
Setelah melihat keadaan Nenek Ayudia, yang masih tertidur lelap akibat pengaruh obat anti depresan yang dikonsumsinya. Damar kini berdiri di depan rumah bergaya Jawa joglo modern, menengadahkan wajahnya ke langit gelap. ‘Kenapa kehidupan suka sekali bercanda! Bertemu lalu berpisah, bersama tapi tak mendapat restu keluarga.'
Wulan membawa wadah berisikan air dingin yang diberikan oleh pelayan rumah Kakek Bagaskara, “Kompres lebam di wajah Anda, Presdir.”
Damar terhenyak, ia menoleh kebelakang tepat di mana Wulan sedang berdiri memegang wadah berisikan air dingin. “Lebam di wajahku tidak seberapa, cepat antar aku pulang.”
“Kenapa kamu tidak disini saja, Damar! Kakek yakin, setelah Nenekmu terbangun, dia akan sangat senang melihatmu disini.” Kakek Bagaskara menyambar ucapan dari dalam rumah.
Wulan menggeser tubuhnya, untuk memberi Kakek Bagaskara untuk jalan.
Damar bersitatap dengan Kakeknya, “Saya, merasa terhormat dengan tawaran Anda Tuan, akan tetapi Ibu saya pasti akan sangat mengkhawatirkan apabila saya belum kunjung pulang.”
“Baiklah, jangan sungkan untuk mengunjungi Nenekmu, ajaklah Danum.” ujar Kakek Bagaskara.
Damar tidak menjawabnya, dan berbalik badan memunggungi Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara, merasa kecewa atas tindakan dingin cucunya.
Wulan menangkap kesedihan dari raut wajah Kakek Bagaskara, garis keriput semakin terlihat jelas di wajah yang sudah melewati generasi Presiden kedua RI. Wulan geleng-geleng kepala memandangi punggung Damar yang baru berjalan beberapa langkah. Namun, di luar dari dugaannya.
Damar berbalik dan kembali mendekati Kakek Bagaskara. Ia mengulurkan tangannya di hadapan sang Kakek, yang mengharap bisa di panggil dengan sebutan ‘Kakek oleh cucunya.
“Kesopanan dan akal budi adalah dua hal yang mencerminkan kepribadian diri orang yang beriman.” kata Damar, ia menyalami tangan Kakek Bagaskara.
Kakek Bagaskara menarik kedua sudut bibirnya yang keriput, beliau tersenyum. Mengharap ini adalah awal yang baik untuk kembali merangkul cucunya kembali masuk kedalam keluarga Wijaya. Dalam hatinya, ‘Damar sudah di didik dengan attitude yang sangat baik.’
••
Di perjalanan pulang, kali ini Damar tidak banyak bicara. Banyak hal yang sedang mengganggu pikirannya. Namun, sesaat ia teringat sesuatu. Ia menoleh Wulan yang fokus mengemudikan mobil,
“Terimakasih, sudah bersedia datang ke pernikahan denganku.” ungkap Damar, menatap Wulan dari samping.
Wulan menoleh sekilas kearah Damar, “Sudah menjadi tanggung jawab saya Tuan,” Wulan kembali diam, dan seperdertik kemudian ia kembali bersuara, “Saya heran dengan pemilihan lagu yang Anda bawakan tadi, kenapa pesawat tempur?!”
Damar menghela nafas pelan, sungguh ia tidak menyukai cara bicara Wulan yang terlalu formal padanya, “Bisakah, jika kita berdua atau diluar dari kantor. Kamu menyebutkan ku dengan sebutan santai?”
Wulan tidak menjawab, ia hanya mengangguk
“Dan soal pemilihan lagu itu, aku memang menyukainya, memangnya menurutmu lagu apa yang cocok di acara pernikahan?” lanjut Damar.
Lagi-lagi Wulan hanya manggut-manggut, “Ada banyak lagu-lagu romantis, tapi kembali lagi. Jika pesawat tempur memang favorit Anda, saya bisa memahaminya.”
“Hentikan mobilnya,” pekik Damar.
Wulan terkejut “Kenapa?” kemudian ia memperlambat laju mobilnya, dan menepi di pinggiran jalanan yang lengang. Ia bersitatap dengan Damar, heran akan pria di sebelahnya yang mendadak meminta untuk menepikan mobil.
Damar mendekati wajah wanita yang sedang mengerutkan keningnya bersitatap dengannya. Memandangi wajah Wulan yang hanya menyisakan jarak dua inci,
Wulan merasa nafasnya tercekat di tenggorokan, tatapan Damar seolah sedang mengulitinya, ia mengerjap-ngerjapkan mata. Pikiran negatif mulai mengerayapi otaknya.
