
Saat kesibukan semakin menjadi-jadi, waktu pun tak berasa terlewati. Sukses tak pernah menunggu kapan waktunya tiba. Semua berjalan seperti apa yang sebenarnya di kerjakan. Karena keberhasilan, sebuah rencana yang di lakukan dengan tindakan. Dan berusaha untuk mewujudkannya.
Maka jangan malas-malas untuk bekerja... Jangan malas-malas untuk berkarya...
Di dalam ruangannya, setelah sholat Dhuhur dan makan siang. Damar semakin hari semakin sibuk dengan pekerjaannya. Dengan segenap urusannya. Dengan segala rutinitasnya, di kursi meja kerjanya. Setumpuk map berkas, dan layar laptopnya yang menyala, menunjukkan angka-angka yang subjektif berdasarkan penelitian dalam mengecek semua dokumen penting dalam menjaga keutuhan integritas perusahaannya.
Meskipun sudah terlebih dahulu, di teliti oleh sekretaris dan manajernya. Namun, sebagai seorang Presdir ia tidak ingin semua lepas dari kendalinya. Bahkan, sekarang secara langsung ia sendiri yang mencari kesempatan emas untuk memasuki pasar globalisasi dunia bisnis yang sangat menguntungkan beromset milyaran dollar.
Fokusnya pada berkas dan pulpennya harus terganggu, kala pintu di ketuk. Tok... Tok... Tok...
Damar mengalihkan tatapannya, menatap pintu ruangannya. “Masuk!”
Pintu pun tersingkap dengan Bokir yang memegang handle pintu, lalu berjalan masuk untuk menyampaikan informasi, pria berkepala pelontos ini pun duduk berhadapan dengan Damar. “Lusa adalah sidang perdana yang di agendakan oleh majelis hakim pengadilan negeri untuk kasus Kusumo, Mar.”
Damar manggut-manggut, “Benarkah? Jadi kasus apa saja yang akan menjeratnya masuk kedalam jeruji besi, dan berapa puluh tahun majelis hakim menjatuhi hukuman pada si bandit tanah itu?”
“Ada banyak tuntutan Mar, dari mulai kasus pelanggaran terhadap peraturan perusahaannya, dan soal tanah yang sudah memakan banyak korban,” jawab Bokir, pria yang berwajah seperti Bari Prima ini, memang selalu bisa di andalkan, itulah mengapa Kakek Bagaskara begitu mempercayainya.
Damar mengerti akan hal itu, bahwasannya seperti dalam kutipan kata-kata bijak. “Itulah mengapa kapal Titanic yang sangat gagah pada akhirnya harus tenggelam hanya karena es batu karang! Karena apa pun yang berasal dari kesombongan pada akhirnya lenyap!”
Bokir manggut-manggut, mendengar apa yang barusan diucapkan Damar, sebuah gambaran tentang kehidupan. “Jaksa menuntut 20 tahun kurungan penjara, dan semua aset akan di tarik untuk mengganti kerugian negara dan masyarakat yang telah tertipu, Mar,” ungkap Bokir, dari informasi kabar yang di dengar.
“Jadi, apa hukuman itu pantas dia dapatkan Kang Bokir?” tanya Damar, seraya menepuk-nepuk pulpen ke dagunya.
Bokir heran dengan pertanyaan Damar, “Apa dendam mu masih belum puas, Mar?”
Damar menggeleng, ia mempunyai rencana lain, dari apa yang di perkirakan semua orang tentangnya. Bukan hanya dendam, tapi ia juga ingin memperlihatkan bahwa kini dirinya adalah pria yang memiliki banyak uang di mata mantan pacar yang sudah begitu merendahkannya dahulu. Bukan bermaksud menyombongkan diri, dengan kesuksesan yang diperolehnya. Namun, Damar merasa adakalanya, semua orang yang dulu pernah merendahkannya, harus tahu. Siapa Damar Mangkulangit sekarang ini.
••
Di rumah megah nan mewah.
Acara lelang sedang di adakan di depan rumah yang bergaya klasik megah ini. Hampir semua dari kalangan pengusaha kaya menawar dengan tawaran dari yang paling rendah hingga yang tertinggi..
“Dua koma lima milyar!”
__ADS_1
“Dua koma setengah miliar!...”
“Tiga miliar!...”
Suara-suara lelang, saling sahut-menyahut menggema di luar rumah. Sampai terdengar di kamar anak pemilik rumah.
Kini seorang wanita sedang menangis tersedu-sedu, perihal rumah yang ia tempati bersama dengan kedua orangtuanya harus disita oleh pihak notaris perbankan.
“Sudahlah, Na. Lepaskan saja rumah ini, kita harus menerimanya, bahwa rumah ini bukan rumah Papi lagi,” kata Vega, Kakak tertua Ratna.
Ratna menggeleng keras. “Enggak Mbak, aku nggak mau ninggalin rumah ini, Mami belum tahu kalau Papi di penjara juga tentang rumah ini yang harus di lelang.”
Di ambang pintu kamarnya, Kakak kedua Ratna menyambar ucapan adiknya. “Sudahlah Rat, Mami nggak akan pernah balik ke Indonesia!”
Ratna menatap Kakaknya dengan mata yang sembab, “Apa maksud Mas Ilham, jangan pernah berkata seperti itu, Mas!”
