Presdir Cilok

Presdir Cilok
71 Tergelincir dan jatuh


__ADS_3

Wulan pun menaruh kembali ponselnya ke dalam tas dan berjalan mendekati Damar, lalu memberikan map berisikan dokumen penting.


“Terimakasih manis.” Damar mengedipkan matanya kearah Wulan. Dan mengambil berkas yang di berikan Wulan.


Damar kembali menatap Kusumo, “Lihat dan cermati berkas ini baik-baik Tuan Kusumo! Anda tahu ini Apa?”


Kusumo menatap marah kepada Damar, dan beralih menatap map biru yang masih di pegang oleh Damar. Kusumo menjadi semakin berang, atas sikap berani pemuda yang pernah menjalin kasih dengan putrinya, “Jangan pernah mengancam saya! Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?! Hah...”


“Yah, yah saya tahu, Anda siapa?!” Damar lantas berdiri dan menaruh map berisikan berkas-berkas penting di atas meja kaca, “Berkas ini adalah bukti perdagangan Anda yang tidak amanah, telah menjual bahan mentah yang tidak layak konsumsi kepada perusahan King food terdahulu! Dan sudah memutar balikkan fakta. ”


Kusumo membelalakkan matanya, menatap Damar dan kembali menatap map yang ada di atas meja. Ia lantas mengambil map dengan emosi dan menyobeknya serta menghamburkannya ke langit-langit ruangan, seketika berkas-berkas pun melayang-layang di hadapan Damar, dan terjatuh berserakan di lantai, “Ini sudah terjadi tiga bulan yang lalu, dan perusahaan itu sudah bangkrut! Bahkan hukum tidak dengan mudah menyentuh saya!”


“Hahaha... Tuan Kusumo, saya mengakui Anda sungguh licik! Tapi tenang saja, saya masih punya banyak salinannya,” Damar pun sudah menduga, ada oknum pejabat yang membantu Kusumo untuk memuluskan kelicikannya. “Dan apakah pendengaran Anda sudah terganggu karena faktor usia?! Biar saya pertegas lagi, saya Damar Mangkulangit adalah Presdir baru di perusahaan yang dulu Anda curangi. Dan sekarang perusahaan itu sedang menuju kejayaan.” sambung Damar penuh dengan penekanan.


‘Semoga dalam waktu satu pekan ini. Kepala divisi BPOM akan segera menggeledah pabrik yang di kelola Kusumo!' doa Damar dalam hati, dengan segala sesuatu yang sudah ia dan teamnya rencanakan, yaitu Bokir dan Wulan serta Pak Bambang.


Kusumo jelas saja terlihat sangat marah, “Bangsat!” geram Kusumo seraya mengangkat tangannya lagi ke atas hendak menggampar wajah Damar untuk yang kedua kalinya.


Dengan berani Damar menangkap pergerakan tangan Kusumo yang akan mendarat di pipinya yang masih lebam,


“Orang baik mempunyai tempat berpijak yang teguh, orang jahat akan tergelincir dan jatuh.” kata Damar penuh dengan ketegasan, dan menghempaskan tangan yang seharusnya seumuran dengan Almarhum Bapaknya.


“Jangan sok ceramah!” sentak Kusumo dengan suara meninggi.


Damar sangat marah, bahkan kemarahannya melebihi kemarahan Kusumo saat ini, namun ia mencoba untuk bersabar, lebih melapangkan hati dengan sikap dan tindakan yang lebih berwibawa, “Tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Anda Tuan Kusumo, tapi Anda tidak bisa memetik buah jika Anda tidak pernah menanam pohon, bisakah Anda mengartikannya?!”


Lalu melenggang pergi melewati Kusumo, diikuti Wulan dan Bokir, namun sebelum Damar mencapai batas pintu, ia berbalik dan berkata kepada Kusumo, “Dan dengarkan saya baik-baik Tuan Kusumo, perusahaan yang saya pimpin tidak menerima bahan mentah logistik sampah dari Anda.”


Setelah kepergian Damar, Kusumo benar-benar merasa tertindas, “Kurangajar!” makinya, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Namun , tidak kunjung juga tersambung. “Brengsek!” Ia membanting ponselnya ke lantai.


Lalu menatap sang sekretaris dan beralih menatap Andri, “Cari tahu, dimana Pak Tora!”


“Mm-- maaf Presdir, Pak Tora di tahan di kantor kejaksaan, karena terbukti melakukan tindakan suap impor. Saya baru mendapatkan informasinya pagi tadi.” kata Andri dengan nada suara gemetar.


Lagi-lagi Kusumo meradang, orang kepercayaannya yang selalu membantu meloloskan barang mentah impor tanpa bea cukai, kini tersandung kasus. “Arhh... Sial!!!”


