
Senja... Rona mu menentramkan jiwa.. Bait kata seolah melebur menjadi asa.. Asa menggelegar merambat sukma.. Semburat jingga melukis di hamparan sang mega. meneduhkan mata yang menatapnya.
Seperti itulah ungkapan yang Damar tengah rasakan. Berdiri di pelataran parkir perusahaan yang siap ia gempur dengan semangat terbarukan.
Merentangkan kedua tangannya, menengadahkan wajah ke hamparan sang mega yang berwarna jingga. Suara sumbang dari para karyawan yang menggosipkan dirinya telah bermain panas di dalam ruangannya bak bola api yang siap menghanguskan jati dirinya sebagai seorang lelaki yang sangat menghargai wanita.
Namun, semua suara itu seolah bagaikan angin lalu saja. Sama sekali tidak menggangu pikiran yang ia fokuskan untuk membalaskan dendam kepada Pria yang sudah menghinanya dan merendahkan martabat Bapaknya, Gusli Wijaya.
“Bapak Gusli, Damar sudah siap untuk mengembalikan nama baikmu yang sudah tercoreng akibat ulah manusia tak berperikemanusiaan macam Kusumo.” gumamnya, tiada yang dapat mendengar ia berkata. Kecuali alam semesta dan dirinya.
“Tuan!” seru Wulan dari arah belakang Damar.
Damar menoleh dan menatap Wulan yang baru keluar dari dalam kantor setelah bertemu dengan beberapa karyawan staf team leader.
“Mobil Anda, sudah siap,” kata Wulan lagi, menunjuk mobil Damar yang sudah standby di parkiran, bersamaan dengan Bokir yang mengemudikannya.
Ada dua orang karyawan staf yang menghampiri Damar dan juga Wulan. “Sore, Presdir, apa Anda sudah siap untuk pulang?” tanya seorang karyawan pria yang bernama tag Rama.
Damar menatap dan mengangguk pertanyaan Rama, “Iya,”
“Selamat atas pernikahan Anda dan juga sekretaris Wulan,” ujar salah seorang staf lainnya, yang bernama tag Saliman.
Damar dan Wulan saling tatap, dan membulatkan matanya. Kemudian mengerjap-ngerjapkan mata. Damar kembali menatap Saliman dan juga Rama.
Wulan membisu tidak mau menanggapinya lebih serius, toh ia berpikir ini hanya gosip sementara.
Damar memasang cengiran kuda, “Ehmm.. iya, terimakasih. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Rama dan Saliman mengangguk, “Baiklah Tuan, kami juga akan pulang.” ujar Saliman.
“Semoga pernikahannya Presdir Damar dan juga sekretaris Wulan langgeng, soalnya kan tau sendiri kalau sekretaris Wulan cantik, dan mempesona, hehe.” garing Rama menimpali ucapan Saliman.
Wulan mempelototinya membuat Rama seketika melunturkan senyumannya.
Damar hendak melenggang pergi, namun sebelum itu ia mengingatkan kedua karyawan stafnya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Tuan, dan Presdir. “Tidak perlu memanggil ku seformal ini. Panggil saja saya Damar!” ucapnya lantas melenggang pergi dari hadapan kedua karyawan staf yang suka sekali mencari tahu.
••
Di dalam mobil yang sama, Wulan yang duduk di jok depan samping kemudi dan Bokir yang mengemudikannya.
Damar sendiri sedang melamun kan diri menatap keluar jendela kaca mobil yang melaju pelan.
Lagi-lagi Bokir merasa bosan, prihal tiada yang membuka suara di antara mereka bertiga. Bokir menyalakan lagu Bongkar suara alunan gitar Iwan Fals pun menggema di sound mobil.
