Presdir Cilok

Presdir Cilok
53 Harapan besar menanti kita


__ADS_3

Keesokan harinya...


Damar menghadiri rapat koordinasi pengembangan perusahaan yang di pimpin langsung oleh dirinya. Selaku Presdir yang menjabat dari perusahaan King food. Ia tengah mendengarkan penjelasan dari semua staf team marketing, salesman dan beberapa staf lain.


“Saran saya, lebih baik memproduksi secara bertahap, Presdir.”


“Saya rasa dengan memasarkan produk di sejumlah daerah dan melakukan evaluasi produk.”


“Tapi, bagaiman bisa masyarakat percaya lagi dengan produk yang sebelumnya tidak layak di konsumsi ini?”


“Begini saja, bagaiman kalau menurunkan harga dan mempromosikan, semacam beli 2 gratis satu. Atau satu pack gratis satu mangkuk cantik.”


“Perusahan yang sudah tercemar buruk ini, harus melakukan evaluasi dan perbaikan konsumen.”


Damar mendengarkan dengan seksama, serta menulis di berkas dan menyalin beberapa penjelasan dari staf yang lebih berpengalaman.


Damar meletakkan pulpen di atas kertas yang ia tulis dan menatap Pak Bambang selaku manajer di perusahaan ini. “Bagaimana Pak Bambang?”


Pak Bambang mengangguk, “Semua masukan dari para staf yang lainnya sangat membantu, tapi dengan melakukan promosi secara gencar-gencaran itu lebih baik. Dan mendatangi langsung kepada konsumen agar lebih tepat sasaran.”


Damar manggut-manggut,“Saya menyetujui semua pendapat para staf dan Pak Bambang. Akan tetapi, dengan cara mengganti merek akan lebih efisien dan efektif. Kita berangkat lagi dari nol, dari perusahaan King food berganti menjadi Amanah food.” pungkasnya.


Pak Bambang diam, beliau menelaah perkataan Damar. Dan sependapat bahwa untuk memulihkan perusahaan yang terpuruk adalah dengan mengganti merek dagang, “Saya setuju dengan Presdir.”


Semua staf yang berada di rungan meeting lantai tiga pun manggut-manggut. Dan saling melempar tatapan satu sama lain.


“Lalu, apa kita akan mengganti olahan yang sebelumnya di olah?” tanya Purnomo selaku atasan dari team marketing.


Damar lantas menjawab, “Tidak! Kita akan tetap mengolah olahan yang sebelumnya sudah menjadi ciri khas dari perusahaan ini. Tapi dengan melakukan pemeriksaan terlebih dulu, layak konsumsi atau tidak. Jangan hanya karena ingin mendapatkan untung besar lalu seenaknya mengolah bahan yang sudah tidak layak pakai.”


“Apa tidak akan mengulur waktu pelaksanaan produksi Presdir. Juga harus meminta izin kepada badan direktorat pangan dan gizi. Untuk mengganti merek dagang, dan itu memerlukan waktu yang tidak sebentar,” ucap salah seorang staf ikut menimpali ucapan Purnomo.


“Soal itu tidak perlu mengkhawatirkannya, saya yang akan mengurus surat-surat lengkapnya. Dan meminta pengembangan juga izin edar.” ujar Pak Bambang selaku mantan pegawai di badan direktorat pangan dan gizi.


“Baik Presdir, saya rasa ketakutan kami hanya akan berimbas pada keburukan. Saya setuju dengan pendapat Presdir.” ucap salah satu team marketing.


“Percayalah! Semua perubahan besar akan selalu berawal dari diri sendiri. Jadi, marilah kita panjatkan doa, semangat, dan motivasi untuk terus bergerak maju. Tanpa memikirkan kegagalan yang seharusnya tidak perlu, yang hanya akan membuat kita ragu untuk terus bergerak maju.” seloroh Damar dengan tegas.


Wulan dan Bokir yang ikut di dalam ruangan meeting itupun sependapat dengan apa yang dikatakan Damar.


“Saya setuju, jadi marilah kita berganti merek dagang menjadi Amanah food. Dan kita bisa buktikan bahwa perusahaan ini memang Amanah!” seru Bokir.


