
Memiliki hati yang tidak membenci, senyuman yang tidak pernah menyakiti dan kasih sayang yang tidak pernah berakhir. Karenanya, kehidupan ini penuh dengan lika-liku perjalanan yang menjadikan setiap diri manusia untuk menempatkan diri dalam posisi sebaik-baiknya dalam menghadapi peliknya permasalahan hidup.
Kendatipun, masa lalu bisa menjadi pelajaran berharga bagi setiap insan yang telah melewati masa-masa sulit ataupun membahagiakan. Namun, tak sedikit pula orang yang masih terjebak dalam situasi yang membelenggu kebebasan karena masa silam.
Dan sejatinya welas asih itu ada pada diri manusia yang bisa memahami kelemahan dan kekurangan dalam diri. Lalu bangkit dari semua keterpurukan dan menjadikan diri lebih hebat dari pada sebelumnya.
Seperti itulah, kesadaran yang sedang di perhatikan oleh Wulan. Ia telah menceritakan tentang hal yang ingin sekali diketahui oleh suaminya. Ia tidak ingin menjadi semakin berlarut-larut dalam peliknya masalah yang seharusnya di anggap bukan masalah.
“Farhan adalah teman masa kecilku, dialah orang yang telah menyelamatkan ku dari kepungan maha dahsyat ombak besar.” tutur Wulan lirih, ia menunduk seraya mengingat sosok Farhan.
Damar memejamkan matanya, kata penyelamat? Akh.... rasanya sangat aneh. Damar berpikir, apakah ia cemburu dengan kata-kata itu? Bukankah seharusnya ia bersyukur ada seseorang yang telah menyelamatkan nyawa istrinya? Damar mengusap dada, mencoba menetralkan perasaan yang mulai di rayapi oleh kecemburuan masa silam istrinya.
“Saat itu, usiaku 10 tahun dan Farhan 12 tahun. Sebelum kejadian naas itu, dia memberikan ku kalung...” sejenak Wulan menjeda, ia menatap kalung liontin putih yang berada di atas meja memanjang di depannya. “Dia berujar, ingin menjadikan ku pacarnya, jika kami sudah dewasa. Tapi...” kembali Wulan menghela nafas panjang.
Damar masih setia mendengarkan, tanpa sedikitpun menyela penjelasan Wulan.
“Tapi, takdir berkata lain, ombak besar itu melahapnya dan membawa Farhan entah kemana? Sudah 10 tahun belakangan ini aku mencarinya, bahkan meminta bantuan teman-teman Ayah yang bekerja di badan intelijen negara. Akan tetapi, sampai sekarang...” Wulan menggantungkan ucapannya. Ia menggeleng perlahan.
Melihat ekspresi Wulan yang seakan sangat kehilangan sosok Farhan membuat Damar menghela nafas yang serasa berat. Cemburu? Hah, iya cemburu! Kenapa dan ada apa dengan cemburu, kenapa sangat menyayat hati. Tidak bisakah untuk melakukan kerjasama dengan yang namanya cemburu? Kemudian Damar berpikir, untuk menyampaikan sesuatu yang ada di dalam benaknya. “Seandainya kamu bertemu dengan teman masa kecilmu, apa kamu beneran akan menjadi pacarnya, atau bahkan istrinya? Lalu bagaimana denganku?”
Wulan membulatkan matanya mendengar celotehan Damar. Ia mengerjap memandangi wajah suaminya ini dari samping. Wulan mengalihkan posisi duduknya, ia menyamping dengan menumpukan satu kakinya di atas sofa. “Apa yang sebenarnya ingin kamu sampaikan? Apakah kamu nggak puas dengan penjelasanku? Atau justru kamu malah mencurigai ku?!”
Damar menoleh kearah Wulan, bersitatap dengan menggerakkan kedua bola matanya menatap sepasang netra yang sedang menatapnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Wulan. Damar justru malah balik bertanya,
“Bagaimana sekarang, apa kamu lega?” tanya Damar, terus mengamati ekspresi wajah Wulan.
Wulan menerawangkan pandangannya, melihat jam pasir yang terdapat di sudut ruangan kantor Damar. Ia hanya mengangguk tipis.