••


Sementara itu..


Di dalam mobil Jip yang di kemudikan Bokir. Wulan duduk di jok belakang berdampingan dengan Damar, ia tengah melihat hasil video yang ia rekam. Terlihat dengan sangat jelas, bahwa Kusumo tidak main-main dalam melayangkan tamparan keras di pipi kiri Damar.


Wulan lantas mematikan ponselnya, dan melihat Damar dari samping. Hatinya tercubit kala melihat pria yang duduk tepat di sebelahnya tengah memegangi pipi kiri bekas mendapat tamparan dari tangan Kusumo. Namun, tiada sepatah kata makian yang terucap dari bibir Damar yang terlontar untuk Kusumo, “Apa rasanya seperti terbakar?”


Damar pun bersitatap dengan Wulan, wanita yang sedang menatapnya pula. Damar melihat dengan jelas raut wajah wanita sang pemilik rambut cokelat kehitaman di sampingnya, bahwasannya rasa khawatir Wulan si dingin es balok tidak bisa di sembunyikan. “Sekarang sudah mendingan, karena melihat wajahmu yang membuat hatiku adem,”


Wulan delming, menatap Damar. “Ck, di tanya apa, jawabannya mesti apa? Nggak jelas banget!”

__ADS_1


Bokir pun melihat Damar dari kaca di atas kemudi yang duduk tepat di belakangnya, “Hahaha... Bisa ae kamu Mar, gimbalnya?”


Damar menatap Bokir dari belakang, “Gombal Kang Bokir, kan biar bisa mencairkan suasana panas Kang!” Damar menatap Wulan dan kembali menatap Bokir.


“Memang, setelah mengerjai Kusumo, hatimu masih belum puas Mar?” tanya Bokir, menyela ucapan Damar.


Damar mengedarkan pandangannya menatap keluar jendela kaca mobil, “Aku rasa, satu bukti ini tidak cukup untuk menjatuhkan Kusumo, Kang,”


Bokir yang masih memfokuskan tatapannya ke depan, manggut-manggut, “Feeling saya juga begitu?”


Wulan menatap Damar dan beralih menatap Bokir, “Lalu, bukti apa lagi untuk benar-benar menjatuhkan Kusumo?!”


Damar menggeleng pelan, tanda ia pun masih belum memikirkan jawabannya.


“Tapi, ngomong-ngomong. Terimakasih, sudah menjadi team yang solid! Tanpa kalian dan Pak Bambang, aku tidak bisa mengumpulkan semua bukti kecurangan Kusumo terhadap perusahaan King food, yang di kelola oleh Pak Rafdi dulu.” ucap Damar, ia kembali mengingat. Dua hari yang lalu saat sedang mengadakan meeting private hanya antara Pak Bambang, Bokir, Wulan dan dirinya. Membahas mengenai manajer terdahulu bernama Pak Rafdi Maulana.


Dan akhirnya berhasil mengumpulkan semua bukti, tentang pelanggaran Kusumo dalam berbisnis.


“Tapi, kasihan juga Pak Rafdi, jika dia memang tidak bersalah, tapi dia juga yang kena batunya.” seru Wulan bersungut-sungut, atas ketidak adilan yang menyangkut nasib dari manajer King food dulu.


“Aku berharap, setelah kasus ini terungkap. Pak Rafdi bisa bebas.” imbuh Damar, menambahkan ucapan Wulan. Damar menghela nafas, dan kembali duduk bersandar di sandaran jok mobil, ia lantas melemparkan tatapan keluar jendela. Damar pun melihat warung kopi, tiba-tiba ia merasa ingin santai sejenak dari hiruk-pikuknya permasalahan.


“Kang Bokir, mau ngopi nggak?” tanya Damar menatap Bokir dari belakang.


“Wah, ide bagus!” seru Bokir, bersemangat.


Bokir memarkirkan mobil di tepian jalan, dan menoleh kearah Wulan, “Hanya sebentar Lan, kita para lelaki juga butuh waktu.”


“Kalau kamu mau, aku juga bisa mentraktirmu.” tukas Damar, bersitatap dengan Wulan. Lalu membuka pintu mobil.


Bokir dan Damar turun terlebih dahulu, sedangkan Wulan menyusul di belakangnya. Banyak laki-laki dari kalangan rakyat biasa ada juga yang terlihat seperti orang kantoran.


“Kang Bokir mau pesan apa?” tanya Damar.


“Kamu duduk aja Mar, biar saya yang pesan.” tukas Bokir, karena warung kopi inilah salah satu tempat yang sering ia sambangi.


Damar duduk di bangku kayu yang tersedia, dengan Wulan yang duduk disebelahnya.