Wulan manggut-manggut, dan ikut bersuara. “Sebagian masa depan kita tergantung dari cara kita melihat masa lalu. Jika kita bijak, harapan besar menanti kita! Jadi saya setuju dengan pendapat Presdir dengan mengganti merek dagang dengan Amanah food.”


Selama hampir dua jam dengan segala perdebatan dan presentasi akhirnya selesai dengan keputusan untuk mengganti merek dagang yang dulu sudah tercemar buruk.


Sebelum semua staf benar-benar meninggalkan ruangan meeting, Damar memberikan yel yel semangat untuk semua pegawainya. “Bismillah... Bekerja... Berdoa... Bersyukur!”

__ADS_1


“Anda lupa satu hal Presdir,” ucap salah satu pegawai.


“Apa?” jawab Damar.


“Bersemangat!” seru yang lainnya.


Damar manggut-manggut, namun ia menyadari satu hal, “Dan yang non muslim, mari kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Semoga apa yang kita usahakan selalu di berkati oleh Tuhan.” kata Damar, menghargai keyakinan staf yang berbeda keyakinan.


Damar tersenyum dan mengangkat kedua tangannya keatas, mengepalkan jari jemarinya pertanda ia sangat berenergi tinggi. “Oke, semangat!”


“Semangat!” seru semua pegawai staf.


Setelah selesai meeting Damar kembali lagi ke ruangannya. Dan duduk di kursi yang bisa berputar di balik meja kerjanya.


“Anda sungguh hebat Mas Damar! Anda mampu membangkitkan semangat para karyawan. Anda adalah seorang pemimpin yang tegas bukan pemimpin yang ganas. Anda bisa memecahkan persoalan dengan tepat.” puji Pak Bambang yang duduk di depan Damar dengan meja kerja di tengah.


Damar tersenyum, “Saya hanya mengikuti apa yang Ibu saya katakan Pak Bambang. Beliau selalu mengajarkan kepada saya, agar menjadi seseorang yang bisa memecahkan masalah bukan malah lari dari masalah dan tanggung jawab,”


Pak Bambang manggut-manggut, beliau berpikir bahwa Ibu dari Damar berbeda dari apa yang pernah Kakek Bagaskara ceritakan padanya. “Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan pergi untuk menemui kawan baik saya yang masih bekerja di Badan Pengawas Obat dan Makanan.”


Damar mengangguk, “Baik Pak Bambang.”


Pak Bambang beranjak dari duduknya dan diikuti oleh asistennya. Damar pun ikut berdiri dan mengantar Pak Bambang sampai di pintu ruangannya.


Sebelum Pak Bambang meninggalkan ruangan Damar, Damar lebih dulu memanggilnya. “Pak Bambang,”


Damar tersenyum simpul, “Terimakasih Pak Bambang sudah berkenan membantu saya yang awam akan ilmu pengetahuan ini apalagi soal bisnis.”


Pak Bambang menepuk pundak Damar, dan memberikan gambaran kebaikan untuk pemuda yang ada di hadapannya. “Bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya. Dengan sendirinya, harum semerbaknya itulah yang tersebar di sekelilingnya.”


Lantas beliau keluar dari ruangan Damar diikuti oleh asistennya.


Damar masih terdiam mematung diri, memikirkan maksud dari gambaran yang diucapkan Pak Bambang. “Apa bedanya aku dan bunga mawar? Apa menurut Pak Bambang, aku terlihat kemayu?” gumamnya pada dirinya sendiri.


Ia pun berbalik hendak menuju meja kerjanya, terdengar telepon berbunyi, ia mengangkat gagang telepon yang ada di meja kerjanya. “Iya ada apa?”


Damar terdiam mendengarkan seseorang yang berbicara dari seberang telepon, “Langsung antarkan beliau keruangan saya.” telepon pun terputus,


Damar melihat Wulan masuk kedalam ruangannya. Menaruh berkas di atas meja kaca memanjang di depan sofa hitam. Damar mendekatinya, dan berdiri di belakang Wulan, hingga wanita yang sedang memakai dress warna hitam sebatas betis berlengan seperempat terkejut dan terhuyung ke depan.


Hampir saja terjatuh di atas meja kaca memanjang, kalau saja Damar tidak menarik pinggangnya. Seketika Wulan bertumpu di pangkuan Damar yang terjatuh di atas sofa hitam.