“Kamu beleken!” cetus Damar, ia melepas tawanya. “Hahahaha.....”
__ADS_1
“Menjauhlah!” hardik Wulan, seraya menghempaskan Damar kebelakang untuk segera menjauhi wajahnya.
“Ish... begitu aja galak bener, lagian siapa juga yang mau mencium kamu!” seru Damar.
Wulan mendengus kesal, “Cepat katakan! Anda mau apa?”
Damar kembali pada posisi duduknya, dan menatap lurus kedepan. “Ajarkan aku menyetir!”
Wulan menatap Damar dengan tatapan malas, “Begitu aja, emang harus mendekatkan wajah! Apa Anda merasa wajah Anda sangat tampan untuk dilihat dari jarak yang sangat dekat?!”gerutunya kesal.
“Memang! Memang wajahku tampan! Kamu tahu pemain sepak bola Cristian Ronaldo aja, lewat!” cetus Damar tidak mau kalah, menyombongkan diri.
“Lewat mana?” tanya Wulan menanggapi coletehan Damar.
“Depan rumah!” jawab Damar sekenanya. Ia kembali tertawa, “Bahahahaha....”
Wulan mencebikkan bibirnya, “Ih, mana ada Cristian Ronaldo lewat depan rumah mu, jangan asal. Memang tuh Ronaldo kagak laku main bola lagi? Lagian aku juga nggak suka sama tuh Ronaldo, suka ngawinin cewek. Terus keluar anak mencodot terus kagak di kawin. Emang kucing apa? Di kawin terus menerus tapi kagak di nikahin! Lagian tuh cewek mau-maunya aja dibegituin. Kalau aku mah ogah!”
Damar menghela nafasnya, ia terkesima dengan Wulan yang lagi ngedumel soal pembahasan si bintang Juventus. Dan tanpa disadari Wulan, dia sudah menyebut dirinya ‘Aku' Kamu.
‘Galak-galak gini! Ternyata Wulan kalau nyerocos begini, manis juga.’ Damar melepas sabuk pengaman, dan kembali mendekati Wulan, kali ini dengan sengaja ia melingkarkan tangannya, tangan kanan bertumpu di jok kemudi persis samping pundak kanan Wulan, sedang tangan kanannya bertumpu di sisi samping pundak kiri Wulan.
“Wanita adalah investor masa depan, karena bagi wanita cerdas. Ketampanan itu hanya daya tarik sementara, karena yang paling penting adalah kemapanan. Dan sekarang aku sedang menuju kesuksesan siapa pun wanita akan berlomba-lomba jatuh cinta padaku, dan mungkin saja termasuk kamu.”
Ucapnya, seraya mengedipkan mata, lantas menarik diri dan keluar dari dalam mobil, Damar merasa menggoda Wulan adalah suatu hal sangat menyenangkan, selain galak. Wulan adalah wanita yang lugu soal laki-laki, Damar tersenyum menyeringai. Melirik sekilas kearah Wulan yang masih terbengong-bengong.
Wulan tertegun, sekian menit terbengong-bengong. Ia kembali menyadarkan diri. “Ehkemm...” ia berdehem untuk menghilangkan kecanggungan. Jantungnya serasa copot, lagi-lagi tindakan Damar tidak bisa di prediksi seperti halnya cuaca.
Damar sudah berdiri di samping pintu kanan kemudi.
Wulan tersenyum menyeringai, ia memiliki ide brilian untuk membalas sikap berani Damar, karena sering menggodanya. Wulan mengambil ancang-ancang, meletakkan kedua tangannya di pintu mobil dan membukanya dengan sangat keras. Hingga membuat Damar terpental dan jatuh ke aspal.
BUGH
“Aarrhhh.....” teriak Damar, terjungkal kebelakang, pantatnya menghantam aspal sangat keras.
Wulan keluar dari dalam mobil dan menertawakan Damar “Hahaha...... Sukurin loh! Mangkanya jangan usil!”
Damar geram, ia mendengus gemas melihat Wulan dengan lepasnya wanita ini tertawa ngakak. Ia beranjak menahan sakit di pantatnya, “Awas kamu!” seru Damar hendak menyambar tangan Wulan. Namun, Wulan lebih dulu mengancamnya.
“Eiit!! Jangan coba-coba membalasku sekarang, atau aku nggak jadi buat ngajarin kamu nyetir mobil?!” hardik Wulan, seraya mengacungkan jari telunjuknya kearah Damar. Saat situasi tertentu, Wulan bisa dengan mudah berbicara kepada Damar selayaknya ia berbicara kepada temannya.
Apalah daya, Damar mengurungkan niatnya untuk menguyel-uyel Wulan yang masih saja terkekeh.