♪♪♪
Kalau cinta sudah dibuang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
__ADS_1
Bagi mereka yang diperkuda jabatan
Wo o ya o ya o ya bongkar
Wo o ya o ya o ya bongkar
Damar tak kuasa menahan suaranya yang sudah beberapa hari ini vakum bernyanyi, ia lantas mengiramakan lagu yang sedang di dengar. “Sabar, sabar, sabar dan tunggu. Itu jawaban yang kami terima. Ternyata kita harus ke jalan.Robohkan setan yang berdiri mengangkang!”
Suara Damar bersamaan dengan suara seorang sang maestro seni Indonesia, yang biasa di sebut Oi.
“Wo o ya o ya o ya bongkar...” Bokir menyambar nyanyian mengikuti suara Damar dan Iwan fals.
Bokir tersenyum lebar dan sangat menikmati suara yang Damar nyanyikan, ia melirik Wulan yang tumben-tumbenan kali ini bersikap santai dan tidak ragu untuk bertepuk tangan.
Dengan satu tangannya Bokir gunakan untuk ia goyangkan layaknya penabuh dram di atas setir mobil. “Semangat, Mar! Kita harus melawan radikalisme!” seru Bokir.
Damar manggut-manggut, “Tentu aku semangat Kang Bokir. Apalagi dengan semangat yang kalian berikan. Terimakasih sudah membangkitkan nyala api semangat jiwaku, Kang Bokir, Nawang Wulan!” balas Damar.
Di dalam mobil sedan Corolla, begitu riuh serta bersemangat.
“Sama-sama brother, anggap saja aku ini peri hidupmu Mar!” seloroh Bokir.
Sementara Wulan hanya mengangguk, perlahan tapi pasti ia mulai merasa nyaman dengan pekerjaannya sekarang. Karena ia merasa menjadi sekretaris Damar penuh dengan tantangan.
“Nawu, kamu jadi ikut ke kondangan?” tanya Damar.
Wulan menoleh kearah belakang, tepat dimana Damar menatapnya. “Kapan?”
“Kamu yakin Mar, mau dateng ke pernikahan mantan mu? Emang kamu nggak mewek nangis jumpalitan, lihat orang yang pernah kamu cintai bersanding dengan orang lain?” tanya Bokir, memastikan bahwa Damar benar-benar sudah move on.
Damar menatap Bokir dari belakang, “Haha... Aneh-aneh, nggaklah Kang Bokir. Kan aku datangnya nggak sendiri, ada istriku dan juga selingkuhan ku.. Hahaha..” riuh Damar tertawa nggak jelas.
Wulan membulatkan matanya, “Istri?”
Bersamaan dengan Bokir yang berkata, “Selingkuhan?”
Damar lagi-lagi terkekeh geli, “Iya, sekretaris Wulan istriku dan teman duet biasa aku ngamen Siska selingkuhan ku, hahaha...”
Wulan mencebikkan bibirnya, “Ck. Gila.. anjay!”
“Hahaha... Pria memang punya selera, Mar.” seru Bokir, semangat.
“Jangan lupa mobil ini nanti aku pinjam Kang,” ujar Damar kepada Bokir.
Bokir tertawa, “Haha.. gimana bisa kamu bilang pinjam Mar, inikan mobilmu. Karena setiap habis ngantar kamu, mobil ini selalu aku kembalikan ke rumah Tuan Bagaskara.”
“Hahh.. Masa?” Damar terkejut dengan apa yang dikatakan Bokir.
Bokir mengangguk, lantas menjawab masih dengan mata yang ia fokuskan menatap laju mobil, “Ya sudah, nanti mobil ini biar aku taruh di rumah Wulan, biar dia yang menyetir. Malam ini aku mau ngajakin istriku ke pasar malam.”
••
__ADS_1
Damar sampai di rumah, ia lantas memeriksa pintu yang semalam roboh. “Hem sudah di perbaiki.”
Ia lantas masuk kedalam rumah dan melihat Ibunya duduk di ruang tengah sedang menyulut obat nyamuk, “Assalamualaikum,”
“Wa'alaikumussalam,” jawab salam Bu Suci, Damar menyalami tangan Ibunya.
