Presdir Cilok

Presdir Cilok
38 Tamak


__ADS_3

Kesuksesan berawal datangnya dari berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian. Sakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.


•••


Kakek Bagaskara dan yang lainnya nampak terkejut dengan perkataan yang Damar ungkapkan. Menggambarkan intelektual yang sudah biasa mendebat dengan strategi dalam pengucapannya.


Meskipun Damar jelas terlihat pemuda yang sangat sederhana. Berperawakan tinggi 173 cm berlesung pipi serta hidungnya yang mancung. Akan tetapi dalam tutur katanya ia sangat berwibawa.


Damar masih berdiri bergeming tidak jauh dari sofa hitam. Menatap dengan keberanian terhadap lelaki sepuh yang ia jumpai ternyata adalah Kakeknya.


"Dia memang orang yang telah melahirkan cucu Kakek, tapi Kakek tidak bisa menerima wanita itu sebagai menantu Kakek!” pungkas Kakek Bagaskara, mengingat kejadian dua puluh enam tahun silam.


Saat Gusli Wijaya lebih memilih meninggalkan harta kekayaan dari keluarga Wijaya dan hidup bersama dengan Suciati, Ibu dari Damar Mangkulangit. Tanpa persetujuan dari keluarga Wijaya termasuk Kakek Bagaskara.


Damar bersitatap dengan Kakek Bagaskara,


"Lalu jika Anda sampai sekarang tidak bisa menerima wanita yang Anda anggap hina, kenapa mencari keberadaan kami? Biarkan kami hidup tenang tanpa di bayang-bayangi orang yang tidak menerima Ibu saya sebagai menantu Anda, Tuan,” ucap Damar penuh dengan ketegasan.


Kakek Bagaskara tersentuh pilu dengan pernyataan Damar yang menekankan dengan sebutan ‘Tuan pada dirinya.


"¹Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela. ²Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, ³dia (manusia) mengira hartanya dapat mengekalkannya. QS. Al-Humazah. 1, 2 dan 3.” jelas Damar, menerangkan suatu perumpamaan dalam ayat suci Al-Quran.


Kakek Bagaskara terdiam mendengar jawaban Damar, namun tidak menurunkan rasa angkuhnya. Kemudian Kakek Bagaskara terkekeh, " Hahaha... Kakek mengakui kecerdasan Gusli menurun padamu.”


Damar tersenyum miring, "Saya tidak mengenyam pendidikan, bagaimana bisa Anda menyebut saya cerdas seperti Bapak Gusli?”


"Jika kamu bersedia melakukan kerjasama. Maka kamu akan menemukan sesuatu hal yang berbeda, cucuku,” ujar Kakek Bagaskara.


"Kerjasama?” Damar mengulang perkara kerjasama yang di ajukan Kakek Bagaskara dan Pak Bambang. Ia mengedarkan pandangannya menatap plafon putih. Dan kembali menatap Kakek Bagaskara.


“Keuntungan apa yang akan Anda dapatkan, kenapa Anda berniat sekali berkerjasama dengan pedagang cilok macam saya?” lanjutnya lagi, sangat menyangsikan tawaran Kakeknya.


"Mas Damar, tidak baik berkata seperti itu kepada Kakek Anda,” sela Pak Bambang yang masih berdiri tak jauh dari Damar yang sejak tadi tak bergeming dari tempatnya berdiri.


Damar menoleh ke samping, tepatnya kearah Pak Bambang dan kemudian tersenyum menyeringai. "Maafkan Atas kelancangan saya. Saya tanya kepada Anda Pak Bambang?” Damar kini beralih bersitatap dengan Pak Bambang. Orang yang sudah menyebabkannya datang ke perusahaan yang sudah karut marut ini.


"Jelaskan kepada saya, apa pengaruh Tuan Bagaskara Wijaya dalam dunia bisnis?”

