Presdir Cilok

Presdir Cilok
28 Pengemis tua


__ADS_3

"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah atas rezeki dari-Mu ini. Ku anggap orang tadi adalah malaikat perantara dari-Mu, yang sengaja Engkau kirim untuk memberikan berkah padaku.” gumam Damar penuh dengan rasa syukur.


•••


Rezeki itu datang tanpa bisa menerka, tanpa di nanya, tanpa bisa diprediksi seperti air hujan yang turun dari Langit.


Bahkan setiap hari yang biasa Damar lalui hampir sama, hari ini seolah menjadi pertanda keberuntungan hidupnya.


Layaknya seperti mendapat kartu AS dalam permainan kartu. Damar tersenyum sumringah, bagaikan matahari fajar yang menyingsing dari ufuk timur dengan sempurna.


Lagi dan lagi Damar terus memandangi kartu nama yang di berikan oleh Pak Bambang dengan seksama dan membacanya berulang-ulang.


Buah dari kesabaran adalah pengertian yang di butuhkan untuk bersikap baik, selama menunggu hasil dari upaya untuk menuju keberhasilan.


Lalu Damar menaruh sejumlah uang dan kartu nama keberuntungan kedalam tas selempangnya. Teguh dengan keyakinan bahwa ia akan datang besok pagi dengan pakaian yang rapih, sopan dan bersih.


Meskipun setiap hari Damar berjualan selayaknya sudah terbiasa memakai pakaian yang rapih juga bersih.


Namun sebagaimana pun juga, Damar selalu berpikir optimis jika ia bisa menghargai orang lain, maka orang lain pun akan menghargainya juga.


Meskipun tidak semua, orang yang pernah di temuinya akan melakukan hal yang sama.


Netranya membulat sempurna, mulai berkaca-kaca. Hatinya senang bukan main.


"Inikah suatu pertanda dari-Mu ya Allah,” gumamnya, menengadahkan wajahnya ke awan mega. Memandangi jumputan-jumputan awan seperti gumpalan kapas di langit yang sudah mulai berwarna oranye.


Lalu mengedarkan pandangannya, menatap ruas jalanan. Damar memejamkan matanya, menghirup udara yang sudah tercemar oleh polusi dari kendaraan yang semakin hari semakin menumpuk dan bahkan mencemari lingkungan.


Namun Damar tak menghiraukannya, baginya polusi inilah ia setiap hari bergumul dengan debu-debu jalanan dan polusi. Masih dengan mata terpejam, ia pun mencubit lengannya, ingin memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Auw, sakit!” pekiknya konyol.


Anak-anak kampus yang baru keluar dari dalam gedung universitas pun melihat Damar dengan tatapan heran. Damar tengah memejamkan matanya sambil tersenyum gembira riang, "Kenapa tuh si Akang cilok?”


"Au ah!”


"Yuk kita tanya aja.”


Sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi pun mendatangi Damar, yang tengah merasakan kebahagiaan hatinya.


"Damar!” seru seorang mahasiswa.


Damar menoleh kearah sumber suara, dan mendapati seorang pelanggan ciloknya, "Mas Indra.” seru Damar.

__ADS_1


"Eh, ada mbak Ita sama Mbak Putri dan yang lain.” lanjut Damar, melihat mahasiswa, mahasiswi seumuran dengannya.


"Kenapa Mas Damar, kelihatannya lagi seneng bener nih?” tanya Ita.


Damar tersenyum, kali ini sampai menampakkan deretan giginya yang tidak tersentuh satu batang rokok pun.


"Iya Mbak Ita, aku lagi seneng, seneeeng banget malah!” ucap Damar.


"Alhamdulillah, kalau Mas Damar seneng. Eh btw masih ada kan ciloknya?” tanya putri.


"Maaf, Mbak-mbak, Mas-mas. Untuk hari ini ciloknya ludes. Kalau mau langsung datang saja kerumah, atau bila perlu tunggu besok,” pungkas Damar.


"Loh, kenapa emang? Beta sa pengen itu kau punya colok!” kata salah satu mahasiswa dari Ambon.


"Cilok kriting! Cilok!” seru Rahman, membenarkan ucapan Beta Ambon.


"Maaf Kakak, ciloknya habis. Tadi barusan di borong sama yang naik mobil mewah,” jawab Damar.


"Ah, ya sudahlah. Kan bagus juga toh. Jadi Damar nggak perlu lagi capek-capek keliling,” kata Iwan, mahasiswa asli Pemalang.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya kawan-kawan.” seru Damar, ia sudah siap mendorong gerobak ciloknya. Meninggalkan sekumpulan mahasiswa, mahasiswi di depan jalanan kampus.


