
“Hahaha...” seorang pria setengah baya tertawa dengan sangat renyah.
“Mas Kusumo, kenapa kamu terlihat sangat bahagia? Dan apa hubungan mu dengan Presdir dari Amanah food, kenapa kamu menukar truk bahan mentah dengan bahan yang sudah kadaluarsa?!” kata seorang pria setelah memasuki ruangan kantor Kusumo.
Kusumo lantas berdiri, masih dengan kebahagiaan yang tiada tara, “Dengar Hendro, jelas aku sangat senang! Karena bocah tengik itu sedang kalangkabut sekarang ini!”
Orang yang bernama Hendro pun geleng-geleng kepala, ia meradang, Kakaknya sudah melibatkan perusahaannya untuk bermain curang, “Tapi Mas Kusumo sudah melibatkan perusahaan ku! Aku tidak akan tinggal diam, kalau sampai membahayakan keselamatan perusahaan yang sudah lama ku rintis dengan susah payah ini!”
Kusumo pun berjalan memutari Hendro, “Tenang adikku, Hendroyono, kamu tidak akan mendapatkan masalah,”
Hendro menatap Kusumo dengan tatapan tajam, “Jaminan apa yang Mas Kusumo berikan padaku?”
Kusumo bersitatap dengan adiknya yang jelas terlihat sangat tegang, “Akan aku jamin dengan tanah seluas satu hektar beserta dokumen resmi,”
Hendro memicingkan matanya, menyangsikan tawaran Kusumo, “Benarkah, dokumennya resmi? Aku meragukannya?!”
“Dengarkan aku! Para anak buahku sedang mengusir warga yang menempati lahan seluas satu hektar atas nama Pujiono yang meninggal dalam kecelakaan tragis, kebetulan sebelum dia wafat, dia menggadaikan sertifikasi tanahnya padaku,” jelas Kusumo, mengenai asal-usul tanah milik salah satu temannya yang meninggal karena kecelakaan tiga tahun silam.
“Menggadaikan ataukah mengambilnya? Lalu, apakah tidak ada ahli waris yang akan menuntutnya?” tanya Hendro.
“Tenanglah Hendro! Kenapa kamu sangat meragukan Mas mu ini, hah?!” sergah Kusumo, seraya duduk di tepian meja kerjanya “Aku sudah mengantisipasi hal yang bisa saja terjadi,” lanjut Kusumo, dengan siasatnya.
“Apa maksud Mas Kusumo?” tanya Hendro, tidak mengerti. Ia memang tahu Kakaknya bisa membalikkan nama dari akte-akte tanah, tapi tidak sejauh ini membayangkan kelicikan Kakaknya yang lebih tua sepuluh tahun darinya.
“Aku sudah mengganti nama ahli waris, dan sudah sudah di legalisasi dokumen, bahwa sekarang tanah seluas satu hektar adalah milikku! Hahaha...” balas Kusumo tertawa lepas.
Hendro lagi-lagi hanya bisa geleng-geleng kepala, melihat keserakahan manusia yang ada di hadapannya. “Ingat Mas Kusumo, Tuhan tidak tidur!” lantas pergi meninggalkan ruangan Kusumo. Meskipun di lahirkan dalam rahim yang sama, tapi ia dan Kusumo sangat berbeda pemikiran dan pemahaman tentang hidup.
Kusumo hanya mengangkat bahunya acuh
••
Setelah merasa puas, telah memberikan pelajaran kepada Damar. Kusumo pun pulang ke kediamannya yang megah ruah, dari harta yang bergelimang mempesona dunia fana.
“Papi kenapa kok bahagia banget? Baru dapet tender proyek yah?” tanya Ana, wanita setengah baya glamor menyambut kepulangan suaminya “Berapa milyar? Apa triliun?” tanya Ana lagi antusias.
Kusumo pun merangkul pundak subur istrinya dan berjalan memasuki rumah, “Lebih dari itu!”
Ana beralih ke hadapan Kusumo, “Benarkah? Kalau begitu, apa boleh Mami beli perhiasan yang seharga 3 ratus juta itu?!”