Wulan masih saja tidak puas membalas Damar, dengan melewati Damar yang masih menahan sakit dengan memegangi pinggang. Wulan dengan sengaja menabrak bahu Damar cukup keras.
Damar tersentak, ia memandangi Wulan yang berkacak pinggang, masuk kedalam mobil samping kemudi. Damar lantas masuk mobil dan duduk di jok kemudi, “Awas saja, kalau kamu sampai jatuh cinta padaku. Akan aku buat kamu klepek-klepek sampai nangis kejer-kejer dan bilang ‘Damar, aku cinta mati sama kamu, Mar. I love you!” ocehnya laksana seekor burung murai.
Damar ngedumel ria, dengan menirukan suara kemayu Wulan yang jelas saja tidak terdengar mirip dengan suara Wulan. Seolah ia akan membuat wanita yang duduk disebelahnya bakalan jatuh cinta sampai tak karu-karuan rasanya. Jatuh cinta yang menggelitik isi di dalam dada.
Wulan mengangkat bahunya acuh, “Oke! Aku anggap ini tantangan, kalau sampai kamu bisa buat aku klepek-klepek sampai kejer-kejer, bukan kamu yang ngelamar aku! Aku yang bakal ngelamar kamu! Kamu kali yang bakalan jatuh cinta sama aku?” cetus Wulan enteng, dan membalikkan tuduhan.
__ADS_1
Damar mengangkat alisnya, “Oke, mulai malam ini, aku sepakat. Bahwa ini adalah tantangan?” Damar menyetujui tantangan yang Wulan tawarkan.
“Ahh.. udah--dah! Kenapa jadi bahas soal cinta-cintaan sih? Jadi nggak belajar menyetir?!” sergah Wulan, ia adalah wanita terisih di dunia jika membahas soal cinta. Seolah hatinya terbelenggu oleh bejana yang tak bertuan.
“Baiklah, guru. Murid mu ini akan patuh!” kata Damar melebarkan senyumnya.
“Mar-- eh...” seru Wulan, namun agaknya lidahnya sudah menyebut Damar tidak memakai embel-embel.
Damar terlanjur sudah mendengarnya,
“Nggak pa-pa, Damar aja! Lebih asik, dan lebih akrab,” pungkas Damar sambil mengedipkan matanya.
Wulan memutar bola matanya jengah, ketika kerap kali mendapat kedipan mata dari mata genit Damar. “Kenapa tuh mata, kelilipan?!”
Damar membelo'kan matanya, “Enggak! Ayok guru, aku sudah siap!”
Wulan mulai memberikan aba-aba untuk Damar, “Pertama rileks,”
Dengan seksama Damar mendengarkan, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. “Sudah,”
“Terus pakai sabuk pengaman,”
Damar menoleh kearah Wulan
“Fokus tuh mata, nggak usah nengok-nengok awak! kecantikan awak tak pernah luntur!” ketus Wulan, Damar kembali fokus menatap jalanan depan.
Detak jantung Damar mulai menabuh genderang perang, ia gugup dan canggung.
“Taruh kedua tangan di kemudi,” tutur Wulan, menatap setiap gerakan Damar.
“Oke!” gumam Damar, beberapa kali ia menghela nafasnya.
“Kaku amat tuh tangan! Kaya robot Transformers!” Wulan dengan telaten memegang tangan Damar dan memberikan aba-aba apa saja yang di perlukan bagi pemula yang baru belajar menyetir mobil.
Damar merasa nyaman dengan setiap aba-aba yang Wulan ajarkan, semenit ia terkesima. Ia kemudian memasukkan gigi, dan menginjak pedal gas, ‘Nih cewek baik juga, nggak segalak tadi.'
“Fokus-fokus!” seru Wulan, mobil pun perlahan melaju pelan.
Damar mulai bisa menguasai laju mobilnya, dengan tangan Wulan yang masih bertumpu pada kedua punggung tangannya. Namun, Damar kehilangan konsentrasinya, manakala bagian dada Wulan yang di balut Lacey dress merah marun berenda menggesek bahu Damar. “Anjirt.. minggir Nawu, aku laki-laki tulen, jangan menggodaku!” sentaknya keras,
Hingga Wulan terperanjat dan menyadari dirinya yang sudah terlalu dekat dengan tubuh Damar, bahkan hampir berdempetan. Ia melepas tangan di punggung tangan Damar di kemudi, dengan kegugupan serta kecanggungan bin salah tingkah.
“Yes! Akhirnya aku bisa menyetir!” seru Damar, seraya melepaskan kedua tangannya dari kemudi dan bersorak layaknya suporter sepak bola.
Namun, sesaat kemudian, laju mobilnya oleng dan....BRAK
“Mampus.... penyok dah nih mobil!”
•••
Bersambung...
__ADS_1