Damar duduk dengan menumpukan kaki kirinya di kaki kanannya, ia mencondongkan tubuhnya mendekati sang istri. Mengusap rikma Wulan perlahan. “Aku akan membantumu menemukan Farhan, tapi dari bencana alam yang maha dahsyat. Untuk berjaga-jaga melenceng dari harapan, apa kamu sudah mempersiapkan hati untuk menerima berita apa-pun?”
Wulan mengalihkan atensinya, ia bersitatap dengan Damar. “Sudah lama aku mempersiapkan hati yang lapang,”
“Apa kamu mencintainya?” cetus Damar, mempertegas suaranya.
Wulang mengerutkan keningnya, sedikit memiringkan kepalanya. “Apa kamu masih ragu?”
__ADS_1
Damar mengangkat bahunya. “Entahlah!..” ia membuka lipatan kakinya, lalu berdiri dengan berkacak pinggang. “Semua orang bisa melakukan pelanggaran,”
What's pelanggaran?! Pelanggaran apa yang dia maksud?! Wulan menggelengkan kepalanya perlahan. “Lumrah, untuk jangan percaya sepenuhnya terhadap orang lain,” Wulan ikut beranjak dan berjalan mendekati, berdiri di samping Damar dengan arah yang berlawanan. Ia menengok memandangi wajah Damar yang memperlihatkan rahang tegas dari suaminya ini. “Tapi... jika kamu meragukanku, jangan salahkan aku, kalau aku suatu saat bisa saja pergi karena merasa jenuh atas kecurigaan mu yang nggak berfaedah ini!” tegasnya menegaskan bahwa ia adalah wanita yang benar-benar malas di curigai tanpa adanya sebab yang jelas.
Wulan berpikir, hal apa lagi yang membuat Damar ragu. Bukankah, ia sudah menceritakan siapa sebenarnya Farhan. Masihkah, suaminya ini tidak percaya? Oh bulset, cinta itu membagongkan. Ia berjalan melewati Damar... dan tiba-tiba kedua tangan kekar melingkari pinggangnya. Grep.....
Damar memeluk istrinya erat dari belakang. menyandarkan kepalanya di pundak sang istri. “Jangan pergi kemana-mana.... Atau kamu akan mendapati ku, di rumah sakit jiwa..”
Wulan menggeleng pelan, ia memutar bola matanya malas... Apalagi yang sedang dia bicarakan?! Aku seolah menikahi pria sinting! Tapi aku cinta, halah-- lagi-lagi karena cinta.’
“Bagaimana soal pembahasan di mobil saat mengantarkan mantanmu itu?!” tanya Wulan sok acuh, tapi padahal mah penasaran banget.
Damar menggeleng, seraya mengalihkan posisi tangan yang melingkar di perut istrinya. Lebih mendominasi ke atas sampai mencapai leher sang istri, dan kemudian meraba-raba area gundukan bukit kembar yang masih rapat dibalut kemeja putih. “Nggak ada hal penting, dia mengatakan padaku bahwa dia ingin bermeditasi di pesantren.”
“Be-benarkah?” gagapnya, merasa panas dingin mendapati suaminya kini lebih agresif. Wulan menunduk, mengerjap memandangi tangan Damar yang mulai meraba-raba area di depan dada, seperdertik kemudian tangan yang semula meraba, kini berubah menjadi remasan. “Ah...” Wulan memekik terkejut. Masih dalam tingkat kenormalannya, Wulan kembali bertanya. “Lalu, bagaimana dengan peringatan mantanmu soal rencana Opik?”
Lagi... Damar menggeleng keras. “Jangan terlalu dipikirkan, jangan pula di anggap enteng! Aku tau seperti apa cara menangani Opik.” jawabnya santai.
Remasan di area dadanya tak dapat tertahan, hingga membuat Wulan merasa semakin geli-geli sadap... tangannya pun mulai terangkat, dan memegang punggung tangan suaminya yang semakin liar untuk memancing rangsangan.
Wulan terkejut dengan kedatangan Bokir yang sudah berdiri di ambang pintu dengan seorang staf dibelakang pria berkepala pelontos itu. Ia menepuk-nepuk lengan Damar. Namun, suaminya ini enggan bergeming, dan malah semakin mengeratkan pelukannya. Wulan merasa semakin geli manakala Damar menciumi ceruk lehernya.