“Tentu! Papi juga ada proyek besar yang omsetnya mencapai triliunan!” balas Kusumo, dengan rancangan penjualan lahan di kawasan Kertanegara.
Namun, obrolan Kusumo dan Ana di ruang tamu yang mewah harus terhenti, manakala melihat Ratna baru pulang menangis tersedu-sedu dan berjalan dengan langkah jenjang memasuki rumah.
__ADS_1
“Kenapa anak bungsu kita Mi?” tanya Kusumo kepada Ana, menatap dengan tatapan menyelidik melihat Ratna yang akan menaiki anak tangga.
“Biasa Pi, semenjak menikah dengan Opik hampir setiap hari mereka berantem dan pulang dalam keadaan seperti ini! Papi sih terlalu sibuk di kantor!” jelas Ana, yang setiap hari harus melihat rumah tangga putri bungsunya yang selalu di rundung masalah.
“Ratna!” seru Kusumo, memanggil Ratna yang baru beberapa langkah menapaki kakinya di anak tangga.
Ratna pun menghentikan langkahnya, ia masih enggan untuk menatap Papinya.
“Ratna!”
“Ratnaaa!” seru Opik yang baru memasuki rumah.
Kusumo dan Ana beralih menatap menantunya.
“Opik! Ratna! Ada apa ini?” Kusumo berjalan mendekati Opik.
Ratna kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar
“Maaf Pi, Opik harus menjelaskan kesalahpahaman ini sama Ratna!” Opik pun melewati Kusumo dan belari kecil menaiki anak tangga menyusul Ratna.
Ana menghempaskan nafasnya, kesal.“Heran sama pernikahan Ratna sama Opik,” Ana berkacak pinggang, “Pernikahan macam apa mereka, selalu berantem, nggak ada harmonisnya!” lanjutnya lagi.
Kusumo dan Ana pun mendengar pertengkaran Ratna dan Opik di lantai dua.
Sementara itu di kamar Ratna Opik sedang berlutut di hadapan istrinya. “Ratna maafin aku,”
Opik berdiri, “Tolong dong Ratna, kamu ngertiin aku, memahami pekerjaanku yang sebagai model! Memang harus berjibaku dengan para model wanita!”
“Bohong kamu Pik! Kalau memang mereka rekan model kamu, kenapa harus ada pangkuan dan rayuan di cafe, Opik!” teriak Ratna, melihat Opik dan seorang wanita berpakaian seksi sedang bermesraan sewaktu di sebuah cafe, juga setiap kali mendapatkan pengaduan dari teman-temannya yang melihat Opik selalu bermesraan di lain waktu.
“Yang kamu lihat salah paham, sayang!” lagi Opik mencoba menjelaskan.
“Salah paham apa Opik! Kamu pikir aku bodoh! Setiap kali teman-temanku bilang kalau kamu suka bermesraan dengan wanita-wanita jal*ng itu, tapi aku diam dan mencoba percaya padamu. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau mereka bohong!” cecar Ratna dengan emosional yang meronta-ronta, ia menyeka air matanya yang mengalir tanpa henti.
“Tapi, tapi apa sekarang Opik!” Ratna ambruk bersimpuh di lantai, “A--aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau memang kamu sudah bermain dengan wanita-wanita jal*ng itu Opik!”
Opik ikut bersimpuh, ia mencoba merangkul Ratna, namun tangannya selalu di tepis, “Maafin aku Ratna,”
“Pergilah Opik!“ teriak Ratna, “Damar jauh lebih baik darimu! Dia tidak pernah menyakiti ku, meskipun dia tahu aku sudah mengecewakannya!” lagi Ratna bersuara diselingi tangisan yang semakin menjadi-jadi kala mengingat kembali sosok seorang Damar.
Opik sangat emosi mendengar Ratna membandingkannya dengan Damar, “Aku jelas berbeda dengan dia Ratna! Kalau kamu memang dulu mencintainya, kenapa kamu memilih ku! Hah!”
“Aku pun menyesali tindakan ku yang sudah bersedia dengan manusia super kejam seperti kamu, Opik!” balas Ratna, dengan emosi yang membara.
