! Wulan kembali mengeluarkan tenaga lebih dalam lagi, guna mengejar Opik agar pria itu tidak sampai masuk kedalam hutan. Satu tembakan peluru lagi Wulan keluarkan dari pistol, tepat sasaran mengenai betis belakang kiri Opik.
“Aaarrhhh..” erang Opik kembali terkena peluru di betis kirinya. Kendati sudah terluka Opik mencoba berdiri meskipun sangat kesulitan, karena kedua betisnya terluka cukup parah juga peluru yang bersarang di sana. Akan tetapi ia tidak menyerah, seraya mengatur nafas yang serasa tersengal-sengal akibat terjatuh dari lantai dua.
Juga menahan sakit di sekujur tubuhnya, “Anjirt!” Opik terus berlari sekuat tenaganya menyeret kedua kakinya yang terluka. Ia menoleh kebelakang dan melihat seorang wanita dibelakangnya mengejar. Hampir mencapai wilayah masuk hutan, namun tiba-tiba tendangan seseorang membuatnya jatuh tersungkur di tanah yang lembab.
Bugh! Wulan berhasil menendang punggung Opik, hingga Opik jatuh tersungkur di tanah; “Bajingan, mau lari kemana lagi?!”
Tak mau kalah begitu saja, Opik membalikkan badannya, menarik pelatuk pistol yang ada di tangan. Namun, wanita yang berpakaian serba hitam seperti malaikat mautnya sudah lebih tahu pergerakan tangannya. Pistol yang di pegangnya terpental entah kemana.
Wulan menginjak betis Opik yang terluka, hingga Opik mengerang sakit, jelas saja Opik bukan tandingannya meskipun Opik adalah seorang pria. Karena Wulan sudah di latih untuk ini selama bertahun-tahun; “Akui saja semua kejahatan mu, brengsek! dan matilah secara terhormat!”
“Arrhhh...” erang Opik kembali terdengar menyakitkan saat betisnya kembali di injak dengan sangat keras oleh wanita yang tidak ia kenal, dengan samar. Opik melihat wanita yang menembak kakinya dalam keremangan lampu dari villa mewahnya yang berjarak sekitar delapan meter dari posisinya saat ini. “Dasar wanita jal*ng! Lepaskan aku!” teriak Opik berang.
Opik mencoba bangkit, dan mengayunkan tangannya hendak menarik kaki wanita yang tidak diketahui namanya yang tengah menginjak kakinya yang tertembak. Namun, lagi-lagi wanita itu dapat membaca setiap gerakan yang ia layangkan.
Bugh! Wulan kembali melayangkan tendangannya di wajah Opik tanpa belas kasih. Hingga Opik kembali berbaring terlentang di tanah lembab perbukitan.
Sungguh jeritan keras yang Opik suarakan membuat Wulan ingin segera menghabisi pria yang sedang ia injak betisnya. Namun, Wulan ingin lebih sedikit bermain-main agar Opik merasakan penderitaan yang Damar rasakan.
Opik memegangi wajahnya, ia dapat merasakan wajahnya serasa terkelupas juga merasakan cairan keluar dari kedua lubang hidungnya dan merasa giginya saling berbenturan dahsyat! “Aarhh... sial, dasar wanita iblis!” maki Opik, pedas!
“Jangan sebut aku iblis!” teriak Wulan bersuara keras meneriaki Opik dengan segala amarahnya yang sempat tertahan, “Aku adalah Nawang Wulan, isteri Damar Mangkulangit! Orang yang sudah kamu tabrak! Sekarang rasakan kematianmu yang menyakitkan ini!!”
Opik membelalakkan matanya, tidak menyangka bahwa Damar mempunyai istri yang begini hebat. Bahkan kini, Opik merasa nyawanya ada di tangan istri Damar.
Wulan kembali melayangkan kakinya, tepat di bagian perut Opik, menginjak dengan sangat keras hingga Opik kembali berteriak meminta ampunannya; “Aku akan membuat kematian mu sungguh kematian yang menyiksa!”
“Ampun! Ampuni aku!” rintih Opik, memelas seraya menangkupkan kedua tangannya di hadapan Wulan.
Wulan tersenyum menyeringai, “Ampun kamu bilang hah?! setelah apa yang kamu perbuat? Oh jelas saja aku nggak akan mengampuni mu, brengsek!” Wulan mengacungkan pistol kearah kepala Opik. Krek! belum sempurna jari telunjuknya menarik pelatuk, suara seseorang membuyarkan konsentrasinya.
“Wulan! Jangan lakukan itu?!” teriak Farhana, yang berdiri dengan jarak tiga meter dari Wulan yang sedang menodongkan pistol kearah Opik yang terkapar di atas tanah lembab.
•••
Bersambung
__ADS_1
•
Di mohon dukungannya 👍🏼