Ilham pun mendekati Ratna, yang sedang menangis tersedu-sedu. “Mami sudah lama berselingkuh di New York dengan seorang berondong! Dan dia nggak bakalan balik lagi ke Indonesia!” seru Ilham, seraya menunjukkan bukti-bukti foto perselingkuhan Maminya dengan seorang pria yang masih terlihat muda.
Ratna semakin kelu, menatap foto-foto yang di lemparkan Ilham di atas ranjangnya. “Bohong! Ini Bohong kan Mas Ilham, Mami nggak mungkin seperti ini, Mas, Mbak!”
Hancur lebur semua datang dalam satu waktu...
“Sudahlah, Ratna. Tinggal saja di rumah Mbak, atau Mas Ilham.. kita harus ikhlas atas semua cobaan ini.” bujuk Vega, mencoba menenangkan adik bungsunya.
“Lebih baik kita fokus untuk kesehatan Papi, Ratna.” ujar Ilham.
Tak kuasa menahan air mata yang semakin tak terbendung, Ratna jatuh bersimpuh di lantai kamarnya. Memukul dadanya yang seakan remuk redam, emosi semakin meradang.
Pernikahannya hancur, dan kini sangkar emas yang ia tinggali, dengan sekejap waktu akan berganti pemiliknya.
Vega tidak tega melihat keadaan adik bungsunya, “Sudahlah Ratna, tenangkan dirimu.. Tidak baik, untuk psikologi janinmu, Na.”
“Kenapa semua ini terjadi padaku Mbak, kenapa? Apa kesalahan ku, Mbak!” ucap Ratna dengan suara parau, perasaannya semakin sesak dengan tangis yang semakin terisak. “Aku nggak menginginkan bayi ini Mbak! Lebih baik aku mati saja!” tangis Ratna, memukul-mukul perutnya.
“Jangan berkata seperti itu Na, istighfar, Ratna.” bujuk Vega, dengan suara lembut.
__ADS_1
Suara ketukan palu dari bawah terdengar nyaring, pertanda pelelangan telah usai, dan kini rumah sudah berganti pemiliknya.
(Rumah telah terjual dengan harga 4 miliar!) seru seorang laki-laki sang pembawa acara lelang pun terdengar cukup nyaring, hingga terdengar sampai ke lantai dua rumah yang mendominasi gaya klasik megah Eropa.
Vega menoleh kearah Ilham, “Ham, bawakan koper Ratna, dan taruh di mobil Mbak.”
Ilham menganggukkan kepalanya, lantas mengambil koper besar yang berisikan pakaian Ratna, dan berjalan keluar kamar adiknya.
Dengan sangat terpaksa dan berderai air mata, wajah yang sembab. Sekujur tubuh yang gemetar, Ratna beranjak dengan dibantu Vega.
Vega menuntun Ratna berjalan menuju pintu kamar besar nan luas adiknya.
Saat sampai di ambang pintu, Ratna berhenti sejenak, lalu menoleh kebelakang. Ia mengedarkan pandangannya, menatap keseluruhan kamar yang ia tempati selama hidupnya. Tatapannya nanar, netranya berkaca-kaca, buliran air hangat kembali membasahi pipinya.
Ratna kembali menatap Vega, “Mbak, aku mau bertemu dengan orang yang sudah membeli rumah ini,”
Vega menganggukkan kepala, ia kembali menuntun adiknya berjalan menuju tangga. Dengan sangat hati-hati Vega menuntun Ratna menuruni anak tangga satu persatu.
Saat sampai di lantai satu, Ratna berhenti ia mengedarkan pandangannya ke penjuru seisi rumah. Kenangan-kenangan, saat ia kecil hingga dewasa terukir dengan sangat jelas di dalam pikirannya. ‘Semua lenyap, dalam sekejap, aku tidak punya apa-apa lagi.’
Vega mengusap pundak Ratna, lembut seraya. “Ayo Na..”
Seorang pria setengah baya yang menjadi pembawa acara dalam pelelangan, serta seorang stafnya, menghampiri Vega dan Ratna, “Selamat sore Bu Vega, Mbak Ratna,”
“Sore Pak Johan,” jawab Vega, ramah. “Pak Johan, adik saya ingin bertemu dengan pembeli rumah ini,” kata Vega, pada Pak Johan.
Sementara Ratna hanya diam seribu bahasa, ia menatap Seseorang bernama Johan dengan tatapan tajam.
Pak Johan mengangguk, “Bisa, bisa, Bu Vega, sang Tuan Jutawan sedang berada di luar.”
Pak Johan pun menoleh kearah stafnya, “Reno, tolong ajak Tuan Jutawan untuk menemui pemilik rumah yang lama.” titahnya pada sang asisten.
Reno mengangguk, “Baik Pak.” Reno pun berjalan keluar rumah megah, dan memanggil seseorang yang sedang bercengkrama dengan pengusaha lainnya. Setelah berdiskusi sesaat, sang Jutawan pun ikut masuk kedalam rumah bersama dengan asisten Pak Johan.
Seketika Ratna membulatkan matanya, melihat seseorang yang sedang berjalan masuk kedalam rumah yang sekarang bukan milik orang tuanya lagi.
__ADS_1
•••
Bersambung...