Senja kala, guratan langit merah terlukis indah berbaur dengan cahaya orange, dan ke abu-abuan. Dengan berjalan kaki seperti biasa Damar akan melewati pertokoan, dan tempat-tempat monumen bersejarah di kota Gudeg ini, tugu Pal Putih.


Kota bagi pelancong wisata lokal maupun mancanegara. Ia sangat bersyukur lahir di kota dengan julukan Kota Perjuangan,


(Pada awal Agustus 1945 Jepang menyerah kepada bala tentara Sekutu dan berakhirlah Perang Asia Timur Raya yang merupakan bagian dari Perang Dunia II. Selang beberapa hari, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.)


Menyusuri jalanan dengan langkah Kaki yang mantap. Tak gentar demi berjuang mengubah nasib.


Damar melihat ada seorang (maaf) pengemis tua sedang duduk di pinggiran jalan. Sejenak Damar berhenti, dan melihatnya tidak tega.


"Bagaimana pun juga, sebagian dari rezeki yang ku peroleh ada sebagian rezeki untuk mereka.” gumamnya, lantas mengambil selembar uang berwarna biru.


Dan memberikannya kepada pengemis tua laki-laki yang berpakaian sangat lusuh serta tidak mempunyai satu kaki.


"Semoga bermanfaat Pak," ucap Damar.


"Alhamdulillah, terimakasih Nak. Semoga Allah membalas kebaikan mu Nak. Dan semoga usaha mu kian bertambah sukses dan mendapat jodoh baik serta salehah.” kata pengemis tua kepada Damar.


Damar menarik kedua ujung bibirnya, dan mengangguk tipis. "Amin. Sama-sama Pak, nanti kalau pulang hati-hati.” kata Damar.

__ADS_1


Pengemis tua itupun mengangguk dengan seulas senyuman.


Damar kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah. Tidak terasa rona langit sudah berganti warna gelap.


Terdengar kumandang adzan Maghrib, Damar berjalan menuju mushola kecil tak jauh darinya berjalan.


Berharap dengan rasa syukurnya kepada Sang Maha Pemberi Rezeki akan senantiasa berkenaan dengan doa-doa yang di panjatkannya.


Tanpa Damar tahu, dua orang sedang mengawasinya dengan melakukan penyamaran seperti orang-orang pejalan kaki pada umumnya.


Tanpa orang akan merasa curiga, bahwa kedua orang yang berbeda genre ini tengah mengikuti seorang pedagang cilok. Mereka pun melihat Damar memasuki pelataran mushola.


"Wulan, dia masuk mushola!” seru rekannya yang sedang membuntuti Damar.


"Ya udah ayok, cepetan Bokir...” jawab Wulan


"Mau ngapain?”


"Joging!” Wulan menjawab ketus.


"Ya sholat, lah!” lanjutnya lagi.


"Tapi, apa kamu bawa mukenah Lan?”


"Ah.. gimana si Lo, ini kan mushola. Pasti di dalem ada mukenah, lah!” jawab Wulan.


Lagi dan lagi, Bokir dan Wulan membuntuti Damar, kali ini mereka memakai pakaian santai, tidak seformal sebelumnya, yang serba memakai pakaian seragam berwarna hitam.


Memasuki halaman mushola, Damar memarkirkan gerobak ciloknya, lantas berjalan ke tempat wudhu yang berada di samping belakang mushola.


Dan mengelun celana panjang serta baju warna hijau botolnya. Damar mulai membaca basmalah serta niat wudhu, ia pun berwudhu.


Setelah itu, Damar memasuki ruangan mushola dan sholat berjamaah dengan jemaah mushola yang lain. Lima belas menit pun terlewati setelah melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.


Damar berjalan kearah teras mushola. Ia melihat kotak amal yang terbuat dari kaca berwarna gelap. Damar merogoh isi tas selempangnya dan mengambil sejumlah uang.


Sudah dapat dipastikan, bahwa ia akan memasukkan sejumlah uang yang sudah di genggamannya kedalam kotak amal. Masa iya mau mencuri kotak amal, iya kali? Nggak seputus asa juga kali si Damar.


"Semoga bisa menjadi amal jariyah, amin.” gumamnya.


"Amin.” jawab seorang wanita, ia tertegun secara refleks mengaminkan doa Damar.

__ADS_1


•••


Bersambung


__ADS_2