“Bu, jangan lagi menyulut obat nyamuk, mending menyulut emosi,” candanya dan mendapat pelototan tajam dari mata Ibunya.
“Nyulut emosi mah bikin sakit kepala, atuh Nang!” jawan Bu Suci.
“Canda Bu, maksud Damar asap dari yang di hasilkan obat nyamuk bakar kan nggak baik,” ucapnya, lantas menuju kamar dan mengambil handuk tak lama ia keluar dan bertabrakan dengan Danum yang baru keluar dari dapur.
“Aduh! Mas Damar, gugup banget toh!” seru Danum.
Damar menggeleng, “Siapa yang gugup, kamu jalannya nggak pakai mata.”
“Dih, jalan ya pakai kaki, masa mata buat jalan, itukan mata hati,” balas Danum seraya berjalan menuju sofa dan beringsut duduk.
“Mata kaki, Magnum!” sahut Damar. Sebelum menuju dapur untuk mandi ia menatap Ibunya yang tengah menutup kedua telinganya, “Bu!” panggil Damar kepada Bu Suci.
Danum menyenggol lengan Bu Suci, beliau terkesiap. “Wes omprenge budek ki Ibu kupinge! (Sudah berantemnya tuli ini Ibu telinganya!)” gerutu Bu Suci.
“Lah siapa yang berantem Bu, kita kan cuma beda argumen yo toh Mas?” sanggah Danum dan di angguki Damar.
“Bu, jangan lagi pakai obat nyamuk bakar, itu sangat berbahaya bagi pernafasan. Nanti, kalau Damar sudah sukses dengan perusahaan itu, Damar bakal renovasi rumah ini dan pasang kawat nyamuk biar tuh nyamuk bandel nggak pada gangguin Ibu,” jelas Damar panjang lebar.
Bu Suci menghela nafasnya, ia merasa sekarang putra sulungnya menjadi lebih cerewet dari pada biasanya, “Amin, amin Nang.”
“Mas Damar, kenapa sih kita nggak minta aja rumah sama Kakek? Aku yakin Kakek banyak uang. Secara kan beliau pemilik perusahaan makanan yang sedang dikelola Mas Damar.” kata Danum yang belum tahu pokok permasalahan Ibunya dengan sang Kakek.
Bu Suci dan Damar saling menatap, dan kemudian menatap Danum. “Nggak semudah itu, Num. Lagi pula Mas nggak mau menikmati harta yang di dapat dari meminta-minta.” pungkas Damar.
“Loh kok minta, kan lumrah toh Mas. Kita minta sama Ayah dari Bapak?” lagi Danum bertanya membuat Bu Suci menghela nafasnya kasar.
“Berhentilah Danum, Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk menikmati hasil yang bukan dari jerih payah kita sendiri.” tukas Bu Suci, beliau lantas berdiri dan menuju dapur.
Damar menatap adiknya dan geleng-geleng kepala. “Keteguhan budi dalam menjalani hidup merupakan pondasi, kebahagiaan yang sejati, Num. Jadi, marilah berhenti berangan-angan, dan teruslah berjuang. Oke?” ucapnya Lantas pergi melenggang ke kamar mandi.
“Ya, Allah maafkanlah hati ini, yang selalu dibalut dengan keresahan.” gumam Danum, dan menopang kedua dagunya dengan kedua telapak tangan menatap pintu menuju dapur.
••
Malam semakin larut, setelah melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, ba'da isya. Lantas Damar bersiap-siap dengan kemeja panjang dan celana panjang serta sepatu yang Wulan pilihkan untuknya.
“Mas Damar mau kemana?” tanya Danum, melihat Damar yang nampak cool abis dengan wangi parfum yang melipit.
Damar menoleh sekilas kearah adiknya yang duduk di tepian ranjang sedang memperhatikannya. “Kondangan.” jawabnya lantas menatap rikma hitam legamnya dengan menyisirnya rapih.
•••
Bersambung
__ADS_1