“Kalau begitu, aku kopi hitam.” kata Damar.


“Aku juga sama,” seru Wulan.


Damar menatap Wulan, dan beralih menatap Bokir, “Nggak Kang Bokir, Wulan capuccino aja.”


Wulan membulatkan matanya, menatap Damar, “Ih, apaan. Ganti-ganti pesanan orang!” Wulan beralih menatap Bokir, “Nggak Kir, aku kopi hitam gulanya jangan banyak-banyak!”


“Nawang Wulan, wanita itu nggak baik minum kopi hitam keseringan. Nanti, kalau kita jadi nikah, kata orang susah loh punya anak! Aku kan pengen punya banyak anak, biar rame, hehe.” seloroh Damar, seolah sedang berbicara dengan calon istrinya.

__ADS_1


Bokir bingung dengan Wulan dan Damar, selalu saja ada hal-hal yang menjadi bahan perdebatan. Ia memilih berjalan menuju kedai kopi.


Wulan menghela nafas, seraya memejamkan matanya. Ia benar-benar enggan menjawab perihal Damar yang suka asal ceplos kalau bicara. Lantas mengedarkan pandangannya menatap kearah orang-orang yang sedang menikmati kopinya, ia sendiri sama sekali tidak merasa risih dengan keadaan ini, karena ia pun sudah terbiasa bergaul dengan para laki-laki saat pelatihan sebagai Intelijen.


Saat sedang menunggu pesanan kopi. Tidak sengaja Damar mendengar ada beberapa orang yang duduk tepat di belakangnya, sedang membicarakan tentang penipuan proyek tanah serta bangunan berkedok jaminan tanpa uang muka.


“Gila, lahan seluas 500 meter sedang di bangun sebuah proyek tanpa dp, hanya angsuran ringan.”


“Di jamin ada sertifikatnya nggak tuh?”


“Itu, bohong! Setelah aku teliti lagi, surat-suratnya tidak valid, alias palsu.”


“Wah-wah udah ada berapa orang yang kena tipu tuh?!”


Tiba-tiba ada Bapak-bapak yang datang dengan muka merah seperti laksana alarm kebakaran. “Sial, saya kena tipu!” Ia lantas membanting map yang ada di tangannya ke meja kayu. Duduk dengan perasaan kesal, lalu memegangi kepalanya.


Seseorang yang mengenali Bapak yang barusan datang pun duduk, mendekatinya. “Kenapa Pak Rudi, datang-datang kok marah-marah?”


“Lihat nih akta jual beli tanah, ternyata sertifikasi tanah ini palsu.” seru Bapak itu.


“Memangnya, Bapak tidak mengecek dulu lokasi tanahnya dimana?”


“Sudah, tanah itu seluas 100 meter kali 50 meter,” seru Bapak itu lagi, dengan menahan emosi.


Damar lantas mencoba mencari tahu dengan lebih dekat lagi, “Boleh saya lihat surat-suratnya Pak?”


Bokir yang baru datang dengan membawa tiga gelas kopi di atas nampan pun, ikut bergabung dan melihat isi yang tertulis di dalam dokumen yang di bawa oleh seorang Bapak-bapak yang sudah kena tipu.


“Nama saya Damar, Pak.” kata Damar memperkenalkan dirinya kepada Bapak yang kena tipu jual beli tanah palsu.


“Saya Rudi.” jawabnya.


Setelah di cek Wulan dan Bokir serta Damar yang mengetahui lokasi tanah itupun, berpendapat bahwa benar. Bahwa benar tanah yang di jual adalah surat palsu. Alias tanah satu lokasi, tapi surat-suratnya di lipat gandakan.


“Dengan siapa Bapak Rudi membeli tanah ini?” tanya Wulan, seolah ia memang bertugas seperti wartawan.


“Dari seorang notaris, dia bekerja dengan Kusumo.” jawab Bapak Rudi, “Tapi, setelah saya ke rumahnya, saya di usir sama satpam penjaga rumah Kusumo. Padahal saya sudah menyetorkan uang sebanyak 50 juta.” sambung Bapak Rudi, seraya menghapus jejak air mata di kelopak netra tuanya.


Bokir, Wulan dan Damar terkejut, mereka saling melempar tatapan.


“Kebetulan kami mengenal Kusumo, karena dia pun punya urusan dengan kami. Kami akan membantu Bapak Rudi, tapi Bapak juga harus membantu kami.” kata Damar,


Bapak Rudi, yang sudah sangat putus asa pun menyetujui, “Baik, yang terpenting uang saya kembali, atau kalau tidak, apa yang harus saya katakan kepada istri saya.”


Mereka pun berlanjut membahas soal tanah yang di gadang-gadang telah di lipat gandakan surat-suratnya.


•••

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2