__ADS_1


Pak Bambang mengerutkan keningnya lalu menjawab pertanyaan cucu dari deretan gladiator bisnis nomer tiga se Asia bahkan merujuk pada globalisasi dunia, "Beliau sangat berpengaruh terhadap dunia bisnis. Bukan hanya Asia tapi juga merujuk pada dunia,”


Damar sedikit terkejut akan jawaban Pak Bambang. Namun ia seolah tidak perduli dan memasang mimik wajah sedatar mungkin.


"Lalu, sekarang saya tanya? Apa ada orang hebat mau bekerjasama dengan pedagang cilok seperti saya? Apakah ini suatu penghinaan atau penghargaan? Di tambah lagi beliau tidak menyukai Ibu saya? Jelaskan sekiranya agar otak pas-pasan saya dapat mencermatinya,”


Pak Bambang hanya diam, beliau sama sekali tidak mengeluarkan menjawabnya untuk mendebat dengan Damar.


Merasa terpojok dengan semua pertanyaan pernyataan Damar, membuat Kakek Bagaskara akhirnya mengakui apa yang membuatnya mencari keberadaan keluarga dari putra semata wayangnya, Gusli Wijaya. Yang bahkan sudah di coret dari daftar nama dan ahli waris.


Kakek Bagaskara pun berujar, "Nenekmu yang meminta agar Kakek mencari keberadaan kalian,"


Damar beralih bersitatap dengan Kakek Bagaskara yang masih enggan untuk menurunkan egonya, beliau menjeda ucapannya. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya,


"Inilah usaha Kakek untuk memulihkan kondisi psikis nya, setelah kepergian Ayahmu 26 tahun lalu, Nenek mu mengalami gangguan pada kejiwaannya.”


Damar tertegun, ‘Nenek, Ayudia Sriningsih? Oh ayolah Damar, kenapa semua ini membuatmu menjadi semakin terlihat bodoh. Di depan orang-orang asing di hadapanmu, bahkan dihadapan lelaki sepuh yang sudah mengakui kalau itu Kakekmu!” batinnya berseloroh membodohi dirinya sendiri.


Damar tersenyum getir..


"Bahkan ketamakan Anda, tega membiarkan Nenek mengalami gangguan jiwa selama ini,” cibir Damar dengan suara yang di tekankan.


"Itu juga kesalahan Ibumu!” ucapnya tidak mau di salahkan. Menjeda ucapannya dan berjalan mendekati Damar.


Damar semakin geram akan sikap angkuh Kakek Bagaskara yang terus saja menyalahkan Ibunya.


"Bantulah Kakek, datanglah ke rumah dan temui Nenekmu bawa juga Danum. Maka Kakek akan membantumu membalaskan dendam mu terhadap keluarga Kusumo,” ungkap Kakek Bagaskara lagi,


Membuat Damar terkejut. Jelas dengan mudah Kakek Bagaskara tahu jika Damar ingin membalaskan dendamnya pada Kusumo, tentu saja dari kedua mata-matanya.


"Da--dari mana Anda tau?” tanya Damar terbata.


Kakek Bagaskara tersenyum tipis, namun ia tidak menjawab pertanyaan Damar. "Gunakanlah kuasa yang Kakek miliki. Dan kamu boleh mengelola salah satu perusahaan Kakek ini.”


Damar tersenyum menyangsikan tawaran Kakeknya,


"Jadi. Anda memberi perintah untuk saya mengelola perusahaan yang sudah bangkrut dan hampir tutup ini? Harus kah ini yang di lakukan seorang Kakek setelah sekian lamanya bertemu dengan cucunya?”

__ADS_1


Kakek Bagaskara mengalihkan tatapannya menatap lukisan ikan koi. "Kamu tidak sendiri dalam mengelola bisnis ini. Ada orang-orang hebat yang akan mendampingi mu. Terimalah tawaran Kakek. Maka akan dengan mudah untuk kamu menghancurkan keluarga dan bisnis Kusumo, si mafia tanah itu.”


