Presdir Cilok

Presdir Cilok
31 Cokelat meleleh


__ADS_3

Didalam mobil sedan yang di kemudikan Bokir, dengan laju kecepatan sedang. Bokir sedikit bisa bernafas lega, untuk yang kedua kalinya Damar menyergapnya.


"Aku harus lebih hati-hati lagi, sama Damar. Pemuda itu ternyata tidak bisa di anggap main-main!” gumam Bokir.


Sementara Wulan yang duduk di sebelahnya hanya diam, dan mengedarkan pandangannya menghadap kaca netranya menembus laju mobil yang melintasi perkotaan dan melewati pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan.


Dengan penerangan dari lampu-lampu kuning penghias jalan. Tanpa sadar Wulan mengangkat tangan kanannya, menyentuh bibirnya sendiri, dan berseloroh dalam hati,


‘Kenapa rasanya sangat lembut, seperti memakan kue keck dengan lumeran toping cokelat meleleh.'


Bokir yang masih fokus menatap jalanan sekilas beralih menatap rekan yang jauh lebih muda tiga tahun darinya, berniat meledek Wulan, "Gimana Lan, apa ciumannya tadi menggoyahkan iman mu?”


Suara Bokir menghentakkan lamunannya, dan tersadar akan tangannya yang menyentuh bibir serta mengulas senyuman yang entah menandakan apa? Wulan sendiri pun tidak menduganya.


"Ekhmmm...” serileks mungkin, Wulan membenarkan tempat duduknya dengan sedikit menegakkan punggung.


Tidak mendapat jawaban, membuat Bokir mengerutkan keningnya. Dan kembali bersuara, "Nggak usah malu atuh Lan, aku juga setiap hari merasakan kenikmatan saat pertama kali mencium mantan pacar yang sekarang menjadi istriku,”


Wulan melirik sekilas kearah Bokir, dalam hatinya bersenandung dusta,


‘Kenikmatan? Siapa yang merasa nikmat dengan ciuman sepayah pemuda cilok itu!'


"Gue nggak merasakan apa-apa! Lagi pula tadi hanya suatu kecelakaan!” sanggah Wulan sedatar mungkin menjawab pertanyaan Bokir, rekan kerjanya yang sudah delapan bulan tergabung dalam agensi Intelejen.


Bokir mengangkat satu alisnya,


"Yah! Padahal ku pikir dari ciumannya, kamu dapat melihat sesuatu yang mungkin bisa kamu anggap cinta? Kan-- kan kamu nggak mungkin dong nikahin wanita?”


Tuduh Bokir dengan prasangka karena selama bekerja bersama dengan wanita yang terlihat sangat dingin dan tidak banyak bicara ini, terkesan angkuh kepada laki-laki yang menyukainya, dan pernah secara terang-terangan menolak sang atasan yang menyukai wanita yang terlalu menutup diri ini.


Wulan membuang pandangannya menembus kaca mobil yang berwarna gelap, rintik hujan mulai membasahi sebagian jalanan dan bodi mobil. Wulan menyentuh rintik hujan dari balik kaca. Wulan biasa saja menanggapi celotehan Bokir.


Bukan hanya dari Bokir saja yang menuduhnya dengan perkataan bahwa Wulan lesbian. Dari teman-teman rekan kerjanya yang mencoba mendekatinya pun kini enggan untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Bukan berarti Wulan membenarkan ucapan para lelaki yang mencoba mendekatinya.


Akan tetapi ada sebuah rasa yang harus ia jaga.


Dan perihal Cinta? Ya, Cinta!. Nyatanya selama 17 tahun lamanya Wulan hanya mencintai satu orang saja. Yaitu teman masa kecilnya yang sampai sekarang sedang ia cari tak kunjung menemui titik terang.

__ADS_1


"Lan?” seru Bokir, mendapati Wulan hanya diam sibuk dengan pikirannya.


Wanita dengan rikma sebahu ini pun menoleh sekilas kearah Bokir yang masih sibuk dengan kemudinya. Dan kembali menatap lurus ke depan, ia enggan melanjutkan kembali pertanyaan Bokir.


Wulan lebih memilih mengalihkan pembicaraan, meskipun terkesan kaku, "Sudah berapa bulan sekarang bini Lo hamil?”


Pertanyaan Wulan sukses membuat Bokir mengerutkan keningnya, "Kenapa nanya istri ku, Lan? Jangan-jangan setelah istriku melahirkan...” ucapan Bokir mengambang. Dengan tekad ia berujar bersamaan tuduhannya, "Kamu nggak berniat buat mengincar istriku kan, Lan?” lanjut Bokir menengok sekilas Wulan.


"Lo pikir gue lebian?” sinis Wulan.


Bokir hanya mengangkat bahunya acuh, Wulan semakin geram akan sikap rekannya.


Wulan memutar bola matanya, malas dengan tuduhan Bokir. Ia pun meninju pundak Bokir hingga membuat si empunya terkejut dan menekan tombol klakson dengan irama yang memanjang..


BEEEEEPPP...