__ADS_1
Opik sangat tidak terima mendengar makian Ratna padanya, harga dirinya merasa sudah di injak-injak oleh istrinya, ia mengambil sejumput rambut Ratna dengan kasar, “Dengarkan aku baik-baik Ratna! Wanita manapun bisa aku dapatkan dengan mudah!”
Setelah mengatakan itu, Opik menghempaskan Ratna begitu saja dan berjalan keluar kamar dengan langkah jenjang..
Ratna kembali menangis sejadi-jadinya seraya memeluk lututnya sendiri. Keadaannya kini sangat berantakan laksana angin yang sudah memporak-porandakan sebuah desa.
•
Opik pun turun dari lantai dua, dan menatap tatapan tajam dari mata Kusumo. Namun, ia sudah lelah dengan segala makian mertuanya pada dirinya, ia terus saja berjalan menuju pintu rumah yang masih terbuka.
“Pergilah Bangs*t jangan pernah kembali lagi ke rumah ini!” maki Kusumo berang, mengusir menantu pilihannya.
PRANG
Opik menjatuhkan guci keramik yang bernilai ratusan juta di samping pintu masuk rumah mertuanya, ia benar-benar meninggalkan kediaman Kusumo dengan hati yang meradang, harga dirinya terluka dengan perkataan Ratna yang sudah membandingkannya dengan Damar.
Kusumo terkejut melihat guci kesayangannya pecah, berserakan dimana-mana. Ia memegangi dadanya, “Dasar menantu tidak tahu diri!”
Ana segera membantu suaminya untuk duduk, “Sabar Pi.”
•
•
Di gudang penyimpanan bahan mentah, kini semua orang karyawan maupun Damar yang secara langsung melihat proses pemeriksaan dan pembongkaran terhadap bahan-bahan yang tersimpan di dalam kardus-kardus besar.
“Kacau-kacau! Benar-benar kacau...!!” bukan suara Damar yang marah, melainkan Pak Bambang yang merasa kecewa akan kerja yang di lakukan Pak Nugroho. “Kamu sudah mempermalukan saya, Nugroho!”
“Maafkan saya Pak Bambang Mas Damar, tolong jangan laporkan saya ke polisi,” kata Pak Nugroho lirih, kini semua biang keladi penyebab kekacauan sudah di ketahui oleh Pak Bambang dan Damar, “Saya mengakui memang saya di suruh oleh Pak Kusumo, atau kalau tidak dia akan mengusir saya dari tempat yang saya tinggali serta keluarga saya, saya tidak ada pilihan lain, Pak Bambang, Mas Damar.” sambungnya lagi, dengan suara lirih.
Damar menghela nafasnya yang serasa berat, “Kusumo lagi, Kusumo lagi!” ia menatap Pak Nugroho dengan tatapan penuh dengan amarah dan ketegasan, “Saya tidak akan melaporkan Pak Nugroho ke polisi, tapi...”
Damar menggantungkan ucapannya, “Jangan pernah lagi perlihatkan wajah Bapak Nugroho di pabrik ini!” inilah sikap tegas yang harus Damar ambil, untuk mempersempit ruang gerak orang-orang berpikiran picik, yang berniat menjatuhkan Amanah food.
Lalu beranjak dari duduknya, ia sangat geram akan sikap orang-orang yang telah tega berbuat curang. “Kang Bokir, usut tuntas semua orang yang terlibat!”
Bokir mengangguk, “Baik.”
Damar beralih menatap Pak Bambang, “Pak Bambang tidak perlu membawa orang lain lagi untuk menjaga gudang, saya punya orang-orang yang saya percayakan.”
“Baik, Mas Damar.” jawab Pak Bambang.
Damar pergi dari area gudang, lalu bersiap dengan Wulan untuk mencari distributor yang akan memasok kebutuhan produksi pabrik dalam waktu singkat. Ia menganggap keberhasilan orang sukses adalah orang yang dapat membangun pondasi dari batu-batu yang dilemparkan orang lain kepadanya.
__ADS_1
•••
Bersambung...