Lagi dan lagi Damar terkejut akan hal yang sedang di dengarnya dari Kakek Bagaskara,


‘Jadi Pak Kusumo adalah mafia tanah?' batinnya mulai bergulat.


"Akan tetapi, jangan berharap lebih. Kakek hanya memberikan tawaran padamu untuk menggunakan kuasa yang Kakek miliki. Bukan berarti Kakek memberikan kuasa yang Kakek punya padamu, bahkan perusahaan ini pun tidak akan dengan mudah berpindah ke tangan mu maupun Danum,” lanjut Kakek Bagaskara, dengan ketamakannya, tanpa melihat Damar yang menatapnya dengan ketidaksukaan.


“Anda sungguh tamak,” sinis Damar. Menjeda ucapannya. Kakek Bagaskara mengalihkan tatapannya yang semula menatap lukisan ikan koi, kini bersitatap dengan cucunya.


"Bahkan sekalipun jika Anda seorang milyuner terkaya di dunia sekalipun, saya tidak tertarik. Saya hanya tertarik dengan warisan Anda, bukan dengan perusahaannya.”


Lanjut Damar. Ia tidak bermaksud tidak menghargai orang yang lebih tua darinya, apalagi Kakek Bagaskara adalah Kakeknya. Akan tetapi Damar tidak menyukai wataknya yang sudah tua tapi masih bersikap kufur.


"Haha.. Dasar bocah licik!" cetelukan Kakek. Diselingi tertawa kecil.


Bokir dan Wulan tidak terkejut karena mereka sudah di beritahu oleh orang yang telah mengutusnya untuk mengawasi Damar, tidak lain adalah Kakek Bagaskara Wijaya. Dan sudah diberitahu oleh Kakek Bagaskara Wijaya bahwa Damar adalah cucunya sehari sebelum Damar akan datang ke perusahaan yang hampir bangkrut ini.


Damar beralih menatap menatap satu-persatu orang-orang dalam kendali Kakek Bagaskara, dengan menyipitkan matanya. Wulan, Bokir dan tak luput juga Pak Bambang, dan beralih menatap Kakeknya, "Ya, saya paham sekarang. Semua orang-orang ini adalah orang suruhan Anda,”


"Dua orang ini sudah mulai mengikutiku sejak kapan? Berapa Anda membayar detektif gadungan ini? Apakah saya terlihat seorang penjahat sehingga harus di mata-matai? Lalu kenapa Anda tidak langsung datangi saja kerumah dan berbicara bahwa saya adalah cucu Anda?” cecar Damar, dengan pertanyaan-pertanyaanya, menunjuk Bokir dan beralih kepada Wulan.


Bokir dan Wulan yang merasa tertuduh pun membelalakkan matanya menatap Damar.


"Pertanyaan mu sungguh cerdas! Akan tetapi kamu sudah terlalu berani berkata dan bertanya kepada pria renta ini,” ucap Kakek Bagaskara.


Kening Damar mengerut, "Saya hanya memastikan bahwa orang-orang ini sudah bekerja dengan baik. Dan jangan lagi memerintahkan orang lain untuk memata-matai saya, saya bukan penguntit!" jelas Damar tegas.


Bokir menatap Damar tajam, ia sangat jengkel atas ucapan pemuda yang sudah ia awasi beberapa bulan belakangan ini. Hatinya pun bersenandung memaki Damar. ‘Dasar bocah! Kalau kamu bukan cucu dari deretan orang kaya se Asia. Sudah ku pastikan ACU tempat mu sekarang.'


Sedangkan Wulan si wanita berdarah dingin sama sekali enggan untuk mendengarkan keluhan Damar. Mengenai dirinya dan juga Bokir.


"Tolong di pikirkan lagi Mas Damar, mengenai kerjasama ini. Perusahaan dan karyawan sangat bergantung kepada Anda.” kali ini Pak Bambang yang menimpali.


•••


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2