Bokir hilang kendali kemudi, namun ia masih beruntung Wulan dengan kecepatan tangannya Wulan dapat menghandle kemudi mobil dan tidak berakibat fatal. Karena dari arah berlawanan mobil sedang melaju kencang serta ugal-ugalan.


Bokir yang memejamkan matanya, dan beberapa detik kemudian ia membuka netranya dan menangkap Wulan sedang tersenyum simpul menatap keluar kaca mobil.


"Aneh!” cibir Bokir.


Wulan dapat melihat dari ekor matanya kalau Bokir sedang menatapnya, dengan tatapan aneh. Ia melirik tajam bagaikan anak panah, membuat Bokir merasa ngeri.


"Pegang!” hardik Wulan, meminta agar Bokir mengambil kendali kemudi. Karena ia tidak merasa nyaman jika mengemudikan mobil dari samping.


Dengan sigap, Bokir pun mengambil kendali kemudi. Wulan yang semula mencondongkan tubuhnya kearah kemudi mobil kini menarik diri dan duduk kembali dengan bersandar pada jok mobil. "Nyaman!” gumamnya.


Bokir mencebikkan bibirnya, melihat sikap Wulan yang sering sekali bersikap arogan.


••


••


Selang waktu setengah jam tepat pukul 21:05 wib. Damar melirik alroji di pergelangan tangannya,


"Kemaleman kan pulangnya, mestinya aku ada kerjaan lain, di restoran Pak Budi.” gumamnya, ia pun menatap pintu rumah. Damar melihat penerangan dari ruang tamu sudah gelap. ia merasa Ibunya juga Danum sudah tidur.

__ADS_1


Seperti biasa, setiap ba'da isya Damar akan bekerja paruh waktu sampai jam satu malam. Akan tetapi saat ini, ia merasa percuma jika harus memenuhi panggilan kerjanya.


Damar berjalan mendekati pintu dan mengambil kunci yang terdapat dalam tas selempangnya, dan memegang handle pintu lantas segera membuka pintu samping rumah. Yang di khususkan untuk menaruh gerobak-gerobak ciloknya.


Damar kembali ke gerobak ciloknya yang masih ia parkirkan di halaman rumah. Lantas mendorongnya masuk kedalam rumah lewat pintu samping yang semula ia buka,


Dengan sigap setelah masuk kedalam rumah, ia pun menutup pintu kembali. Melihat lampu tengah yang masih menyala membuat ia berspekulasi bahwa Ibunya atau mungkin adiknya masih terjaga.


Damar pun mengucap salam, "Assalamualaikum,”


Dan benar saja seperti dugaannya, jawab salam Ibunya terdengar sayup-sayup. "Wa'alaikumussalam.”


Damar berjalan mendekati Bu Suci yang sedang membaca buku, terduduk di sofa usang ruang tengah. Damar mengulurkan tangannya dan di sambut tangan Bu Suci. Lantas Damar menaruhnya di tengah-tengah antara keningnya.


Usai Damar menjabat tangan Bu Suci, ia pun melepaskan tas selempangnya, dan duduk tak jauh dari Ibunya.


"Ibu kok belum tidur?”


Bu Suci menatap putra sulungnya dan mengembangkan senyuman, "Bagaimana Ibu bisa tertidur Nang, sedangkan putra sulung Ibu belum pulang,”


Damar menyunggingkan senyuman, dan mengingat hal yang akan ia sampaikan kepada Ibunya perihal kerjasama yang akan ia lakukan dengan salah satu perusahaan makanan.


Damar merogoh tas selempangnya yang ia pangku di atas pahanya, dan menunjukkan kartu nama serta uang yang ia peroleh dari hasil penjualan cilok kepada Bu Suci. Menatapnya dan berujar,


"Bu ini uang dari hasil penjualan,”


Bu Suci mengulurkan tangannya, membelai rikma hitam putra sulungnya. Beliau tahu betul Damar adalah anak yang sangat berbakti, "Simpan untuk tabunganmu Nang, kamu lebih membutuhkan dari pada Ibu,”


Damar menggeleng, ia merasa sangat mengasihi Ibunya. Akibat dari penyakit diabetes yang di deritanya. Menjadikan Bu Suci lebih kurus dan wajahnya lebih sayu,


"Damar bekerja memang untuk Ibu dan juga biaya pendidikan Danum, jadi tidak ada salahnya kan, kalau Damar memberikan uang yang Damar dapatkan untuk Ibu,”


Bu Suci tersenyum lembut dan menggeleng tipis, "Tenanglah. uang pemberianmu kemarin masih ada Ibu simpan, uang ini kamu simpan sendiri. Kata kamu, kamu mau menabung untuk sewa tempat untuk berdagang agar tidak berkeliling lagi?”


"Damar tidak jadi menyewa ruko Bu,”


Alis Bu Suci saling berpaut mimik wajahnya menjabarkan ekspresi heran. "Kenapa? Kan kamu yang bilang sendiri kalau kamu mau nyewa ruko atau tempat usaha?”

__ADS_1


•••


Bersambung...


__ADS_2