“Damar, ada Bokir!” dengus Wulan dengan gigi yang di satukan.
Damar mengangkat wajahnya, menatap kearah pintu... dan melihat Bokir sedang berdiri dengan seorang staf. Akan tetapi, ia masih dalam posisi yang sama. Hanya memindahkan posisi tangannya yang semula meremas salah satu bukit kenyal, kembali melingkar di depan perut istrinya. “Ada apa Kang Bokir?”
Bokir menatap Damar, malas. “Gila yah kalian berdua, mesra sih mesra. Tapi nggak di kantor juga keles!”
Masih memeluk Wulan dari belakang. Damar menjawab dengan nada santuy. “Memang salah meluk istri, udah taruh aja di meja situ Kang, nanti ku ambil.”
Wulan merasa dalam posisi seperti ini membuatnya malu, untuk menatap Bokir. Apalagi seorang Bokir tahu seperti apa tabiatnya dulu yang seolah alergi terhadap pria. Namun, kini berbanding terbalik.
Mendengar jawaban Damar yang terdengar nyolot membuat Bokir merasa aduhai... Ia menghela nafas panjang. “Edan..”
Bokir dan seorang staf pun menaruh map biru di atas meja kecil di samping pintu masuk ruangan kantor.
__ADS_1
“Jangan lupa tutup pintunya, Kang! Dan terima kasih,” seru Damar. “Aku mau melanjutkan sesuatu!” sambungnya tanpa canggung.
Wulan menggeplak lengan Damar.
“Walah.... angel- wes angel!” Bokir geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Damar. “Jangan lupa ada pertemuan di hotel Borobudur sore ini.”
“Hem..” dehem Damar. Masih enggan melepaskan pelukannya, meskipun ia tahu istrinya ini sedang merasakan risih.
Bokir dan seorang staf pun keluar dari ruangan Damar, seraya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Damar yang kebucinan abis.
Sepeninggal Bokir, Damar sejenak melepaskan pelukannya, ia berjalan menuju pintu dan menguncinya.
Wulan heran dengan sikap Damar.
Damar kembali melanjutkan aksinya, ia mendekap erat Wulan. Menciumi ceruk leher istrinya. Membuat Wulan menggeliat geli, tangan kanannya menarik kerah kemeja putih yang dikenakan Wulan, hingga menampakkan pundak istrinya yang putih bersih serta tali penyangga (sensor) yang berwarna cream. Damar menelan salivanya, ia menciumi pundak Wulan. Sedangkan tangan kirinya meremas salah satu gundukan bukit kembar yang kenyal.
“Apa yang kamu ingin lakukan? Nggak mungkin di sini kan?! ” tanya Wulan dengan nafas tertahan, ada sensasi gairahh yang tertahan.
Dengan sekali hentakan tangan, Damar membalikkan tubuh istrinya yang aduhai... dengan ukuran pinggang yang gemulai, pundaknya yang semampai, bukit kembar yang pas di genggaman. Di tambah bibirnya yang sensual, hm. Sungguh keindahan yang sepatutnya di syukuri. Ia mengusap ujung bibir ranum itu, bibir ranum yang menjadikan ciuman pertamanya. “Kita akan melakukannya di sofa.” ucapnya dengan suara berat.
Wulan mengerjap memandangi wajah Damar yang menunjukkan gairahh dari seorang pria normal. “Apa?”
Damar membungkam bibir sensual istrinya, agar tidak banyak mengajukan pertanyaan. Ia menarik Wulan untuk berpangku di atasnya yang telah duduk di sofa hitam. Tangannya meraba-raba menyusuri setiap jejak yang sepatutnya menjamah tubuh langsing istrinya yang berbobot.
Wulan mulai merasa nyaman dengan setiap jangkah jejak jemari tangan Damar, ia mulai membuka satu persatu kemeja marun yang Damar kenakan dan membalas pelukan hangat serta menciumi dada sang suami.
Damar membalasnya dengan lebih baik.
Dan seterusnya sampai pada suatu titik yang sama-sama saling menguntungkan.
“Aaahhh....”
•••
Bersambung...
__ADS_1
Please like..