Sama-sama tertegun, bersitatap hingga sekian menit.


Damar lebih dulu tersadar dan berdehem, “Ekhemm... Sampai kapan kamu begini?”


Wulan mengerjap-ngerjapkan matanya, lantas menarik diri dari pangkuan pemuda yang lebih muda darinya. Ia berdiri sambil menata tatanan rikmanya. Untuk menghilangkan kecanggungan serta kegugupan, Wulan marah-marah kepada atasannya, “Lain kali kalau berdiri itu jangan di belakang! Bisa kan di samping, di depan dan di atas sekalian!”

__ADS_1


Damar menghela nafasnya, lantas berdiri tepat di hadapan Wulan yang sedang menarik urat syarafnya, emosi.


“Begini kan?” ledek Damar dengan sedikit membungkuk mendekati wajah Wulan yang semakin memerah padam bagaikan alarm kebakaran.


Wulan memelototinya dan menginjak kaki Damar dengan cukup keras, hingga Damar reflek mengangkat kakinya dan mengerang, “Arkhhhh.... Gila!”


Wulan tersenyum menyeringai melihat Damar yang kesakitan di bagian kakinya akibat ia injak selayaknya batu besar yang menghantam.


“Awas kamu yah!” seru Damar ia menarik lengan wanita yang sudah beringas menginjak kakinya, hingga betis Wulan menyandung sudut sofa dan terjatuh dilantai.


“Arhhh.... Damaaaaaaar!” teriak Wulan seketika.


Niatnya untuk bertanya perihal keadaan kaki serta mengecek bekas luka tamparan di wajah sekretarisnya, yang semalam membengkak malah semakin membuat wanita ini merasakan sakit.


Damar melupakan sakit di kakinya sendiri dan membantu memapah Wulan untuk duduk di sofa.


Sementara dari depan pintu luar ruangan Damar, para karyawan yang sedang mengantar seorang investor asing nampak sedang menguping kegaduhan dan erangan perihal apakah yang terjadi di dalam ruangan Presdir baru mereka.


“Arhh... Damar sakit! Pelan-pelan!” suara Wulan yang terdengar dari luar ruangan Damar.


“Iya, aku juga pelan ini. Sabar, sebentar lagi juga sakitnya mereda.”jawaban Damar terdengar semakin membuat otak yang mendengarnya di penuhi rempah-rempah pikiran liar.


“Sshhh.... arhhh....” erangan Wulan yang di dengar cukup membuat spekulasi bahwa sedang terjadi ke intiman di dalam ruangan Presdir.


Tak luput dari Bokir yang ikut mengantar investor asing yang akan melakukan kerjasama dengan perusahaan yang dikelola Damar. ‘Aduh, Wulan! Damar! Apa yang kalian sedang lakukan di dalam?' Bokir bergulat di dalam pikirannya.


“Apa yang mereka lakukan di dalam?” tanya Investor asing.


Sebagai team evaluasi kinerja, Bokir bingung untuk menjawabnya apa? Ia pun menemukan ide brilian. “Haha... Biasa Sir, pasangan baru nikah yah begitu itu. Suka nggak tahan, pengen cepet-cepet ah--ah--ah.” jelasnya seraya terkekeh garing.


Para karyawan yang mendengar perkataan Bokir pun membelalakkan matanya, dan mulai berguncing ria... Bisik-bisik tetangga mulai memanas dan siap merebak luas di seluruh area perusahaan.


Investor asing dari Singapura itupun manggut-manggut, “Ya, saya suka gairah pasangan muda.”


Bokir terkekeh geli, ‘Awas kalian, kalian berhutang budi padaku!'


“Haha.. Yes Sir. Kadang mereka lupa tempat dan waktu.” jawan Bokir terkekeh gaje.


Tanpa mereka tahu dengan segala prasangka dan praduga. Di dalam ruangan kantor Presdir baru mereka.


Damar sedang berjongkok memijit kaki Wulan yang masih membengkak, di tambah lagi betis Wulan yang tersandung di ujung sofa cukup keras.


•••


Bersambung...


__ADS_1


Yuk Like, Vote, Komen, Gift. untuk penyemangat biar saya bisa update setiap hari. bagi Kakak yang sudah memberikan dukungan, terimakasih.


__ADS_2